VersiTeks.com
Selain membaca versi teks anime dan manga, di sini kalian juga bisa membaca dan mengirim cerita karangan kalian sendiri, baik itu yang berupa cerita berseri, cerpen (oneshot), atau fanfiction.
login · register · kirim cerita · setting · kuis · chat game
home · versi teks · cerita karangan · oneshot · fanfiction · jadwal rilis


NEW!!! Sekarang kamu bisa melakukan register tanpa perlu melakukan proses validasi Facebook!!!

Silakan login atau register jika belum memiliki akun untuk menikmati berbagai fitur khusus di situs ini serta akses tanpa iklan-iklan yang mengganggu.
Pengguna Telegram? Coba game Kampung Maifam
Knight Diary Chapter 15

2016-10-05 - Kizaemon > Knight Diary
226 views | 8 komentar | nilai: 9.8 (5 user)

"Bagus. Sekarang... kita akan pergi kemana?"

"Mencari naga, kan? Tapi kita harus mencarinya di mana?"

"Kau hanya mengulang pertanyaanku, Diary. Kau seharusnya menunjukkan kegunaanmu sekarang."

"Meskipun kau bilang begitu, kemampuanku mendeteksi sihir hanya bisa menjangkau dalam radius 1 kilometer. Hmm... kenapa kau tidak tanya dengan paman Graff saja? Siapa tahu dia pernah mendengar suatu rumor tentang keberadaan naga."

"Itu... bukan ide buruk."

Knight Diary Chapter 15 - Mendapat Petunjuk
Penulis : Kizaemon

Setelah diskusi singkat dengan Diary, kita sebut saja seperti itu, aku berangkat dari istana Williabelle menuju pondok paman Graff yang jika dari sini itu akan berada di seberang Rawa Keheningan.

Setiap kali aku berjalan melewati kawasan berlumpur ini, aku selalu disambut oleh sekumpulan Lizardman yang memang menjadikan region ini sebagai habitat mereka.

Mungkin jika aku masih sama dengan diriku saat baru tiba ke dunia ini, aku tidak mungkin berani untuk menyerbu tempat ini hanya dengan diriku sendiri. Tapi sekarang, kurasa aku masih mampu menangani mereka sekaligus asalkan jumlahnya tidak lebih dari 5 ekor.

Namun jika dalam kawanan itu terdapat lebih dari 2 ekor Salamander api, itu lain lagi ceritanya. Aku akan memilih untuk menghindari mereka kalau begitu.

Ketika matahari sudah agak condong ke barat, pondok kayu sederhana yang dibangun di atas sebuah bukit kecil yang di kelilingi pepohonan, masuk dalam penglihatanku. Di halaman depan pondok itu, tampak seorang pria botak berbadan kekar yang dengan semangat mengayunkan kapaknya secara vertikal untuk membelah kayu gelondongan.

Paman Graff menghentikan pekerjaannya ketika melihat kedatanganku.

"Hou, boba lihat siapa yang datang. Petualang muda kita, kau tampak sangat sehat, huh?"

"Selamat siang, paman. Sudah agak lama sejak terakhir kita bertemu. Maaf aku tidak pernah berkunjung."

Setelah memberikan pelukan dengan tenaga mengerikan hingga membuat nafasku terdesak keluar, paman Graff "Hahaha." tertawa.

"Tidak apa-apa, itu bukan masalah. Setelah semua, bukankah tinggal di istana dan dilatih gadis cantik lebih menyenangkan daripada tinggal di pondok kayu reot sepertiku?"

"Ah, aku tidak pernah berpi-- Tunggu sebentar! Ba-ba-bagaimana paman bisa tahu!?"

"Hahaha. Kau jangan pernah meremehkan pria yang tinggal di hutan sendirian sepertiku. Tapi yang lebih penting... ada apa kau datang kemari? Ada yang bisa kubantu?"

"Uh... i-itu..."

Setelah itu, paman Graff mengajakku masuk dan memberiku minuman. Perlu waktu sekitar lima belas menit untukku menceritakan semua yang telah terjadi padaku dan menjelaskan tujuanku menemuinya hari ini. Sejujurnya aku juga tidak berharap banyak.

Aku menghela nafas setelah menjelaskan semuanya. Entah paman ini mengerti atau tidak dengan apa yang aku bicarakan, tapi paman Graff merespon dengan mengangguk sambil mengelus dagunya.

"Jadi kau mencari naga, huh? Ya... entah ini takdir atau apa, tapi kebetulan aku tahu di mana tempat kau bisa menemukan seekor."

"Ah, sudah kuduga paman tidak--... Kau tahu di mana ada naga!?"

Tanpa sengaja aku mengubah nadaku di pertengahan kalimat.

"Ya, kurang lebih seperti itu. Kira-kira seminggu yang lalu, ketika aku sedang mencari pohon untuk-- Ah, sudahlah! Kita hentikan saja pembicaraan membosankan ini sekarang. Akan kuceritakan di perjalanan. Aku akan langsung mengantarmu pada makhluk itu."

"H-hah!? Serius, nih? Paman juga ikut? Apa paman bisa diandalkan?"

Aku mendapat pukulan ringan di kepalaku setelah mengatakan itu.

"Aw!"

"Apa kau meragukan kekuatanku, bucah? Kalau begitu, ayo kita lakukan duel tangan kosong sebentar."

"Ti-tidak usah tidak usah. Aku percaya pada paman."

Secepat mungkin aku menolak tawaran baiknya. Butiran keringat mengalir dari dahiku. Dilihat dari manapun, tubuhku sama sekali tidak bisa dibandingkan dengan tubuh kekar penuh otot orang ini.

Setelah itu, aku bangkit berdiri dan mengangkat tinjuku ke langit.

"Baiklah! Ayo berangkat! Paman, ingatlah agar tidak jadi penghambatku jika terjadi suatu pertarungan, oke?"

"Heh... aku juga ingin mengatakan hal yang sama padamu, bocah."

Bersambung ke Knight Diary Chapter 16

Rita En
2017-08-03 11:17:22
Ada beberapa typo yang cukup mengganggu.
Alien Queen
2017-06-08 17:00:59
Naga nya besar apa kecil, ngga dikatakan tuh. Sepertinya mau ngasih kejutan.
Kiosuke
2017-04-19 18:48:18
sepertinya paman itu kuat juga
Bocah Redoks
2017-03-04 12:39:55
waktu nya berburu
Sena Lightspeed
2017-01-19 08:51:07
Dasar tidak sopan, masa bilang ke orang tua gitu, padahal paman tersebut penuh otot masih bilang jangan menghambat
Grim Rieper
2016-10-21 07:40:27
mana lanjutannya ?
Rai Tou
2016-10-17 22:58:53
seru!!!
Dzibril Al Dturjyana
2016-10-05 20:26:16
tarung aja dlu paman
Baca Semua Komentar dan Balasan
daftar user · online · daftar penulis
halaman awal · group facebook