VersiTeks.com
Selain membaca versi teks anime dan manga, di sini kalian juga bisa membaca dan mengirim cerita karangan kalian sendiri, baik itu yang berupa cerita berseri, cerpen (oneshot), atau fanfiction.
login · register · kirim cerita · setting · kuis · chat game
home · versi teks · cerita karangan · oneshot · fanfiction · jadwal rilis


NEW!!! Sekarang kamu bisa melakukan register tanpa perlu melakukan proses validasi Facebook!!!

Silakan login atau register jika belum memiliki akun untuk menikmati berbagai fitur khusus di situs ini serta akses tanpa iklan-iklan yang mengganggu.
Pengguna Telegram? Coba game Kampung Maifam
Alien Attack : World War Chapter 80

2017-08-09 - Alien Queen > Alien Attack : World War
122 views | 14 komentar | nilai: 9.82 (11 user)

Alien Attack : World War

Chapter 80-Unitate Errefortzua Iristen

Alien Attack : World War Chapter 80 - Unitate Errefortzua Iristen
Penulis : Alien Queen

Angkatan Darat.

Ditempat Lora dan yang lainnya.

"Dasar bodoh, menyerah bukanlah pilihan." ucap wanita itu dingin. Terlihat dari balik asap terdapat siluet bayangan wanita yang rambutnya diikat sedang berdiri.

Asap mulai menghilang, dan terlihat lah dengan jelas sosok gadis cantik tersebut. Terlihat ia mengeratkan sarung tangan hitamnya.

Tatapan tajamnya begitu dingin dan sangat kuat, 4 ekor alien berlari maju dan menusukan tombak yang dipegangnya kearah wanita tersebut.

Tanpa berbalik, wanita itu dapat menghindar dengan sangat mudah.

"Payah." wanita tersebut berbalik dan mengayunkan tinjunya kearah alien yang menyerangnya, gerakannya sangat cepat hingga dalam sekejap mata ia telah berada dibelakang kumpulan alien yang siap menyerang.

Dum..

Ledakan energi kecil terjadi setelah wanita itu meninju kearah keempat ekor alien yang akan menyerang. Ledakan tersebut menghancurkan tubuh para alien tersebut.

Tak membuang waktu ia langsung meninju seekor alien yang berada dalam jajaran kepungan.

"Kuat sekali.."

"Gerakannya sangat cepat."

"Mengagumkan," gumam Saiken.

"Biasa saja." sanggah Hans yang memang ia sudah sering meligat aksi Altra dan ketiga rekannya, bisa dibilang Hans adalah
salah satu Knight yang dekat dan berteman baik dengan Warrior.

"Awas dibelakangmu." teriak Hans, terlihat seekor alien reptil dengan gerakan cepat menusukkan tombaknya dari arah belakang menuju punggung wanita Warrior tersebut,

"Aku tahu." wanita itu berbalik dan.

Tombak pun tepat mengenai dada tengahnya, namun apa yang terjadi, bukan darah yang keluar, tapi tombak logam itu langsung hancur.

"Benar juga, aku lupa sesuatu. Kemampuan utamanya kekuatan fisik seperti tiruan Ranking 3" pikir Hans.

Jbuag...

Duar...

Sebuah pukulan yang sangat mematikan dihantamkan, dalam waktu singkat wanita itu menghabisi semua alien yang mengepung mengepung mereka.

"D-dia melakukannya dengan sangat mudah." kaget Saiken.

"Payah, jika tekad mu selemah itu, kalian tak pantas menjadi seorang prajurit," ejek wanita itu mengeratkan sarung tangannya. Tatapan matanya begitu dingin, dari ekspresi wajahnya terlihat ia memang seorang yang tak suka bercanda.

"Nona Calista Aerola,." kaget mereka yang takjub.

"Cepat urus dia, jangan sampai ada yang mati, tak jauh dari sini unit pasukan bantuan berada." ucapnya singkat.

"Ba-bagaimana dengan perangnya?" tanya Gaila.

"Dan bagaimana dengan ketua Altra?" tambah Lora.

"Kazuya menuju ke tempat Altra, unit pasukan bantuan yang mengurus sisanya, termasuk membebaskan para warga kota. Cih aku malas menjelaskannya, bicaranya nanti saja, urus dahulu pria itu. Kau Hans ikuti aku." Calista pun berjalan pergi.

"Baik." Hans bangkit dengan malas berjalan mengekor, ia seolah mengetahui apa yang akan terjadi berikutnya, terlihat senjatanya diseret

"Dingin sekali dia."

"Itulah para Warrior, kuat dan berwibawa."

"Akhirnya perang ini berakhir." Saiken menghela napas lega.

"Andaikan aku punya istri secantik dia."

"Cantiknya, para Warrior memang yang terbaik." gumam Gaila.

"Apa yang kalian bicarakan hah?"

tanya Lora.

"Akhh.." erang Vardex terlihat tak kuasa menahan rasa sakit yang ia rasakan, napasnya sangat berat.

"Vincent.."

"Sebaiknya kita urus dia dahulu"

Beralih ke sisi Altra. terlihat ia dipapah oleh Kazuya.

"Kau terlihat sangat berantakan brother, aku takjub padamu karna telah menghabisi ribuan alien ini. Aku bahkan tak kebagian." ucap Kazuya riang, ciri khas dirinya.

"Kau terlalu lama datang, kemana saja kau hah? Beberapa detik lagi mungkin aku akan mati."

"Hahahaha, kau bisa saja, mana mungkin Warrior sekuat dirimu mati oleh para alien lemah."

"Mungkin saja. Apalagi beberapa waktu lalu energiku berkurang dan tiba-tiba saja meningkat drastis, kontraksi otot dan saluran peredaran darahku sepertinya terkena dampaknya, lalu apa yang kau lakukan?"

"Seperti itu yah, hmm aku bersantai di markas pusat, tiba-tiba saja aku mendapat perintah sekitar 2 menit yang lalu untuk membantumu." jawab Kazuya.

"2 menit? Kau kemari secepat itu? "

"Begitulah hahaha padahal aku ingin lebih banyak menembakkan peluruku." Kazuya terlihat kecewa, padahal setiap melawan alien ia selalu tak ragu menembakkan ratusan peluru dalam waktu singkat.

"Cih, kau tak pernah berubah."

"Oh ya, kenapa pasukan bantuan datang?" tanya Altra.

"Entah, tiba-tiba saja nona Jendral memerintahkan kita agar segera membantu." balas Kazuya menjawab seadanya.

"Kami tiba-tiba mendapatkan perintah untuk segera turun ke tempat kau berada, setelah mendapat koordinat aku, Calista dan beberapa pasukan bantuan langsung melaju dengan kecepatan penuh kemari."

"Seperti itu yah, jadi Calista juga datang. hmm, apa kau bawa rokok?"

"Tentu saja brother."

Beralih ke sisi Yubel.

(Waktu di tempat Yubel dan Hexari lebih cepat dari tempat lain)

Terlihat tengah terjadi pertarungan sengit disana.

Dum..

Pukulan Yubel tepat mengenai makhluk itu.

Tap..

Yubel jatuh mendarat pada sebuah gumpalan tanah yang tak terbakar lava.

"Kalian berdua, apa akan diam saja dan menonton hah? Bantu aku berengsek.!" teriak Yubel yang terlihat kesal pada Neves dan Vestaka.

"Ba-baik." kedua pria itu langsung bersiap, Movreiak bangkit dan melompat kearah Yubel langsung melancarkan serangan, ia menggunakan senjatanya sebagai tameng untuk menangkis serangan makhluk itu.

"Cih, kenapa makhluk ini terus mengincarku?" pikir Yubel.

"Melakukan pekerjaan berat bersama orang-orang payah dan menyebalkan, ditambah si pengacau itu.. Akh ini benar-benar menyebalkan, apalagi makhluk itu menghancurkan pakaian mahalku."

"Haaa.." Neves melompat dan mengayunkan pedangnya secara Vertikal kebawah.

Tink..

Punggung makhluk itu terlihat masih sangat Keras karna dilapisi cangkang hitam. Yubel mundur dan menyiapkan senjatanya

"Vestaka terus tembak jangan berhenti." teriak Neves dipunggung Movreiak, ia pun mengangkat senjatanya hendak menusukkan pedangnya tersebut namun.

Bugh..

"Akh.." Ekor makhluk itu menghantam Neves hingga membuat pria itu terhempas.

Dor.. Dor.. Dor .. Dor..

"Aku mengerti.." Vestaka langsung menembakkan semua peluru yang ada. Makhluk itu terus bergerak untuk menghindari peluru-peluru tersebut. Karna perhatian makhluk itu teralihkan Yubel pun maju dan

Blak..

Pukulan kerasnya menghantam rahang makhluk itu. Melihat celah, Neves langsung melompat setelah ia tertancap di dinding, ia melompat kearah kepala Movreiak..

"Arrrr" Makhluk itu berteriak, ia menyemburkan lava kearah Yubel, wanita itu jatuh kebawah dan langsung menembakkan peluru- pelurunya kearah muntahan lava.

"Dan juga kenapa selalu menyemburkan lava kearahku." pikirnya lagi.

"Itu sangat menjijikan.!" teriaknya.

Duar...!!

Terjadi ledakan lumayan besar dihadapan wajah Movreiak, bersamaan dengan hal itu, Neves menusukkan pedangnya kearah mata kanan Movreiak.

"Rasakan.." teriaknya.

Sleb..

Beralih ke tempat Hexari. Entah berapa lama wanita cantik itu tidur. Namun Hexari mulai merasa pegal. Saat Hexari sedang santai, tiba-tiba terdengar bunyi ledakan dan bahkan tanah bergetar.

Hal itu adalah akibat dari
pertarungan Yubel dan yang lainnya dibawah tanah dan mungkin efek ledakan sebelumnya.

"A-apa yang terjadi? Apa gempa?" gumam Hexari. Karna guncangan tersebut, Ruinsvlora pun terbangun dari tidurnya.

"Hmm ada apa ini tampan?" tanya Ruinsvlora yang tersenyum pada Hexari, tangan kanannya mengusap usap wajahnya.

"Se-sepertinya ada gempa bumi," Hexari kembali gugup dan perasaannya tak menentu saat melihat senyuman dan mata indah gadis itu.

"Hmm." wanita cantik itu bangun, ia kemudian berdiri dan meregangkan tubuhnya.

"Hoamm, sepertinya aku sudah mendapat energiku lagi," ucapnya yang menggerak-gerakan tubuhnya.

"Ruins, a-aku.." ucapan Hexari terbata.

"Oh iya, aku teringat sesuatu. Aku ada urusan lain, terima kasih ya tampan untuk bantalnya, aku pergi dulu. Sampai jumpa sayang." ucapnya yang langsung melayang.

"Aku akan menciummu lagi dipertemuan berikutnya, daah.." ucapnya sebelum benar-benar
terbang menghilang dari hadapan Hexari.

"Dia selalu memotong ucapanku, padahal ada hal yang ingin kutanyakan." gumam Hexari yang memasang ekspresi sweatdrop.

"Dan kuharap kita tak akan pernah bertemu lagi, aku merasa akan ada beberapa orang yang akan membunuhku dengan sadis jika aku berjumpa dengannya lagi."

"Apakah Ruins adalah tipe wanita yang seperti itu, hmm rambut pirangnya, aromanya, mata birunya, ahh apa sih yang kupikirkan."Hexari kembali merebahkan dirinya dan menatap langit.

"Sungguh hari yang melelahkan, entah berapa lama peperangan berlangsung, tapi satu hal yang kurasakan saat ini." ucap Hexari.

"Aku lapaaar.!!!" teriaknya dengan kencang.

"Jadi Ruins juga adalah Arya, dia sangat cantik seperti wanita itu. Dia juga sangat wangi, padahal baru selesai bertarung. Ah kenapa aku malah memikirkannya yah, masa aku jatuh cinta pada kekasih teman? Yang benar saja. Aku tak mungkin mencintainya." gumamnya ngga jelas, ia memandang langit, terlihat sinar matahari yang tertutup awan tebal.

"Kapan aku akan mengingat semuanya yah, aku merasa tak asing dengannya, apa mungkin bukan Hexagon saja Arya yang pernah kutemui dimasa lalu? Selain itu, tentang luka ini. Siapa pelaku yang melakukannya." Hexari memejamkan matanya, terlihat tangan kirinya memegang lengan kanannya yang tertutup kain hitam dengan dilapisi sabuk lengan, bekas luka tersebut selalu tertutupi kain tersebut hingga tak ada yang mengetahuinya.

Tentu saja bukan hanya jaketnya, tapi kain dan sabuk lengan tersebut juga anti api sehingga setelah berbagai pertarungan yang ia lalui, benda itu tak hancur.

Bersambung.

Nb : Hexari punya bekas luka pada tangan kanannya, tapi ia selalu menggunakan kain penghangat lengan pada kedua lengannya yang dilengkapi sabuk kecil. Hal ini lupa kucantumkan pada bagian awal cerita saat pengenalan tokoh utama. Padahal di fb udah kucantumkan.

Disini misteri bertambah, Hexari merasa tak asing dengan Ruinsvlora, apakah mereka ada hubungannya di masa lalu atau tidak?

And wanita teman kecil Hexari yang pertama kali muncul di chapter 1 "scene ia mendorong Hexari dari tebing ke laut." Wanita itu berambut coklat gelap, sama sekali tak ada kesalahan penggambaran tokoh.

#Tifa Lockhart


Bersambung ke Alien Attack : World War Chapter 81

Blackpearl Kwon Yuri
2017-12-01 13:37:59
Enak ngga ya tidur dipangkuan cowok?
Sovaren DF F
2017-09-25 19:45:02
jadi misterinya belum juga diungkap sekarang
Shadexz fahrhezi
2017-08-23 17:27:01
Aaku sih ada gambaran tentang misteri ini .xd v liat nanti faktanya aja pas gak ma gambaran ku.
Kleiss Effortles
2017-08-18 15:58:55
Numpang mampir plus ngasih nilai, udah lama nggak mampir ke tempat alien kawai
wahyu
2017-08-13 13:58:15
Kasih nilai sepuluh biar cepat updatex
Bocah Redoks
2017-08-12 13:43:09
Yo. Jadi siapa sebenarnya teman masa kecil hexari?
Dwi Fitri
2017-08-11 04:14:18
Hexari kau jangan membuat NTR
Hiatus
2017-08-10 14:32:44
oh yeah babi jiah hexari nongol baper doang oh baby
BeeZero
2017-08-09 21:42:59
ngebayangi hexari malah spti ninja hehehee,,
Sqouts Shadows
2017-08-09 21:41:06
Ditunggu cerita berikutnua
Baca Semua Komentar dan Balasan
daftar user · online · daftar penulis
halaman awal · group facebook