VersiTeks.com
Selain membaca versi teks anime dan manga, di sini kalian juga bisa membaca dan mengirim cerita karangan kalian sendiri, baik itu yang berupa cerita berseri, cerpen (oneshot), atau fanfiction.
login · register · kirim cerita · setting · kuis
home · versi teks · cerita karangan · oneshot · fanfiction · jadwal rilis


Silakan login atau register jika belum memiliki akun untuk menikmati berbagai fitur khusus di situs ini serta akses tanpa iklan-iklan yang mengganggu.
Like Halaman Baru KOPBI, Official Komik One Piece Bahasa Indonesia, selain itu palsu :D
God The Artifact The Stealth War Chapter 23

2016-12-04 - Aerilyn Shilaexs > God The Artifact The Stealth War
90 views | 9 komentar | nilai: 9.8 (10 user)

God The Artifact : The Stealth War

Chapter23 : Golem

"Inilah akhir darimu. Hyaa" Alona pun melancarkan serangan terakhir. Agartha pun terlihat tak mampu bergerak.

"Boxeo." Alona menghantam wajah Agartha dengan keras.

Jduak....

Agartha pun terhempas jauh dan menabrak sebuah pohon. Ia tertahan sebuah pohon besar.

"A.a.aaku sangat payah. Uhukh.." ia kembali memuntahkan darah.

Tiba-tiba tanah pun berguncang hebat. Bukit tempat persembunyian atau markas pun hancur.

"Apa-apaan orang itu." gumam Alona terlihat abu belerang sudah menghilang dan Alona melihat Agartha sudah tak bergerak.

"Kau sudah mati?" tanya Alona, namun tak ada balasan, bahkan Agartha terlihat tak bergerak.

Didalam markas, terlihat Reiga mengacungkan pedangnya.

Bagaimana dengan Refra, Loura dan Frigga? Terlihat mereka bertiga berada dalam magia pelindung buatan Refra.

"Haaaaa.."
pedangpun bercahaya dan tanah pun terkumpul membentuk raksasa.

"Di..dia membuat raksasa." ucap Refra.

"Apa kau tidak apa-apa?" tanya Loura.

"Aku tidak apa-apa. Aku dapat menyembuhkan luka ku. Yang terpenting, kita harus fokus mengalahkannya."

Terlihat reruntuhan tanah tidak menimpa mereka karna magia pelindung milik Refra.

"Baiklah, sekarang apa rencananya?" tanya Loura.

"Aku tidak tau, akan sangat sulit tuk menghancurkan raksasa tanah itu."

Perlahan terbentuk lah raksasa tanah setinggi 4 meter.

"Bunuh mereka semua." teriak Reiga.

Raksasa itupun mengambil ancang-ancang bersiap meninju ke depan, tepatnya kearah Refra dan yang lain.

"Gawat, apa yang harus kita lakukan." ucap Refra yang melihat pukulan raksasa itu mengarah padanya.

Beralih ke tempat Agartha, Alona belum beranjak dari tempat nya berdiri, ia memastikan Agartha apa mati atau masih hidup.

Pandangan Agartha mulai kabur, ia belum mati, tapi racunnya sudah masuk melalui tusukan tanah tadi, bahkan sudah menyebar. Ditambah menggunakan serangan terkuatnya membuat magia nya terkuras.

Ia pun mengingat masa lalu nya kembali.

Flashback.

"Kau sangat payah." teriak seorang pria berambut panjang yang diikat.

Terlihat Agartha terkapar tak berdaya.

"Mau bagaimana lagi, Raksasa itu sangat kuat." keluh Agartha.

"Kalau begitu gunakan serangan terkuat mu Bonbilla."

"Hah itu mustahil, bahkan aku belum bisa menggunakan jurus itu."

"Itu karma kau sangat payah." ledek pria berbadan kekar.

"Haruga, apa tugasmu telah selesai?" tanya pria itu.

"Ya kapten, aku menghabisi semuanya."

"Lihat, diantara semua prajurit, kaulah yang paling payah." bentak pria yang disebut kapten itu.

"Ah aku tidak peduli, lagipula bertarung itu melelahkan. Aku lebih suka membaca buku daripada bertarung." tegas Agartha yang belum bergerak, ia masih tergeletak.

"Membaca itu memang penting untuk melatih dan mengasah otakmu dalam mengembangkan kecerdasanmu, tapi bukan gamya otak, otot pun diperlukan oleh seorang prajurit. Maka dari itu bangkitlah."

"Baiklah, tapi aku sudah kehabisan magia. Apa ada jurus yang dapat mengembalikan magia.?" tanya Agartha lemas.

"Ada, tapi itu mustahil untukmu. Memangnya kenapa?"

"Aku membutuhkannya jika sewaktu-waktu aku menghabiskan magia ku dan tubuhku terluka."

"Ya, tapi kau membutuhkan artifak seperti yang kumiliki.."

"Jadi hal itu mustahil yah."

"Sudah kubilangkan, kita adalah prajurit cahaya yang khusus menghancurkan bukan memperbaiki."

"Jadi hanya pengguna magia penyembuh yang bisa melakukan hal itu yah.?"

"Ya, tapi artifak miliku juga mampu."

"Aku tau itu, baiklah aku pergi dulu."

"Apa? Mau kemana kau?"

"Mau membaca buku, aku akan mencari jurus yang dapat memulihkan diri." ucap Agartha yang bangkit.

"Sudah kubilangkan itu mustahil bagimu. Lagipula seorang fueran hanya mampu memiliki 1 jenis magia saja."

"Bagaimana jika aku mampu menggunakan 2 jenis magia?"

"Kau akan mati. Maka dari itu kau tidak akan mampu menggunakan magia penyembuhan."

Flashback end.

"Dahulu aku memang tidak bisa, tapi sekarang aku mampu. Terimakasih kapten telah mempercayakannya padaku." pikir Agartha.

Scene beralih ke tempat Refra

God The Artifact The Stealth War Chapter 23 - Golem
Penulis : Aerilyn Shilaexs

God The Artifact : The Stealth War.

Saat pukulan raksasa itu mengarah padanya. Refra pun bangkit dan mengambil ancang-ancang.

"Frigga bawa Loura-chan pergi..Hyaaat.." Refra menghantam kan pukulan ke depan dan

Jbuak..

Tekanan magia yang dihasilkan sangat besar dan menghancurkan tangan raksasa itu.

"Hah...hah...hah... pukulan terkuatku sungguh menguras magiaku." Refra terlihat kelelahan.

Terlihat Frigga membawa Loura keluar dari tempat itu.

"Lumayan, tapi.." ucap Reiga.

"Ini belum seberapa.. Haa..."

Perlahan lengan raksasa itu tumbuh lagi dan bahkan kini memegang pedang.

"Gawat, aku hampir kehabisan magia dan makhluk itu semakin membesar saja. Tak kusangka orang itu sekuat ini." gumam Refra.

Ditempat Loura.

"Aku tidak boleh diam saja, aku harus membantu." Loura pun mengeluarkan sebuah busur panah berwarna pink.

"Kali ini aku harus bisa." ia pun turun dari punggung Frigga dan mulai bersiap.

Ia berkonsentrasi dan munculah anak panah di tangannya. Ia pun menarik anak panah itu.

"Refra-san aku akan memanah raksasa itu. Kamu minggirlah." teriak Loura dibelakang, jaraknya memang lumayan jauh. Refra pun melirik kebelakang.

"Baiklah, eh tunggu dulu. Darimana kau mendapatkan busur panah itu?"

Refra pun melepaskan anak panah nya dan anak panah itu bertambah menjadi 10 buah dan melesat ke arah.. Refra.

Siuw...

Siuw..

"Kyaahah kau menembak kemana sih.." teriak Refra histeris karna semua anak panah mengarah padanya. Ia pun menghindari berbagai anak panah yang mengarah padanya.

"Uwaa aku bisa mati ditanganmu kalau begini."

"Wanita itu tidak bisa menggunakan panah" gumam Reiga sweatdrop.

"Kyaa maafkan aku.." ucap Loura panik, panahnya pun menghilang dari tangannya.

Tanpa diduga oleh siapapun, salah satu anak panah mengenai kaki kiri raksasa itu hingga membuatnya hancur.

Karna kakinya hancur, raksasa itu menjadi tak seimbang dan runtuh menimpa Reiga yang berdiri disamping kiri raksasa itu.

"Eh tunggu dulu. Uwa.."

Gubrak...

"Hore berhasil.." ucap Loura kegirangan.

"Berhasil dengkulmu, kamu hampir membunuhku tau." bentak Refra.

"Maafkan aku, sebenarnya aku tidak bisa menggunakan panah."

"Ini bukan saatnya berdebat, aku harus mengalahkannya dulu." ucap Refra yang berbalik dan melirik kearah Reiga.

Bruak..

"Cukup sudah.. Aku akan membunuh kalian berdua." teriak Reiga yang keluar dari reruntuhan.

"Hyaat.." ia pun menebaskan pedangnya vertikal ke arah Refra.

Seketika tanah pun terbelah.

"Gawat.." Refra pun menghindar dan melompat ke arah Reiga.

Saat ia akan meninju Reiga, tiba-tiba dinding tanah muncul dihadapan Reiga.

"Payah." ucap Reiga yang berada dibelakang Refra.

"Apa..." ia kemudian menebaskan pedangnya kearah Refra, sigap Refra menangkis dengan kedua tangannya yang disilangkan, terlihat tangannya dilapisi magia biru.

Refra terpental dan menghantam dinding tadi hingga hancur.

"Masih belum." teriak Reiga yang muncul dari dalam tanah.

"Dia bisa masuk kedalam tanah." gumam Refra yang tergeletak.

Saat Reiga akan menebasnya, tiba-tiba banyak benang berukuran sebesar jari kelingking menyerang Reiga.

"Apa itu.." ia pun mundur beberapa langkah.

"Wanita itu pengguna benang." gumam Reiga.

Terlihat benang Loura terus memanjang dan menyerang Reiga.

Reiga terus melompat menghindari serangan, tanpa ia sadari Frigga menerjang nya dari belakang.

"Apa?"

Grap..

"Aaaa.."

"Ini kesempatanku." gumam Refra yang segera bangkit dan melompat kearah Reiga yang jaraknya tidak terlalu jauh.

"Hyaat.."

Namun tiba-tiba raksasa tanah muncul kembali dan meninju Refra yang ada di udara.

"Gawat.."

Jbuak..

Refra kembali terpental untuk kesekian kalinya.

"Dasar srigala berengsek." Reiga pun meninju Frigga dengan keras. Terlihat bahu kanannya terluka.

Loura kembali mengeluarkan panahnya.

"Jangan gunakan lagi, kali ini aku tidak bisa menghindarinya." teriak Refra yang tergeletak.

"Baiklah." panah pun menghilang.

"Sebaiknya apa yang harus kulakukan."

Reiga melompat keatas pundak raksasa itu.

"Sekarang injak mereka sampai hancur." perintah Reiga pada raksasanya.

Raksasa itu kembali berlari hingga jaraknya sudah dekat dengan Refra.

"Tubuhku sakit, aku tidak bisa menghindar lagi." gumam Refra.

"Tidak.. Refra-san." kaki kanan raksasa itu pun terangkat. Namun..

"Boxeo Argia.."

Jduar...

Raksasa itupun hancur. Terlihat seorang pria mendarat dengan sempurna didepan Refra.

"Terimakasih sudah mengulur waktu. Kalian boleh istirahat." ucapnya.

"Agartha?" ucap Loura.

"Kau lama sekali, aku hampir terbunuh tau." ucap Refra.

"Kurang ajar." teriak Reiga, ia pun menerjang kearah Agartha.

Beberapa menit sebelumnya. Ditempat Agartha.

Terlihat Agartha tak bergerak, namun perlahan muncul cahaya di tubuhnya.

"Kau masih hidup?" kaget Alona.

"Sialan kau." Alona pun membentuk pedang dari tanah dan melompat kearah Agartha.

"Haaa..." Agartha pun bangkit dengan cahaya menyelimuti tubuhnya. Dengan cepat ia sudah berada dibelakang Alona.

"Apa." gumam Alona.

"Inilah pukulan terakhirku. Lunnar" ucap Agartha.

Cringg.. Cahaya putih dan silau berada di kepalan tanangan kanannya dan

Jduak..

Agartha menghantamkannya ke punggung Alona, seketika Alona terhempas ketanah, hingga tanah disana hancur..

"Bagaimana bisa?" ucap Alona yang sekarat.

Tap..

Agartha mendarat dengan sempurna.

"Ini berkat Artifak miliku." ucap Agartha.

Alona pun tak bergerak lagi.

"Aku harus cepat, kurasa mereka dalam bahaya." cahaya pun menyelimuti
tubuhnya dan ia pun terbang.

Flashback.

"Boon..billa."

Cring...

Terlihat Agartha sedang mempelajari jurus baru nya. Disaat ia mengumpulkan magia cahaya..

Bruk..

Ia pun terjatuh kelelahan.

"Kau sangat payah, sudah kehabisan magia lagi." sindir seorang wanita yang duduk diatas batu sambil memakan buah.

Bersambung.


Bersambung ke God The Artifact The Stealth War Chapter 24

Spectra Phantom
2016-12-08 15:12:30
golem Boboiboy
Blackpearl Kwon Yuri
2016-12-08 14:47:42
loura terlalu cepat untuk senang
Grim Reaper
2016-12-05 18:44:30
Lanjut
Vestaka Pyrokinesis
2016-12-05 14:59:04
1400+ kata
Rudy Wowor
2016-12-04 18:16:01
Siapakah wanita yang duduk diatas batu sambil memakan buah? Apakah author? Tentu saja bukan kan itu wanita lebih cantik hahaha
Gangster V
2016-12-04 18:08:55
Agartha ternyata dulu payah ya
Mutia 4Ra
2016-12-04 17:44:55
d tunggu lnjutnnya selalu
Jack El Jacqueline
2016-12-04 16:51:45
Ada typo tu Aerilyn yang seharusnya "hanya" malah jadi "gamya"
L E Ox Kiruru
2016-12-04 15:42:08
"gamya" apa ya senpai?
Baca Semua Komentar dan Balasan
daftar user · online · daftar penulis
halaman awal · group facebook