VersiTeks.com
Selain membaca versi teks anime dan manga, di sini kalian juga bisa membaca dan mengirim cerita karangan kalian sendiri, baik itu yang berupa cerita berseri, cerpen (oneshot), atau fanfiction.
login · register · kirim cerita · setting · kuis
home · versi teks · cerita karangan · oneshot · fanfiction · jadwal rilis


Silakan login atau register jika belum memiliki akun untuk menikmati berbagai fitur khusus di situs ini serta akses tanpa iklan-iklan yang mengganggu.
Like Halaman Baru KOPBI, Official Komik One Piece Bahasa Indonesia, selain itu palsu :D
Killer Chapter 9

2016-10-18 - Aerilyn Shilaexs > Killer
126 views | 8 komentar | nilai: 9.33 (9 user)

"Jangan ngobrol.!! Cepat kalian lari.!!" teriak seorang pria yang membawa senjata.

"Orang ini akan kubunuh, lihat saja nanti." pikir Claire.

Ke 40 anak itu pun berlari dengan memaksakan diri, kaki sakit, tenggorokan kering, lelah dan letih sudah mereka abaikan.

"Jangan lelet cepat-cepat!!" teriak orang itu.

10 menit kemudian mereka telah sampai di pantai.

"Berbaris,!!" teriak pria lain.

"Kalian beristirahat selama 2 menit dan setelah olahraga lain, kalian boleh makan." lanjutnya.

"Perutku sudah kelaparan." keluh Lisa.

"Aku juga sama, tapi kita harus bertahan."

"Claire benar, sebaiknya kita minum dulu.!" ajak Jill yang merasa kekeringan di tenggorokannya.

"Air laut lagi, aku benar-benar tidak suka air asin itu." gerutu Lisa.

Mereka bertiga pun berjalan ke laut, mereka melakukan apa yang anak lain lakukan, minum dan membasuh wajah dengan air laut.

"Aku benar benar sudah tidak kuat, ini penyiksaan." keluh salah satu anak.

"Percuma mengeluh, hal itu tidak akan merubah apapun. Inilah takdir kita yang harus kita jalani." ucap anak lain.

"Dia benar, takdir buruk kita harus menjalani hidup di tempat terkutuk ini." ujar anak yang lain.

Mentari mulai terik, mereka belum sarapan tapi harus olahraga fisik dulu.

Scene beralih ke tempat Brave

"Ba-baiklah, terserah kau saja." ucap Gil merinding.

Senyuman Austina yang ditujukan pada rekannya bukan senyuman yang manis dan ramah. Tapi senyuman mengerikan dan niat membunuh yang terlihat oleh rekan-rekannya. Padahal itu adalah senyuman biasa menurut orang lain.

"Ini minumlah." kata Austina sambil menyodorkan botol minuman kepada masing-masing anak.

"Te,terimakasih kak." kata Devian lalu diikuti oleh anak lain yang juga berterima kasih.

Mereka pun minum air itu,

"Selanjutnya kalian sarapan dulu bersama kami." kata Austina.

Scene beralih ke tempat makan.

"Akhirnya makan, aku sudah tidak sabar." ujar Brave.

Brave makan bersama Aldora dan Keana.

"Aku juga."

"Perutku benar-benar kosong."

"Hari pertamaku, tidak terlalu buruk. Yah meskipun aku bingung kenapa harus lari pagi segala" pikir Brave yang sedang makan.

Killer Chapter 9 - Ranjau
Penulis : Aerilyn Shilaexs

Setelah selesai makan atau tepatnya sarapan.

Terlihat keenam anak sedang berbaris.

"Sebelum kalian memulai pelajaran, aku akan menerangkan sesuatu." ucap Gil yang berdiri tegak di depan mereka.

Sementara yang lain duduk memerhatikan di bawah pohon.

"Tentang tempat latihan ini, kalian lihat di arah barat sana. Itu adalah perbatasan hutan dan tempat latihan, disana terdapat perkampungan. Namun di sana juga terdapat puluhan ranjau. Bisa dibilang perbatasan itu adalah ladang ranjau."

"Ranjau?" pikir Johan.

"Apa itu ranjau?" gumam Alice.

"Aku belum pernah melihat benda bernama ranjau itu." gumam Aldora.

"Akan kujelaskan apa itu ranjau. Ranjau adalah suatu peledak seperti bom atau geranat yang ditanam didalam tanah. Dan akan meledak apabila terinjak atau tertekan. Ledakannya lumayan cukup untuk membunuh mu."

"Oh jadi seperti itu."

"Ya, jika kalian ingin tau cara kerjanya, Dev ambilkan ranjau darat.!" perintah Gil.

Tak lama pria bernama Dev itu datang membawa sebuah ranjau yang tidak aktif.

"Baiklah ini adalah contoh ranjau darat." ucap Gil sambil menunjukan sebuah ranjau di tangannya.

"Bagian ini adalah pemicunya. Jika ditekan atau terinjak dan bahkan dalam peperangan kadang terlindas tank. Ranjaunya akan meledak, jadi berhati hatilah." terang Gil.

"Jadi seperti itu."

"Seperti ini cara menanamnya."

Gil pun menggali tanah yang cukup.

"Jangan mengubur nya terlalu dalam. Apa ada pertanyaan tentang ini?"

"Ti-tidak."

Alice mengangkat tangan.

"Ya, silahkan."

"Apa bisa ranjau itu di non aktifkan?"

"Tentu saja, kita dapat menon aktifkan atau bisa dibilang menjinakan ranjaunya. Caranya adalah dengan melepas pemicunya, tapi bukanlah hal yang mudah untuk melepas pemicunya. Kau butuh keterampilan dan alat yang baik. Namun menjinakan ranjau itu sangat beresiko." terang Gil.

Brave pun mengangkat tangan.

"Ya silahkan bertanya apa?"

"Em apa bisa menjinakan ranjau itu dengan cara mengencingi ranjau itu?"

"Bhuft..." semua anak termasuk para senior menahan tawa karna pertanyaan Brave.

"Dasaar, ini bukan waktunya bercanda." geram Keana.

"Tentu saja tidak, siapa orang bodoh yang mengencingi ranjau hah?" bentak Gil.

"Gil." panggil Austina dari belakang.

"Habisnya anak ini. Pertanyaan macam apa itu."

"Tapi aku bertanya hal itu karna dia melakukannya." ucap Brave yang melihat seseorang kencing di ladang ranjau itu.

"Kyaa..." seketika para wanita menutup matanya.

"Woy jangan kencing disana." teriak seorang pria.

"Dasar bodoh." sambung Gil.

Ke tempat Jill.

Jill juga dikenalkan nama nama senjata, tapi bukan ranjau. Yang pertama kali dipelajari adalah tentang pistol.

"Aku baru pertama kali melihat pistol" bisik Jill.

"Aku kedua kalinya." bisik Claire.

"Wah lalu kapan pertama kalinya kau melihat pistol?" tanya Lisa.

"Saat mereka menembak kakakku." jawab Claire.

"Eh, maaf-maaf."

"Woy jangan ngobrol, dengarkan dengan baik.!" teriak seorang pria memakai kacamata hitam.

Mereka bertiga pun memerhatikan dengan serius.

Ke tempat Brave.

"Ekhem, baiklah kurasa kalian sudah mengerti cara kerja ranjau. Jadi jangan coba-coba mendekati ladang ranjau itu."

"Tapi boleh kan mengencingi ladang ranjau nya.?" tanya Johan.

"Tentu saja tidak."

"Lalu orang tadi?"

"Hah dia orang bego yang kencing sembarangan. Baik ke pembahasan kedua, yaitu tentang senjata. Yang pertama ada pistol, pistol dibagi menjadi beberapa jenis..."

"Gil.." panggil Calista.

Gil pun segera menghampiri

Terlihat Gil mendengarkan ucapan Calista.

Tak lama Gil kembali ke depan anak-anak.

"Ekhem. Baiklah kurasa perkenalan senjata ditunda dulu, katanya kalian harus olahraga fisik dulu dan setelah itu kalian melihat kegiatan para senior kalian." terang Gil.

"Olahraga?"

"Bukankah tadi sudah lari." keluh anak-anak terdengar meskipun hanya bisikan.

"Moryn giliranmu." ucap Gil.

"Baiklah anak-anak, aku akan membimbing kalian dalam hal olahraga." ucap Moryn

Mereka pun melakukan peregangan, pemanasan dan mulai melakukan push up, sit up , pull up dan yang lainnya.

"Hah aku tidak kuat." keluh Aldora.

"Jangan memaksakan diri, jika kalian tidak kuat melakukannya. Istirahat saja.!" ujar Austina yang sedang duduk dan meminum sebotol air.

Satu persatu mulai lelah melakukan push up. Kini tinggal Brave dan Devian yang bertahan.

"Sudahlah Brave, jangan memaksakan dirimu.!" ucap Aldora.

"Ya, jangan sok kuat kau." sambung Keana.

"Kau juga Devian, sudahlah hentikan." ujar Johan.

"Berisik, aku tidak akan kalah darinya." ucap Devian dan Brave serempak.

"Haduh mereka ini."

Brave dan Devian masih push up meskipun terlihat dari wajah keduanya. Mereka memaksakan diri.

"Baiklah sudah cukup.... Eh..."

Bersambung.

Bagian ini dan beberapa chapter kedepan adalah latihan brave dan jill, jadi benar-benar belum ada adegan pembunuhan.

Tapi nanti akan kucoba diselingi dengan adegan pembunuhan. Terimakasih sudah mampir.

Bersambung ke Killer Chapter 10

Clint Mobile Legend
2017-01-28 20:17:27
Belum sunat tuh #plak
Kill Me 1st
2016-12-31 16:24:36
Sip! Kencingi terus ranjaunya..
Kleiss Effortles
2016-12-08 18:34:58
nice story, numpang baca
Vestaka Pyrokinesis
2016-10-21 17:07:15
brave kalahkan devian
ZENA LEO MONSTA X
2016-10-19 09:57:54
kebiasaan cowok suka kencing sembarangan, btw kamu pernah liat cowok kencing?
gIN taka
2016-10-19 07:20:15
gk ada adegan pembunuhan . . .
Tetsu Yah
2016-10-19 06:09:07
Suge.
Blackpearl Kwon Yuri
2016-10-18 21:42:40
bagus, lebih panjang dari chapter sebelumnya
Baca Semua Komentar dan Balasan
daftar user · online · daftar penulis
halaman awal · group facebook