VersiTeks.com
Selain membaca versi teks anime dan manga, di sini kalian juga bisa membaca dan mengirim cerita karangan kalian sendiri, baik itu yang berupa cerita berseri, cerpen (oneshot), atau fanfiction.
login · register · kirim cerita · setting · kuis · chat game
home · versi teks · cerita karangan · oneshot · fanfiction · jadwal rilis


NEW!!! Sekarang kamu bisa melakukan register tanpa perlu melakukan proses validasi Facebook!!!

Silakan login atau register jika belum memiliki akun untuk menikmati berbagai fitur khusus di situs ini serta akses tanpa iklan-iklan yang mengganggu.
Pengguna Telegram? Coba game Kampung Maifam
Knight Diary Chapter 6

2016-09-17 - Kizaemon > Knight Diary
211 views | 10 komentar | nilai: 10 (4 user)

"Uh... dimana lagi aku sekarang?"

"Anak muda, kau sudah bangun rupanya. Ini, makanlah ini. Kau pasti lapar setelah pingsan dari kemarin."

"Ah, paman adalah salah satu penduduk yang diculik kawanan manusia kadal ya?"

"Ya, benar sekali. Kami semua sangat berterima kasih pada kalian. Tapi sebaiknya, sekarang kau makan dulu, ini ambilah."

"Terima kasih, paman... Hmm, ini enak. Apa nama makanan ini?"

"Sup Kental Daging Lizardman. Aku sendiri yang membuatnya."

"...Hoek!"

Knight Diary Chapter 6 - Hanya Aku dan Buku Itu
Penulis : Kizaemon

Ketika aku terbangun, aku mendapati diriku sedang berbaring di atas ranjang kayu sederhana yang beralaskan kasur jerami tipis. Selain tempat tidur yang kugunakan, di kamar kayu yang terlihat tua ini juga terdapat sebuah lemari besar di sudut, dua peti kecil di samping lemari, sebuah jam dinding model kuno berbandul, sebuah kursi dekat tempat tidur dan sebuah perapian.

Dari jendela yang terbuka di samping ranjangku, aku bisa melihat matahari yang baru saja terbit di ufuk timur. Ini sudah pagi ternyata.

Hmm... sepertinya aku melupakan sesuatu yang penting.

Ah, ya benar! Alarica dan Mariel.

Sejak aku bangun hingga selesai sarapan, aku tidak melihat mereka berdua di manapun. Apa yang terjadi dengan mereka?

"Kuh..."

Saat aku berusaha bangun dari tempat tidur, dada dan punggungku terasa agak perih. Cedera dari pertempuran kemarin sudah pasti belum pulih sepenuhnya.

Aku meraih pedangku yang tersandar di samping ranjang lalu menggantungnya di punggungku. Perlahan kakiku melangkah menuju pintu keluar pondok kayu ini.

Kulihat paman botak berkumis tebal yang tadi memberiku makanan sedang membelah potongan kayu di halaman depan menggunakan sebuah kapak. Tubuh paman ini cukup kekar juga.

"Selamat pagi, paman Graff." Sapaku.

"Oh, kau rupanya. Anak muda memang tidak bisa disuruh untuk diam beristirahat. Bagaimana lukamu?"

"Sudah lebih baik, terima kasih paman. Ngomong-ngomong, apa paman tahu di mana- "

"Teman-temanmu? Mereka sudah pergi tadi malam. Setelah membawamu kesini, sebenarnya mereka bersikeras untuk menginap di pondokku demi merawatmu, namun mereka terpaksa harus pergi."

"Apa? Bagaimana ceritanya, paman?"

"Tadi malam, beberapa prajurit istana datang kemari untuk menjemput Putri Alarica agar kembali ke istana. Mereka bilang ini perintah yang mulia Raja, karena itulah Putri tidak bisa menolak. Nona Mariel juga ikut untuk menemani Putri."

"Ah, jadi begi- Tunggu sebentar!! Pu-pu-putri Alarica!?" Aku benar-benar syok.

"Ng? Kau sungguh tidak tahu? Lalu bagaimana caranya kau bisa berteman baik dengan Tuan Putri!? Ah sudahlah, aku tidak peduli bagaimana kau melakukannya, tapi itu memang benar. Gadis cantik berambut perak yang bersamamu kemarin adalah putri ketiga dari Yang Mulia Raja Gerald, penguasa Benteng Schroder."

"Uh..."

Kepalaku tertunduk menghadap tanah sementara tubuhku dalam posisi seperti merangkak.

Berakhir sudah... semua sudah berakhir. Ternyata sejak awal dia sudah diluar jangkauanku. Sekarang... apa yang harus kulakukan? Alarica pasti dipanggil pulang oleh ayahnya karena ada sebuah urusan perjodohan, pernikahan politik, atau semacamnya. Aku sudah sering melihat hal seperti ini dalam anime. Sama sekali tidak ada harapan untukku.

"Hei nak, kau kenapa?"

"Tidak apa-apa, pergilah." Jawabku, putus asa.

"Hei, jangan begitu. Dunia belum kiamat. Lagi pula sebelum pergi, Tuan Putri menitipkan sesuatu padamu. Tunggu di sini, akan kuambilkan."

Paman Graff masuk kepondok. Tak perlu waktu lama untuk menunggunya kembali. Kulihat ia membawa beberapa benda di masing-masing tangannya.

"Terima ini. Tuan Putri menyuruhku memberikan ini padamu."

Aku menerima barang-barang yang disodorkan padaku. Sebuah kantung kulit yang bergemerincing ketika terguncang, dan sebuah buku tua.

...<Knight's Diary>, gumamku dalam hati.

"Dan ini adalah pemberianku. Sebuah armor ringan dari kulit, sepasang pelindung lengan, sepasang pelindung tulang kering, dan sebuah gauntlet. Meskipun ini bekas, tapi ini masih jauh lebih baik dari pada kau tidak memakai pelindung sama sekali. Ambilah, anggap saja sebagai ungkapan sasa terima kasihku."

"Ah, paman terlalu baik padaku. Maaf sudah merepotkan paman."

"Kau memang anak yang sopan. Jika kau perlu sesuatu, datanglah kepondokku. Aku pasti akan membantumu sebisaku."

"Terima kasih paman Graff, tapi kurasa aku harus pergi sekarang. Jadi, sampai jumpa lagi!"

"Ya! Jaga dirimu baik-baik, nak!"

Aku pun berjalan meninggalkan paman dan pondoknya. Sejujurnya aku tidak tahu harus pergi kemana, tapi aku juga tidak ingin terus merepotkan paman itu. Hmm... apa aku harus kembali ke Benteng Schroder? Tidak. Untuk sekarang, sebaiknya aku memeriksa barang yang Alarica tinggalkan untukku. Dia pasti memberiku sebuah petunjuk atau semacamnya.

Sambil berjalan, aku membuka kantung kulit yang dititipkan Alarica. Isinya sepuluh keping koin berkilau keemasan dan selembar kertas.

Hmm... 10 koin emas. Aku tidak tahu uang segini cukup untuk membeli apa, tapi kuputuskan untuk menganggap 10 koin ini adalah benda berharga. Akan kusimpan baik-baik.

Lalu tentang secarik kertas yang juga kutemukan dalam kantung kulit ini... ada kata-kata yang tertulis di atasnya.

--Carilah seorang guru, dan jadilah ksatria yang hebat. Setelah 30 hari berlalu, temui aku di istana Benteng Schroder.--

Tanganku memegang erat kertas itu. Aku tersenyum hambar.

"Ah, Alarica... kau selalu merepotkanku."

"Dasar bocah naif. Gila karena cinta."

"Gyaaa!! Si-siapa yang bicara itu!?"

Aku kaget bukan main. Jelas-jelas aku mendengar seseorang meledekku, tapi aku tidak melihat siapa-siapa di sekelilingku. Apa mungkin hantu?

"Hei, kau lihat kemana? Aku ada disini." suara itu terdengar lagi.

"Di-disini di mana!?"

"Di sini. Di tanganmu."

"A-apa!?"

Di tanganku? Mustahil. Yang kupegang di tanganku sekarang hanyalah secarik kertas dan...

Ah, ya tentu saja... Buku <Knight's Diary>. Aku tanpa sadar juga memgeluarkan buku ini saat memeriksa isi kantung itu.

"Jadi kau bisa bicara, huh?"

"Aku sebuah buku. Buku selalu dipenuhi dengan kata-kata."

"Tidak, bukan itu yang kumaksud!"

"Aku sebuah buku. Tentu saja aku bisa bicara."

"Mana ada buku bisa bicara!"

"Itu jika di dunia asalmu. Kalau di sini, peraturannya agak berbeda."

"Ah, ya aku baru ingat kalau aku sedang terdampar di dunia antah-barantah."

"Tepat sekali."

Simbol aneh yang tergambar pada mekanisme pengunci buku ini terlihat berkedip seperti lampu kecil ketika buku ini bicara.

"Kau memang pandai bicara. Tapi kenapa kau baru bicara padaku sekarang?"

"Karena sekarang kaulah pemilikku. Dan mulai sekarang, aku akan membantumu setiap saat."

"Hah? Membantuku? Memangnya apa yang bisa dilakukan oleh sebuah buku harian sepertimu selain menyimpan rahasia orang?"

"Hou, bocah pedang amatir sepertimu berani meremehkanku? Apa kau lupa kalau kekuatankulah yang membuatmu bisa berada di dunia yang keren ini?"

"Keren apanya!? Kemarin aku hampir mati!"

Gaya bicara buku ini benar-benar membuatku jengkel.

"Ngomong-ngomong, kau sedang mencari guru master pedang, kan? Hmm... aku merasakan ada satu yang cocok untuk jadi gurumu tidak jauh dari sini."

"Jangan coba mengubah topik! Eh? Apa... yang barusan kau katakan itu benar? Seorang yang bisa jadi guru hebat?"

"Ya."

"Apa kau tahu tempatnya?"

"Ya."

"Kalau begitu, cepat tunjukkan jalannya, buku cerewet."

"Oke, tapi aku ingin memperingatkanmu tentang satu hal."

"Tentang apa?" Tanyaku, acuh.

"...Orang yang akan kita datangi ini... Energi sihirnya diluar batas kewajaran, jadi... dia pasti bukan manusia."

"...Siapa yang peduli soal itu?"

"Kau idiot."

Bersambung ke Knight Diary Chapter 7

Rita En
2017-08-03 10:28:02
Setidaknya, Ichiro ada teman ngobrol. Hihi ...
Alien Queen
2017-06-08 15:57:13
Yah ditinggalin deh.
Zen Kureno
2017-05-11 07:07:23
"Selamat pagi, paman Graff." Sapaku.. Dari kutipan diatas dari mana dia tau nama orang itu.
Kiosuke
2017-04-19 18:13:42
vangke ngeselin yak bukunya
Bocah Redoks
2017-03-04 11:47:16
waktu nya berguru
Grim Rieper
2016-12-19 16:05:27
Lewat
Jack El Jacqueline
2016-11-21 06:11:00
tu buku ngeselin y.
Inoue Miyako
2016-09-17 18:30:44
Go on
ThE LaSt EnD
2016-09-17 15:16:09
Gerranit jd raja... he .. sperti msh level 1 sja jk di DN...next
kyoushi
2016-09-17 13:36:13
Next
Baca Semua Komentar dan Balasan
daftar user · online · daftar penulis
halaman awal · group facebook