VersiTeks.com
Selain membaca versi teks anime dan manga, di sini kalian juga bisa membaca dan mengirim cerita karangan kalian sendiri, baik itu yang berupa cerita berseri, cerpen (oneshot), atau fanfiction.
login · register · kirim cerita · setting · kuis
home · versi teks · cerita karangan · oneshot · fanfiction · jadwal rilis


Silakan login atau register jika belum memiliki akun untuk menikmati berbagai fitur khusus di situs ini serta akses tanpa iklan-iklan yang mengganggu.
Like Halaman Baru KOPBI, Official Komik One Piece Bahasa Indonesia, selain itu palsu :D
Killer Chapter 24

2016-12-14 - Aerilyn Shilaexs > Killer
114 views | 12 komentar | nilai: 9.56 (9 user)

Killer Chapter 24

: Panik

Beralih ketempat Dalv dan Calista.

"Hah..hah..hah..."

"Hah..hah..hah.. Aku sudah lelah, mereka sangat banyak." ucap Dalv yang kelelahan.

"Ya, peluruku sudah habis."

Gubrak..

Calista menjatuhkan diri.

"Kau tidak apa-apa?" tanya Dalv.

"Ya, hanya lenganku saja sakit."

"Kita harus segera ke dermaga, jangan biarkan mereka lolos."

"Tapi bagaimana caranya? Aku kehabisan tenaga dan peluru."

"Kalau begitu kau istirahatlah, aku pergi duluan."

"Tapi bagaimana dengan kaki kirimu."

"Aku tidak apa-apa. Luka seperti ini tidak akan membunuhku."

"Tapi pelurunya belum dikeluarkan."

"Aku akan meminta orang lain mencabut pelurunya, baiklah aku duluan." ucap Dalv yang memaksakan berjalan.

Beralih ke tempat Aldora dan Keana.

Dor..

"Hah itulah kemampuanku, jangan berani macam-macam padaku." ucap Aldora.

Tiba-tiba dibelakangnya ada seseorang yang hendak menikamnya.

Buak..

Keana tiba-tiba menghantam leher belakangnya dengan keras. Orang itu pun terkapar.

"Jangan lengah, ini medan perang."

"Maafkan aku."

"Sudahlah, ayo kita ke tempat lain."

"Tempat lain? Kemana?"

"Emm aku tidak tau."

"Eh.."

Tiba-tiba dibelakang mereka ada yang menembak.

Dor.. Dor..

"Berlindung."

Mereka berdua pun langsung bersembunyi dibalik pepohonan.

"Gawat, kenapa muncul lagi."

"Sebanyak itu pula." panik Keana. Terlihat sekitar 6 orang datang memojokan mereka berdua,

"Apa kau masih memiliki peluru ?" tanya Keana.

"Aku? Bahkan aku tidak membawa peluru."

"Apa??"

Beralih ke tempat Jendral, dia sudah dekat dengan dermaga, diikuti Alexander, Viktor dan Aran.

"Jendral, kapalnya sudah mulaibergerak." ujar Viktor yang melihat menggunakan teropong.

"Mereka meninggalkan orang-orang yang tersisa?" tanya Alexander.

"Bisa dibilang mereka mengorbankan yang masih tertinggal."

"Aku menyesal merekrut mereka." kesal jendral.

Beralih ke tempat Andreas.

Killer Chapter 24 - Panik
Penulis : Aerilyn Shilaexs

KILLER.

Terlihat ia sedang berlari dan mendengar suara ledakan."Ledakan di.. Ladang ranjau."Karna ia yang paling dekat jaraknya dengan ladang ranjau, hanya ia yang mendengar ledakan itu.

"Jangan-jangan... Aku harus memastikannya." Andreas pun segera berlari menuju tempat terbuka.

Saat ia sampai.

"Musuh." gumamnya, ia pun bersiap menembak namun."Tunggu dulu, itu Brave." Andreas pun mengurungkan niatnya dan segera menuju kearah Brave, ia berjalan dengan hati-hati dan mengingat-ingat letak ranjau ditanam.

"Brave apa yang sedang kau lakukan disana?" tanya Andreas dari belakang.

"Kak Andreas, aku.."

"Ada apa?"

"Sepertinya aku menginjak ranjau."

"Apa? Jangan bergerak Brave, kau harus tenang. Atur napasmu, jangan panik aku..." panik Andreas.

"Kau yang panik, aku bahkan tidak bergerak sedikitpun. Ayolah bantu aku."

"Baiklah-baiklah aku akan membantumu. Dan sejak kapan kau memegang senapan?"

Andreas pun berjalan Berjalan kearah Brave dengan hati-hati, ia pun berjongkok di depan Brave



"Tahan Brave, aku akan menekan ranjaunya dengan belati ku, sebelum itu. Kau harus menyesuaikan berat dan tekanan kakimu."

"Baik."

Andreas perlahan mengeluarkan belati dan memasukannya ke antara alas sepatu Brave dan pemicu ranjau.

"Kau yakin?"

"Tentu saja, angkat kakimu perlahan. Aku akan memberi tekanan pada pisau."

"Baik." namun saat Brave akan mengangkat kakinya, ia sedikit bergerak.

"Brave hati-hati." panik Andreas, keringat bercucuran dikeningnya. Andaikan ia gagal, maka bukan hanya Brave, ia juga akan mati.

"Maaf, aku pegal."

"Angkat kakimu perlahan."

Andreas terlihat sangat berkonsentrasi.

Beralih ke tempat Diana.

"Ini untuk Rafael," Diana pun berlari kedepan.

Dor... Dor..

Dua orang langsung roboh.

Tersisa satu orang lagi.

"Satu peluru terakhir." gumamnya.

Saat orang itu akan menembak, Ia bingung karna Diana tak ada di hadapannya.

"Aku disini." ucap Diana yang tiba-tiba melompat keluar dari semak semak yang tinggi di hadapan orang itu.

Dor..

Diana menembakan peluru terakhirnya namun tidak kena. Diana pun jatuh di hadapan pria itu.

"Bodoh, kau membuang peluru terakhirmu, sekarang temuilah kekasihmu di alam baka." ucap orang itu sambil menodongkan senapannya, namun saat ia akan menembak.

"Apa? Pelatuknya tidak ada."

"Dasar bodoh." Diana pun melemparkan pistol tanpa peluru ke wajah pria itu.

Ia pun mengapit kaki kanan pria itu dan memutar tubuhnya. Hingga membuat pria itu jatuh.

"Rasakan ini." Diana mengambil senapan salah satu orang yang tadi.

Dor..

Diana menembak tepat kearah mata kiri pria itu.

Crat..

"Selesai sudah." Diana pun segera berlari kearah Rafael, terlihat ia sudah memejamkan mata. Ia tewas dengan 8 peluru bersarang dipunggungnya. Diana pun duduk di samping Rafael, air mata nya pun tak dapat ia tahan. Ia menangis

""sejadi-jadinya.

Scene beralih ke tempat Jill.

Terlihat banyak wanita berkumpul atau lebih tepatnya berbaris.

"Selamat, kalian telah memenangkan game ini..." ucap seorang pria.

"Jika tidak ada orang-orang yang menodongkan senjata, aku pasti akan membunuhmu." pikir Jill.

"Kalian boleh istirahat dan membersihkan diri. Dan bersiap-siaplah untuk permainan selanjutnya yang datang kapan saja."

"Persetan dengan permainan, kau akan membunuh kami satu per satu dengan hal gila ini. Apa sebenarnya tujuan kalian?" geram Claire.

Scene beralih ke tempat Austina.

"Gil tunggu dulu, aku lelah."

"Ke.. Eh kau tertembak." kaget Gil.

"Ya, hanya terserempet ko,"

"Tapi tetap saja kau terluka, sebaiknya lukamu diobati dulu."

"Nanti saja, apa kau tidak merasa ada hal ganjil."

"Apa?"

"Daritadi kita tidak melihat orang-orang yang bergabung bersama kita."

"Maksudmu.."

"Ya, dari awal tim kita dan anak anak, ditambah 3 pembimbing kita yang berperang. Perkiraanku mereka.."

"Disandra.." lanjut Gil.

Bersambung.


Bersambung ke Killer Chapter 25

Imajinasi0
2017-01-30 22:57:06
Hm apa mereka gak punya rompi anti peluru..? kok rafael gmpang bngt sih matinya..
Kill Me 1st
2017-01-01 10:46:59
Eh.. Rupanya emang Brave nginjek yah.. dan, jadi disandra.. Kukira cuma mereka yg gk berontak..
Blackpearl Kwon Yuri
2016-12-18 18:38:58
kyaa brave dalam keadaan berbahaya
Vestaka Pyrokinesis
2016-12-15 12:34:41
nilai 10 untuk ceritamu
ZENA LEO MONSTA X
2016-12-14 15:43:11
cerita ini pasti bakal delay
Kleiss Effortles
2016-12-14 14:23:15
austina adalah wanita yang kuat.
Rifts S Granger
2016-12-14 13:33:19
di tunggu kelanjutanya..! sebenarnya scene brave diambil dari film apa sih?
ThE LaSt EnD
2016-12-14 13:28:14
bnyak scan para tokoh... critanya smakin trlihat Gore nya.. ha.. kira2 ranjau itu akn meledak tdk ya?
Grim Rieper
2016-12-14 12:39:17
Lanjut !
chichay
2016-12-14 11:11:19
d tunggu lnjutnnya
Baca Semua Komentar dan Balasan
daftar user · online · daftar penulis
halaman awal · group facebook