VersiTeks.com
Selain membaca versi teks anime dan manga, di sini kalian juga bisa membaca dan mengirim cerita karangan kalian sendiri, baik itu yang berupa cerita berseri, cerpen (oneshot), atau fanfiction.
login · register · kirim cerita · setting · kuis
home · versi teks · cerita karangan · oneshot · fanfiction · jadwal rilis


Silakan login atau register jika belum memiliki akun untuk menikmati berbagai fitur khusus di situs ini serta akses tanpa iklan-iklan yang mengganggu.
Like Halaman Baru KOPBI, Official Komik One Piece Bahasa Indonesia, selain itu palsu :D
Killer Chapter 28

2016-12-30 - Aerilyn Shilaexs > Killer
64 views | 11 komentar | nilai: 9.86 (7 user)

KILLER Chapter 28 : War

Time skip, di halaman mereka berenam sedang berbaris rapi, bukan hanya mereka berenam, tapi ke 10 senior mereka pun ikut berbaris dengan rapi.

"Sst, kak, ada apa sih ini? Kenapa kita disuruh baris?" bisik Brave pada Diera yang kebetulan berada disebelahnya.

"Entahlah, yang kudengar jendral akan datang." jawab Diera. Dan benar saja, seorang pria paruh baya dengan badan tinggi dan kekar datang.

"Dia.. Apakah dia jendralnya.." tanya Johan dibelakang Brave.

"Hm, dialah orang kejam yang melatihku." ucap Brave.

"Selamat pagi semuanya, namaku Versace, Aku adalah jendral yang dipercayakan oleh pemerintahan langsung untuk menangani calon-calo prajurit. Mungkin ada beberapa dari kalian yang belum pernah berjumpa denganku. Ekhem, aku punya beberapa hal yang akan ku informasikan pada kalian. Pertama untuk Brave Frauenfeld."

"Saya jendral." ucap Brave mengangkat tangan.

"Brave, ini Adalah kabar buruk untukmu, ayahmu, Gabriel Frauenfeld meninggal dunia, ia sudah lama menderita penyakit, tapi ia tidak mau memberitaumu agar kau berlatih dan belajar dengan baik di tempat ini." ucap Jendral.

"Apa? A..ayah..." Brave pun menangis dengan kepala tertunduk.

"Kemarin jasadnya telah dimakamkan." ucap jendral.

"Brave.."

"Aku tidak apa-apa." lirih Brave yang masih meneteskan air mata.

"Informasi lain, Prajurit angkatan pertama dan kedua sudah resmi bekerja untuk pemerintah di beberapa kota."

"Hm, lalu berikutnya. Untuk kalian prajurit junior, besok akan dilakukan perang, perang dengan siapa? Yaitu dengan senior kalian."

"Maaf pak, apa hal itu tidak terlalu mendadak." tanya Viktor.

"Kurasa tidak, perkembangan prajurit baru lebih cepat dari prajurit sebelumnya. Baiklah hanya itu yang dapat ku informasikan."

Time skip.

Malam hari di kamar pria.

Terlihat semua orang berada diatas ranjang Brave.

"Aku bahkan tak bisa datang ke pemakamannya, sial. Ayahku adalah satu-satunya keluarga Yang kumiliki."

"Brave.."

Aldora pun merangkul Brave dan memberi sandaran.

"Kami tau apa yang kau rasakan, Aku kehilangan kedua orang tuaku sejak kecil, begitu juga Keana dan Devian."

"Aku bahkan tidak tau siapa orang tuaku." ucap Johan.

"Begitu juga denganku, dari kecil aku diasuh oleh nenekku, setelah nenek meninggal aku dikirim kesini." ucap Alice.

"Brave, kita semua memiliki penderitaan yang sama sepertimu, maka dari itu, kami sangat mengerti perasaanmu saat ini." ucap Keana.

"Maka dari itu, kita harus bersatu dalam keadaan apapun, kita harus bekerja sama. Kita memiliki penderitaan, tekad dan keyakinan yang sama." lanjut Devian.

"Kita harus bangkit dan bergerak maju. Boleh kita menangisi seseorang yang telah tiada, tapi jangan membuat dirimu terlarut dalam kesedihan." ucap Alice.

"Kami ada bersamamu Brave." ucap Keana.

"Terimakasih teman-teman, aku tidak apa-apa, hanya saja yang ku sesalkan adalah karna aku tidak berada disampingnya pada saat-saat terakhirnya." ucap Brave yang beranjak dari pelukan Aldora.

"Selama ini aku berada disini bersamaku, kalian sudah menjadi keluargaku. Hm.. Baiklah kita akan berperang besok."

"Kau yakin tidak apa-apa? Mau kupeluk lagi?" tanya Aldora.

"Tidak, jika itu terjadi, maka Johan dan Devian akan iri."

"Benarkah itu?" tanya Alice disebelah Devian.

"Tidak juga, aku tidak iri." ucap Johan.

"Hah dalam keadaan seperti ini kau masih saja menyebalkan." ujar Devian.

"Itulah Brave."

Keesokan harinya.

Scene berada di depan hutan.

"Selamat pagi semuanya, akan ku jelaskan peperangan yang akan kita lakukan kali ini." ucap Viktor.

"Sebelum itu, kemana kakak-kakak yang akan melawan kami?"
tanya Devian dengan semangat. Sementara Brave terlihat tidak aktif, meskipun ia mengatakan tidak apa-apa, tapi perasaannya berkata lain.

"Dengarkan aku dulu makanya." ucap Viktor.

Killer Chapter 28 - Fight
Penulis : Aerilyn Shilaexs

KILLER

Flashback terpotong. Karna pada males membaca flashbacknya, jadi kita langsung ke tempat Jill aja.

"Haaa..h.." teriak Brave melampiaskan kekesalannya.

Time skip, hari menunjukan sudah pagi.

Dihalaman, Brave dan Jendral Versace sedang bertarung.

Brave melancarkan tendangan dan pukulan, namun semua serangan berhasil ditangkis.

"Jendral izinkan aku mengejar mereka." pinta Brave sambil melayangkan pukulan.

"Tidak bisa Brave, mereka kelompok elit, aku tak menyangka jika mereka menghianatiku." tolak Jendral sambil menangkis serangan dan membalas dengan melayangkan tendangan lurus kedepan.

Brave merunduk dan memutar tubuhnya dan menendang kebelakang dengan lurus.

"Aku sudah jauh lebih kuat."

Jendral menyilangkan tangannya untuk menahan tendangan.

"Hm, baiklah. Tapi perlu kau ketahui alasan mereka menghianatiku." mereka berdua pun menghentikan pertarungan.

"Itu juga yang ingin kuketahui." ucap Brave yang duduk ditanah.

"Alasannya adalah...."

Scene beralih ke tempat Austina. Terlihat Gil dan Dev sedang duduk disamping ranjangnya.

"Dev sebaiknya kau pergi saja, kau juga masih terluka." saran Gil.

"Luka seperti ini tidak akan mampu membunuhku. Lagipula kau juga terluka kan.?"

"Aku hanya tergores saja, lagipula aku ini prajurit terbaik."

"Hentikan lah sifat angkuhmu itu." bentak Dev.

"Jangan berisik keparat, bisakah kalian biarkan aku istirahat dengan tenang." bentak Austina yang sudah sadar namun matanya masih tertutup.

"K-kau sudah sadar.?" tanya Gil.

"Sepertinya iya." ucap Dev. Austina pun bangkit. Ia duduk diatas ranjang.

"Kenapa aku tidak memakai baju?" tanya Austina yang melihat seluruh tubuhnya dibalut perban dan hanya mengenakan celana pendek saja.

"Kau mendapat banyak luka ditubuh mu da.."

Buak...

Tiba-tiba Austina menendeng Gil hingga membuatnya terlempar.

"Selain itu kenapa kau malah memukulku?" geram Austina yang mengingat kembali saat perutnya dipukul oleh Gil dengan keras.

"Itu sangat sakit, kau tau." geram Austina dengan aura pembunuh, ia turun dari ranjang dan mengepalkan tangan bersiap menghajar Gil.

"Kau tampak terlihat bukan seorang wanita yang sedang sakit." ucap Gil yang bangkit.

"Kau masih saja sangat menyeramkan." gumam Dev.

"Kau mengatakan sesuatu?" tanya Austina yang melirik kearah Dev dengan tatapan menakutkan.

"Ti..tidak.. Aku tidak mengatakan apapun." ucap Devian ketakutan.

"Austina, aku minta maaf soal itu. Tapi kami kesini mempunyai kabar buruk untukmu." kata Gil yang berjalan kearah Austina.

"Apa ada Kabar yang lebih buruk dari kabar kalian yang akan segera masuk UGD?" tanya Austina yang masih marah.

"Ini serius." ucap Gil yang ekspresi wajahnya kini jadi serius.

"Apa itu?"

"Moryn, dia meninggal, kepalanya tertembak." ucap Dev.

Seketika Austina langsung lemas dan ia jatuh, reflek Dev yang berada disamping Austina langsung menangkap tubuhnya.

Gil langsung berlari kearah Austina.

"Kau tidak apa-apa?"

Airmata Austina pun perlahan keluar dan semakin deras.

"Kalian pasti berbohong kan? Katakan padaku jika itu bohong?" teriak Austina dipelukan Dev, ia menangis sejadinya.

Scene beralih ke tempat Jill.

Di pulau itu tak ada aktivitas seperti biasanya, di pantai Jill dan Claire bertarung dengan tangan kosong.

"Kau mempunyai banyak celah." teriak Jill yang langsung menendang tubuh bagian kiri Claire dengan keras hingga membuatnya terjatuh.

"Maafkan aku, aku tidak fokus.." lirih Claire yang perlahan bangkit.

"Jangan biarkan perasaan mu mengganggu pikiranmu, kita harus menjadi lebih kuat lagi. Di dalam peperangan ini kita harus menang, apapun yang terjadi kita harus bertahan sampai akhir dan keluar dari tempat ini. Semua ini demi Lisa." kata-kata Jill langsung menyadarkan Lisa.

"Baiklah, sekali lagi." Claire langsung melancarkan pukulan dengan keras. Namun Jill menangkisnya dengan mudah.

"Lemah." ucap Jill yang terus menangkis pukulan Claire.

"Pukulan yang sangat lemah." teriak Jill ia pun menangkap kedua tangan Claire dan melancarkan tendangan kaki kanan secara lurus kedepan dan berhasil menghantam perut Claire dengan keras hingga membuatnya terhempas beberapa meter.

"Ingat semua latihan yang telah kita bertiga alami selama ini.! Kau lebih kuat dari ini.! Maju lah.!" teriak Jill.

"Aku lebih kuat dari ini." Claire bangkit dan berlari menuju arah Jill, ia melompat dan berputar kemudian melancarkan tendangan lurus ke depan.

Jill menyilangkan tangan untuk menangkis tendangan dan tendangan sukses menghantam Jill hingga membuatnya terdorong mundur beberapa langkah.

"Seperti itu harusnya."

Mereka berdua pun terus bertarung saling menyerang satu sama lainnya.

Hari telah senja, scene berada di tempat Brave.

Di kamar, terlihat Aldora, Keanan, Alice dan Johan sedang duduk di satu ranjang, entah apa yang sedang mereka lakukan. Tiba-tiba datanglah Brave.

"Teman-teman, besok kita akan berangkat.. .

Bersambung.

Chapter berikutnya adalah pertarungan Jill. So, nantikan chapter berikutnya

Bersambung ke Killer Chapter 29

Kill Me 1st
2017-01-01 22:19:28
Sepertinya.. Ada kesalahan copas... *hanya menebak*
ZENA LEO MONSTA X
2016-12-31 20:13:23
ditunggu chapter berikutnya Princess Alien kawai-chan.
Snow Blue
2016-12-31 17:28:42
Ditunggu chapter selanjutnya
SESHOMARU INU
2016-12-31 09:14:51
ditunggu pertarungan berikutnya Tifa Princess Alien Kawai-Chan
Spectra Phantom
2016-12-31 08:57:09
kata-kata yang bagus
LaZiEsT SiLeNt DiZzY
2016-12-30 19:30:51
aku jd bingung, dterangakn langsung ke tempat Jill.. tpi paragraf dbwahnya tentang Brave dan jendral. bntar ku baca lg.
Grim Reaper
2016-12-30 17:37:27
Calon calo prajurit ?
Rudy Wowor
2016-12-30 13:19:27
Calon-calo/calon-calon? Memberitau/memberitahu?
Gangster V
2016-12-30 13:07:09
Mereka akan berangkat kemana
Sqouts Shadows
2016-12-30 12:47:09
Lanjut vroh
Baca Semua Komentar dan Balasan
daftar user · online · daftar penulis
halaman awal · group facebook