VersiTeks.com
Selain membaca versi teks anime dan manga, di sini kalian juga bisa membaca dan mengirim cerita karangan kalian sendiri, baik itu yang berupa cerita berseri, cerpen (oneshot), atau fanfiction.
login · register · kirim cerita · setting · kuis · chat game
home · versi teks · cerita karangan · oneshot · fanfiction · jadwal rilis


NEW!!! Sekarang kamu bisa melakukan register tanpa perlu melakukan proses validasi Facebook!!!

Silakan login atau register jika belum memiliki akun untuk menikmati berbagai fitur khusus di situs ini serta akses tanpa iklan-iklan yang mengganggu.
Pengguna Telegram? Coba game Kampung Maifam
Alien Attack : World War Chapter 64

2017-05-26 - Alien Queen > Alien Attack : World War
164 views | 14 komentar | nilai: 9.86 (14 user)

Alien Attack : World War Chapter 64

Scene beralih ke tempat Vilia dan yang lainnya, ia bersama Navira berlari maju terus kedepan, Navira pun melemparkan sebuah geranat dan

Duar...

"Sudah dimulai, kau lindungi tempat Ketua dan aku akan melindungi di tempat Gil. " ucap Lizi, Arana mengangguk, mereka berdua pun memasang posisi ala sniper, Lizi mengarahkan teropongnya ke tempat Gilga dan Aronia, sementara Arana mengarahkan teropongnya ke tempat Vilia dan Navira.

"Sepertinya sudah dimulai, sebaiknya kita juga harus bergegas." ucap Gilga yang berlari berdampingan dengan Aronia.

"Hmm," angguk Aronia.

"Mereka berdua sedang apa yah bersama senior Ae." pikir Aronia, ia memikirkan Aerilyn, Karui dan Karina.

"Kau sedang memgkirkan apa?" tanya Gilga.

"Ti..tidak ada."

"Fokuslah, kita harus segera mengakhiri peperangan ini dan menyelesaikan misinya." ucap Gilga memperingatkan Aronia.

"Kenapa juga harus buru-buru."

"Karna chapter nya udah terlalu panjang, dari chapter 40 sampe sekarang peperangan ini belum juga kelar, bahkan kita belum menemukan tempat para manusia disembunyikan."

"Ah benarkah? Aku berpikir tidak selama itu."

"Ya, jika dipikir-pikir scene bagian kita memang sedikit, karna ada 6 scene berbeda. Makanya meskipun sangat panjang tapi kita kebagian dikit."

"Ngomong-ngomong bangunan itu terasa mencurigakan." ucap Aronia menunjuk sebuah gedung yang dikelilingi banyak alien.

"Kau benar, monyet bodoh pun tau jika tempat yang dijaga ketat pasti ada hal berharga didalamnya."

"Lizi, Arana, bisa kau lumpuhkan mereka?" tanya Gilga.

"Serahkan padaku." jawab Lizi.

Siut... Siut... Siut...

6 ekor alien langsung tumbang, dan sekitar 5 ekor alien langsung dihajar oleh Gilga.

Ditempat Navira dan Vilia, mereka berdua dikepung sekitar 30 ekor lebih alien.

"Kau benar-benar pandai memancing perhatian." ucap Vilia, mereka berdua saling membelakangi.

"Dengan begini, perhatian para alien teralihkan pada kita berdua."

"Be..benar, tapi bagaimana kau menghabisi mereka semua." balas Vilia.

"Eh benar juga, tapikan anda Warrior, masa aku yang harus melawan mereka semua?"

"Kenapa? Kau tak bisa? Kau takut.?"

"Bukan itu, hanya saja a..aku malas bertarung dan membunuh alien, apalagi harus membuat pakaian dan tubuhku kotor oleh darah alien yang menjijikan."

Tak..

"Kau itu malah mementingkan penampilan dan mengutamakan kemalasanmu, salah sendiri kenapa malah maju kemedan perang, andai saja kau jadi penunjuk yang kerjanya hanya mengetik komputer dan me.."

Seketika semua alien maju menyerang kedua wanita tersebut.

"Mau tidak mau.."

Srat...

Tiga ekor alien langsung tergores dan mati.

"Sepertinya kau harus menggunakan obat."

Duar...

Sekitar 10 ekor alien langsung tewas setelah terkena ledakan.

Siut.. Siut.. Siut..

"Aku akan membantu." ucap Arana, 3 ekor alien langsung tumbang.

"Bagus, kita dapat menuntaskan misi ini." ucap Vilia sambil menghantamkan senjatanya pada Seekor alien hingga membuat makhluk itu terhempas jauh.

"Ketua, kami sudah menemukan sebuah jalan masuk yang kemungkinan jalan untuk menuju tempat para manusia disembunyikan" ucap Aronia, dan tentu saja mereka semua berkomunikasi melalui suatu alat seperti headset.

"Bagus, tapi berhati-hatilah." ucap Navira.

"Bukankah itu terlalu cepat? Hati-hati, aku takut hal itu adalah jebakan." ucap Vilia memperingatkan.

"Baik." ucap Aronia dan Gilga serempak, mereka berdua pun masuk kedalam.

"Baiklah, karna kalian masuk, aku hanya dapat mengawasi tempat kalian masuk saja." ucap Lizi.

"Ya, aku serahkan padamu, beritau aku jika ada alien yang masuk." ucap Gilga.

"Hmm.."

"Semua masih berjalan dengan lancar, belum ada kendala apapun, dengan begini kita dapat menuntaskan misi secepatnya dan sukses dengan baik." ucap Arana pada Lizi.

"Ya, meskipun begitu, kau tak boleh lengah, ingat ini adalah medan peperangan, apapun bisa terjadi. Tetap fokus, kita belum tau makhluk apalagi yang akan menghadang."

"Hmm, kuharap hanya ada para alien lemah saja yang menghadang."

Ditempat Navira dan Vilia, sekitar 40 ekor alien telah tumbang, namun alien lain terus berdatangan

"Hah..hah... Apa-apaan ini, mereka terus bermunculan, seolah tak ada habisnya." ucap Navira.

"Sebaiknya kau gunakan obatmu, kau terlihat kelelahan." ucap Vilia santai, ia tak terlihat kelelahan.

"Aku iri pada para Warrior, tubuh kalian sangat kuat seperti ketiga jendral saja." ucap Navira sambil memakan pil.

"Tidak juga, para Jendral jauh lebih kuat dari kami." ucap Vilia sambil mengangkat senjatanya keatas.

Alien Attack : World War Chapter 64 - kontraeraso
Penulis : Alien Queen

Alien Attack : World War Chapter 64

Scene beralih ke tempat Vardex dan Hans.

Mereka berdua terlihat telah terkapar lemas tak berdaya, beberapa ekor alien hendak membunuh mereka berdua.

"Padahal aku adalah seorang Knight, tapi aku malah kalah dengan alien kelas rendah." gerutuHans yang terkapar dengan posisi tengkurap.

"Berisik." ucap Vardex.

Saat para alien itu hendak menyerang mereka berdua, tiba-tiba.

Srat..

Dua ekor alien langsung tumbang.

Duar.. Duar.. Duar..

Beberapa ledakan pun terjadi dan terlihat tak tersisa alien yang masih hidup.

"Kalian berdua bisa bangun?" tanya Altra yang terlihat tatapannya serius, ia memanggul senjatanya.

"Sepertinya bisa," jawab Hans yang perlahan bangkit.

"Aku merasa energiku kembali." ucap Vardex.

"Kalian berdua diam disini, jika sudah dapat bergerak segera berkumpul ke tempat Lora. Beritau Gaila dan Ken, alat komunikasi ku rusak." ucap Altra yang berjalan pergi, ia pun langsung melompat entah kemana.

"Kekuatanku berlipat ganda, tapi aku tak punya banyak waktu." gumam Altra yang terus melompat bagaikan ninja melewati reruntuhan.

"Tempat itu, aku yakin jaraknya tak jauh dari sana, perang ini harus segera di akhiri. Aku sudah muak dengan pertarungan ini." gumam Altra, ia mengingat kembali tempat ia melihat para alien menggiring banyak manusia pergi.

Beralih ke tempat Gaila dan Saiken.

"Kau merasakannya?" tanya Saiken.

"Ya, Ken. Energi kita kembali." jawab Gaila, terlihat mereka saling membelakangi.

"Sebaiknya gunakan obatnya."

"Maaf tapi aku sudah menggunakannya."

"Pantas saja, apakah hal itu alasanmu dapat bertahan walaupun energi kita terkuras?"

"Seperti itulah, dan sisanya kuserahkan padamu, sepertinya aku sudah tak sanggup bertarung lagi."

Para alien mengepung dan disingkat ajalah biar cepet :v , lagipula enggak ada yang menantikan scene pertarungan bagian ini. :v

"Gaila, Ken, apa kau mendengarku." ucap Hans.

Srat...

Seekor alien yang terlihat itu adalah alien terakhir langsung tumbang.

"Aku disini." jawab Saiken melepaskan senjatanya.

"Aku mendengarmu." ucap Gaila yang duduk diatas punggung mayat alien.

"Ketua mengatakan padaku agar segera berkumpul ke tempat Lora berada." ucap Hans.

"Kenapa?"

"Entahlah, aku juga tidak tau. Namun dari raut wajahnya, ia terlihat sangat serius."

"I..itu karna Senior Altra telah mengetahui tempat para manusia disembunyikan, beliau akan segera kesana." ucap Lora tiba-tiba masuk dalam obrolan.

"Kau kenapa mengetahuinya?"

"Entah hanya dugaanku atau memang kenyataan, ia akan bertindak sendirian."

"Apa?"

"Kita percayakan saja padanya, lagipula kita tak berguna, bahkan sejak awal kita berangkat, kita semua tampak sangat lemah di depan para pembaca, bahkan ada yang mengolok kita. Padahal hal itu gara-gara energi kita menghilang entah apa alasannya." ucap Gaila.

"Pokoknya yang terpenting kita berkumpul dahulu, sisanya kita urus nanti. Lagipula meskipun sekarang energi dan tenaga kita telah kembali, bukan berarti kita sudah pulih." ucap Hans.

"Kau benar, menggunakan senjata melebih batas akan dapat membunuh kita." balas Saiken.

"Aku dan Vardex akan segera kesana."

"Baik, hati-hati kalian semua." ucap Lora.

Scene beralih ke tempat Violin.

Violin yang sedang menggendong wanita yang tak sadarkan diri dan Aulyn berjalan menyusuri lorong.

"Berat?" tanya Aulyn dengan nada lemah.

"Ti..tidak juga, aku sudah menyuntikan serum, jadi aku dapat membawa wanita ini dan senjataku, ya meskipun ini memang tak masuk akal karna berat keduanya jadi 2 kali berat badanku."

"Kamu wanita yang kuat yah."

"Tidak juga, bisa dibilang aku itu sangat lemah, aku bahkan selalu mengandalkan teman-temanku, aku sangat payah dalam hal apapun."

"Vi..vio.."

"Tapi aku telah berjanji pada diriku bahwa aku tak akan menyusahkan teman-temanku lagi, Violin yang sekarang sudah jauh berbeda dengan Violin yang sekarang, aku akan terus berusaha dan berjuang sekuat tenaga."

"Hmm" Aulyn tersenyum kecil.

"Di tim ini, aku mungkin yang paling tak berguna, aku bahkan belum bertarung sama sekali." ucap Aulyn menunduk.

"Siapa bilang? Tak ada orang yang tak berguna, kamu hanya belum tau apa peran dan posisimu, itu saja."

"Soal pria itu, Hexari Pextragon, aku merasa ia memiliki rahasia, terlalu banyak hal yang janggal pada dirinya."

"Soal itu, entahlah aku tak terlalu memperhatikannya." ucap Violin.

"Aku merasa ia punya kemampuan khusus, mana ada manusia yang tak tergores sedikitpun oleh misil yang dapat menghancurkan sebuah tanx." gumam Aulyn.

"Apakah sejak awal kau memperhatikannya? Aku tidak mungkin memberitaukan tentang keistimewaan yang dimiliki Hexari, lagipula aku telah berjanji padanya." pikir Violin.

Tak jauh di depan, terlihat sebuah cahaya, sepertinya itu adalah jalan keluarnya.

"Cahaya?"

"Kurasa itu adalah jalan keluarnya."

Bersambung.


Bersambung ke Alien Attack : World War Chapter 65

Kiosuke
2017-05-29 15:21:36
" Violin yang sekarang sudah jauh berbeda dengan Violin yang sekarang," ini maksudnya dengan Violin yg dulu ya?? -,-
Rudy Wowor
2017-05-28 02:15:00
hexary kemana?
Bocah Redoks
2017-05-27 18:51:31
sepertinya sudah menuju akhir perang. tampak dari scene pertarungan yg d selesaikan dengan terburu buru
Dwi Fitri
2017-05-27 14:16:09
baik karakter maupun penulisnya sepertinya ingin cepat2 perangnya selesai..
Phoenix D
2017-05-27 04:55:45
Hmm apa benar jalan keluar yah..
Don Quixote
2017-05-27 00:49:38
Entah knpa semua mempertanyakan tentang Hexari, aku justru lbih tertarik dgn si rank 1. Kira2 dia lgi ngapain y?
wahyu
2017-05-26 20:24:16
Hexari lg tidur g nonggol2
Kakek
2017-05-26 18:49:44
scene hexari makin jarang
Zen Kureno
2017-05-26 18:27:51
aku ikut komentar dibawah aja soalnya sama juga bingun sampe-sampe ini tim apa yang bertarung.
BeeZero
2017-05-26 18:26:12
yubel kmana nih ?! wah kok buru2 bngd nih chapt ,,ok next chapt
Baca Semua Komentar dan Balasan
daftar user · online · daftar penulis
halaman awal · group facebook