VersiTeks.com
Selain membaca versi teks anime dan manga, di sini kalian juga bisa membaca dan mengirim cerita karangan kalian sendiri, baik itu yang berupa cerita berseri, cerpen (oneshot), atau fanfiction.
login · register · kirim cerita · setting · kuis · chat game
home · versi teks · cerita karangan · oneshot · fanfiction · jadwal rilis


NEW!!! Sekarang kamu bisa melakukan register tanpa perlu melakukan proses validasi Facebook!!!

Silakan login atau register jika belum memiliki akun untuk menikmati berbagai fitur khusus di situs ini serta akses tanpa iklan-iklan yang mengganggu.
Pengguna Telegram? Coba game Kampung Maifam
Alien Attack : World War Chapter 71

2017-06-23 - Alien Queen > Alien Attack : World War
128 views | 8 komentar | nilai: 10 (8 user)

Alien Attack : World War Chapter 71 : Weapon Laser

Alien Attack : World War Chapter 71 - Weapon Laser
Penulis : Alien Queen

Alien Attack : World War Chapter 71

Angkatan Laut.

Scene kembali ke tempat Gravrik dan yang lainnya.

Terlihat Gravrik menggunakan tubuh seekor alien yang tergeletak layaknya ia mengoperasikan peluncur misil.

"Piuw..piuw.." ucapnya yang seperti orang gila.

"Orang itu benar-benar tidak waras." gumam Aerilyn, ia melirik kearah Ruka, terlihat Ruka duduk sambil menunduk, ia terlihat menangis.

"Sayaaang..!!" teriak Ruka memeluk.. Tiang.

"Aku sangat merindukanmu, aku tak bisa tidur karna selalu memikirkanku, aku selalu ah... Aku sangat mencintaimu.."

"Biarkan aku selalu di dekapanmu."

"Dasar ratu drama.! Kukira karna kau pendiam, kau sedikit normal.!" teriak Aerilyn pada Ruka yang memeluk tiang jalan yang sudah penyok dan karatan tersebut, ia memeluk benda itu dengan manja.

"Apa-apaan ini? Aku lebih baik pulang saja." geram Aerilyn yang berjalan menuju senjatanya yang tergeletak ditanah.

Brak...

Seekor alien berbadan tinggi berwarna hitam mendarat tepat di hadapannya, bukan hanya 1 tapi sekitar 6 ekor.

"Yang benar saja, apa diantara semua orang hanya aku yang tersadar." gumam Aerilyn, ia pun menyiapkan senjatanya. Makhluk itu menyerang Aerilyn dan sisanya menyerang yang lainnya.

Sigap Aerilyn menghindar, seekor alien hendak menyerang Karui, sigap Aerilyn menembak makhluk yang hendak menyerangnya, begitu juga dengan makhluk yang menyerang Karina, Vils dan Ruka.

"Ini merepotkan."

Bziuw.. Bziuw.. Bziuw..

Terlihat peluru-peluru cahaya senjata Aerilyn hanya membuat para alien itu terpental dan jatuh tanpa membuat luka, bahkan tak menggores tubuh makhluk itu karna kulitnya sangat keras bagaikan tulang.

Buag..

Alien di hadapannya hendak menyerangnya, reflek Aerilyn menangkisnya dengan senjata miliknya itu, namun karna kuatnya hantaman. Aerilyn terhempas beberapa meter kebelakang.

"Payah." Aerilyn menyiapkan senjatanya dan menembaki para alien yang mulai bangkit.

"Merepotkan, aku malas mengurus makhluk-makhluk sialan ini dan melindungi mereka." ketus Aerilyn tanpa menghentikan tembakannya, ia terus menembak para alien yang bersiap menyerang rekan-rekannya.

"Siapa kau? Aku tau, kau pasti mau mencuri senjata berhargaku ya." ucap Gravrik yang berdiri tepat di hadapan alien yang akan menyerangnya.

Saat alien itu melayangkan tinjunya, Gravrik pun menyiapkan kuda-kuda.

"Jangan harap dasar perampok."Gravrik lebih dulu menghantamkan kakinya dan meninju tubuh alien itu.

"Jangan dulu tumbang. Rasakan ini." Gravrik terus menghantamkan kaki dan tinjunya pada alien yang hendak menyerangnya hingga makhluk itu terpental jauh.

Berbeda dengan Gravrik, meskipun ia terjebak halusinasi, entah mengapa ia selalu mampu menghindari serangan alien dihadapannya. Bahkan ia sempat menghajar alien itu hingga terpental jauh.

"Ya, setidaknya aku tak perlu kuatir padanya." gumam Aerilyn yang melirik kearah Gravrik. Hingga pelurunya pun habis, senjatanya berhenti menembak.

"Cih, habis." geram Aerilyn yang melemparkan senjatanya.

Terlihat kelima alien itu tubuh kerasnya atau kulit kerasnya retak seolah akan terkelupas.

"Setidaknya peluru-peluruku mampu membuat retakan." gumam Aerilyn, kelima alien itu berjalan kearah targetnya masing-masing.

"Sepertinya aku harus mengerahkan semua kemampuanku, ya ada bagusnya mereka berhalusinasi. Mereka tak akan melihat tubuhku." Aerilyn melepaskan jaketnya dan terlihat ia memakai kaos tanpa lengan dengan panjang setengah perut. Ia memang tak pernah memperlihatkan tubuhnya pada siapapun, mengingat ia selalu memakai celana panjang dan jaket berlengan panjang, hingga tak ada bagian tubuhnya yang terlihat kecuali wajahnya dan sebagian lehernya saja.

"Aku siap." ucap Aerilyn memasang kuda-kuda bersiap menyerang dan menangkis serangan darimanapun.

Sementara, hujan abu merah tak kunjung berhenti.

Diatas langit, terlihat seekor makhluk bersayap seperti sayap lebah terbang atau tepatnya melayang dengan mulutnya terus mengeluarkan abu merah, ya itu sumber abu merah itu yang membuat tim Gravrik berhalusinasi.

"Bagus, jangan berhenti, lakukan agar para prajurit itu mampu membunuh para manusia itu dengan mu.." ucap seekor alien berbentuk manusia yang duduk diatas makhluk yang menyemburkan abu merah, ucapannya terhenti ketika tubuhnya dan tubuh binatang yang di dudukinya terbelah vertikal.

"Cukup sudah, Jangan mengacau jalan peperangan." ucap suara seorang pria, sebut saja ia rank 1 yang entah dari mana munculnya. Ia terlihat memakai suatu alat yang dapat melayang diudara, bentuknya seperti cakram bulan.

"Sebaiknya aku harus cepat." ucapnya, ia pun segera pergi dari tempat itu.

Kembali ke tempat Aerilyn, saat ia menghentakan kaki kanannya hendak melompat, tiba-tiba...

"Cukup, serahkan sisanya padaku." ucap Gravrik yang entah sadar atau ia masih berhalusinasi, namun dari ekspresinya ia terlihat normal.

"Kyaaaa!!!" Aerilyn langsung berteriak memeluk dirinya sendiri, ya untuk pertamakalinya ia berteriak.

Dengan cepat ia segera memungut jaketnya dan memakainya lagi.

"Apa pengelihatanku yang salah atau hanya imajinasiku, apa kau tadi tak memakai baju?" tanya Gravrik.

"Berisik, jangan bahas itu dan hajar saja semua makhluk sialan itu.!" teriak Aerilyn yang telah menyeletingkan jaketnya lagi.

"Baiklah.

"Tak kusangka, ia sudah sadar. Aku harap ia tak melihat tubuhku." pikir Aerilyn yang kembali memeluk dirinya sendiri.

Alien Attack : World War

Ditempat lain entah dimana,

"Dimana Ruins?" tanya seorang pria berambut pendek berwarna pirang. Ia memiliki tubuh yang atletis dan taman, ciri khas bangsa Arya.

"Ruinsvlora Laquinea Varlarist, dia telah kuberi tugas untuk melindungi Hexari" ucap Hexagon dalam wujud proyeksi pikiran.

"Tidak perlu mengucapkan nama lengkapnya juga kan." ucap pria itu.

"Aku mengucapkannya agar kau ingat nama lengkapnya."

"Sebanyak apapun kau menyebutkan, aku tak akan ingat."

"Hai teman-teman." ucap wanita pendek imut dan berdada besar yang waktu itu menaiki lebah. Ia berari untuk sampai ke tempat dua orang pria tampan itu.

"Ruirinea, kau darimana saja?" tanya Hexagon.

"Jangan lari-lari, nanti buah dadamu bisa jatuh loh. Kalau benda itu tergores sedikit saja, aku tidak akan memaafkanmu loh." ejek pria disamping Hexagon.

"Kejamnya, lagipula kenapa kamu bilang gitu seolah dadaku ini milikmu," ucap Ruirinea sambil memeluk tubuhnya seolah melindungi dadanya.

"Tentu saja benda itu milikku, sini kembalikan." ucap pria itu yang bangkit dan melompat kearah Ruirinea.

"Kyaaa jangan sentuh aku." teriaknya sambil berlari menghindari kejaran pria tersebut.

"Ruirinea, Gaistra, hentikan." ucap Hexagon yang masih melayang. Seketika kedua Arya itu menghentikan aktivitas mereka.

"Kalian akan segera melakukan tugas kalian berdua, jadi bersiap-siaplah."

"Ya, aku tau, tapi sebelum itu aku ingin memegang.." ucap Gaistra yang sudah memeluk Ruirinea dari belakang.

"Kyaa tidak boleh." potong Ruirinea terus berontak.

"Hei..hei hentikan itu.!" ucap Hexagon.

"Baiklah-baiklah." Gaistra pun melepas pelukannya.

"Jadi apa yang harus kita lakukan selanjutnya?"

"Ya, karna perbuatanmu, para manusia jadi kewalahan." ucap Gaistra pada Hexagon, ya bagaimanapun rencana para manusia atau tepatnya rencana ranking 1 untuk menyelamatkan para warga kota jadi sangat sulit akibat ulah Hexagon yang memberitaukan rencana itu pada Jendral Jainneua waktu itu.

"Untuk saat ini kita tunggu Kleiss saja, aku tidak tau kapan ia akan kembali. Jadi bersabarlah dan tunggu rencana berikutnya."

"Cih, lagipula kenapa kau menyerahkan tugas berat pada bocah itu sih." ketus Gaistra.

"Gai tidak boleh berkata seperti itu, bagaimanapun ini sudah keputusan pemimpin kita kan."

"Ya, ya, terserah. Jadi kapan aku boleh memegang benda besar itu?"

"Kyaa.. Pokoknya Gai tidak boleh memegang dadaku. Dasar mesum..mesum..mesum."

"Kau sangat lucu ketika marah seperti itu, aku jadi ingin lebih menggoda mu." ucap Gaistra.

"Dasar.."

Bersambung..


Bersambung ke Alien Attack : World War Chapter 72

Bocah Redoks
2017-07-21 21:28:33
Kleiss ? Rank 1 ?
T S A
2017-06-29 21:43:47
Kayaknya gravrik udah normal
Andre Rohmatul Sidik
2017-06-28 22:26:35
Next
BeeZero
2017-06-28 20:34:07
apa memang hrus besar ?? haha sdahlah...pict authornya jga bsar ! wkwkwk
Phoenix D
2017-06-28 18:57:20
Wah ada alien mesum juga
Zen Kureno
2017-06-28 18:10:59
("Jangan lari-lari, nanti buah dadamu bisa jatuh loh. ) kayak bisa aja
Dwi Fitri
2017-06-28 17:19:50
Rank 1 *-*
Alien Queen
2017-04-30 11:59:15
Kasian aerilyn kewalahan sendirian.
Baca Semua Komentar dan Balasan
daftar user · online · daftar penulis
halaman awal · group facebook