VersiTeks.com
Selain membaca versi teks anime dan manga, di sini kalian juga bisa membaca dan mengirim cerita karangan kalian sendiri, baik itu yang berupa cerita berseri, cerpen (oneshot), atau fanfiction.
login · register · kirim cerita · setting · kuis · chat game
home · versi teks · cerita karangan · oneshot · fanfiction · jadwal rilis


NEW!!! Sekarang kamu bisa melakukan register tanpa perlu melakukan proses validasi Facebook!!!

Silakan login atau register jika belum memiliki akun untuk menikmati berbagai fitur khusus di situs ini serta akses tanpa iklan-iklan yang mengganggu.
Pengguna Telegram? Coba game Kampung Maifam
Alien Attack : World War Chapter 46

2017-03-17 - Alien Queen > Alien Attack : World War
229 views | 13 komentar | nilai: 9.86 (14 user)

Alien Attack : World War Chapter46

Kembali ke tempat Altra.

"Aku lupa memberitau mereka agar memberi kode jika sudah menemukan jalan masuknya." pikirnya yang masih bersembunyi. Namun saat ia hendak keluar, tiba- tiba peluru cahaya merah bersinar diatas langit, ada sekitar 3 peluru bersinar di tempat yang berjauhan.

"Sial, bahkan belum 1 jam kita berpisah." umpat Altra.

Perhatian para alien pun tertuju pada peluru cahaya merah yang bersinar diatas langit.

Tanpa membuang kesempatan, Altra langsung keluar dari tempat persembunyiannya dan...

Jduar...

Entah apa yang terjadi, tapi lokasi para alien berada langsung meledak seketika. Altra pun berlari menjauh, ia memasang headset.

"Seharusnya ledakan itu memancing perhatian para alien." gumamnya, ia pun mengaktifkan alat di telinganya.

"Dan ku harap semua nya sudah mengaktifkan alat komunikasinya." tiba-tiba suara seorang wanita masuk.

"Ketua, disini Lora. Aku minta maaf karna tak bisa mematuhi perintahmu, aku..."

"Lora, kau baik-baik saja? Hei jawab aku?" teriak Altra.

"Maafkan aku ketua,.." sambungan pun terputus.

"Sial, aku harus menuju salah satu dari mereka, tapi yang mana tempat Lora berada."

Gaila, Vardex, Hans, dan Saiken langsung masuk.

"Ketua, disini Gaila, aku dalam keadaan hampir mati."

"Disini Vardex. Aku ketahuan, maaf."

"Sial.. Kalian bertahanlah." teriak Altra yang terus berlari.

"Apa yang harus kita lakukan?"

tanya Hans.

"Bagaimana keaadan kalian berdua?"

"Aku aman." ucap Saiken.

"Begitu juga denganku." timpal Hans.

"Baiklah, begini saja, lupakan misi utama, misi sekarang adalah menyelamatkan nyawa rekan dan diri sendiri. Hans bantu Vardex, Saiken bantu Gaila. Aku akan membantu Lora, beritau koordinat kalian." teriak Altra yang panik, bagaimanapun ia bertanggung jawab atas nyawa para anggota tim nya.

Saat Altra berlari..

Bziuw...

Peluru cahaya melesat kearahnya. Sigap ia melompat menghindari peluru.

Beralih ke tempat Hexari dan yang lainnya

"Bersiaplah, pasang sabuk pengaman, kurasa akan terjadi sedikit getaran." ucap Yubel yang mengemudi.

"Yo kawan, senjatamu keren juga." ucap Vestaka yang melihat pedang Hexari yang ia simpan di hadapannya.

"Hmm pedang ini memang istimewa." balas Hexari.

"Istimewa?" ucap Vestaka.

"Ya."

"Aku baru pertama melihat pedang berwarna keemasan seperti ini."

Saat badai angin menerpa, tanpa mereka duga, banyak makhluk yang menyerang dengan kaki berkuku runcing dan sayap kerasnya. Itu adalah alien terbang.

"Se..serangan Alien." ucap Violin.

"Apa??"

"Hm." Aulyn sedikit gemetar tentang hal itu.

Getaran lumayan besar terjadi pada mobil akibat angin dan batu kerikil yang menghantam mobil tersebut.

"Uwaa apa yang harus kita lakukan." panik Vestaka dan Hexari.

"Berisik.! Diam dan lihat saja!" bentak Yubel yang risih pada Vestaka dan terutama pada Hexari. Seketika dalam mobil itupun hening.

Tak.. Tak... Tak...

Batu-batu menghujani mobil tersebut dengan keras dan dalam jumlah yang banyak.

"Cih, Kalian berdua gunakan perlengkapan perang kalian, sebentar lagi kita akan melewati badai angin ini, kalian urus para alien sialan yang menyerang. Tunjukan padaku bahwa kalian adalah benar- benar seorang prajurit yang berguna.!" jelas Yubel memerintah pada Hexari dan Vestaka. Hexari dan Vestaka pun saling menatap dan segera dengan cepat mengenakan perlengkapan mereka.

"Lalu kami?" tanya Violin dan Neves serempak.

"Eh, kalian satu pemikiran rupanya.. Ekhem.. Sebaiknya kita perhatikan saja aksi mereka berdua, aku ingin tau apakah mereka bisa berguna atau tidak." ucap Yubel datar.

"Hmm. Perasaanku tidak enak." Violin mengalihkan pandangan, ia menatap ke sisi jendela yang tertutup kaca.

Mobil pun berhasil melewati badai angin, namun serangan yang dilakukan para alien terbang belum berhenti.

"Baiklah, sekarang saatnya kita beraksi.." ucap Hexari semangat, ia telah mengenakan perlengkapannya.

"Yosh." lanjut Vestaka, ketika penutup bak belakang dibuka, Hexari dan Vestaka pun melompat keluar.

Vestaka siap dengan senjata api nya. Saat seekor Alien hendak menyerang mobil, Vestaka melompat naik keatas mobil dan.

Drrd..drrd..drrd..

Puluhan peluru langsung melesat keluar dari senjatanya, tak mau kalah, Hexari langsung berlari dan melompat setinggi 5 meter keatas dan ia pun mengayunkan pedangnya.

"Mustahil, mana ada manusia melompat setinggi itu." ucap Neves tak percaya.

"Pemuda yang dianggap sebagai pengacau itu rupanya sangat hebat." pikir Aulyn yang tak mengeluarkan sepatah kata pun dari awal.

Alien Attack : World War Chapter 46 - Borroka Armada II
Penulis : Alien Queen

Alien Attack : World War

Beralih ke angkatan laut, dimana pertarungan sedang terjadi.

"Kalau begitu kalian diam saja dan lihat kemampuanku." ucap Gravrik yang berlari maju kedepan. Tak kalah Aerilyn pun berlari kedepan mengejar makhluk besar merah itu.

"Cih.." Aerilyn pun mempersiapkan senjatanya, terlihat senjata apinya bercahaya dan

Bziuw...

Peluru cahaya bagaikan laser dilepaskan dan membuat tangan kiri makhluk itu putus.

"Kerja bagus, sekarang giliranku." teriak Gravrik yang masih berlari, tiba-tiba saja makhluk raksasa itu menembakan air dari mulutnya.

Crat Crat..

Gravrik terlihat lincah menghindari berbagai tembakan air yang melesat kearahnya.

"Pertama kalinya aku melihat pertarungan seorang warrior."

"Ta..tadi itu peluru cahaya kan?" tanya Vils.

"Ya, itulah senjata milik senior." jawab Karui bangga.

"Dia punya senjata yang mirip senjata alien, ah aku menyukainya." timpal Karina yang berbinar.

"Kalian aneh." gumam Vils sweatdrop.

Kembali ke pertarungan, Gravrik mengubah bentuk senjatanya menjadi senjata api.

Makhluk itu langsung menyerang dengan capit yang tersisa, namun Aerilyn kembali menembakkan peluru cahayanya hingga mengenai capit itu. Seketika capit pun hancur. Makhluk itu pun mengerang kesakitan untuk kedua kalinya.

"Hmm terlalu mudah." ucap Aerilyn datar.

"Terimakasih banyak, sekarang giliranku." ucap Gravrik.

Tanpa peringatan, makhluk itu mengeluarkan busa dalam jumlah banyak dan menembakan air.

"Bahaya, semuanya menghindar." teriak Vilia, ia pun memundurkan mobil yang dikemudikannya, Karui, Karina dan Vils pun mundur.

"Dasar makhluk sialan, Rasakan ini." ucap Gravrik yang jaraknya sudah cukup dekat. Ia bersiap siap dan.

Jduar..

Makhluk itu meledak setelah terkena peluru aneh senjata Gravrik.

"Game over, aku menghancurkan makhluk sialan itu, bagaimana Vilia?" tanya Gravrik merasa bangga.

"Payah, kau sangat lama, lagipula kau menghancurkan makhluk itu dengan bantuan anggota tim mu." ejek Vilia yang keluar dari mobil,

"Selain itu makhluk itu sangat lemah, alien kelas Mega saja selama itu" lanjutnya.

Aerilyn berjalan santai kearah mobil sambil memanggul senjata nya.

"Itu tadi sangat hebat." puji Karui yang berjalan kearah Aerilyn.

"Ya, tadi itu luar biasa." timpal Karina yang juga ikut, namun Aerilyn tak menanggapi, ia kemudian menyimpan senjatanya dan duduk di kursinya.

"Kalian diabaikan tuh." ucap Vils memasang tatapan bingung, karna meskipun diabaikan, dua wanita itu terlihat berbinar.

"Knight ranking 1, selain kuat dia juga sangat cantik, wajar saja banyak pria yang menyukainya. " ucap Gilga didalam mobil,

"Kau juga menyukainya?" tanya Navira yang duduk di sebelahnya.

"Hanya pria yang tidak normal yang tidak menyukai wanita itu, meskipun tidak menyukai, setidaknya menyimpan rasa kekaguman padanya." jawab Gilga yang masih menatap keluar kaca.

"Tapi sayangnya, dia tidak mudah bergaul dengan prajurit lain, aku saja hampir tak melihat ia bersama orang lain." balas Ruka.

"Hei, aku Rina dan Rui dekat dengan senior." bantah Aronia yang ikut pembicaraan.

"Ya, tapi itu juga jarang kan?" balas Navira.

"Sifat dingin nya membuat ia terlihat mengagumkan, ia tampak selalu anggun dan menawan, sikap tegasnya membuat ia terlihat sebagai wanita yang kuat. Hmm sungguh sosok wanita yang ideal luar dalam." ucap Ruka.

"Seperti itulah, sungguh beruntung bagi pria yang berhasil mendapatkannya." balas Gilga.

"Terus lah bermimpi, dia adalah satu-satunya wanita yang anti sosial dan anti pria." ucap Vilia yang masuk mobil, seketika semuanya kembali ke posisi masing-masing.

"Apa maksud anda dia anti pria?" tanya Gilga.

"Dia, entah apa yang dipikirkannya, ia tak pernah menanggapi satu pun pria. Bahkan ada beberapa prajurit bahkan setingkat warrior yang pernah mengajaknya kencan, namun ia menolaknya dengan dingin"

"Ja.."

"Sudahlah, jangan membahasnya lagi, kita akan melanjutkan perjalanan." potong Vilia, ia menutup pintu dan memasang sabuk pengaman.

"Hmm yasudah."

Mobil pun dinyalakan,

"Hah tadi itu lumayan." puji Vils pada Gravrik, terlihat semuanya telah berada di dalam mobil.

"Yah padahal aku ingin bermain-main lebih lama." ucap Gravrik yang menyalakan mobil.

"Kau juga sangat luar biasa." puji Karina pada Aerilyn.

"Berisik.." bentak Aerilyn.

"Aah kau sangat cantik." ucap Karui dan Karina.

"Ngomong-ngomong tentang senjatamu, aku pernah melihat itu." ucap Gravrik pada Aerilyn.

"Itu sepertiiii...." Gravrik terlihat memikirkan sesuatu.

"Senjata milik senior Fredriks." ucap Aerilyn datar.

"Nah itu dia."

"Senjataku, beliau yang menyesuaikan model dan jenisnya, bisa dibilang beliau merancang ulang senjata."

"Hmm seperti itu."

"Baiklah, bagaimana? Kita lanjutkan?" tanya Gravrik pada Vilia.

"Yosh." kedua mobil pun melaju meneruskan perjalanan.

Beralih ke angkatan Udara.

"Dimana pesawatnya?" tanya Laura. Hanya pemandangan langit biru dan awan saja terlihat. Ngiiing...

Suara tadi kembali terdengar, kali ini sangat jelas terdengar.

"Suaranya.... dari bawah." teriak Agosti. Tiba-tiba muncul bola besi sangat banyak dari bawah melesat kearah pesawat yang di kemudikan Agosti dan Laura.

"Robot-robot bayi.." gumam Agosti.

"Bayi? Apa maksudmu?"

"Nanti ku jelaskan, sekarang sebaiknya kita hindari dahulu benda-benda itu. Benda itu pemakan logam."

"Apa? Jadi mereka akan..."

"Memakan pesawat kita.."

Bersambung.

Bersambung ke Alien Attack : World War Chapter 47

Andre Rohmatul Sidik
2017-06-21 09:26:27
Aerilyn bukannya pernah tidur di kamar Hexari?
Sovaren DF F
2017-05-26 09:44:42
Senjata altra belum diketahui ternyata
Ade Aja
2017-03-24 20:40:10
Wlw pun kelakuan Hexari sprti org bodoh, tpi aq suka. Selain dia itu baik, dia juga kuat. Bhkan ampe skrg kekuatan penuhnya belum terlihat, bsa jd kekuatannya setara dgn 3 Jendral...
ZENA LEO MONSTA X
2017-03-23 13:34:30
Lumayan panjanglah, kasih nilai deh
Kleiss Effortles
2017-03-18 19:29:22
Ah aerilyn kamu memang sangat cantik, aku benar2 mencintaimu
chichay
2017-03-17 22:01:02
pensrn dgn aksi hexari ,kesialan ap lg yg akn mnimpanya
Gouenji Shuuya
2017-03-17 14:16:19
Hmm pemakan logam.. bahaya tuh
Bocah Redoks
2017-03-17 12:16:29
sifat ae yg sekarang sangat berbeda pas ketemu hexari dulu
T S A
2017-03-17 11:42:03
Apakah banyak robot bayi nya ?
Dwi Fitri
2017-03-17 08:03:52
Sifat dingin itu selalu membuat tampak lebih keren *-*
Baca Semua Komentar dan Balasan
daftar user · online · daftar penulis
halaman awal · group facebook