VersiTeks.com
Selain membaca versi teks anime dan manga, di sini kalian juga bisa membaca dan mengirim cerita karangan kalian sendiri, baik itu yang berupa cerita berseri, cerpen (oneshot), atau fanfiction.
login · register · kirim cerita · setting · kuis
home · versi teks · cerita karangan · oneshot · fanfiction · jadwal rilis


Silakan login atau register jika belum memiliki akun untuk menikmati berbagai fitur khusus di situs ini serta akses tanpa iklan-iklan yang mengganggu.
Like Halaman Baru KOPBI, Official Komik One Piece Bahasa Indonesia, selain itu palsu :D
God The Artifact The Stealth War Chapter 15

2016-10-31 - Tifa Lockhart Chan > God The Artifact The Stealth War
142 views | 9 komentar | nilai: 9.33 (9 user)

cerita lain belum ada inspirasi, belum ada ide untuk selanjutnya. Tapi untuk cerita God The Artifact, udah penuh dibuku. Tinggal ngetiknya aja. Oke kita lanjutkan ceritanya.



God The Artifact The Stealth War Chapter 15 - Pajak.
Penulis : Tifa Lockhart Chan

God The Artifact : The Stealth War

Chapter 15 : Pajak

"Bagaimana kalau kita bertarung.!" ajak Agartha.

"Eh kenapa?"

"Aku ingin mengasah kemampuanku dan mengetahui kemampuan bertarungmu."

"Kalau begitu baiklah."

"Kita bertarung disini saja."

"Eh ini kan ditengah jalan."

"Magsudku disana." tunjuk agartha ke arah tanah kosong.

"Baiklah..."

Mereka berdua pun menyimpan tas mereka dan bersiap bertarung.

"Kau siap Loura?"

"Aku siap."

"Baiklah terima ini." Agartha berlari ke arah Loura dan siap menyerang.

"Boxeo Argia." ucap Agartha yang tiba-tiba berada dibelakang Loura.

"Eh," Loura berbalik dan sigap membuat pertahanan dengan 4 benang keras yang ia silangkan berbentuk huruf X 2 baris denang jari telunjuk dan jari tengah.

"Kau bisa melakukan ini.." kaget Agartha.

"Ini belum selesai." terlihat kedua ibu jari Loura mengeluarkan benang lagi dan

Brt...

Benang itu sangat cepat melilit tubuh Agartha.

"Eh, aku terikat."

"Masih belum." ucap lalu saat Loura mundur beberapa langkah, Agartha pun meledak.

"Duar.."

"Uwaa..."

"Selanjutnya." Loura mengarahkan tangannya kearah kepulan asap ledakan.

"Serangan." pikir Agartha didalam asap.

Slur...

Slur...

Benang-benang tajam menyerang ke arah Agartha.

Agartha segera melompat kebelakang, menghindari berbagai benang yang siap menusuknya.

"Dia lumayan juga, aku harus berhati-hati dengan benangnya."

Slur..

"Benang-benang ini seolah hidup. Dan apa an tuh, benang macam apa yang ukurannya sebesar itu, itu lebih pantas disebut kawat." pikir Agartha sambil menghindari serangan benang-benang Loura.

"Kau akan terus menghindari seranganku?" tanya Loura dari kejauhan, ia terlihat memainkan jarinya ala Sasori.

"Baiklah aku tidak akan menghindar lagi." ucap Agartha yang telah berhenti bergerak.

Agartha mengeluarkan sebuah kerambit yang lumayan panjang.

"Kerambit." pikir Loura.

Saat benang-benang hampir mengenainya. Agartha memotong satu demi satu benang milik Loura.

"Dia memotong benangku." Loura pun kembali memainkan jari-jarinya.

Agartha dengan cepat terus memotong benang-benang yang menyerangnya.

"Hyaat.."

Sraat..

Sraat..

"Bagaimana Loura, aku mampu mengimbangimu." ucap Agartha yang merasa unggul.

"Baiklah, aku akan mengeluarkan artifak milikku."

"Arrow" Loura mengeluarkan busur panah bercahaya pink.

"Bagaimana ini, aku belum bisa menggunakannya." pikir Loura.

"Whoa, ternyata sebuah panah. Baiklah kita lihat kekuatan serangannya." teriak Agartha dari kejauhan.

"Bersiaplah." Loura pun menarik anak panah yang tiba-tiba muncul dijarinya. Ia pun menarik dan melepaskannya.

Siuw..

Anak panah melesat.

"Baiklah. Eh...." Agartha sweatdrop.

Ternyata panah melesat keatas Agartha yang bahkan jaraknya jauh dari kata meleset.

"Kau menembak kemana? Bisa memanah atau ngga sih?" teriak Agartha dari kejauhan.

"Hah, ternyata benar, aku benar-benar tidak bisa menggunakan artifak ini." gumam Loura yang langsung murung.

"Kau tidak apa-apa?" tanya Agartha yang sudah berdiri di depan Loura.

"Hm, aku ternyata payah. Bahkan aku tidak bisa menggunakan benda ini."

"Ternyata benar, kau tidak bisa menggunakan panah. Eh tapi tidak apa-apa ko. Jika kau terus belajar, kau pasti bisa."

"Gampang berbicara, kau tidak merasakan apa yang kurasakan. Kau bisa menggunakan artifak itu."

"Eh kau salah paham. Aku juga belum bisa memakai senjata ini, bahkan aku tidak tau cara kerja artifak ini."

"Apa? Jadi kau juga?"

"Ya, berbeda dengan mu, aku tidak tau cara mengeluarkan serangan dari kerambit ini."

"Ternyata kita sama."

"Ya, sebaiknya kita berlatih bersama sampai kita bisa menguasai dan mengendalikan senjata kita."

"Hm."

Waktu berlalu, terlihat mereka berdua telah melanjutkan perjalanan mereka kembali.

"Aku sangat lelah." keluh Loura.

"Magia ku terkuras." gumam Agartha.

Tak lama mereka berjalan. Terlihat dari kejauhan ada sebuah kebun, disana terdapat banyak semangka, yah. Itu kebun semangka. Mereka berdua pun berjalan menghampiri kebun itu. Terlihat disana ada saung tempat istirahat dan seorang pria yang sudah lumayan berumur sedang memetik semangka yang lumayan besar itu.

Saat mereka sampai.

"Permisi paman, boleh kami numpang istirahat?" kata Agartha.

"Oh silahkan saja." pria itu pun memetik sebuah semangka besar.

"Apa paman akan memanen semua semangka itu.?" tanya Loura

"Iya, aku harus segera memetik dan menjual semangka ini, sore nanti para pemungut pajak akan segera datang." jawab paman itu.

"Ditempat seperti ada juga yang memungut pajak?" gumam Agartha.

"Kalau begitu izinkan kami membantumu paman."

"Tidak usah repot-repot nak, aku tidak mau merepotkan orang lain."

"Tapi anda tidak akan bisa menyelesaikan panen nya jika dilakukan sendiri, lihat hari mulai senja. Jadi biarkan kami membantumu." ujar Agartha.

"Tapi."

"Hyaat"

Siut..

Siut..

Loura menyulurkan benang-benangnya hingga memutuskan ujung semangka dari pohonnya.

"Uwaa.. apa itu?" kaget si paman.

"Itu adalah benang magia, kami adalah Fueran." ucap Agartha.

"Apa?"

Dalam waktu singkat semua semangka sudah berada dalam gerobak besar, tepatnya 2 gerobak.

"Baik, ini yang terakhir." ucap Agartha yang menyimpan buah itu ke atas gerobak.

"Kalian berdua kemarilah." ucap Si paman yang duduk di saung.

Mereka berdua pun menghampiri si paman.

"Semuanya beres." ucap Agartha yang berkeringat, sementara Loura hanya tersenyum.

"Maaf jadi merepotkan kalian berdua."

"Tidak ko, kami merasa senang bisa membantu." ucap Loura.

"Hm kalian anak baik, baiklah silahkan dimakan. Kalian pasti lapar dan haus." ucap paman itu menyodorkan potongan buah semangka yang terlihat segar, apalagi di terik matahari.

"Wah terimakasih banyak."

"Terimakasih paman, eh bagaimana cara memakannya?" tanya Loura.

"Seperti ini," Agartha memotong semangka itu menjadi beberapa bagian.

"Nah jika seperti ini kau bisa dengan mudah memakannya tanpa harus khawatir mengotori wajahmu. Am." lanjut Agartha.

Mereka bertiga pun makan semangka bersama.

Setelah beberapa menit.

"Terimakasih banyak paman atas semangkanya." ucap Agartha.

"Iya, ini sangat enak." ucap Loura yang belum menghabiskan semangkanya.

"Hm, itu sebagai terimakasihku karna kalian berdua telah membantuku, ngomong-ngomong aku harus memanggilmu apa?"

"Eh iya, aku lupa. Namaku Agartha, Agartha DF. Valley."

"Aku Loura, Loura Arleen."

"Aku Maji." ucap si paman yang bernama Maji itu.

"Soal pemungut pajak, apa disekitar sini ada kerajaan?" tanya Loura.

"Loura Chan, disini tidak ada kerajaan. Didaerah sini hanya ada hutan saja."

"Lalu siapa para pemungut pajak itu paman?" tanya Agartha.

Bersambung dulu.


Bersambung ke God The Artifact The Stealth War Chapter 16

SovarenDF Furinkazan
2017-06-20 13:29:13
gampang panennya kalau pake kemampuan
Uchiyama Yuu
2017-06-01 18:12:37
Loura pamer kekuatan.
Kleiss Effortles
2016-12-08 14:58:32
judulnya kaya ekonomi politik aja
Gouenji Shuuya
2016-11-03 15:01:03
Lanjut gan
botol bekas
2016-11-03 02:56:54
itu sih bow bukan arrow. keunggulan menggunakan artifak apa sih?
Grim Rieper
2016-10-31 20:28:29
Lanjut.!
BluePen
2016-10-31 20:20:54
Yo! Next Onee-chan..
chichay
2016-10-31 17:59:46
next.semangka ya *^_^*
Abix Syadzily
2016-10-31 17:54:51
lanjuut. !
Baca Semua Komentar dan Balasan
daftar user · online · daftar penulis
halaman awal · group facebook