VersiTeks.com
Selain membaca versi teks anime dan manga, di sini kalian juga bisa membaca dan mengirim cerita karangan kalian sendiri, baik itu yang berupa cerita berseri, cerpen (oneshot), atau fanfiction.
login · register · kirim cerita · setting · kuis · chat game
home · versi teks · cerita karangan · oneshot · fanfiction · jadwal rilis


NEW!!! Sekarang kamu bisa melakukan register tanpa perlu melakukan proses validasi Facebook!!!

Silakan login atau register jika belum memiliki akun untuk menikmati berbagai fitur khusus di situs ini serta akses tanpa iklan-iklan yang mengganggu.
Pengguna Telegram? Coba game Kampung Maifam
Killer Chapter 27

2016-12-27 - Aerilyn Shilaexs > Killer
155 views | 24 komentar | nilai: 9.5 (8 user)

Killer Chapter 27 : Best Soldier

"Apa maksudmu? Apa kau tidak sedih karna Moryn mati?" bentak Gil, ia mencengkram kerah baju Dev.

"Siapa yang tidak sedih ketika sahabat dekatnya tewas, Moryn mati tepat dihadapan mataku, dia adalah sahabat dekatku. Aku... Aku sangat marah, sedih, dan murka. Tapi hal itu tidak akan menyelesaikan apapun, aku sangat dendam terhadap orang itu. Aku.. Mesekipun aku berhasil membunuhnya, tapi tetap saja perasaan sakit ini tak bisa hilang." balas Dev yang berteriak.

"Marah-marah tidak akan menyelesaikan apapun, balas dendam tidak akan membuat seseorang yang telah tiada hidup kembali, kesedihan, amarah dan kebencian, hal itu harus kita hilangkan. Bukankah kita tau akan hal itu," lanjut Dev.

Flashback saat mereka pertama kali masuk.

Terlihat sepuluh pemuda sedang berbaris,

"Perkenalkan nama kalian." ucap seorang pria, ia lah Alexander.

"Namaku Gilga Norith, kalian bisa memanggilku Gil, seorang pria yang akan menjadi prajurit terhebat." ucap Gil memperkenalkan dirinya dengan bangga.

"Namaku Moryn Arkta, aku juga akan menjadi prajuri terbaik."

"Jangan meniruku." bentak Gil.

"Siapa juga yang menirumu, dasar bodoh."

"Kau bilang aku apa?"

"Ternyata bukan hanya bodoh, tapi kau juga tuli."

"Apa katamu..."

Tiba-tiba Alexander pun meninju kedua perut mereka dan merekapun terkapar.

"Dasar lemah, berhentilah bertingkah seperti anak-anak." ucap Alexander dengan tatapan killer.

"Ba..baik."

"Lanjutkan."

"Namaku Austina Alerta," kata Austina memperkenalkan dirinya.

"Alan Vandev, panggil saja Dev." ucap Dev acuh, bahkan ia mengalihkan pandangannya.

"Aku Fortdalv, panggil saja Dalv."

"Willona Arrteria." ucap Willona dengan aura menakutkan.

"Me..menyeramkan sekali wanita ini." gumam Moryn dan Gil yang masih terkapar ditanah.

Time skip.

"Dengarkan semuanya, kalian bebas memiliki tujuan lain, kalian bebas menjadi prajurit terbaik. Tapi, kalian harus ingat, tujuan utama kalian berada disini, kalian bukan dilatih untuk menjadi tentara biasa, tapi untuk menjadi tentara pembunuh." terang Alexander.

"Apa itu tentara pembunuh?" tanya Gil yang mengangkat tangannya.

"Tentara pembunuh adalah para prajurit yang dilatih khusus dan bekerja untuk pemerintah, tugas kalian membunuh siapapun yang diperintahkan oleh pemerintah."

"Kukira akan menjadi pembunuh bayaran." gumam Gil.

"Tentu saja tidak." bentak Alexander.

Btw usia mereka sekitar 15-17 tahun.

"Yasudah."

"Resiko menjadi tentara pembunuh yaitu kalian bisa mati kapan saja, maka dari itu kalian harus berlatih dengan keras dan menjadi pembunuh terlatih."

"Aku tidak menyarankan kalian berteman, tapi kurasa menyelesaikan sesuatu secara bersama akan lebih baik daripada secara individu. Meskipun resikonya kalian akan lebih peduli pada teman daripada misi." lanjutnya.

Time skip.

saat latihan bertarung.

"Hahahaha, sudah kubilang akulah prajurit terbaik, tak ada satu pun yang bisa mengalahkanku." ucap Gil sombong, terlihat ia memegangi pinggangnya, 8 orang disana terkapar dengan napas terengah engah.

"Jangan sombong dulu, aku belum kalah." ucap seorang wanita dari belakang Gil, dialah Austina. Gil pun berbalik.

"Waah kau wanita cantik yang waktu itu, hm menyerah saja lah, aku tidak mau melukaimu." ucap Gil dengan angkuhnya.

"Jangan harap."

Time skip.

Gil terlihat terkapar dengan wajah babak belur.

"Dasar sombong." ucap Austina.

"Wanita yang mengerikan." gumam Moryn dan Gil.

"Apa katamu..."

"Gyaaa.." keduanya pun lari terbirit-birit.

Time skip saat malam hari, di bawah pohon terlihat ada 3 pria yang sedang menyalakan api.

"Wanita menyeramkan itu menyebalkan." ucap Dev.

"Ya, bahkan tadi aku dihajar olehnya." ucap Moryn.

"Kau hanya sekali, aku dihajar hingga dua kali." keluh Gil sambil mengelap benjolan dikepalanya dengan handuk basah.

"Meskipun dia cantik tapi kekuatan nya seperti monster saja." ucap Dev.

"Hmm kau tau, para wanita sedang mandi loh saat ini." ucap Moryn.

"Memangnya ke.. Woh aku tau apa yang akan kau lakukan." ucap Gil.

Singkatnya mereka pun berjalan menuju tempat mandi para wanita, dengan mengendap endap mereka berjalan, setelah sampai, terlihat di kolam pemandian terdapat 4 wanita sedang merendam tubuhnya.

"Kau yakin ini rencana bagus?" bisik Gil.

"Hmm, kita akan mengambil handuk dan pakaian ganti mereka, jadi sepanjang malam mereka akan tertahan disini." ucap Dev.

"Rencanamu luar biasa." ucap Moryn.

"Rencana apa?" tanya suara wanita dari belakang.

"Su,suara itu. AUSTINA..."

Buak... Buak.. Buak...

Time skip.

Keempat wanita tadi sudah memakai handuk. Dev, Moryn dan Gil berada didalam kolam.

"Dasar tukang ngintip." para wanita pun meninggalkan tempat

Flashback end.

"Sial.. Sial kenapa aku malah mengingat hal bodoh bersama nya." ucap Gil, air matanya pun tak dapat ia tahan lagi.

Ditempat Austina dan Andreas.Terlihat mereka berdua belum juga tak sadarkan diri, Austina kehilangan banyak darah dan Andreas punggungnya luka bakar, yang lainnya hanya luka ringan saja.

Ditempat Brave.

Ia membayangkan kembali saat

Killer Chapter 27 - Best Soldier
Penulis : Aerilyn Shilaexs

KILLER

Ditempat Brave.

Ia membayangkan kembali saat pertama kalinya tim A dan tim B disatukan. Disebuah ruangan.

"Wah ini kamar yang cukup luas." ucap Alice kagum.

"Hm, kamar pria dan wanita dipisahkan oleh tembok, padahal ini adalah satu ruangan besar." ucap Aldora.

"Kemana Devian dan Brave?" tanya Johan yang tak melihat keberadaan mereka berdua.

Dikamar pria.

"Ini ranjangku dasar berengsek." teriak Brave.

"Aku yang pertama kali disini, jadi ini ranjangku dasar bajingan." balas Devian yang juga berteriak.

Mereka berdua pun melakukan perkelahian konyol karna memperebutkan ranjang.

"Padahal semua ranjang sama saja." ucap Johan.

"Kau benar." setuju Keana.

"Jojo adalah pria yang paling normal diantara kalian." ucap Aldora. Ketiganya sweatdrop memperhatikan dua pemuda yang sedang bertengkar.

Sementara Alice hanya tersenyum sambil matanya tertutup.

"Hentikan dasar kalian bodoh." teriak Keana.

Jbuak.. Jbuak...

Devian dan Brave pun terkapar dilantai.

"Dasar preman." ucap Devian dan Brave serempak.(usia 16 tahun, rambut Keana masih pendek, namun tidak seperti pria lagi.)

"Apaa?"

"Khi... Baiklah ranjang itu milikmu." ucap Brave dan Devian serempak, mereka berdua pun memakai ranjang yang kosong.

"Pada akhirnya tak ada satupun yang memakai ranjang itu." ucap Johan lesu.

"Kurasa kau yang akan menggunakan ranjang itu." ucap Aldora.

Sementara Alice, ia sedang bersih-bersih di tempat wanita, entah tak peduli
atau memang hal itu sudah sering terjadi.

"Aldora, kita juga harus merapikan tempat tidur kita, ayo." Keana pun pergi menarik tangan Aldora keluar dari tempat pria.

Time skip.

malam hari tiba.

Ternyata Devian tidurnya mendengkur.

"Berisik sekali orang itu." geram Brave yang tidak bisa tidur, sementara Johan yang sudah terbiasa dengan hal itu sudah terlelap tidur.

"Haaa aku tidak tahan lagi." Brave pun mengambil bantal dan melompat keatas ranjang Devian.

"Jangan berisik dasar berengsek." teriak Brave yang menutup wajah Devian dengan bantal.

"Mm..mmm..." Devian yang bangun, ia langsung memberontak, ia meronta-ronta. Hingga kakinya menendang perut Brave.

Buak..

Brave pun jatuh kelantai, Devian bangkit dan menyingkirkan bantal diwajahnya.

"Apa yang kau lakukan bajingan." bentak Devian.

"Mereka mulai lagi." gumam Johan yang bangun karna ribut yang disebabkan Brave dan Devian.

"Kau terlalu berisik sialan." bentak Brave yang bangkit.

"Apa karna hal itu kau mau membunuhku?" teriak Devian.

"Ya, mati saja kau.." Brave melompat keatas ranjang dan mereka berkelahi lagi. Ya meskipun hubungan Rival sudah berakhir tapi pertengkaran selalu terjadi antara mereka berdua.

"Berisik..." teriak Keana yang entah sejak kapan ada ditempat pria.

Jbuak...

Ia pun menendang mereka berdua hingga jatuh kelantai.

"Ke..keana kamu." gumam Johan.

"Apa kalian mau kuhajar hah." bentak Keana.

"Ya, tapi apa yang kau lakukan kekamar pria.." ucap Brave.

"Dengan hanya mengenakan pakaian dalam." lanjut Devian. Terlihat Keana memang hanya mengenakan bra dan celana dalam.

"A..apa.? Eh.. Kyaaa... Kalian jangan lihat." seketika keana menarik selimut diranjang Devian untuk menutupi tubuhnya, ia tidak menyadari kalau ia melepaskan pakaiannya karna merasa dikamar itu hanya ada wanita, saking marahnya ia lupa memakai pakaian dan segera menuju tempat pria.

Time skip.

Dihalaman.

Terlihat mereka berenam sedang push up, dengan guru pembimbingnya adalah Gil.

"Aku akan menjadi prajurit terbaik." ucap Brave.

"Aku yang akan menjadi prajurit terbaik." bentak Devian tak mau kalah.

"Mereka mulai lagi." gumam Johan.

"Jojo adalah pria yang paling waras diantara ke tiga pria." ucap Aldora. Alice dan Keana fokus pada hitungan jumlah push up mereka.

"Oh ya, kalau begitu bisakah kau melampauiku?" tantang Brave.

"Itu kata-kataku." Brave dan Devian pun mempercepat gerakan push up mereka.

"Hah tingkah mereka mengingatkanku pada diriku yang dulu." gumam Gil yang berdiri dihadapan ke enam pemuda itu.

"Baiklah sudah cukup." ucap Gil.

Keana, Aldora, Johan dan Alice menghentikan push up mereka. Berbeda dengan Devian dan Brave yang belum juga berhenti.

"Terakhir melakukan hal itu mereka berdua pingsan." gumam Alice.

"Biarkan saja kedua orang bodoh itu." ucap Keana.

"Aku tidak akan kalah darimu, aku akan menjadi prajurit terbaik." ucap Brave.

"Begitu juga denganku, aku tidak akan kalah oleh pria bajingan sepertimu." balas Devian.

"Tidak keana, kalian harus membantu mereka berdua." ucap Gil.

"Aku mengerti kak." ucap Keana dengan tatapan jahat yang penuh maksud dan tujuan.

Alice dan Keana pun langsung duduk diatas punggung mereka berdua, Alice diatas punggung Brave dan keana diatas punggung Devian.

"Gyaaah apa-apaan ini." ucap Ddevian dan Brave.

"Berisik, jika kalian ingin menjadi prajurit terbaik maka harus ada tantangannya." ucap Keana.

"Maka dari itu kami akan membantu kalian." ucap Alice.

Mereka berdua pun berusaha melakukan push up, meskipun ditambah beban. Tapi diantara mereka tak ada yang mau kalah.

Bersambung.

Bersambung ke Killer Chapter 28

Zen Kureno
2017-06-20 13:35:22
Kira in kenangan sedih ternyata kenangan konyol sampe aku ketawa sendiri bacanya gyahahahahha
Kill Me 1st
2017-01-01 11:26:26
Hanya kenangan...
SESHOMARU INU
2016-12-28 14:19:52
orang dibawah mulai lagi, nyampah komentar
Gouenji Shuuya
2016-12-28 07:17:11

Gouenji Shuuya
2016-12-28 07:16:57

Gouenji Shuuya
2016-12-28 07:16:28

Gouenji Shuuya
2016-12-28 07:16:15

Gouenji Shuuya
2016-12-28 07:16:00

Gouenji Shuuya
2016-12-28 07:15:48

Gouenji Shuuya
2016-12-28 07:15:32

Baca Semua Komentar dan Balasan
daftar user · online · daftar penulis
halaman awal · group facebook