VersiTeks.com
Selain membaca versi teks anime dan manga, di sini kalian juga bisa membaca dan mengirim cerita karangan kalian sendiri, baik itu yang berupa cerita berseri, cerpen (oneshot), atau fanfiction.
login · register · kirim cerita · setting · kuis · chat game
home · versi teks · cerita karangan · oneshot · fanfiction · jadwal rilis


NEW!!! Sekarang kamu bisa melakukan register tanpa perlu melakukan proses validasi Facebook!!!

Silakan login atau register jika belum memiliki akun untuk menikmati berbagai fitur khusus di situs ini serta akses tanpa iklan-iklan yang mengganggu.
Pengguna Telegram? Coba game Kampung Maifam
Knight Diary Chapter 25

2016-12-04 - Kizaemon > Knight Diary
206 views | 13 komentar | nilai: 9.5 (6 user)

"...Mh..."

"! Ah, Nona Belle, anda akhirnya siuman!"

"...Hm? Gi-Gisela!?"

Knight Diary Chapter 25 - Belum Kembali
Penulis : Kizaemon

(A.Note: Sudut Pandang Orang Ketiga)

Williabelle kaget dan hampir melompat saat mendengar suara pelayannya, Gisela.

Bagaimana mungkin ia tidak terkejut, seharusnya saat ini Gisela masih ada di istana kecil mereka, menunggu kepulangan Williabelle yang pergi menyusul Ichiro ke Gurun Kesengsaraan. Namun setelah Williabelle menyadari keadaan sekitar, ia akhirnya mengerti.

"Aku... bagaimana bisa, aku ada di kamarku? Aku sudah pulang?"

Williabelle mendapati dirinya tengah berada dalam ruangan yang sangat familiar. Ia sedang berbaring di atas tempat tidurnya sendiri, dan seorang maid (Gisela) duduk di sebuah kursi kecil di samping tempat tidurnya.

"Siapa yang membawaku kemari? Mana Ichiro?"

"! I-itu..."

Mendengar pertanyaan dari majikannya, air muka Gisela jadi agak berubah. Sebenarnya Paman Graff sudah menceritakan semua yang terjadi ke Gisela, sehingga membuatnya bingung harus menjawab seperti apa. Ia hanya bisa menggaruk pipinya.

Melihat respon Gisela, Williabell jadi bingung. Tapi sebelum ia bisa menanyakannya lagi, pintu kamarnya terbuka dengan keras seakan ada badak yang mendobraknya.

BRAK!

"Gisela! Tadi aku mendengar kau-- Ah! Vampir Iblis, kau belum mati!"

Seorang gadis Elf dengan rambut panjang lembut sewarna emas menerebos masuk.

Melihat hal ini, Williabelle meledak.

"Kau! Dari caramu mengatakannya, kau sangat menginginkan kematianku!? Dan lagi, berani-beraninya kau menendang pintu di rumah orang lain! Dasar Elf Murahan tidak tahu malu!"

"Fufu, jangan marah-marah begitu, aku hanya bercanda. Lagi pula kita teman, kan?"

"...Haa..." Williabelle menghela nafas tidak berdaya.

Setelah Mariel, seorang gadis dengan rambut merah jambu dan mengenakan jubah putih bersih menyusul masuk. Sambil tersenyum lembut, gadis itu, Adelea, menyeka air matanya dengan jarinya.

"Syukurlah... Kupikir aku telah gagal mengobati Williabelle-san karena kamu sudah tidak sadarkan diri selama tiga minggu. White Magic-ku masih terlalu lemah. Maaf..."

...I-ini sudah tiga minggu!?

Dalam ingatannya, Williabelle ingat bahwa sebelum tak sadarkan diri, dirinya terluka parah. Jantungnya telah di tembus pedang, yang mana merupakan luka yang berarti kematian pasti, bahkan untuk vampir. Tapi faktanya, saat ini Williabelle masih bernafas, ia masih hidup. Begitu ia memeriksa, di dadanya sama sekali tidak terlihat bekas luka, kulitnya tetap bersih dan mulus seperti batu giok. Hanya Adelea yang memiliki Skill penyembuh di sini, jadi pasti ialah yg telah menyelamatkan nyawanya.

Williabelle bangun dan dengan lembut meraih tubuh Adelea yang berdiri di dekat ranjangnya, memberi sebuah pelukan.

"Apa yang kau katakan, Adelea? Ucapan terima kasih saja takkan pernah cukup untuk membalas jasamu. Kini aku berhutang nyawa padamu."

"Ta-tapi... tapi... Ichi--- Mmh! Hmmh...!"

Tidak jelas apa yang ingin Adelea katakan karena mulutnya cepat-cepat dibungkam oleh dua gadis berambut pirang platina dan berwajah identik yang datang secara tiba-tiba entah dari mana.

"Williabelle benar, Adelea. Kau sudah berusaha semampumu jadi tak perlu minta maaf dan menyalahkan dirimu sendiri. Peran Adelea tak tergantikan, ya kan Lily?"

"Un, kau benar Tily. Tapi Belle-chan masih perlu banyak istirahatkan? Jadi sebaiknya kita jangan banyak menggangunya. Ayo Adelea, bantu kami menyiapkan makan malam!"

Tily dan Lily bicara agak gugup sambil terus menutup mulut Adelea dengan telapak tangan mereka.

"Tu-tunggu! Kita tetap harus memberi tahu Williabelle-- Mmh...! Mm...!"

Adelea berusaha mengatakan sesuatu lagi namun ia segera diseret keluar oleh Lily dan Tily.

Belum sempat Williabelle pulih dari rasa bingung karena kelakuan ketiga gadis itu, sekarang gadis lain yang berambut dan equipment-nya yang serba hitam masuk ke ruangan ini. Kulitnya yang putih sangat kontras dengan warna pakaiannya. Ia membawa sebuah botol kaca berwarna gelap di tangan kirinya, dan sebuah gelas kecil berkaki di tangan kanannya.

Menyadari botol yang dipegang gadis itu, Williabelle seakan tercekik.

"Ti-tidaaak! Wine berusia 100 tahun-ku! Itu salah satu koleksi anggus paling berharga peninggalan orang tuaku! Aku bahkan belum pernah mencicipinya setetespun! Uh... Killa... kenapa..." Williabelle meratap dan siap menangis kapan saja.

"Mu... Killa! Aku sudah sering bilang untuk menghilangkan kebiasaan minum-mu! Kita belum cukup umur! Itu juga bukan punyamu, kau harus menggantinya nanti!" Meskipun sulit dipercaya, tapi saat ini Mariel memihak Williabelle.

"Maaf. Awalnya aku hanya ingin mencobanya sedikit. Namun seperti yang diharapkan dari anggur milik Ras Vampir, rasanya begitu tajam dan berat, tapi manis. Kualitas terbaik. Aku jadi ketagihan dan tanpa sadar isi botol ini sudah hampir habis. Sekali lagi, maaf. Meskipun itu sangat sulit, aku akan tetap mencari gantinya."

Walaupun pipinya sudah memerah karena mabuk, Killa masih mampu bicara lancar dan dengan santai menuangkan tetes-tetes angur terakhir dalam botol itu ke gelas di tangannya.

Ketika Killa ingin meminumnya, Williabelle menjerit "Jangaaan!" dan merebut gelas dan botol yang sudah kosong itu dari tangan Killa.

"Aaaahh! Sudah cukup! Kalian, cepat ceritakan kenapa kalian bisa sampai kerumahku? Dari mana kalaian tahu, ah, tentu saja... Sudah pasti Ichiro! Dasar, murid lancang itu... Hmm, ngomong, kemana dia sekarang? Oh ya aku lupa, jam segini biasanya ia belum pulang dan berburu di rawa-rawa, mencari Pouch dari para [Lizardman] demi uang receh dan item murahan. Haa... dia memang menyedihkan. Seharusnya dia tetap berada di sini dan menjagaku, kan? Apa dia tidak mengkhawatirkanku atau bagaimana? Erm... Kalian... kenapa murung seperti itu?"

Williabelle berpikir kalau ada yang aneh di sini. Wajah Mariel, Killa, dan Gisela sedikit berubah saat ia menyinggung tentang Ichiro. Semuanya membisu, tak berani menatap matanya.

Tepat saat itu, seorang laki-laki masuk ke ruangan itu. Dia membawa sebuah pot yang di dalamnya tumbuh tanaman kecil berwarna putih dengan bentuk mirip kaktus yang memiliki sebuah kuncup bunga yang belum mekar.

"Oh, kebetulan sekali Nona Vampir sudah bangun. Bagaimana pendapatmu tentang tanaman cantik ini? Ini sangat langka, lho. Mungkin hanya ada satu atau dua yang tumbuh di Seluruh Gurun Kesengsaraan. Meskipun sangat disayangkan, tapi aku sudah memutuskan untuk memberikan tanaman ini padamu. Yah, anggap saja sebagai ucapan terima kasihku pada Ichiro karena mau menemaniku pergi ke gurun berbahaya itu."

Orang itu meletakkan pot yang dia bawa di dekat jendela.

Untuk saat ini Williabelle sama sekali tidak tertarik dengan kaktus itu. Ia berbalik ke Gisela.

"Gisela, dia kan..."

"Ini Paman Graff. Dia seorang Florist dan penebang kayu. Tetangga kita yang tinggal di pondok seberang hutan rawa."

"...Begitu."

Sepertinya ingatan Williabelle tidak salah. Karena awalnya Paman ini memang pergi bersama Ichiro, tentu saja Ichiro juga mengundang Paman ini kemari.

"Umm... Williabelle, Paman Graff lah yang memberitahu kami tempat tinggalmu ini." Mariel mengatakan itu sambil menatap lantai.

"Are?" Williabelle memiringkan kepalanya.

Sebenarnya tidak aneh kalau Paman ini tahu dimana rumahnya, toh pondok Paman ini tidak terlalu jauh dari sini. Tapi bukannya ada Ichiro? Apa mungkin kepala Ichiro terbentur hingga lupa jalan pulang? Kemana perginya anak itu?

Akhir-akhir ini entah kenapa Williabelle selalu merasa tidak nyaman jika Ichiro hilang dalam penglihatannya walau hanya sebentar. Hal ini juga yang menjadi alasan kenapa ia mau menyusulnya ke tempat penuh cahaya matahari yang tidak terlalu ia sukai. Namun tentu saja jika ditanya, ia terlalu gengsi untuk mengakuinya.

Seakan mampu membaca apa yang sedang Williabelle pikirkan, Mariel secara reflek memeluk Williabelle dengan erat. Sudah pasti Williabelle kaget bukan main.

"Wha--!? Apa---"

"Maafkan aku, Williabelle. Tapi Ichiro... mungkin tidak akan kembali lagi."

"!?"

Sejak awal, Mariel sudah siap untuk menerima konsekuensinya. Ia tahu ada kemungkinan kalau Williabelle akan membunuhnya. Ia hanya bisa pasrah.

Sementara Williabelle... baginya dunia seakan sudah berhenti berputar.

Bersambung ke Knight Diary Chapter 26

Rita En
2017-08-03 12:33:10
Wah, sudah 3 minggu aja.
Alien Queen
2017-06-09 16:12:17
Dan katanya anggur itu semakin lama bakal semakin luar biasa rasanya.
Kiosuke
2017-04-19 19:50:30
yah sepertinya ia menyukai Ichiro
Grim Rieper
2016-12-05 18:27:36
Lanjut
Crash Bubbleo
2016-12-05 09:52:39
nasib ichiro bgmna yahh..??
Jack El Jacqueline
2016-12-05 09:48:21
Oy....kizaemon.....kenapa belum ada lanjutannya!!? apakah kmu kehabisan ide?.
Mr Blacky
2016-12-04 18:09:55
Tidak pahlawan harem kita... Jangan bilang dia...
chichay
2016-12-04 09:48:29
d tunggu lnjutnnya .moga tak lma
Rudy Wowor
2016-12-04 08:22:41
Ichiro belum nonggol ya di chapter ini.
ThE LaSt EnD
2016-12-04 08:07:36
williabelle mrasa kehilangan sosok Ichiro.., dia menyukainya..
Baca Semua Komentar dan Balasan
daftar user · online · daftar penulis
halaman awal · group facebook