VersiTeks.com
Selain membaca versi teks anime dan manga, di sini kalian juga bisa membaca dan mengirim cerita karangan kalian sendiri, baik itu yang berupa cerita berseri, cerpen (oneshot), atau fanfiction.
login · register · kirim cerita · setting · kuis · chat game
home · versi teks · cerita karangan · oneshot · fanfiction · jadwal rilis


NEW!!! Sekarang kamu bisa melakukan register tanpa perlu melakukan proses validasi Facebook!!!

Silakan login atau register jika belum memiliki akun untuk menikmati berbagai fitur khusus di situs ini serta akses tanpa iklan-iklan yang mengganggu.
Pengguna Telegram? Coba game Kampung Maifam
Killer Chapter 14

2016-10-25 - Aerilyn Shilaexs > Killer
184 views | 14 komentar | nilai: 9.78 (9 user)

Di tempat Brave, terlihat anak-anak telah kelelahan.

"Hari ini sudah cukup, kalian boleh beristirahat." ucap Andreas.

"Lari pagi dan melakukan gerakan ini. Sungguh membuatku lelah." pikir Keana.

Datanglah seorang wanita berambut hitam.

"Calista?" Wanita itu membisikan sesuatu pada Andreas lalu berlalu pergi.

"Baiklah anak-anak, setelah makan. Kalian akan latihan menembak."

"Hei Brave kali ini jangan memalukan. Kau sangat payah menembak." ledek Keana.

"Berisik kau, kalian berdua juga tidak mengenai tanda merah kan."

"Setidaknya aku mengenai papan." ucap Aldora.

"Aldora benar, kami berdua setidaknya menembak papannya. Daripada kau, payah sekali."

"Diam kau, kali ini akan kutunjukan kemampuanku."

"Alice, kau tidak apa-apa?" tanya Johan.

"Ya, apa kau masih takut dengan pistol?" lanjut Devian.

"Tidak, kakak-kakak senior membantuku, mereka memberitauku agar tidak perlu takut lagi pada pistol."

"Hmm, jadi mereka membimbingmu dan mengajarimu?" tanya Devian.

"Hm." angguk Alice

Setelah beristirahat, akhirnya mereka pun latihan menembak.

Ditempat pengawasan terlihat Austina, Willona, Calista, Gil,Dalv, Andreas dan Diana sedang berdiri memperhatikan juniornya.

"Baiklah, kali ini siapa yang unggul.?" tanya Austina.

"Devian. Menurutku." jawab Dalv.

"Aku setuju dengan Dalv." ucap Diana.

"Alice mungkin sekarang berani menembak, tapi Keana juga ada kemajuan." ucap Calista.

"Bagaimana denganmu Willona?"

"Hmm Menurutku Devian atau Johan."

"Lalu Andreas?"

"Aku pilih cewek itu. Dan yang itu." sambil menunjuk Aldora dan Keana.

"Tapi menurutku Brave yang unggul." ucap Gil.

"Bfft.. Hahaha... Kau tidak melihat yah kemarin, bahkan dia kesulitan memegang pistol." ucap Dalv.

"Dalv..."

"Eh,.. Maaf. Tapi itu kenyataan nya."

"Kalian belum melihat kemampuan Brave yang membuatku sangat terkejut." ucap Gil sambil menopang dagu nya.

"Kita lihat saja." ucap Austina.

Ke tempat latihan

Devian mulai menembak

Dor..

Terlihat peluru mengenai garis hitam Yang berada dekat dengan garis merah.

"Lumayan, kau mengalami kemajuan." puji Viktor.

"Apa kubilang.."

"Tunggu dulu, kita belum melihat kemampuan semua anak."

Nb:

Urutan barisan anak anak adalah.

1. Devian

2. Johan

3. Keana

4. Alice

5. Aldora

6. Brave

Jadi Brave menembak terakhir.

Johan mulai mengangkat pistol dengan dua tangan dan mengarahkannya ke depan, tangannya lurus tanpa ada getaran sedikitpun dan.

Dor..

Terlihat peluru Johan pun mulai mendekati tanda Merah.

"Lumayan. Giliranmu."

Keana mulai berkonsentrasi, ia menggenggam pistol dengan erat, untuk sejenak ia memejamkan mata dan saat tangan nya sudah lurus. Ia pun menembak.

Dor..

Terlihat peluru yang tertanam di papan tidak jauh berbeda dengan yang ada dipapan Johan.

"Bagus, selanjutnya."

"Devian yang paling dekat dengan titik merah." ucap Dalv yang kemudian mengambil segelas kopi dan meminumnya.

Terlihat Alice masih gemetaran dan ia pun menembak.

Dor...

Peluru mengenai papan meskipun jarak peluru ke titik merah masih jauh.

Aldora mulai menembak, tanpa basa-basi ia menembakan peluru ke papan.

Dor..

Peluru mengenai tanda hitam,

"Terakhir kau Brave." ucap Viktor.

"Baik,"

Brav mengangkat kedua tangannya dan terlihat sedikit getaran di ujung pistol.

"Kita lihat anak ini." ucap Andreas.

Saat Brave akan menembak

"Brave, kau tidak harus memegang pistol dengan dua tangan. Lakukan dengan caramu sendiri." ucap Viktor.

Brave pun memegang pistol dengan tangan kanan.

"Oey oey sersan. Apa magsudnya itu." teriak Diana.

Gil hanya tersenyum kecil.

"Apa-apaan dia, dengan 2 tangan saja dia kesusahan apalagi dengan satu tangan." ucap Austina.

"Aanak bodoh." ledek Dalv yang kemudian meminum kopinya lagi.

"Kalian perhatikanlah baik-baik." ucap Viktor.

"Nah lakukan." lanjutnya.

Brave mengarahkan pistol lurus ke depan dan.

Dor....Dor...Dor....Dor....

"Apa?"

"Dia menembak 4 peluru sekaligus."

"Brusst.." Dalv menyemburkan kopinya saking terkejut, karna kemampuan Brave diluar dugaan siapapun.

"Sudah kubilang kan. Lihat pelurunya mengenai tanda merah." ucap Gil sambil menunjuk ke papan sasaran Brave.

"Brave apa-apaan itu?" semua anak juga terkejut.

Gil dan Viktor tersenyum kecil.

"Tapi lihat, hanya satu peluru yang mengenai tanda merah. 3 peluru lagi meleset jauh tidak kena papan." ucap Dalv.

"Tidak, lihat papan ke tiga anak itu."

"Heeee...." bukan hanya para senior, anak-anak lain juga terkejut.

Karna ternyata, tanda merah di papan Devian, Keana dan Johan tertanam sebuah peluru. Tepat di tengah tengah.

"Bagaimana bisa?" ucap Willona

"Tidak mungkin." ucap Devian

"Apa aku tidak salah lihat?" ucap Andreas

"Ini mustahil?" ucap Aldora dan Keana

"Kemampuannya melebihiku." ucap Dalv

"Brave ternyata sangat luar biasa." puji Austina.

"Aku kalah darinya." ucap Diana.

"Sudah kubilang, itulah kemampuan Brave yang sebenarnya." ucap Gil yang tersenyum penuh kemenangan.

"Tapi bagaimana kau tau?" tanya Dalv.

"Itu emm."

Flashback? Nanti dulu. Kita beralih ke tempat Jill.

Killer Chapter 14 - Perfect.
Penulis : Aerilyn Shilaexs

Setelah mereka saling menendang dan memukul.

"Sudah cukup." teriak seseorang.

"Kalian boleh beristirahat." orang itu pun pergi.

Semua anak terlihat duduk lemas, ada yang meringis kesakitan, ada juga yang merebahkan diri di pasir pantai yang panas.

"Ini sangat menyakitkan, aku belum pernah dipukul sekeras itu oleh Brave." keluh Jill.

"Aku pikir mereka tidak akan serius." ucap Lisa.

"Mereka terpaksa melakukan ini, apalagi beberapa orang terlihat menyodorkan senjata." ucap Claire.

"Kau benar."

Ketempat Brave Lagi.

Flashback.

"Jangan-jangan dia bisa melakukan itu?"

"Melakukan apa?"

"Membelokan peluru."

"Apa? Tapi hal itu hanya dikuasai oleh jendral."

"Yah, tapi ada kemungkinan juga ia bisa menguasai nya. Mengingat Brave pernah menerima pelatihan dari jendral sebelum masuk ke tempat ini."

"Benar juga, Sersan. Ijinkan aku untuk melatih Brave." pinta Gil.

"Jika kau sanggup kenapa tidak."

Mulai saat itu, Dalam waktu senggang Brave dilatih oleh Gil untuk menembak.

"Kenapa Brave?"

"Kak, aku tidak bisa memegang pistol dengan 2 tangan."

"Kenapa?"

"Karna itu mengganggu konsentrasiku, dan itu juga menyulitkan. Lagipula jika aku menyodorkan pistol kemusuh dengan 2 tangan, kemungkinan besar musuh akan menendang pistolku."

"Lalu apa kau bisa menembak dengan satu tangan?"

"Ya tentu, aku sudah pernah melakukannya."

"Sudah pernah?"

"Ya,
sebelum kesini. Aku dipaksa melakukan pelatihan oleh jendral, dia juga mengajarkanku cara menembak dengan satu tangan."

"Oh kalau begitu coba saja."

"Baik."

Brave pun mulai menembak kan pistol dengan tangan kanannya.

Dor..

Dor...

Setelah 20 menit berlalu.

Dor.

Terlihat peluru tepat tertanam di tanda merah.

"Bagaimana kak?"

"Perfect. Tapi lihat berapa banyak kegagalan mu."

"Eh tidak terhitung."

Terlihat entah berapa banyak peluru tertanam di saran yang posisinya tak beraturan.

"Beberapa peluru melesat sedikit berbelok dari lintasan tembak nya." pikir Gil

"Kau mau melanjutkan lagi?" tanya Gil.

"Tentu saja."

Flashback End.

"Jadi kau melatihnya?"

"Ya,"

"Pantas saja."

"Tapi sersan bagaimana bisa?"tanya Devian yang merasa kalah telak.

"Brave kesulitan memegang pistol dengan dua tangan. Itu mengganggu konsentrasinya, ditambah hal itu membuat getaran pada pistol sehingga peluru melesat ke sembarang arah."

"Pantas saja waktu itu Brave menembak ke sembarang arah." pikir Johan.

"Kau luar biasa Brave." puji Keana.

"Kau rekanku yang hebat." puji Aldora.

"Emm beberapa menit yang lalu kalian menyombongkan diri dan meledek ku." ucap Brave.

"Benarkah?" tanya Keana seolah ia tidak pernah mengatakan hal itu.

"Jangan pura-pura lupa,." bentak Brave.

"Perhatian.!" teriak Viktor yang membuat hening tempat itu.

"Hari ini Brave yang paling unggul, kuharap kalian lebih giat berlatih terutama kau Alice. Untuk hari ini latihan cukup sampai disini. Bubar.!"

Mereka pun membubarkan diri.

"Penerus baru yah. Perfect." gumam Viktor.

Hari pun berlalu, waktu menunjukan telah malam.

Jadi itulah yang dialami Brave dan Jill hari ini.

Bersambung.

Chapter kali ini ngga ada gambarnya, karna ngga ada screenshotnya.


Bersambung ke Killer Chapter 15

Zen Kureno
2017-06-19 20:47:43
Wah Brave cocok jadi penembak jitu.
David Blueskhniczky
2017-02-01 08:19:58
Mirip di film wanted, si Angelina Jolie yang memerankan siapa lupakan, bisa membelokkan peluru wkwk #plak
Kill Me 1st
2016-12-31 17:02:49
Hmm.. Membelokan peluru yah..
Snow Blue
2016-12-31 16:32:11
Keren juga si Brave
Kleiss Effortles
2016-12-08 18:34:23
brave luar biasa
Abix Syadzily
2016-10-25 23:13:44
selalu kasih 10 untuk cerita Author2 senior..!!
ThE LaSt EnD
2016-10-25 20:06:27
Jill and Brave...Fight.. pantas mreka akn jd pemimpin...
kyoushi
2016-10-25 14:34:23
Next
Jack El Jacqueline
2016-10-25 14:18:02
yah...jangan gitu donk masa gara2 viewnya dikit gx di lanjuti,terbengkalai donk ni ceritanya!
Jack El Jacqueline
2016-10-25 14:07:00
ku tunggu chapter selanjutnya sevira,tapi...jangan lama2 y.hehe
Baca Semua Komentar dan Balasan
daftar user · online · daftar penulis
halaman awal · group facebook