VersiTeks.com
Selain membaca versi teks anime dan manga, di sini kalian juga bisa membaca dan mengirim cerita karangan kalian sendiri, baik itu yang berupa cerita berseri, cerpen (oneshot), atau fanfiction.
login · register · kirim cerita · setting · kuis
home · versi teks · cerita karangan · oneshot · fanfiction · jadwal rilis


Silakan login atau register jika belum memiliki akun untuk menikmati berbagai fitur khusus di situs ini serta akses tanpa iklan-iklan yang mengganggu.
Like Halaman Baru KOPBI, Official Komik One Piece Bahasa Indonesia, selain itu palsu :D
Killer Chapter 6

2016-10-03 - Aerilyn Shilaexs > Killer
150 views | 11 komentar | nilai: 10 (7 user)

"Sudahlah, jika brave berbuat aneh

padamu. Bunuh saja dia"

"Sersan kau berlebihan"Brave ikut

pembicaraan.

"Diam, hari ini adalah pertemuan pertama kita. Aku tidak akan memberi kalian latihan dulu" ucap sersan.

"Lalu untuk apa kami dikumpulkan?" tanya Brave malas

"Kau diamlah, biarkan sersan menyelesaikan ucapannya." bisik Aldora.

"Pertama, kalian akan..."

"Aku bahkan belu merapikan barang-barangku." potong Brave.

"DIAMMM!!!" Teriak semuanya termasuk sersan Viktor.

"Kompak sekali kalian." lanjut Brave.

"SUDAH KUBILANG DIAM.!" tegas Viktor.

Keadaan sesaat menjadi hening.

"Didepan kalian adalah markas pusat pelatihan."

"Sudah tau." gumam Brave.

"Anak ini menyebalkan." pikir Devian

"Kalian akan tidur di markas utama. Apa ada pertanyaan?"

"Siap, tidak ada."

"Baiklah Prajurit. Untuk hari ini kalian beristirahatlah, simpan barang-barang kalian dikamar yang telah ditentukan.! Hari esok akan menjai hari yang berat. Bubar.!" perintah sersan.

"Bagaimana bisa aku punya partner seperti dia, dia

Killer Chapter 6 - Rencana membuat Pelatihan Khusus untuk anak-anak.
Penulis : Aerilyn Shilaexs

akan sangat merepotkan" keluh Keana dalam hati sambil melirik kearah Brave.

Semua anak membubarkan diri memasuki markas utama.

Scene beralih ke kamar tim B.

"Hah, nyamannya. Setelah perjalanan jauh, inilah yang kubutuhkan." ucap Brave yang merebahkan diri di kasur.

Terlihat tersedia 4 kasur saling bersebrangan. Ruangan itu lebih dari cukup untuk 3 orang bahkan 4 orang.

"Oey kau, mulai hari ini kita harus bekerja sama. Ingat jangan mengacau.!" ucap Keana pada Brave.

"Ya ya aku tau, sekarang biarkan aku istirahat." ucap Brave.

Saat Brave merentangkan tubuh. Ia mengingat kembali apa yang terjadi sebelumnya.

"Aku susah payah masuk kesini dan usahaku tidak sia-sia."

*Flashback

Scene berada di rumah Brave

"Ayah aku lebih dari siap untuk masuk militer." tegas Brave.

"Tapi tetap saja, usia mu tidak memenuhi syarat."

"Kalau begitu buat saja pelatihan khusus untuk anak seumuranku, aku

yakin diluar sana ada anak seumuranku

yang juga ingin masuk militer."

Untuk sesaat suasana menjadi hening.

"Baiklah, tapi berikan alasanmu untuk

masuk militer.!" ucap ayah Brave.

"1. Aku ingin menjadi kuat, dengan

masuk militer aku akan mendapat

pelatihan dan menjadi kuat.

2. Aku ingin menumpas segala

kejahatan, aku begitu payah dan lemah

pada waktu itu. Aku tidak ingin

peristiwa itu terjadi lagi.

3. Aku ingin menepati janjiku pada

sahabatku. Aku akan mencarinya

sampai kemanapun. Dengan masuk

militer, aku dapat mencarinya dan

menyelamatkannya." jawab Brave mengutarakan apa yang ada dibenaknya.

Sejenak sang ayah merenung.

Scene beralih ke markas militer kota

Mouna.

Ayah Brave menemui sang sahabat

yaitu Jendral.

"Apa kabar Briel." sapa jendral.

"Aku baik-baik saja jendral." jawab ayah Brave yang diketahui bernama Briel.

"Haha kau selalu seperti itu, ayolah teman. Jangan terlalu formal. Panggil saja nama sahabatmu ini." ucap jendral.

"Aku tidak sanggup jendral jika aku lancang sedikit saja padamu, pasti ratusan peluru akan bersarang ditubuhku"

"Bwahahaha. Kau bisa saja. Tenang saja kawan, itu tidak akan terjadi. Lagipula aku sudah berjanji kau dan keluargamu akan mendapat perlindungan penuh dari pasukan militer." jelas Jendral.

"Aku sangat berterimakasih dengan hal itu teman."

"Bagaimana kabar anakmu? Apa dia sudah sembuh?" tanya jendral menanyakan kabar Brave.

"Soal itu, dia sudah sehat sepenuhnya. Namun dia mempunyai permintaan aneh dan mustahil untuk diwujudkan."

"Permintaan aneh dan mustahil? Apa yang diminta anakmu Briel?"

"Jendral, anakku meminta agar dia masuk militer angkatan darat. Dan hal itu juga magsud kedatanganku padamu."

"Itu tidak mungkin," ucap Jendral yang beranjak sambil menatap ke arah luar jendela.

"Anak mu berusia 13 tahun, sementara untuk masuk kedalam militer minimal harus berusia 17 tahun."

"Yah aku tau itu, tapi tekadnya sangat besar. Bahkan dia mengusulkan untuk membuat pelatihan khusus untuk anak-anak berusia 13 tahun ke atas."

"Hm, jelas tidak boleh, aku akan dihukum pemerintah jika aku melakukan itu. Itu merupakan suatu pelanggaran."

"Sudah kuduga. Tidak bisa yah." keluh Briel dengan lesu. Tampak ia sangat kecewa.

"Kawan, jangan seperti itu. Jangan tunjukan ekspresi wajahmu seperti itu. Perasaanku jadi tidak enak. Baiklah pertama aku ingin menemui anakmu dulu. Aku ingin melihat seberapa besar tekadnya." ucap sang Jendral.

Scene beralih ke rumah Brave.

Tok... Tok...

Terdengar suara pintu diketuk.

"Ayah..." Brave segera membuka pintu.

Saat pintu dibuka, terlihat ayah brave bersama jendral masuk.

"Siapa dia Ayah.?"

"Dia adalah temanku. Jendral angkatan darat kemiliteran kota Mouna."

"Lalu?"

"Dia ingin melihat kesungguhanmu masuk ke dalam militer."

"Baiklah Brave, ayahmu telah memberitauku apa tujuanmu masuk militer. Tapi kau tau, disana adalah tempat pelatihan yang kejam dan keras. Apa kau bisa bertahan?" tanya jendral pada Brave.

"Aku akan berusaha."

"Baiklah, aku ingin melihat tekadmu yang besar itu."

Scene beralih ke halaman rumah. Brave dipaksa melakukan banyak hal, seperti merangkak. Push up. Dan sebagainya.

"Brave, kau tidak perlu memaksakan dirimu."

"Ini belum cukup. Aku masih sanggup."

Singkatnya Brave telah tidur di rumput halaman secara terlentang dengan nafas terengah-engah.

"Bagaimana? Kau masih mau masuk?"

"Ini benar-benar seperti penyiksaan. Tapi jika dengan hal ini aku bisa menepati janjiku. Aku akan tetap melakukannya. Huh....huh....huh...."

"Aku mengerti."

Scene beralih ke gedung pemerintahan kota.

"Jendral, itu tidak boleh dilakukan. Itu sama saja dengan kekerasan terhadap anak."

"Tapi aku telah menyiapkan segalanya, aku tidak akan terlalu berlebihan melatih anak-anak."

Perdebatan disana begitu panjang dan penuh pro kontra.

Hingga akhirnya.

"Sudah diputuskan, pelatihan untuk anak-anak akan dibentuk. Apapun yang terjadi pada anak-anak aku yang bertanggung jawab." tegas jendral.

Scene beralih ke rumah Brave.

"Ah sial, badanku linu-linu karna kemarin." keluh Brave yang sedang tiduran diatas ranjang.

Tok..tok...

Terlihat Ayah Brave masuk.

"Brave anakku, temanku telah berhasil meyakinkan pemerintah. Kini pelatihan khusus untuk anak-anak telah dibuka. Coba lihat ini." ucap Ayah Brave yang memperlihatkan laptopnya.

"Waaah hebat. Aku peserta pertama yang terdaftar." terlihat di situs Army tengah membuka pendaftaran untuk anak berusia 13-15 tahun. Dan Brave tercatat sebagai pendaftar pertama.

"5 hari lagi kau akan diterbangkan ke pulau tempat pelatihan Brave."

"Benarkah? Terimakasih banyak ayah." Brave langsung memeluk ayahnya.

"Apapun untuk anakku tercinta."

Bersambung.

Bersambung ke Killer Chapter 7

Tetsu Yah
2017-04-18 13:14:00
NIICCEEE
Kill Me 1st
2016-12-31 16:05:52
Chapter ini lbih panjang dr chapter sebelumnya.. Ok, langsung baca next chap!
Kleiss Effortles
2016-12-08 18:34:50
nice story, numpang baca
Vestaka Pyrokinesis
2016-10-21 17:02:44
go go brave
SESHOMARU INU
2016-10-15 17:17:18
ayah brave berteman dengan jendral
Jack El Jacqueline
2016-10-11 16:40:06
cool...,next
Blackpearl Kwon Yuri
2016-10-06 11:30:00
oh jadi begitu perjuangan brave masuk militer
Truth Seeker
2016-10-04 17:56:46
Wow! Genre military,sepertinya cerita ini akan ramai oleh desingan peluru,Tiarap..!(abaikan).Nice & Next!
ThE LaSt EnD
2016-10-03 17:12:20
wah, latihan atau pemaksaan ya,.
Dzibril Al Dturjyana
2016-10-03 16:26:40
dimana tekadnyaa..
Baca Semua Komentar dan Balasan
daftar user · online · daftar penulis
halaman awal · group facebook