VersiTeks.com
Selain membaca versi teks anime dan manga, di sini kalian juga bisa membaca dan mengirim cerita karangan kalian sendiri, baik itu yang berupa cerita berseri, cerpen (oneshot), atau fanfiction.
login · register · kirim cerita · setting · kuis
home · versi teks · cerita karangan · oneshot · fanfiction · jadwal rilis


Silakan login atau register jika belum memiliki akun untuk menikmati berbagai fitur khusus di situs ini serta akses tanpa iklan-iklan yang mengganggu.
Like Halaman Baru KOPBI, Official Komik One Piece Bahasa Indonesia, selain itu palsu :D
Killer Chapter 22

2016-12-09 - Aerilyn Shilaexs > Killer
125 views | 11 komentar | nilai: 9.82 (11 user)

Sebelum cerita dilanjut, mungkin ada yang berpikir, "Kok cewek suka membuat cerita action,horor+gore?" bisa dibilang serem amat. Tapi ngga juga, meskipun aku suka cerita bergenre
action,horor,and gore. Aku juga sudah membuat Love story, yang mungkin kebanyakan dari kalian belum baca. Judulnya Leon Erik Klara, yang disajikan dalam 3 bagian. Cerita itu ku tulis saat aku membaca cerita Love story, hingga membuat ku terinspirasi membuat love story, yang penasaran bisa cari aja di daftar tulisanku. Oke hanya itu basa-basinya, dan peringatan untuk kalian yang ngga suka cerita tentang pembunuhan lebih baik jangan lanjutkan baca, karna di chapter sebelumnya hingga beberapa chapter kedepan akan banyak adegan pembunuhan.

Kita mulai ceritanya.



Killer Chapter 22 : Aku Akan Menjadi Seorang Killer.

Di tempat Devian. Devian, Johan dan Alice bersembunyi dibalik pohon.

"Kita mulai." intruksi Devian.

Mereka pun mulai melakukan baku tembak dengan musuh.

Terlihat Devian membawa AK-47. Johan dan Alice hanya membawa pistol biasa.

Disela pepohonan, Devian mengarahkan senjatanya pada beberapa orang dan.

Drod..drod..drod..

Puluhan peluru dimuntahkan senjata itu yang langsung mengarah ke arah beberapa orang.

"Alice dibelakang." teriak Johan.

Dor..

Reflek Alice berbalik dan menembak seseorang dibelakangnya.

Johan yang berada dibalik pohon melompat dan mengarahkan pistolnya kedepan kearah musuh.

Dor.. Dor.. Dor..

Ia pun jatuh dan berguling kesemak-semak.

Terlihat dari 3 peluru yang ditembakan, hanya 1 peluru yang kena.

"Aku payah." Johan segera mengisi ulang peluru.

Sedangkan Devian dan Alice bersembunyi di balik pohon yang sama.

"Pegang ini." Devian menyerahkan AK-47 Pada Alice.

"Baik."

"Kau lindungi kita berdua, aku percaya padamu." ucap Devian yang mengeluarkan pistol.

Di tempat Brave.

"Sudah selesai.." ucap Gil senang.

"Siapa bilang, ditempat lain masih banyak." ucap Austina yang mencabut belati dari tubuh mayat, ia terlihat berkeringat dan berlumuran darah.

"Sebenarnya apa yang mereka inginkan?" kesal Brave. Ia pun menyimpan pistol nya di saku.

"Mereka menentang perintah jendral dan beberapa jam yang lalu, mereka mencuri banyak senjata." jelas Austina.

"Jadi kita harus segera mengejar mereka sebelum mereka meninggalkan dermaga."
tambah Gil.

"Kalau begitu kita harus cepat, eh tunggu dulu. Aku sebaiknya tidak mengejar." ujar Brave.

"Kenapa?" tanya Gil.

"Aku akan membantu teman-teman, tak terasa mereka sudah tak ada disini."

"Yasudah, kami duluan. Ayo Gil." Austina pun segera pergi.

"Jika sudah selesai segera susul kami." ucap Gil yang segera menyusul Austina.

"Akan ku usahakan." teriak Brave.

Beralih ke tempat Willona dan Diera.

"Dimana lagi?" tanya Diera yang sedang memegang kepala seorang pria.

Brasst..

Ia pun menggorok leher pria itu.

"Kurasa hanya tersisa di dermaga." ucap Willona yang sedang menarik belati dari leher kiri seorang pria.

"Kalau begitu ayo segera kesana."

"Baik."

Dengan berlumuran darah mereka meninggalkan beberapa mayat yang tewas mengenaskan.

"Aku sedikit tidak nyaman karna membunuh orang-orang kita." ujar Willona.

"Itu akibatnya jika menentang jendral. Aku tidak akan segan." tegas Diera.

Kedua wanita cantik ini benar-benar sadis pada orang yang dianggap musuh.

Ditempat Rafael dan Diana.

Mereka sedang terdesak.

"Gawat, peluruku hampir habis, musuh lumayan kuat."

"Yah aku juga, ditambah aku sudah kelelahan."

saat Diana bergumam, tiba-tiba muncul 3 orang dari semak-semak.

"Awas Diana" Rafael pun reflek memeluk Diana dan membalikan tubuhnya.

Dor.. Dor... Dor..

Ke 3 orang itu pun
menembaki punggung Rafael.

"Tidak, Rafael.."

"Kau tidak apa-apa Diana.. Uakh..." lirih Rafael.

"Sialan," Diana pun mengarahkan kedua tangannya kedepan. Ia menembakan semua pelurunya.

Dor... Dor... Dor... Dor..

Reflek ketiga orang itu bersembunyi dibalik pohon, seketika itu Rafael pun tumbang.

"Aku tidak akan melepaskan kalian." geram Diana, ia pun merebahkan tubuh Rafael dan mengambil pistolnya.

Dor.. Dor..

Ke 3 orang itu pun mulai menembak.

Sigap Diana menggulingkan tubuhnya kearah kanan. Karna banyak rerumputan, tubuhnya terhalangi hingga ke 3 orang itu tidak menembak

Killer Chapter 22 - Aku Akan Menjadi Seorang Killer
Penulis : Aerilyn Shilaexs

Killer

Beralih ke tempat Devian.

"Devian ayo kita bunuh mereka." ucap Johan yang sedang tiarap,

"Itulah yang akan kulakukan."

Ceklek.

Devian pun melompat ke belakang pohon lain sambil menembak.

Dor... Dor...

Terlihat musuh yang tinggal berjumlah 4 orang itu bersembunyi dan perlahan mundur.

"Mereka akan lari." gumam Alice. Ia pun mulai menembak

Drod.. Drod...

Ke 4 orang itu pun bersembunyi dibalik pepohonan.

"Pepohonan sangat bagus untuk bersembunyi, tapi itu juga menyulitkan kita untuk menembak musuh." ucap Johan yang belum beranjak dari posisinya.

"Siapa bilang.?" ucap Brave yang tiba-tiba sudah berjongkok di samping kanan Johan.

"Hee sejak kapan kau ada disini?"

"Akan kutunjukan bagaimana cara menembak musuh yang berada di balik pohon." ucapnya tanpa menghiraukan pertanyaan Johan, ia pun berdiri dan mengeluarkan 2 buah pistol berwarna perak, ia pun merentangkan tangan dan mengayunkan kedua tangan secara horizontal dengan arah berlawanan.

Shut.. Shu...

2 peluru pun melesat dari arah kiri dan kanan yang kemudian berbelok 180 derajat dan melesat menuju ke posisi 4 orang yang sedang bersembunyi.

Terlihat mereka berempat puntumbang.

"Haha seperti itulah caranya." ucap Brave yang kemudian menyimpan kembali kedua pistolnya di saku celananya.

Johan pun bangkit, Devian dan Alice pun menghampiri.

"Yah padahal aku sudah membuat strategi untuk mengalahkan mereka." keluh Devian.

"Itu sangat hebat Brave." puji Alice.

"Haha itulah aku."

"Dasar sombong." gumam Devian.

"Apa katamu? Aku sombong?"

"Ya. Kau sombong."

"Kau iri padaku yah, akui saja jika aku lebih hebat darimu."

"Tidak akan, lagipula teknik itu hanya kau yang bisa melakukannya, bahkan semua senior kita tidak ada yang mampu melakukan itu." bentak Devian.

"Itu berarti Aku sangat hebat kan."

"Ah tetap saja a.." ucapan Devian terpotong saat melihat 2 orang dari musuh bangkit lagi.

"Brave awas."

Dor..

Salah satu dari mereka menembak.

Scene beralih ke tempat Jill, terlihat ia sedang berjalan menelusuri hutan. Terlihat banyak mayat berserakan.

"Lisa dan Claire dimana yah? Aku harap mereka baik-baik saja."

"Tidaaaak.." tiba-tiba terdengar suara teriakan wanita.

"Suara itu.. Lisa." Jill pun segera berlari ke sumber suara.

Dengan cepat ia berlari menuju sumber suara,
Ia sudah tidak peduli lagi pada musuh yang kapan saja akan menghadang, dipikiran nya kini hanya fokus pada Lisa, ia kuatir jika terjadi sesuatu pada sahabatnya.

Dan benar saja, dari kejauhan ia melihat pemandangan yang mengerikan. Dibawah pepohonan, Lisa terlihat tergeletak dengan keadaan telanjang. Terlihat ia masih hidup namun tidak bergerak, terlihat juga seorang pria sedang menyetubuhinya.

"Beraninya kau.." geram Jill, ia pun segera berlari kearah Lisa. Namun setelah pria itu selesai dengan urusannya.

Brush..

"Aaaa.."

"Li..Lisa.." tepat dihadapannya Lisa dibunuh oleh pria itu setelah Lisa disetubuhi Oleh pria itu. Seketika amarah pun menyelimuti Jill.

"Kurang ajar.." geram Jill.

Saat Pria itu akan merapikan celananya, tiba-tiba Jill sudah berada di samping pria itu.

Buak..

Jill melepaskan tendangan keras ke tubuh pria itu hingga membuatnya tersungkur.

Jill pun mencabut pisau yang tertancap di dada kiri Lisa, dengan cepat ia kembali menendang pria itu, entah lemas atau apa, pria itu tak dapat menghindari serangan Jill. Jill yang murka dengan cepat memotong ular piton pria itu(maksudnya anunya, pria itu belum memakai celananya dengan benar..)

"Aaaa." erang pria itu.

Belum puas dengan hal itu, Jill menginjak ular piton yang sudah terpotong itu,

"Aaaaa..."

Jill pun langsung menusuk perut pria itu,

"Aaa.."

Darah pun memuncrat ke tubuh Jill. Namun hal itu belum cukup baginya. Ia pun merobek perut pria itu hingga ususnya keluar.

Lalu Jill menusuk tubuh pria itu berulang-ulang..

Beberapa waktu Jill pun berhenti, entah karna lelah atau ia sudah puas.

"Jika ini yang dunia inginkan maka, Aku Akan Menjadi Seorang Killer. Demi Claire, demi hidupku dan demi Brave. Aku akan menghilangkan perasaanku." gumamnya dengan tatapan membunuh. Terlihat tubuhnya seolah bermandikan darah.

Bersambung.

Itulah kematian Lisa. Maaf dalam hal ini ngga ditampilkan gambarnya, karna terlalu ngeri buat kalian yang ngga suka gore.


Bersambung ke Killer Chapter 23

Kill Me 1st
2017-01-01 10:27:36
Kereen Jill!!! Kenapa gk ada gambar nya! Padahal nambah bagus klo ada gambarnya!!
Blackpearl Kwon Yuri
2016-12-11 07:12:21
waw ada adegan ikkeh ikkehnya, kalau saja diceritakan secara rinci
Rifts S Granger
2016-12-10 22:27:17
ini dari film naked weapon kan! jill yang di cerita ini di film namanya cherline! #justshere btw i like this story
SESHOMARU INU
2016-12-10 17:42:49
disemua cerita baru kali ini ada cerita tentang karakter yang membelokan laju peluru
Vestaka Pyrokinesis
2016-12-10 05:06:59
10 buat cerita kamu
Kleiss Effortles
2016-12-09 11:27:10
njir linu
ThE LaSt EnD
2016-12-09 10:07:14
pemberontaknya msh blum dbereskan smuanya.. hmm.., potong ular phyton...ha. ha, nice.. Jill, dbutakan sesaat.
chichay
2016-12-09 09:12:03
d tunggu lnjutnya
Rudy Wowor
2016-12-09 05:49:34
Nextlah pokoknya.
Grim Rieper
2016-12-09 05:08:00
Sadisnya anu tu cowok dipotong !
Baca Semua Komentar dan Balasan
daftar user · online · daftar penulis
halaman awal · group facebook