VersiTeks.com
Selain membaca versi teks anime dan manga, di sini kalian juga bisa membaca dan mengirim cerita karangan kalian sendiri, baik itu yang berupa cerita berseri, cerpen (oneshot), atau fanfiction.
login · register · kirim cerita · setting · kuis
home · versi teks · cerita karangan · oneshot · fanfiction · jadwal rilis


Silakan login atau register jika belum memiliki akun untuk menikmati berbagai fitur khusus di situs ini serta akses tanpa iklan-iklan yang mengganggu.
Pengguna Telegram? Mainkan Game KampungMaifam
God The Artifact The Stealth War Chapter 24

2016-12-09 - Aerilyn Chan Kawai > God The Artifact The Stealth War
88 views | 9 komentar | nilai: 9.75 (8 user)

God The Artifact : The Stealth War

Chapter 24 : Kapsul.

Ia pun terjatuh kelelahan.

"Kau sangat payah, sudah kehabisan magia lagi." sindir seorang wanita yang duduk diatas batu sambil memakan buah.

"Berisik, aku sedang kelelahan nih."

"Hah, kau ini. Jika seperti itu terus, bagaimana bisa kau menjadi prajurit yang hebat?" sindir wanita itu yang beranjak dan berjalan kearah Agartha.

"Aku tidak peduli, siapa juga yang mau jadi prajurit Gerlaria. Aku masuk kesini pun gara-gara terpaksa."

"Dengarkan aku, prajurit sangat dibutuhkan dikerajaan ini. Kau tau sendiri kalau para siluman menyerang umat manusia. Apa kau tidak ingin melindungi mereka?"

"Tidak, semua itu bukan urusanku. Aku tidak mau melindungi siapapun dan apapun. Yang aku inginkan hanya hidup bebas dan berpetualang menjelajahi dunia ini. Aku tidak ingin perang, perang hanya menimbulkan pertumpahan darah."

"Kau benar juga, tapi apa benar tidak ada hal yang ingin kau lindungi?" ucap wanita itu sambil jongkok dihadapan Agartha.

"Ya, tidak ada, aku tidak ingin melindungi apapun."

"Apa kau tidak punya hal yang berharga bagimu?"

"Entahlah, kau tau sendirikan kalau aku tidak ingat apapun."

"Hmm, jika kau punya kekasih, apa kau akan melindunginya?"

"Tentu saja, karna wanita yang kucintai adalah hal yang paling berharga bagiku."

"Kalau begitu jadikan aku kekasihmu."pinta wanita itu dengan senyuman manisnya.

"Apa? Ta.."

"Maka dari itu, berusahalah lebih keras dan jadilah kuat." potong wanita tersebut.

"Tunggu dulu, aku bahkan belum menyetujuinya."

"Bagaimana kalau begini, jika kau berhasil melindungi seseorang, maka aku akan mencium mu satu kali. Dan jika kau bisa melindungi 10 orang, aku akan mencium mu 10. Dan jika kau bisa melindungi ratusan orang maka kau boleh melakukan apapun padaku. Bagaimana?"

"Aku tidak tertarik, sudah kubilangkan aku tidak ingin melindungi siapapun."

"Kau sangat bodoh karna menolak tawaran itu." ucap seorang pria dibelakang wanita itu.

"Kapten?"

"Kakak."

"Freyal, bantu nenek memasak sana.!" tegas sang kapten sekaligus kakak dari wanita bernama Freyal itu.

"Aku sudah lelah, aku istirahat dulu." ucap Agartha yang kemudian beranjak.

"Hah kau ini padahal ta.."

"Aku tau adikmu adalah wanita tercantik dikerajaan ini, tapi aku tidak tertarik. Lagipula apa kau akan mengizinkannya jika aku melakukan sesuatu padanya?"

"Tentu saja boleh. Dengan syarat kau harus menjadi prajurit Gerlaria terkuat."

"Itu artinya aku harus melampauimu?"

"Ya."

"Tapi bagaimana caranya, bahkan magia ku terlalu cepat habis saat menggunakan jurus, aku sangat payah."

"Kau tau, aku punya sesuatu untukmu."

"Apa itu?"

Kapten pun mengeluarkan sesuatu dari saku celananya, terlihat seperti kapsul seukuran ibu jari berwarna biru terang.

"Ini adalah magia."

"Apa?? Kenapa bisa magia berbentuk seperti itu?" kaget + kagum, itulah yang ditunjukan Agartha saat ini.

"Tentu saja bisa, dengan jurus magia pembentukan, maka kau akan bisa mengumpulkan magia dan membentuknya menjadi kapsul seperti ini."

"Whoaa luar biasa. Apa itu untukku?"

"Ya, tapi ada efek sampingnya."

"Aku tidak peduli dengan efeknya. Mm jadi dengan ini aku memiliki magia cadangan?"

"Benar, aku sering menggunakannya saat perang. Tapi kau hanya boleh menggunakan 1 butir dalam sehari."

"Kenapa hanya satu butir saja? Padahal jika aku menggunakan 2 sekaligus maka aku punya magia yang cukup untuk mengeluarkan jurus terkuatku berkali-kali."

"Tidak boleh, jika kau menggunakan dua kapusul, maka tubuhmu akan sangat lemah dan terus melemah, hal itu akan berakibat fatal,"

"Fatal?"

"Ya, tubuhmu lemah, kau kehabisan energi, dan jika magia dalam tubuhmu habis maka kau akan mati."

"Gyaah jadi sangat beresiko jika menggunakan dua kapsul."

"Tentu saja, satu kapsul saja sudah beresiko."

"Baiklah aku akan mengingatnya. Jika seperti itu, aku hanya boleh menggunakannya saat aku terluka dan magiaku sudah hampir habis."

"Tepat sekali, jika sudah mengerti. Akan kuberikan benda ini padamu. Tapi untuk saat ini kau belum bisa menggunakannya."

"Kenapa?"

"Karna kau lemah,"

"Hah benar juga." gumam Agartha lemas.

"Tapi aku juga punya penawaran padamu, jika kau menjadi prajurit terkuat atau setidaknya kemampuan mu berada dibawahku, aku akan mengizinkanmu menggunakan kapsul ini ditambah kau boleh bersama adikku."

"Whaaa benarkah?"

"Ya."

"Kau tidak menipuku kan?"

"Kapan aku pernah berbohong?"

"Tidak pernah. Kalau begitu baiklah aku akan berusaha keras dan mendapatkan kapsul itu." teriak Agartha dengan semangat berapi-api.

"Mungkin dengan cara seperti ini dia bisa lebih bersemangat dan mampu mengeluarkan kekuatan sejati prajurit cahaya." gumam kapten.

Flashback End.

Dan hal itulah yang digunakan oleh Agartha yang membuat ia pulih dari lukanya dan magianya kembali penuh.

God The Artifact The Stealth War Chapter 24 - Kapsul
Penulis : Aerilyn Chan Kawai

God The Artifact : The Stealth War.

Agartha mendarat dengan sempurna.

"Ini berkat Artifak miliku." ucap Agartha. Alona pun tak bergerak lagi.

"Aku harus cepat, kurasa mereka dalam bahaya." cahaya pun menyelimuti tubuhnya dan ia pun terbang menuju tempat Reiga.

Kembali ke waktu sekarang.

"Kurang ajar." teriak Reiga, ia pun menerjang kearah Agartha.

"Majulah." tantang Agartha. Ia pun mengeluarkan sebuah kerambit.

Srat..

Ting..

Reiga menebaskan pedangnya kearah Agartha, namun Agartha menahannya dengan kerambit ditangan kanannya.

"Kalian mundurlah, ini pertarunganku." perintah Agartha.

Buak..

Reiga menendang tubuh Agartha. Hingga membuatnya mundur beberapa langkah.

"Rasakan jurusku.Terrazona" teriaknya sambil menancapkan pedangnya ke tanah.

Seketika tanah disana bergetar hebat "Ini gawat." gumam Agartha.

"Agartha-kun."

"Kalian pergilah cepat." teriak Agartha.

"Bagaimana ini Refra-san?"

"Kita serahkan saja padanya, lagipula aku juga sudah mencapai batasku." ucap Refra yang terbaring dengan tengkurap diatas punggung Frigga.

"Kalau begitu kita cari tempat aman."

Ke pertarungan.

Tanah disekitar sana seolah terhisap ke pusat pedang itu. Sedangkan Reiga terlihat mengambang. Agartha pun tertarik.

"Ini bahaya." cahaya pun menyelimuti tubuhnya dan ia pun melayang.

Tanah terus terserap ke pusat pedang dan tak lama muncul tangan yang sangat besar, diameter jari kelingkingnya sekitar 1,5 meter.

"Apaa itu?" kaget Agartha. Terlihat memang bentuk tangan itu tidak seperti tangan manusia.

"Hahaha, inilah akhir darimu hahahaha.." tawa Reiga puas.

"Hah sangat merepotkan." gumam Agartha. Tiba-tiba jari telunjuk dari tangan itu menyerang Agartha dengan cepat.

"Boxeo Argia.."

Dum.. Adu kekuatan pun terjadi, namun karna tenaga yang dilancarkan jari itu lebih kuat, Agartha pun terpental ke tanah. Terlihat jari telunjuk itupun hancur.

"Baiklah, sepertinya aku harus mulai serius.." gumam Agartha, terlihat ia terseret kedalam pusaran tanah.

Tiba-tiba Reiga muncul di hadapan Agartha, tepatnya muncul dari dalam tanah.

"Rasakan ini.."

"Gawat.."

Buak...

Reiga menghantamkan pukulan yang dilapisi bongkahan tanah.

Agartha pun kembali terhempas dan langsung mengarah menuju tangan besar itu.

Grap..

Tangan itu menangkap Agartha. Dan mulai meremas tubuhnya.

"Gyaaah.. I..ini sangat sakit, baiklah sudah cukup bermain-mainnya. Sekarang waktunya serius." ucapnya didalam genggaman tangan itu.

"Sudah berakhir." gumam Reiga, namun tiba-tiba..

"Haaa..."

Duar..

Tangan itu pun hancur, namun pusaran belum berhenti.

"Kau lumayan juga tapi. Rasakan ini.. Tapper Lurrean Gazzerea."

Tanah-tanah runcing muncul dari pusat pusaran dengan sangat cepat menuju kearah Agartha.

Duar...

Duar...

Duar...

Puluhan batang tanah rucing menghantam Agartha dan kemudian hancur.

"Masih Belum." Reiga pun melapisi tangan kanan nya dengan bongkahan tanah, terlihat pedang ditangan kanannya membesar. Tangan ia pun muncul kepermukaan dan kemudian tubuhnya didorong oleh balok tanah berdiameter 2 meter menuju arah Agartha yang terlihat disana Agartha tak terlihat karna asap dan debu bekas ledakan mengepul disana.

"Agartha?"panik Loura yang melihat dari kejauhan.

"Aku yakin dia baik-baik saja." ucap Refra, terlihat lukanya mulai menghilang.

"Hmm, Kau baik-baik saja?"tanya Loura.

"Ya, aku sudah baikan, lihat lukaku sudah menghilang."

"Eh kenapa bisa? Apa kau memiliki magia penyembuhan?"

"Tentu saja tidak."

"Lalu bagaimana bisa? Lukamu..."

"Lain kali akan kubahas."

Kepertarungan.

"Selesailah sudah.. Hyaat..." Reiga pun menghunuskan pedang kearah posisi Agartha tadi. Pedangpun menebas sosok bayangan siluet dibalik asap.

Sring..

Tebasan kuat itu pun langsung menebasnya, namun setelah asap perlahan hilang tertiup angin.

"Sekarang giliranku." ucap Agartha dingin, terlihat ia menahan tebasan dengan kerambitnya, terlihat juga dibawah bekas tebasan sangat panjang membelah hutan.

"Ti..tidak mempan.." kaget Reiga.

"Haaaa"Agartha pun meninju Reiga

Buak..

pukulan mengenai pipikanannya.

"Baiklah jika itu yang kau inginkan."

Reiga pun kembali menebaskan pedangnya namun Agartha menghindarinya.

"Seriuslah sedikit." ejek Agartha yang tiba-tiba berada dibelakang Reiga.

"Aku sudah serius dari tadi.." Reiga pun berbalik dan menebas Agartha, namun Agartha sudah tidak ada disana. Ia berada diatas Reiga dan melepaskan tendangan berlapis cahaya tepat punggung atas Reiga.

Buak...

Ia pun terhempas ke tanah..

"Seharusnya kau masih hidup dengan serangan seperti itu." gumam Agartha yang sedang melayang, tubuhnya masih terselimuti cahaya.

"Sialan, aku kalah olehnya.." geram Reiga yang terkapar di tanah, terlihat pedangnya terlepas dari genggamannya.

Tak jauh di depan terlihat seorang wanita sedang berjalan kearah Reiga.

"Apa? Kau masih hidup?" gumam Agartha yang melihat wanita sedang berjalan.

"Bagaimana Loura-chan?" tanya Refra yang sedang menyentuhkan tangannya ke tubuh frigga.

"Pria menakutkan itu sudah kalah, tapi.."

"Tapi apa?."

"Ada musuh lain.."

Ke tempat Reiga.

"A..alona.. K..k.kau masih hidup?"

"Tentu saja bos dan untukmu.." Alona dengan cepat membentuk pedang dari tanah dan menusuk Reiga.

"Matilah.."

Sleb...

Pedang dari tanah itu pun menusuk jantung Reiga.

"Ke...kenapa..kau..??" ucap Reiga yang kemudian tewas.

"Orang lemah sepertimu tak pantas disebut sebagai bos, tak pantas untuk menjadi ketua." ucap Alona.

Tap..

Agartha mendarat ke tanah dengan jarak yang tak terlalu jauh dari Alona."Kenapa kau.,"

"Masih hidup?" potong Alona yang membalikan tubuhnya.

"Bukan itu, kenapa kau membunuhnya? Dia kan pimpinanmu,"

"Semua itu karna ini.."

Bersambung.

Diluar dugaan kan, Reiga tewas oleh bawahannya sendiri.

Apa alasan Alona membunuh Reiga? Nantikan chapter berikutnya.

dan kapan cerita ini naik view nya yah, padahal sebentar lagi ceritanya sesungguhnya dimulai.


Bersambung ke God The Artifact The Stealth War Chapter 25

Blackpearl Kwon Yuri
2016-12-11 07:07:43
kerambit, nama senjatanya jelek tapi bentuknya keren
Seshomaru
2016-12-10 17:44:24
terus aja lanjutkan, meskipun viewnya dikit, dilain hal itu, ada pembaca yang menunggu ceritamu
Zena Leomosta Kun
2016-12-10 06:58:08
refra mungkin abadi
Vestaka Pyrokinesis
2016-12-10 05:07:51
10 buat cerita kamu
Kleiss Effortles
2016-12-09 11:24:41
dari awal kemunculannya memang Alona suka membangkang
Mutia 4Ra
2016-12-09 08:43:13
d tunggu lnjutnna
Zunuya Rajaf
2016-12-09 06:55:35
sebenarnya dari Awal Alona terpaksa menjadi bawahan Raiga.
Rudy Wowor
2016-12-09 05:20:12
Seru juga. Nextlah pokoknya.
Downcrazy
2016-12-09 01:32:01
Mau juga dunk ditium. #sabar wae mbak,ntar jg naek kok
Baca Semua Komentar dan Balasan
daftar user · online · daftar penulis
halaman awal · group facebook