VersiTeks.com
Selain membaca versi teks anime dan manga, di sini kalian juga bisa membaca dan mengirim cerita karangan kalian sendiri, baik itu yang berupa cerita berseri, cerpen (oneshot), atau fanfiction.
login · register · kirim cerita · setting · kuis · chat game
home · versi teks · cerita karangan · oneshot · fanfiction · jadwal rilis


NEW!!! Sekarang kamu bisa melakukan register tanpa perlu melakukan proses validasi Facebook!!!

Silakan login atau register jika belum memiliki akun untuk menikmati berbagai fitur khusus di situs ini serta akses tanpa iklan-iklan yang mengganggu.
Pengguna Telegram? Coba game Kampung Maifam
Knight Diary Chapter 11

2016-09-23 - Kizaemon > Knight Diary
214 views | 9 komentar | nilai: 9.67 (6 user)

"Gyaaahh!"

"Ng? Kenapa kau berteriak ketika melihatku? Apa kau benar-benar terpesona dengan master barumu ini, huh?"

"Ja-jangan mendekat! Kau makhluk penghisap darah!"

"Aku... apa?"

"Maksudku kau adalah vampir!"

"Bukan, aku bukan vampir."

"Tidak, kau pasti vampir!"

"Ah... oke, aku memang vampir."

"Kalau kau mengakuinya secepat itu, lalu untuk apa kau menyangkalnya di awal tadi!?"

Knight Diary Chapter 11 - Vampir, Tapi Itu Dulu
Penulis : Kizaemon

Ini buruk.

Kali ini buku terkutuk ini benar-benar keterlaluan. Dia malah membuatku mengangkat seorang vampir menjadi master yang akan mengajariku skill pedang. Tidak peduli seberapa cantik ia, kalau aku digigit dan darahku dihisap, maka aku akan kehilangan sisi kemanusiaanku dan menjadi budaknya!

Aku tahu kalau Diary sudah memperingatiku, tapi kupikir dia waktu itu hanya sedang menakut-nakutiku.

"Tenanglah Ichiro-kun. Aku kemari hanya untuk mengobati lukamu."

"A-a-aku tidak percaya!"

Aku benar-benar ingin lari tapi tidak ada jalan keluar. Williabelle sudah maik ke atas tempat tidur dan merangkak mendekatiku. Punggungku sudah menyentuh sandaran tempat tidur, akt tak bisa bergerak mundur lagi. Kalau sudah begini... aku harus melawan.

Dengan jari gemetar, aku mencabut pedangku yang masih tersarung di punggungku dan langsung menyerangnya.

BATS!

"!?" Mataku terbuka lebar.

"Hm? Kau murid yang nakal, huh? Berani mengacungkan pedang ke arah mastermu sendiri."

Mu-mustahil...

Hanya dengan dua jari, dia menahan tebasanku dan membuang pedangku kelantai.

"Dengar, Ichiro-kun. Ada sesuatu yang ingin kukatakan padamu."

Tidak memberiku kesempatan untuk pulih dari keterkejutanku, Williabelle telah melingkarkan kedua lengannya yang ramping di leherku.

Tidaaak! Setelah ini, dia pasti akan bertanya di bagian mana aku ingin dia menggigit leherku. Sebelah kiri atau kanan? Tapi kurasa vampir tidak akan menunggu jawaban protes dari korbannya.

Aku berusaha melepas rangkulannya, tapi kekuatan vampir ini mungkin setara dengan 10 pria berotot! Tangannya sama sekali tidak bergeming, tidak mau lepas dariku.

Uh...

Ta-tapi... dari jarak sedekat ini, hidungku mampu menangkap aroma tubuhnya yang menyegarkan seperti sabun bunga mawar. Ini benar-benar membuatku bingung apakah aku harus takut padanya atau bagaimana!?

"Kau tak perlu takut padaku. Aku memang vampir, tapi itu dulu."

"Uehh?"

Seakan-akan sedang menceritakan suatu kenangan pahit, bibir mungil gadis yang berada tepat di depanku bergetar saat menggumamkan sesuatu. Pandangan matanya jatuh dan sinar di mata indahnya meredup.

Jangan memandangku dengan 'tatapan gadis tidak berdaya'-mu itu. Apa ini salah satu skill hipnotis yang dimiliki vampir?

"Kira-kira 5 tahun yang lalu, aku dan kedua orang tuaku ditangkap oleh orang-orang gereja anggota Order of Hemera. Tujuan meraka menangkap kami adalah untuk dijadikan sebagai kelinci percobaan dalam penelitian mereka. Kedua orang tuaku... lenyap menjadi debu dan beterbangan di depan mataku saat mereka menyuntikkan suatu serum hasil dari suatu projek khusus mereka ke tubuh ayah dan ibuku."

"..."

Tidak ada yang bisa kulakukan selain diam dan mendengarkan.

Setelah menghela nafas, ia melanjutkan.

"Pada intinya, percobaan pertama dan kedua mereka gagal. Sebenarnya aku juga tidak tahu hasil apa yang mereka harapkan dari menyuntikkan suatu serum ke tubuh vampir. Namun, saat mereka akhirnya juga melakukan hal itu padaku dalam percobaan ketiga, hal yang terjadi adalah... aku tidak bisa menyebut diriku sebagai vampir lagi."

"..."

"Aku kehilangan taringku, keabadianku, juga lepas dari 'takdir darah', namun... anehnya aku juga kehilangan kelemahanku, entah itu bawang putih, air suci, palang salib, ataupun sinar matahari, semua itu sama sekali tidak bisa melukaiku lagi."

Setelah mengatakan itu, ekspresi Williabelle terlihat lebih tenang.

"O-oke, aku paham. Masa lalumu memang berat. Sekarang... bisa kau lepaskan aku?"

"Tapi ceritaku belum selesai!"

"Kalau kau berbicara sedekat ini, mana ada laki-kaki yang bisa fokus mendengarkan ceritamu! Aku benar-benar tidak tahu harus mengarahkan mataku kemana! Dan lagi, bukannya kau bilang kalau kau kemari untuk mengobati lukaku?"

"Ah, benar, aku hampir lupa. Untuk lukamu, kau bisa menggunakan ini."

Williabelle mengambil sesuatu dari sakunya dan menyerahkannya padaku.

Sebuah botol kaca ukuran kecil yang berisi cairan bening dan jernih.

"Apa ini? Air Putih Ajaib Penghilang Dahaga?"

"Fufu. Bukan, bodoh. Ini Air Mata Phoenix. Basahi lukamu dengan itu, maka ia akan sembuh tanpa bekas. Ini item langka dan mahal yang sudah lama kusimpan. Jadi... berterima kasihlah padaku, oke?"

Dengan sombong, ia memalingkan wajahnya dariku.

Tch... kenapa aku harus berterima kasih padamu? Kau pikir siapa orang yang harus bertanggung jawab atas lukaku? Tapi sebaiknya aku turuti saja keinginannya.

"Terima kasih. Sekarang lepaskan aku. Gisela-san akan membunuhku jika dia tahu kalau aku berada dekat-dekat dengan tuannya." Ini bukan gurauan, kau tahu.

"Baiklah~ Hup!"

Sambil berakrobat, Williabelle melompat menjauh dariku dan mendarat di dekat pintu keluar.

Oke, itu sedikit memukau.

"Dengar, Ichiro-kun. Mulai besok, karena akan jadi gurumu, kau bisa memanggilku 'My Lovely Master Williabelle'!"

"Aku tidak akan pernah mengucapkan itu!!" Dengan tegas aku langsung menolak. Namun sepertinya itu adalah tindakan bodoh.

"Kau... berani membantahku...?"

Mendengar ucapannya, seketika tubuhku terasa seperti disiram air dingin.

Me-menakutkan!

Aura pembunuh ini setidaknya setingkat dengan monster boss yang menghuni jurang terdalam dari neraka!

Dengan gagap, aku mengubah jawaban dan intonasi-ku.

"A-a-a-apa boleh kalau aku hanya me-memanggilmu 'Master'?"

"Geez... ya sudah, selamat malam!"

BRAK!

Williabelle keluar dan dengan keras ia membanting pintu yang tidak bersalah.

"..."

Masih di tempat tidur, aku diam mematung sambil memasang ekspresi rumit di wajahku.

"Tidak apa-apa, Tuan populer. Tipe gadis seperti dia akan berhenti marah setelah makan cemilan dan tidur manis."

Tanpa menghiraukan ocehan Diary, aku menggunakan air dalam botol yang diberikan Williabelle tadi untuk mengobati luka di leherku.

"Diamlah, buku sok pintar. Kau itu hanyalah sebuah Diary, bukan sebuah novel romansa remaja."

"'Diary' hanyalah sebutan untuk halaman pertamaku yang isinya selalu berubah setiap hari. Halaman kedua dan seterusnya adalah sesuatu yang hanya bisa kau baca ketika aku mengizinkanmu, apa kau mengerti sekarang tentang betapa hebatnya aku?"

"..."

Kenapa aku selalu kalah berdebat dengannya?

Bersambung ke Knight Diary Chapter 12

Tatsuya
2017-12-30 12:01:28
ada yang tau kenapa vampir suka darah
Rita En
2017-08-03 10:56:08
Karena diary itu jauh lebih hebat. Hihi
Alien Queen
2017-06-08 16:36:13
Jiah masa panggilan guru nya seperti itu.
Kiosuke
2017-04-19 18:31:50
ya bagaimanapun buku itu lebih tahu,,
Bocah Redoks
2017-03-04 12:15:09
minta d bakar tuch buku
Grim Rieper
2016-12-19 16:38:55
Lewat
kyoushi
2016-09-23 16:08:26
Next
Dzibril Al Dturjyana
2016-09-23 09:56:59
lovely hahaha
Onime
2016-09-23 06:39:00
hyuh . . cntik tpi vampir . . horor . . lanjut
Baca Semua Komentar dan Balasan
daftar user · online · daftar penulis
halaman awal · group facebook