VersiTeks.com
Selain membaca versi teks anime dan manga, di sini kalian juga bisa membaca dan mengirim cerita karangan kalian sendiri, baik itu yang berupa cerita berseri, cerpen (oneshot), atau fanfiction.
login · register · kirim cerita · setting · kuis · chat game
home · versi teks · cerita karangan · oneshot · fanfiction · jadwal rilis


NEW!!! Sekarang kamu bisa melakukan register tanpa perlu melakukan proses validasi Facebook!!!

Silakan login atau register jika belum memiliki akun untuk menikmati berbagai fitur khusus di situs ini serta akses tanpa iklan-iklan yang mengganggu.
Pengguna Telegram? Coba game Kampung Maifam
Knight Diary Chapter 51

2017-04-30 - Kizaemon > Knight Diary
197 views | 14 komentar | nilai: 9.78 (9 user)

Flap... Flap...



Ratusan makhluk besar mengepakkan sayap lebar di punggung mereka, terbang dengan stabil dalam formasi yang sangat teratur.

Satu per satu dari mereka mulai turun ke suatu tanah hijau yang lapang. Kawanan monster seperti Goblin jadi ketakutan lantas lari menyebar.

Ini di Padang Rumput Utara. Kerajaan luas Schroder yang dilindungi dinding pertahanan putih yang tinggi dan tampak kokoh bisa terlihat jelas dari sini.

"Fu, Fufufu~"

Melihat pemandangan itu, Vion Bell Zeragon terkekeh senang di punggung naga hitam miliknya.

"T-Tuan Putri, sejak kemarin anda semakin sering tertawa sendiri. Apa... anda baik-baik saja?" ajudannya yang mendaratkan naganya tepat di samping naga Vion memandangnya dengan cemas.

"Ufufu, apa yang kau katakan Tina? Aku tidak pernah merasa sesemangat ini dalam hidupku! Dari kota itu, aku merasakan beberapa keberadaan yang kuat! Apa itu Hero? Aku sudah tidak sabar untuk beradu pedang dengan mereka!"

"Umm... tentang penyerangan terhadap Kerajaan Schroder ini, apa Tuan Putri benar-benar yakin? Mereka sepertinya sudah siap dengan kedatangan kita..."

"Hmmm..."

Dilihat dari sini, itu memang benar bahwa kubu Schroder sudah siaga dan tidak panik. Di balik gerbang benteng yang memang sengaja mereka biarkan terbuka, berbaris pasukan dengan jumlah besar yang menatap intens kemari seolah siap menyerbu kapan saja.

"Hmm, mereka sudah tahu kalau kita akan menyerang? Menurutmu bagaimana, Pois?" Vion meminta pendapat naga kesayangannya.

<Ini... kurasa ini perbuatan para kucing, anjing, dan kelinci kecil dari Malia. Sebelum musnah, mereka masih sempat-sempatnya memperingati tetangga mereka tentang kita.> naga hitam itu menggeram kesal.

Perlu diketahui, semua naga dari Zeragon memiliki kecerdasan yang tinggi. Mereka juga memiliki kehendak sendiri dan bisa berbicara dengan fasih. Hal ini dikarenakan para naga itu dan keturunannya terus hidup bersama manusia selama ratusan tahun.

"Tuan Putri, tolong pikirkan penyerangan ini sekali lagi! Jika Tuan Putri sampai terluka, kami takkan berani menunjukkan wajah kami di hadapan Yang Mulia lagi!" sebagai ajudan Vion, kesetiaan Tina tak perlu dipertanyakan. Ia sudah menemani dan bermain dengan Vion sejak kecil.

Melihat bawahannya yang khawatir, Vion terdiam dan merenung. Lalu ia melepas helm tempurnya.

Perlahan ia menutup mata.

Ia mengaktifkan suatu skill tertentu.

Kelima ratus Dragon Rider dan naganya menunggu dalam keheningan.

Setelah beberapa saat, Vion membuka matanya dan tersenyum lembut pada Tina.

"Tidak apa-apa, Tina. Beritahukan pada yang lain kalau kita tidak jadi menyerang Schroder."

"E-Ehhh!?" Tina senang sekaligus terkejut.

Bagaimana bisa seorang Tuan Putri yang tidak tahu arti dari kata 'mundur' bisa mengatakan hal semacam itu?

"Aku tidak akan pernah mengorbankan pasukanku yang berharga. Sekarang kita hanya sedang membawa 10 persen kekuatan militer Zeragon. Jika kita menyerang benteng itu sekarang, itu tidak ada bedanya dengan bunuh diri. Untuk menaklukan Schroder, kita setidaknya harus membawa seluruh pasukan kita. Oleh karena itu, penaklukan Schroder akan ditunda ke lain hari."

"I-Itu artinya... sekarang kita akan pulang?" tidak bisa menyembunyikan kegembiraannya Tina bertanya dengan semangat. Ia sebenarnya sudah muak dengan segala tugas ini. Ia sangat khawatir pada keselamatan Vion yang gila bertarung.

"Yah... dengan jumlah kita di sini, dan rencana serangan kejutan juga gagal, sangat sulit bagi kita untuk memenangkan pertempuran. Kurasa sudah saatnya untuk menghentikan ekspedisi militer ini dan segera pulang ke Zeragon."

"Ah, terima kasih Dewa. Akhirnya Tuan Putri kami mau pulang juga dan--"

"Tapi aku tidak akan pulang dengan tangan kosong." Vion dengan cepat memotong ungkapan rasa syukur dari Tina.

"Eh? Ehhhh!? B-Bukannya kita tidak jadi menyerang!?"

"Tina, cepat kirimkan suatu sinyal ke pihak Schroder."

"Tapi! Tuan Putri!"

Mengabaikan salah satu bawahannya yang panik di sampingnya, Vion memberikan perintah tegas.

Senyum lembut yang tadi ia tunjukkan kini bercampur dengan seringai licik.

Vion segera kembali memasang helm tempurnya ke kepala.

***

Knight Diary Chapter 51 - Utusan
Penulis : Kizaemon

Berdiri di atas dinding benteng, Kin mengamati pasukan Dragon Rider yang berhenti di Padang Rumput Utara menggunakan sebuah teropong.

Sebagai Pahlawan Ke-6, class-nya adalah Magic Engineer. Dia bisa membuat benda apapun selama dia memiliki material yang dibutuhkan.

"...Hanya berjumlah 502 orang? Mereka meremehkan Schroder atau apa? Tapi beruntung mereka tidak langsung menyerbu ketika mereka tiba. Persiapan sudah selesai. Mereka akan habis jika mereka memilih untuk memulai pertempuran. Tapi masalahnya, matahari sudah mulai terbenam. Jika pertempuran terjadi di malam hari, itu agak merugikan kami..."

Dia dengan tenang mengamati situasi dan memperhitungkan semua kemungkinan yang bisa terjadi. Ratusan naga yang berbaris sama sekali tidak mengintimidasinya.

^Blink!^

Dari udara kosong, seorang laki-laki muncul di sampingnya. Kin sudah tahu siapa itu jadi dia terus mangamati musuh tanpa terganggu.

"Mereka masih belum menyerang... apa yang mereka tunggu? Kin, apa mereka merencanakan sesuatu?"

"...Kau diam saja, Ichiro. Keluar dari benteng dan bertempur di area terbuka adalah pilihan terburuk bagi kita. Kita akan terus menunggu sampai... Oh?"

"A-Ada apa!? Apa terjadi sesuatu?"

"...Yah, coba lihat itu. Mereka mengirim isyarat pada kita."

"Eh? Isyarat?"

Ichiro yang bingung mencoba menajamkan penglihatannya ke arah yang Kin tunjuk.

Seseorang dari pasukan Zeragon yang ada di barisan paling depan tengah mengangkat tinggi-tinggi sebuah tombak. Di ujung tombak yang mengarah ke langit, sebuah helm besi diletakkan di sana.

"Apa artinya isyarat itu?"

...Mereka meminta kita mengirim seorang utusan.

Kin tahu arti isyarat itu namun dia terlalu sibuk memikirkan sesuatu hingga tidak mendengar pertanyaan Ichiro.

Setelah terdiam beberapa saat, Kin tersenyum sinis ke arah pasukan musuh di kejauhan.

"Ichiro, persiapkan dirimu. Ada sedikit perubahan rencana."

"...Heh?"

***

Isyarat telah selesai dikirim. Walau jaraknya agak jauh, mustahil pihak Schroder tidak melihat isyarat itu.

"Ah? Ufufu, respon mereka cepat juga."

Dari gerbang Schroder yang terbuka, Vion melihat seorang pemuda berambut hitam keluar dan berjalan kemari. Pemuda itu memiliki aura yang tidak bisa dijelaskan. Orang itu juga tampak mencurigakan karena memakai jubah hitam bertudung yang menutupi sosoknya, seolah-olah dia ingin menyembunyikan senjata yang dia bawa.

Saat masa perang, membunuh seorang utusan adalah hal yang dianggap sangat hina. Namun jika utusan itu membawa senjata, tidak ada yang peduli jika utusan itu dihabisi. Ini karena dikhawatirkan kalau utusan itu sebenarnya adalah pembunuh yang dikirim pihak musuh.

Vion mengerutkan keningnya saat melihat pemuda itu.

Akhirnya utusan itu sampai di hadapan Vion.

Dihadapkan dengan tatapan tajam seluruh pasukan musuh dan ratusan naga yang menggeram ke arahnya, orang itu sama sekali tidak gemetar.

Membuat naga hitamnya maju selangkah, Vion mengangkat suaranya yang lantang.

"Aku Vion Bell Zeragon, dan ini adalah nagaku, Pois. Akulah yang memimpin pasukan ini. Aku ingin kau menyampaikan pesanku pada Raja Schroder. Tapi sebelum itu, perkenalkan dirimu."

"Aku Matsumoto Ichiro, anggota Divisi Royal Knight dari pasukan Schroder, dikirim kemari oleh Pahlawan Ke-6 Saitou Kin-sama." menanggapi Vion, pemuda itu menunjukkan sebuah kartu pengenal dengan warna dasar biru.

"Oh, seorang Royal Knight, huh..." dari nadanya, Vion jelas sedang menahan tawa.

Si utusan tetap menunggu dalam diam.

Kemudian Vion ^puk puk^ menepuk leher naga miliknya yang dilapisi sisik tebal, keras dan tajam.

"Pois, katanya dia seorang Royal Knight. Apa itu benar?"

<Grrrr... omong kosong, dia seorang Hero.>

Untuk sesaat, wajah si utusan itu menunjukkan keterkejutannya namun segera kembali ke sikap normal.

Di hadapan semua prajurit musuh yang marah dan menarik keluar semua senjata mereka, orang itu hanya menggaruk pipinya yang tidak gatal dan tersenyum canggung. Ichiro berpikir.

(Bahkan di Schroder ada sangat sedikit orang yang tahu tentangku. Bagaimana bisa kadal ini tahu sampai sejauh itu hanya dengan sekali lihat? Sialan kau, Kin... Kau tidak membayarku cukup untuk melawan seluruh pasukan musuh sendirian!)

Bersambung ke Knight Diary Chapter 52

Rita En
2017-08-05 10:00:49
Jah! Bakal habis nih, Ichiro. Eh, tai nggak juga, deh.
Alien Queen
2017-06-13 21:40:52
Oh ya masa nggak jadi, padahal kalau jadi, ini adalah peperangan yang pertama. Oh ayolah, jadi aja nyerangnya.
wahyu STWN
2017-06-06 01:57:22
Haha ichiro
Night Eve
2017-05-08 18:21:37
Semunya kalah ditangan ichiro
Bocah Redoks
2017-05-01 23:10:39
jirr. jadi umpan naga.
Sqouts Shadows
2017-05-01 14:41:56
Ditunggu cerita berikutnya
ThE LaSt EnD
2017-04-30 20:57:04
hmm, apa mungkin Naga dan makhluk trtentu bsa mendeteksi aura seorang Anventure? ajak duel kyaknya akan seru. Vion vs Ichiro... atau.. bantai aja smua ras Naga..
Blank
2017-04-30 14:52:11
Apa mungkin 1 vs 1 ya
Dzibril Al Dturjyana
2017-04-30 14:13:25
ah rame ni klo bner tarung.
Kiosuke
2017-04-30 10:19:18
hahaha, kan naga punya kekuatan hebat nya jadi bisa membaca identitas orang..
Baca Semua Komentar dan Balasan
daftar user · online · daftar penulis
halaman awal · group facebook