VersiTeks.com
Selain membaca versi teks anime dan manga, di sini kalian juga bisa membaca dan mengirim cerita karangan kalian sendiri, baik itu yang berupa cerita berseri, cerpen (oneshot), atau fanfiction.
login · register · kirim cerita · setting · kuis · chat game
home · versi teks · cerita karangan · oneshot · fanfiction · jadwal rilis


NEW!!! Sekarang kamu bisa melakukan register tanpa perlu melakukan proses validasi Facebook!!!

Silakan login atau register jika belum memiliki akun untuk menikmati berbagai fitur khusus di situs ini serta akses tanpa iklan-iklan yang mengganggu.
Pengguna Telegram? Coba game Kampung Maifam
Knight Diary Chapter 5

2016-09-16 - Kizaemon > Knight Diary
222 views | 11 komentar | nilai: 9.33 (6 user)

"Bagaimana situasinya, Mariel?"

"Jumlah musuh hanya 6 ekor. Ada 3 ekor Lizardman hijau, 2 ekor Lizardman kuning, dan seekor Salamander api."

"Hmm... sepertinya masih bisa kita tangani. Ayo maju."

"Apa!? Kita akan menyerang mereka!?"

Knight Diary Chapter 5 - Pertarungan Pertama yang Sulit
Penulis : Kizaemon

Alarica, Mariel, dan aku kini tengah bersembunyi, merunduk di antara rimbunan semak.

Tadi, ketika kami melewati suatu belokan, kami melihat sekelompok manusia kadal yang tengah bersantai. Karena reptil itu berdarah dingin, kupikir mereka pasti sedang berjemur untuk menjalankan metabolisme tubuh mereka.

Dari tempat kami bersembunyi, aku masih bisa melihat kawanan kadal itu. Ada 3 ekor kadal hijau, aku sudah pernah melihat jenis ini. Lalu ada 2 ekor manusia kadal berwarna kuning, sedikit lebih besar dibanding yang hijau. Mereka berdua masing-masing memegang senjata bambu runcing dan sebuah tameng kayu berbentuk bulat. Kurasa ini adalah jenis yang mampu menggunakan senjata.

Dan yang terakhir adalah seekor kadal merah. Dia adalah yang terbesar di antara para kadal di situ. Kulitnya terlihat tebal dan panjang ekornya lebih dari setengah tubuhnya.

Kami juga melihat penduduk yang diculik. Mereka dikurung dalam semacam sangkar kayu besar berbentuk bola.

"Aku akan menghabisi 3 ekor yang hijau. Ichiro, kamu hadapi kedua Lizardman kuning dan Salamander api. Dan Alarica, Skill-mu yang memiliki ruang lingkup luas akan sangat berguna untuk mengacaukan musuh. Jadi, kalian sudah mengerti?" Mariel menjelaskan strategi dengan jelas.

"Aku mengerti." Angguk Alarica. Ia memegang staff dan buku <Knight's Diary> di tangannya.

"A-aku akan berusaha." Ini adalah pertama kalinya aku bertarung dengan monster, jadi wajar kalau aku gugup.

Juga ada kemungkinan kalau aku akan terluka, atau bahkan terbunuh. Jadi, tidak ada waktu untuk ragu-ragu, karena musuhku juga tidak akan menahan diri untuk membunuhku.

Aku menggenggam gagang pedang yang tersarung di punggungku lalu menariknya keluar. Bilah pedangnya berwarna hitam namun agak tembus pandang. Sampai sekarang, aku masih belum tahu fungsi pedang ini. Aku juga tidak memiliki satu pun Skill. Berarti yang bisa kulakukan saat ini adalah... Maju dan tebas!

"Kita mulai."

Kami bertiga serentak keluar dari persembunyian.

"<Auto Aim>!"

SYUT! SYUT!

"Keeek!". "Keok!"

Mariel langsung membuka serangan dengan menembakkan dua panah beruntun. Ketika melesat, anak panah itu bergerak dalam lintasan melengkung hingga mengenai target, seakan-akan anak panah itu adalah rudal yang terus mengejar musuh.

Dua ekor Lizardman hijau rubuh seketika.

Para kadal yang tersisa sudah pulih dari keterkejutan mereka dan mulai berlari ke arah kami. Hanya si kadal api yang tetap diam di tempat.

Aku mengambil posisi di depan Mariel dan Alarica. Sembari mengambil nafas dalam-dalam untuk mengusir rasa takut, aku membuat kuda-kuda dan memegang pedang di depan tubuhku.

Bagianku saat ini adalah 2 kadal kuning. Mariel dan Alarica akan mengurus sisanya. Sekarang... tinggal tunggu aba-aba.

"<Frost Field>!"

Alarica menghantamkan staff-nya ke tanah. Dalam sekejap, permukaan tanah rawa di depanku tertutup oleh es, membuat rawa-rawa ini terlihat seperti lapangan Hoki es yang ditumbuhi pepohonan.

Karena daratannya tiba-tiba berubah jadi es, para kadal humanoid yang sedang berlari itu kaget hingga terpeleset. Mereka meluncur ke arahku.

Inilah saatnya!

Aku menendang tanah dengan keras dan melesat maju, berlari di atas es. Di waktu yang sama, Mariel membidik kadal hijau terakhir dan berhasil menghabisinya dengan skill <Quick Shot>.

Aku tengah berlari menuju targetku. Kedua kadal kuning itu sedang kesulitan berdiri sekarang. Ya, aku bisa melakukannya! Akan kutebang mereka dalam satu tebasan.

Kedua Lizardman kuning, dengan susah payah akhirnya mampu berdiri. Mereka berusaha menusuk tubuhku dengan bambu runcing yang mereka pegang, namun serangan menusuk seperti ini mudah terbaca olehku.

Aku merunduk dan mengayunkan pedang hitamku kesamping, memangkas kedua bambu runcing itu dengan mulus. Sekarang kedua kadal ini memiliki banyak celah. Aku tidak boleh ragu.

ZRAATS!

"Keeek!". "Heok!"

Tebasan diagonal yang kulakukan dengan satu tangan berhasil mengenai tubuh kedua kadal kuning ini sekaligus. Tameng kayu yang mereka gunakan untuk menangkis juga terbelah dengan mudah, seakan-akan aku ini hanya sedang memotong keju.

Kedua Lizardman kuning roboh kebelakang. Sepertinya aku berhasil memberikan luka dalam. Wow, sebenarnya seberapa tajam pedang ini? Aku memperhatikan bilah pedang hitam transparan di tanganku.

"Ichiro, hati-hati!!" Kudengar teriakan Mariel.

DUAR!

"Gah!!"

Sekilas aku melihat bola api yang membara, dan di detik berikutnya tubuhku terhempas ke permukaan tanah yang sudah diselimuti oleh es sebelumnya.

Ugh, sial! Sakit! Ini sakit sekali!

Rasa sakit yang intens seperti terbakar terasa menjalar dari punggungku yang berasap.

Ba-bajingan! Sepertinya aku melupakan si Salamander api.

Sambil mencoba berdiri kembali, aku melirik si kadal merah yang berjarak kira-kira 20 meter dari tempatku. Ia bisa berdiri dengan mudah karena tubuhnya yang panas mampu mencairkan es di sekitarnya. Kulihat Mariel berkali-kali memanah kadal merah itu namun mata panah besi tidak mampu menembus kulit tebalnya yang sekeras batu. Alarica berlari kearahku dengan ekspresi khawatir.

Uh, entah kenapa, aku merasa bahwa aku tidak ingin terlihat lemah di depannya, tapi... ini beneran sakiiit!!

"Ichiro-kun, bertahanlah..." Suara Alarica terdengar lemah, seakan-akan ia ingin menangis.

Ah... punggungku terasa sejuk ketika tangan halus Alarica menyentuhnya. Aku tahu kalau ini bukan skill penyembuhan, tapi ini hanya skill elemen es. Meskipun begitu, kurasa ini sudah cukup untuk mengurangi rasa sakit dari punggungku yang terpanggang.

Akhirnya aku mampu berdiri kembali. Jari-jariku menggenggang erat gagang pedang, sementara mataku menatap tajam ke arah kadal besar berwarna merah yang di sana itu.

"Ichiro-kun, tak perlu memaksakan dirimu. Biar aku dan Mariel saja yang-"

"Tidak. Dia bagianku."

"Uh... tapi..."

"Sudah kubilang, dia bagianku. Kalau monster-nya hanya segini sih, Alarica-san dan Mariel-san tidak perlu turun tangan." Ucapku sok tegar, padahal sekarang saja nafasku sudah terengah-engah.

"Ah... aku mengerti." Alarica mengangguk ragu-ragu.

Tanpa membuang-buang waktu, aku langsung menyerbu, memotong jarakku dengan kadal berapi itu. Salamander api itu memasang kuda-kuda lalu ia membuka mulutnya lebar-lebar. Bola api seukuran semangka keluar dari sana dan melayang dengan cepat kearahku. Bukan hanya satu, kadal itu terus memuntahkan bola api tanpa ada tanda-tanda untuk berhenti. Aku bergerak zig-zag untuk menghindarinya dalam jarak tipis. Kulihat bola api itu langsung meledak jika terkena sesuatu. Jangan sampai aku terkena itu lagi.

Aku terus berlari, memperpendek jarak agar aku bisa menyerangnya. Aku tidak tahu dari mana aku memperoleh kemampuan untuk bergerak sehebat ini, tapi karena inilah aku mampu menghindari bola-bola panas itu.

10 meter... 7 meter... 5 meter... Sekarang!

"Makan ini!"

Ketika dia sudah masuk dalam jangkauan pedangku, seketika itu pula aku mengayunkan senjataku padanya.

"!?Kuh... Si-siaal!"

Namun tanpa kuduga, ekornya yang panjang seperti ular berhasil membelit dan menahan lenganku, tepat sebelum bilah pedangku dapat mencium lehernya.

Gerakanku terkunci. Ekor kadal yang terasa panas bagai bara api membelit lenganku. Rasa sakit di punggungku juga kambuh lagi.

Cicak sialan... Sekarang dia membuka mulutnya, memamerkan deretan gigi yang runcing, tapi bukan itu yang kutakutkan. Di dalam mulutnya, kobaran api mulai berputar dan terkonsentrasi. Jika aku terkena serangannya dalam jarak sedekat ini, aku pasti akan...

"Brengseeek! Meskipun aku mati, setidaknya aku akan menyeretmu ke neraka bersamaku! Makan ini lagi!"

Aku melepas pedang di tanganku. Saat pedang itu jatuh, aku menendang gagang pedang itu sekuat yang aku bisa. Untunglah aku tidak meleset. Pedang hitamku menancap di perut hingga tembus ke atas punggung kadal itu. Namun... aku terlambat.

DUAR!!

"Gaha!!"

<Fire Ball> dengan telak mengenai tubuhku. Kakiku berlutut sebelum aku roboh menelungkup di tanah. Telingaku terasa seperti tuli. Kesadaranku mulai meninggalkanku.

Sebelum semuanya menjadi gelap, mulutku masih sempat menggumankan sesuatu.

"Aku... jauh lebih menyukai es... dibanding api..."

Kulihat gadis berambut perak, Alarica berlari tergesa-gesa kearahku, sebelum mataku tertutup.

Bersambung ke Knight Diary Chapter 6

Newbie Karbitan
2017-08-19 19:40:07
Ichiro pun tewas seketika
Rita En
2017-08-03 10:20:27
Keren!
Alien Queen
2017-06-08 15:48:52
Skill datang sendiri sesuai nalurinya.
Aerosmith
2017-05-27 08:03:22
Pertarungan pertama, memang sulit..
Zen Kureno
2017-05-11 06:34:51
Lumayan ceroboh.
Kiosuke
2017-04-19 18:08:53
hemm bingung mau komentar apa
Bocah Redoks
2017-03-04 11:10:08
skill yg lumayan walaupun baru pertarungan pertama
Sena Lightspeed
2017-01-11 16:19:23
Benar-benar keren
Jack El Jacqueline
2016-11-21 06:09:05
pendekar pedang amatiran sedang bertarung
Qx Dugem
2016-09-16 17:50:18
bagus mas Kizaemon.. tapi kurang panjang
Baca Semua Komentar dan Balasan
daftar user · online · daftar penulis
halaman awal · group facebook