VersiTeks.com
Selain membaca versi teks anime dan manga, di sini kalian juga bisa membaca dan mengirim cerita karangan kalian sendiri, baik itu yang berupa cerita berseri, cerpen (oneshot), atau fanfiction.
login · register · kirim cerita · setting · kuis · chat game
home · versi teks · cerita karangan · oneshot · fanfiction · jadwal rilis


NEW!!! Sekarang kamu bisa melakukan register tanpa perlu melakukan proses validasi Facebook!!!

Silakan login atau register jika belum memiliki akun untuk menikmati berbagai fitur khusus di situs ini serta akses tanpa iklan-iklan yang mengganggu.
Pengguna Telegram? Coba game Kampung Maifam
Knight Diary Chapter 3

2016-09-13 - Kizaemon > Knight Diary
231 views | 11 komentar | nilai: 9.6 (5 user)

"Oke, kita sudah sampai."

"Whoa... He-hebat..."

Knight Diary Chapter 3 - Benteng Schroder
Penulis : Kizaemon

Tepat di hadapanku, sebuah kota besar yang luar biasa megah. Aku tidak tahu pasti berapa luasnya, tapi seluruh kota ini dikelilingi oleh dinding batu tebal dan kokoh setinggi 20 m. Beberapa penjaga terlihat bersiaga dan berpatroli di atas tembok batu itu. Sebagai pertahanan tambahan, parit dalam berisi air telah digali di sepanjang sisi luar dinding, mengelilingi kota berbenteng ini. Mungkin saja parit ini
berisi buaya, pikirku.

Benteng ini punya empat gerbang. Letaknya terbagi mengikuti arah mata angin. Kini aku dan Alarica sedang berdiri di depan East Gate (gerbang timur). Gerbangnya sedang terbuka sekarang jadi aku bisa melihat dengan jelas seperti apa kota ini. Terlihat seperti kota-kota di Eropa pada abad pertengahan. Sangat indah. Jalanannya terbuat dari batu bata putih yang tersusun rapi. Bangunan-bangunan besar yang kebanyakan bagiannya terbuat dari batu memancarkan aura seni arsitektur klasik. Rumah penduduk dan berbagai bangunan lain terlihat berbaris rapi, seakan-akan tata ruang kota ini sudah di rencanakan matang-matang. Tapi hal yang paling mengejutkanku adalah... kota ini sangat bersih, baik jalanan ataupun pemukimannya. Benar-benar sedap dipandang.

Setelah kau melewati gerbang, jika kau terus berjalan lurus, kau akan sampai di alun-alun kota yang memiliki air mancur besar tepat di pusatnya. Ini adalah tempat dimana seluruh jalan utama kota ini bertemu. Wajar kalau ada banyak orang berlalu-lalang di sini. Karena itulah para Mercant membuka lapak mereka di pusat kota ini.

Dari alun-alun ini, kau bisa melihat banyak tempat menarik. Toko kelontong, toko roti, kedai makanan, toko pakaian, rumah pelelangan, toko senjata, bengkel Blacksmith, Katedral, galeri, museum, dan yang terakhir taman bunga. Astaga, ternyata peradaban kota ini jauh lebih maju dari yang kukira.

Ngomong-ngomong, kalau kuperhatikan, sebagian besar orang yang lalu-lalang di sini... semuanya membawa senjata. Jenis dan desainnya begitu beragam. Mulai dari senjata Melee seperti pedang, hingga senjata Long Range seperti busur panjang. Profesi tempur sepertinya memang populer. Entah itu untuk pamer atau sekedar untuk melindungi diri, aku tidak tahu. Namun kelihatannya semua orang terlihat akur-akur saja.

Ah, bukannya aku juga sedang membawa senjata sekarang? Rasanya aku sudah masuk ke daktam dunia game MMORPG. Dan seragam SMA-ku yang berupa jaket blazer terlihat agak mencolok di sini. Aku jadi merasa seperti orang udik.

Oke, sudah cukup acara lihat-lihatnya.

Sekarang, aku sedang berjalan di samping Alarica. Awalnya dia bilang ingin pergi ke istana untuk melaporkan misinya. Tapi kurasa kami baru saja berjalan melewati sebuah istana megah begitu saja. Kalau begitu, ia ingin pergi ke mana sekarang?

"Alarica-san..."

"Ya?"

"Bukannya kau ingin ke istana? Kupikir kita sudah melewatinya."

"Tenanglah, itu bisa ditunda. Sekarang, mari kita cari makanan dulu. Kamu pasti sudah lapar, kan?"

"Karena kau mengatakan itu... perutku mulai keroncongan."

"Kalau begitu ikuti aku."

"Tapi... aku tidak punya-"

"Tidak apa-apa, aku yang bayar, kok."

"Ah..."

Alarica memang gadis yang pengertian...

Tidak! Bukan itu masalahnya!

Meminta seorang gadis untuk mentraktirmu... Bajingan macam apa aku ini!? Tapi kurasa aku juga tidak punya pilihan lain. Aku tidak punya sepeserpun uang yang berlaku di dunia ajaib ini. Jadi, ingatkan aku agar membelikan sesuatu untuk Alarica ketika aku sudah punya uang nanti. Tentu saja itu untuk mengungkapkan rasa terima kasihku, tidak ada maksud lain, kok.

Alarica mengajakku masuk ke suatu bangunan lebar bertingkat dua yang kelihatannya seperti tempat makan. Sisi belakang bangunan ini nampak menempel dengan dinding pertahanan kota. Papan nama bertuliskan 'Kedai Kadet' tertempel di atas pintu masuk yang terbuat dari kayu.

Begitu aku masuk, aku langsung menyadari kalau kedai ini tidak pernah sepi baik siang ataupun malam. Meja-meja kayu yang tersebar di kedai ini berbentuk lingkaran, di kelilingi 4-6 kursi kayu. Karena meja dan kursinya disusun secara sembarangan, kedai ini bisa memberikan suasana kebersamaan. Ocehan dan gelak tawa terdengar tidak ada habisnya di sini.

"Hei, Alarica! Apa itu kamu? Ayo, kemarilah!"

"Eh?"

Di dekat sudut kanan dari kedai ini, duduk di sebuah kursi, terlihat seorang gadis yang melambaikan tangannya ke arah kami, bukan, ke Alarica.

Rambut pirangnya yang panjang itu diikat pony-tail. Mata hijau emerald-nya bersinar riang ketika melihat Alarica. Ia mengenakan sarung tangan kulit dan gaun one-piece berwarna hijau daun tanpa lengan yang agak ketat, menegaskan kelangsingan tubuhnya. Sebuah Quiver yang penuh terisi anak panah, terikat di paha kanannya. Dan di atas meja, tergeletak sebuah Long Bow (busur panjang). Kau akan menyadari bahwa gadis ini adalah seorang Elf dengan melihat telinga runcingnya. Siapa yang peduli? Dia terlihat menawan.

"Mariel! Ya ampun, kapan kamu kembali? Bagaimana misimu di Rawa Keheningan?" Alarica langsung dipeluk oleh gadis Elf yang bernama Mariel itu. Dia temannya Alarica, huh?

"Misiku? Ah, itu benar-benar sulit untuk kulakukan sendirian. Para Lizardman di sana lebih pintar dari yang kukira. Aku hampir saja terjebak- Eh? Alarica, kamu bersama seorang lelaki? Siapa dia ini?"

Ah, akhirnya dia menyadari keberadaanku.

"Um... itu..."

Belum sempat Alarica menjawab dengan jelas, Mariel langsung mengulurkan tangan kanannya padaku.

"Aku Mariel, sahabatnya Alarica! Class-ku adalah Sniper! Panahku tak pernah meleset, jadi berhati-hatilah denganku, oke?"

Gadis yang sangat percaya diri, pikirku.

"Aku Ichiro. Salam kenal." Aku menjabat tangannya sebentar.

"Eeh!? Itu terlalu singkat! Alarica, sebenarnya apa Class dari pacarmu ini? Barbarian, ya? Pantas saja dia tidak tahu sopan santun!"

"Bu-bukan. Dia... seorang Sword Master."

H-Hei, Alarica!! Kau jangan hanya menjawab pertanyaan darinya! Kau juga harus mengatakan padanya kalau dia itu sudah salah paham!

Itulah yang ingin kuucapkan, tetapi tak ada satu katapun yang keluar dari mulutku. Firasatku mengatakan kalau Alarica diam saja, aku sebaiknya juga diam. Dia pasti punya alasan. Aku tidak ingin menimbulkan masalah untuknya.

"Sword Master? Itu sempurna! Alarica, boleh aku meminjamnya sehari? Aku ingin dia membantuku dalam misiku di Rawa Keheningan! Kamu tidak boleh menolak permintaanku, Alarica!"

"Ng... baiklah. Tapi aku juga harus ada dalam party-mu, oke?"

"Ah, ya okelah. Aku tahu kamu pasti khawatir kalau-kalau aku merayu Ichiro-kun saat kamu tidak ada, iya kan? Tenang saja, aku tidak akan pernah menusuk sahabatku dari belakang. Tapi jika aku ingin, aku akan menusukmu langsung dari depan! Fufufufu."

"Um... tapi Mariel, bukankah kamu juga sudah pernah dua kali menusukku dari belakang?"

"Ah, Alarica... Kita lagi mengungkit masa lalu. Aku sudah menyesali perbuatanku. Aku juga sudah menghabisi lelaki Class Saint yang telah merusak persahabatan kita dulu. Ahahahaha." Mariel tertawa sambil mengangkat telapak tangannya ke depan mulutnya.

A-Apa apaan gadis Elf ini!? Kesan pertama
sempurna yang kulihat darinya, sudah ia hancurkan hanya dalam waktu kurang dari 5 menit. Bagaimana bisa Alarica berteman baik dengan gadis berkepribadian buruk dan keras kepala seperti Mariel!? Kesalah pahaman ini juga semakin memburuk. Gadis ini benar-benar berbahaya. Ia bagaikan madu manis yang tercampur dengan racun mematikan. Aku akan mengingat hal ini baik-baik.

Tapi... Kenapa Alarica mau menunda misinya lagi dan malah membantu misi Mariel?

Mariel mengangkat tinjunya ke atas.

"Oke, sudah diputuskan! Setelah makan siang, kita akan berangkat ke Rawa Keheningan!!"

Alarica mendesah pelan.

"Hah... Mariel, jika kamu terus berteriak seperti ini saat tiba di sana nanti, Rawa itu akan kehilangan gelar 'Keheningan'-nya."

"Itu tidak penting, kan!?"

Bersambung ke Knight Diary Chapter 4

Chiko Plaks
2017-08-20 10:21:22
Lanjut
Newbie Karbitan
2017-08-18 13:54:43
Udah lama gak baca cerita ini, ketinggalan jauh banget
Rita En
2017-08-03 10:05:06
Rawa keheningan! Yo, apa akan ada pertarungan?
Alien Queen
2017-06-08 15:07:47
Ichiro bahkan belum bisa menggunakan skillnya, apa akan sukses.
Zen Kureno
2017-05-10 23:34:24
Jika mereka datang bukan rawa keheningan namanya melainkan rawa keramaian.
Kiosuke
2017-04-19 17:58:12
apa dia sudah bisa bertarung??
Bocah Redoks
2017-03-04 10:52:33
benar benar gadis bersifat buruk
chichay
2016-11-27 09:01:00
lnjut
Jack El Jacqueline
2016-11-21 06:06:16
mariel gadis yg suka menyombongkan diri dan suka merebut pacar orang lain
Inoue Miyako
2016-09-17 17:28:04
Mariel *pribadi menarik
Baca Semua Komentar dan Balasan
daftar user · online · daftar penulis
halaman awal · group facebook