VersiTeks.com
Selain membaca versi teks anime dan manga, di sini kalian juga bisa membaca dan mengirim cerita karangan kalian sendiri, baik itu yang berupa cerita berseri, cerpen (oneshot), atau fanfiction.
login · register · kirim cerita · setting · kuis
home · versi teks · cerita karangan · oneshot · fanfiction · jadwal rilis


Silakan login atau register jika belum memiliki akun untuk menikmati berbagai fitur khusus di situs ini serta akses tanpa iklan-iklan yang mengganggu.
Pengguna Telegram? Mainkan Game KampungMaifam
God The Artifact The Stealth War Chapter 14

2016-10-26 - Aerilyn Chan Kawai > God The Artifact The Stealth War
99 views | 3 komentar | nilai: 9.29 (7 user)

kita lanjutkan ceritanya.

Ngga perlu spoiler, baca aja chapter sebelumnya

GOD THE ARTIFACT : The Stealth War

God The Artifact The Stealth War Chapter 14 - Orang misterius
Penulis : Aerilyn Chan Kawai

Di depan terlihat gua sarang siluman itu runtuh,

seseorang meruntuhkannya.

"Gua nya.."

"Runtuh." Agartha pun

pingsan.

"Siapa yang melakukannya?" gumam Loura.

"Bagaimana kalau kita periksa." ucap Agartha.

"Eh? Bukannya kau pingsan?" bingung Loura.

"Tidak jadi, racunnya tidak bekerja padaku. Loura bantu aku berjalan.!"

"Baiklah ayo."

Dengan dipapah Loura, Agartha mampu berjalan.

"Huh sepertinya aku harus mandi, racun merah ini sangat bau." ucap Agartha.

"Kenapa racunnya tidak bekerja padamu, bahkan tubuhmu lecet-lecet. Harusnya racun itu masuk kedalam tubuhmu?"

"Nanti akan kujelaskan. Sebaiknya ayo kita lihat dulu apa yang terjadi disana.!"

Di tempat Yuta,

"Gyaaah dimana aku? Aku tersesat lagi.. Sialan..."

Tiba-tiba..

Rrrr..

Sosok binatang putih muncul diikuti oleh seorang wanita.

"Be-besar sekali." ucap Yuta yang kemudian ngompol sambil terduduk.

Kembali ke tempat Agartha, mereka telah sampai di depan gua dan terlihat gua benar-benar runtuh.

"Agartha lihat,"

terlihat di reruntuhan terdapat banyak mayat siluman grosh yang masih kecil, jumlahnya sekitar 8 siluman yang keadaanmya telah mati.

Terlihat juga bangkai manusia dan kambing yang sebagian tubuhnya telah dimakan.

"Siluman itu sangat banyak, pantas saja hewan dihutan tak tersisa. Hewan ternak terus diburu." ujar Loura.

"Ya, tapi yang menjadi pertanyaanku, siapa yang meruntuhkan gua nya?"

"Kurasa pelakunya adalah orang yang menghancurkan siluman yang menangkapku tadi." jawab Loura.

"Yah, jika sudah mati semua berarti tugas kita telah selesai. Ayo kita kembali, aku harus mandi." ajak Agartha.

"Baiklah."

Ditempat Yuta.

"Penakut, melihat seperti ini saja sudah ngompol." ledek seorang wanita yang wajah nya belum terlihat karna gelap.

"Orang-orang akan takut jika melihat makhluk sebesar ini."

"Terserah, yang penting, tolong sampaikan terimakasihku pada fueran cahaya itu. Dan kau lurus saja kesana, maka kau akan sampai ke desa. Selamat tinggal." ucap wanita itu yang Langsung pergi begitu saja.

"Hei tunggu dulu, hei.." panggil Yuta.

Ke tempat Agartha, terlihat mereka sedang berjalan menuruni gunung.

Waktu berlalu

Saat Yuta sampai di desa terlihat Loura dan Agartha(sekujur tubuhnya basah.) sedang berdiri didepan 2 mayat manusia dan 1 mayat siluman.

"Aaran, Rei." ucap Yuta yang melihat kedua temannya, ia berlari menghampiri 2 mayat itu.

"Pertarungan sudah selesai, sebaiknya kita kuburkan orang-orang yang menjadi korban." ucap Loura menunduk.

"Gara-gara aku tak bertindak cepat, mereka menjadi korban." ucap Agartha yang juga tertunduk.

"Terimakasih banyak telah membantu kami." ucap Yuta yang berdiri memandangi 2 temannya.

"Ngomong-ngomong kau ngompol lagi yah?" ledek Agartha yang melihat celana Yuta yang basah.

"Jorok." ucap Loura.

"Gyaah aku sampai lupa."

Waktu berlalu, keesokan harinya.

Di ruang makan, terlihat mereka bertiga sedang sarapan.

"Lalu bagaimana caranya kau bisa mengalahkan siluman itu?" tanya Yuta

"Aku adalah prajurit Gerlaria, prajurit pembasmi siluman, dulu aku sering melawan siluman tipe Grosh. Bagiku sangat mudah mengalahkan mereka." ucap Agartha.

"Jika mudah kenapa kau selama itu hah.?" bentak Yuta.

"Aku hanya bermain main dan lagi kalian berdua mengacaukan konsentrasiku." jawab Agartha.

"Apa kau menyalahkanku?"

"Tentu saja, aku tidak bisa bergerak bebas, apalagi aku harus melindungi kalian berdua." ucap Agartha.

"Maaf, aku menyusahkanmu. Aku memang payah, bahkan aku tidak bisa menangani siluman itu." ucap Loura.

"Jangan salahkan dirimu Loura, kau juga tidak payah. Hanya saja kau belum terbiasa berada dalam situasi seperti itu." kata Agartha.

"Hmm, lalu bagaimana dengan lukamu?"

"Aku hanya lecet-lecet saja. Aku tidak apa-apa."

"Lalu racunnya?"

"Sudah ternetralisir sepenuhnya."

"Sudahlah, kita harus segera berkumpul dengan yang lain ke pemakaman." potong Yuta.

"Benar juga, beberapa mayat warga hari ini di makamkan."

"Ya, maka dari itu. Ayo kita bergabung ke upacara pemakaman."

Setelah selesai sarapan, akhirnya mereka ke pemakaman.

Setelah upacara pemakaman selesai.

Mereka bertiga berjalan pulang.

"Aku masih penasaran dengan orang misterius yang membantu kita." ucap Loura.

"Oh iya, orang misterius itu memintaku menyampaikan rasa terima kasihnya pada mu Agartha."

"Eh terimakasih? Untuk apa?"

"Entahlah. Dia tidak mengatakan apapun."

Scene beralih ke sebuah ruangan.

Terlihat seorang pria tengah duduk diatas kursi sedang mengelus elus kucing dipangkuannya.

Seorang wanita pun masuk ke ruangan itu.

"Master, misi telah tuntas." ucap wanita itu yang sepertinya melapor.

"Kerja bagus, sebaiknya kau istirahatkan tubuhmu. Kau pasti lelah."

"Tidak master, dalam misi ini aku dibantu oleh fueran lain."

"Oh begitu yah. Apa dia temanmu?"

"Mm bukan, dia hanya pengembara biasa. Baiklah apa ada misi lagi?"

"Tentu saja ada."

Scene beralih ke tempat Agartha.

"Loura, sebaiknya kita berangkat sekarang."

"Eh kenapa harus sekarang,?"

"Perjalanan kita masih panjang, masih banyak hal yang akan kita lalui." ucap Agartha.

"Hm, kalau begitu baiklah."

"Nanti siang kita akan berpamitan."

Waktu menunjukan siang hari.

"Jadi kau akan melanjutkan perjalananmu?" tanya Yuta.

"Ya, ada banyak hal yang perlu kulakukan."

"Anak muda, terimakasih banyak karna telah membantu kami membasmi siluman pemakan ternak itu." ucap Yujima.

"Itu sudah menjadi tugasku paman."

"Tapi kami sangat berterimakasih. Kini desa kami menjadi aman berkat kalian berdua." ucap seseorang.

"Ya baiklah, kami berangkat." ucap Agartha yang membalikan tubuh.

"Hati-hati."

"Semoga selamat diperjalanan."

"Agartha, Loura, sampai jumpa!" teriak Yuta.

Agartha hanya mengangkat sebelah tangannya.

Beberapa menit mereka berdua sudah tak terlihat dari pandangan.

"Loura, kau terlihat jarang bicara? Kau tidak apa-apa kan?"

"Em, aku hanya belum terbiasa saja dengan semua ini."

"Begitu yah. Eh ngomong-ngomong kau punya artifak?"

"Ya, aku punya sebuah panah. Lalu kau?"

"Kerambit yang ku perlihatkan waktu itu adalah artifak." jawab Agartha.

"Bagaimana kalau kita bertarung.!" ajak Agartha.

"Eh kenapa?"

"Aku ingin mdngasah kemampuanku dan mengetahui kemampuan bertarungmu."

"Kalau begitu baiklah."

"Kita bertarung disini saja."

"Eh ini kan ditengah jalan."

"Magsudku disana." tunjuk agartha ke arah tanah kosong.

"Baiklah..."

Mereka berdua pun menyimpan tas mereka dan bersiap bertarung.

Bersambung.


Bersambung ke God The Artifact The Stealth War Chapter 15

Kleiss Effortles
2016-12-08 14:56:40
ngga ada komentar nih
Vestaka Pyrokinesis
2016-10-26 17:27:44
lanjutkan terus ceritamu, kau punya pembaca setia
Abix Syadzily
2016-10-26 11:12:11
kpendekaaan ←~T_T~
Baca Semua Komentar dan Balasan
daftar user · online · daftar penulis
halaman awal · group facebook