VersiTeks.com
Selain membaca versi teks anime dan manga, di sini kalian juga bisa membaca dan mengirim cerita karangan kalian sendiri, baik itu yang berupa cerita berseri, cerpen (oneshot), atau fanfiction.
login · register · kirim cerita · setting · kuis · chat game
home · versi teks · cerita karangan · oneshot · fanfiction · jadwal rilis


Silakan login atau register jika belum memiliki akun untuk menikmati berbagai fitur khusus di situs ini serta akses tanpa iklan-iklan yang mengganggu.
Pengguna Telegram? Coba game Kampung Maifam
God The Artifact The Stealth War Chapter 16

2016-11-04 - Aerilyn Shilaexs > God The Artifact The Stealth War
170 views | 3 komentar | nilai: 9.56 (9 user)

Next chapter, kali ini lawan Agartha bukan siluman, tapi sesama fueran.



God The Artifact Chapter 16.

God The Artifact The Stealth War Chapter 16 - Desa Petani
Penulis : Aerilyn Shilaexs

GOD THE ARTIFACT

-The Stealth War-

"Soal pemungut pajak, apa disekitar sini ada kerajaan?" tanya Loura.

"Loura Chan, disini tidak ada kerajaan. Didaerah sini hanya ada hutan saja."

"Lalu siapa para pemungut pajak itu paman?" tanya Agartha

"Mereka adalah sekelompok fueran yang kerjanya hanya menindas, dengan kekuatan yang mereka miliki kami tidak bisa berbuat apa-apa."

"Seperti apa kekuatan yang mereka miliki paman?" tanya Agartha.

"Mereka semua dapat mengendalikan tanah. Dan pemimpin mereka memiliki sebuah pedang berwarna coklat gelap."

"Jangan-jangan.." pikir Agartha,

"Sudah diputuskan, kami akan menangkap para fueran jahat itu."

"Kau yakin? Mereka itu sangat kuat."

"Agartha.."

"Aku sangat yakin, selain itu, apa anda lupa bahwa kami juga adalah fueran? Kami pasti mampu mengalahkan mereka." ujar Agartha.

"Oh iya, kira-kira jumlah mereka berapa banyak?" tanya Loura.

"Entahlah setiap mereka datang ke desa, mereka tak pernah datang bergerombol. Hanya 4 sampai 5 orang saja."

"Seperti itu yah, baiklah kami akan mengalahkan mereka untuk mu."

"Agartha benar, em sebaiknya kita membawa pulang semua semangka ini." saran Loura.

Waktu berlalu, mereka telah sampai ke desa, terlihat banyak orang telah siap dengan hasil panen mereka.

"Ternyata semua penduduk disini adalah para petani yah." ucap Loura duduk diatas gerobak penuh semangka.

"Yah desa yang luas ini semuanya petani." ujar Maji.

"Jadi ini yang dimagsud desa petani itu." ucap Agartha.

"Yah benar, desa ini memang sudah terkenal dibeberapa desa tetangga."

"Tapi kenapa tak ada prajurit yang menangkap mereka?" tanya Loura.

"Mengingat tempat ini cukup terkenal, harusnya memang begitu, tapi sudah kubilang bahwa mereka terlalu kuat. Ditambah jarak kerajaan dengan desa ini lumayan jauh."

"Hm begitu yah."

"Didepan sana adalah rumahku."

Akhirnya setelah cukup lama, mereka telah sampai didepan rumah Maji.

"Lalu kemana anda akan menjual semua semangka ini?" tanya Agartha yang duduk di depan rumah petani itu.

"Setiap minggu nya Akan ada para pengumpul buah dan sayuran kesini, mereka akan membeli hasil panen kami."

"Jadi para petani disini panen satu minggu sekali?" tanya Loura.

"Ya, tanah disini memang sangat subur, bahkan membuat tumbuhan sangat cepat tumbuh."

"Sudah kuduga, tanah didaerah sini mengandung banyak magia sehingga mempengaruhi pertumbuhan tanaman." pikir Agartha.

"Pantas saja desa ini disebut desa petani."

Dari kejauhan terlihat beberapa orang naik kereta kuda yang khusus untuk barang datang.

"Itu mereka." ucap Maji.

Satu persatu kereta diisi dengan buah dan sayuran para penduduk, terlihat transaksi yang dilakukan begitu normal tanpa pemaksaan atau apapun.

Hingga mereka sampai di depan rumah Maji.

"Hei Maji, petani semangka kita, apa kabarmu?" sapa seorang pria gendut yang tampaknya ramah.

"Aku baik-baik saja, bagaimana denganmu?" Maji terlihat ramah juga.

"Seperti yang kau lihat, aku benar-benar sehat karna buah dan sayur dari desa ini. Eh tunggu dulu, siapa mereka berdua?" tanya orang itu.

"Mereka adalah para tamu ku. Kalian berdua perkenalkan temanku. Tsuma." Maji memperkenalkan pria gendut itu pada mereka berdua.

"Aku Agartha."

"Namaku Loura."

"Agartha dan Loura, yah. Baikl.."

"Bagaimana harga buah-buahan? Apa ada kenaikan?" potong Maji.

"Oh iya aku sampai lupa, harga buah-buahan belum mengalami kenaikan, hanya beberapa sayur saja yang sudah mengalami kenaikan harga." ucap Tsuma

"Hm begitu yah, baiklah semangka ku ada disana." ucap Maji.

"Kalian cepat masukan semua semangka itu.!"

"Ini harga untuk semua semangka mu, senang berbisnis denganmu."

"Hanya 5.000 Tte untuk semua semangkanya." pikir Agartha.

Tsuma dan kelompoknya pun pergi meninggalkan desa itu.

"Paman, bukankah itu terlalu murah. 1 semangka besarmu hamya dihargai 250 Tte saja"
ucap Agartha.

"Yah itulah bisnis, mari masuklah. Tak baik membiarkan tamu diluar." ucap Maji.

Mereka pun masuk kedalam rumah Maji yang terbuat dari kayu itu, rumah yang sederhana.

Belum lama berada didalam rumah, tiba-tiba terdengar suara gaduh.

"Mereka datang." ucap Maji.

"Para pemungut pajak?"

"Ya Agartha kun, mereka pemungut pajak."

Brug..

Brug..

"Woy buka pintunya." terdengar suara seseorang yang menggedor pintu rumah Maji

"Aku akan segera kesana" ucap Maji yang berjalan ke arah pintu masuk.

Saat pintu dibuka,

Terlihat 2 orang pria sudah menunggu. Seorang berkepala botak, dan satu lagi berambut pendek warna merah.

"Aku dengar harga sayuran naik, jadi pajak nya juga naik. Beri kami 4.500 Tte." ucap rambut merah.

"Apa? Jika sebesar itu, tidak akan ada sisa untuk Maji san." ucap Loura yang berada tak jauh disana.

"Hei,hei siapa wanita ini?" tanya si botak.

"Sepertinya kau punya tamu." ucap si rambut merah.

mereka berdua pun masuk.

"Tunggu, apa yang akan kalian lakukan.? Ini ambilah uang pajaknya dan segera pergi." ucap Maji.

"Bukan urusanmu, minggirlah." ucap orang itu mendorong Maji hingga membuatnya terjatuh.

Agartha hanya duduk tak bergeming, ia terlihat sedang memikirkan sesuatu.

"Maji san." ucap Loura yang melihat Maji di dorong.

"Wanita ini lumayan juga." ucap si botak.

"Kita bawa saja dia, oey petani tua. Kami membawa wanita ini dan kau akan bebas pajak semur hidupmu." ucap si rambut merah.

Si botak pun meraih tangan Loura.

"Hei lepaskan."

"Jadi kalian para pemungut pajak yah." ucap Agartha yang berdiri, kepalanya tertunduk.

"Hah, siapa kau ini?" tanya si merah.

"Jika ingin selamat maka diam dan duduk manis disana." ucap si botak.

"Kebetulan sekali kalian datang."

Brak...

Terlihat sibotak dan si merah terlempar keluar hingga membuat lubang di dinding depan rumah Maji.

"Agartha." gumam Loura yang duduk dilantai kayu.

Terlihat Agartha berjalan keluar.

"Berengsek, beraninya kau melawan kami." ucap si merah berusaha bangkit.

"Aku dengar kalian adalah fueran yang kuat. Tapi ternyata hanya segini kemampuan kalian. Sangat lemah." sindir Agartha dengan nada datar.

"Sial kau, beraninya menghina kami." ucap sibotak.

Melihat hal itu, ke tiga orang lainnya langsung datang menghampiri.

"Apa yang terjadi pada kalian berdua?" tanya salah satu dari tiga orang itu.

"Orang itu, dia menendang kami berdua." ucap si botak.

"Kebetulan sekali kalian datang. Majulah." tantang Agartha.

"Beraninya kau menantang kami, memangnya siapa kau?"

"Aku adalah fueran." ucap Agartha.

"Pantas saja kau berani menantang kami. Kalian berdua cepat tangkap dan siksa dia."

"Baik.."

2 orang langsung maju.

Bersambung


Bersambung ke God The Artifact The Stealth War Chapter 17

Under1
2017-06-01 18:51:10
Lah baru mau bertarung malah bersambung.
Kleiss Effortles
2016-12-08 15:00:55
njir cuma satu komentar, padahal komentar mendapat poin
kyoushi
2016-11-04 11:08:44
Lanjut
Baca Semua Komentar dan Balasan
daftar user · online · daftar penulis
halaman awal · group facebook