VersiTeks.com
Selain membaca versi teks anime dan manga, di sini kalian juga bisa membaca dan mengirim cerita karangan kalian sendiri, baik itu yang berupa cerita berseri, cerpen (oneshot), atau fanfiction.
login · register · kirim cerita · setting · kuis
home · versi teks · cerita karangan · oneshot · fanfiction · jadwal rilis


Silakan login atau register jika belum memiliki akun untuk menikmati berbagai fitur khusus di situs ini serta akses tanpa iklan-iklan yang mengganggu.
Like Halaman Baru KOPBI, Official Komik One Piece Bahasa Indonesia, selain itu palsu :D
Devil Beneath Us Chapter 39

2017-01-11 - Adam Beneath Us > Devil Beneath Us
68 views | 6 komentar | nilai: 10 (3 user)

"Ha..ha..ha..ha" Veil tertawa renyah, "Kupikir leluconku tidak terlalu buruk"

Veil berhenti melangkah. Berdiri dibelakang seseorang yang terikat disebuah kursi. Rambut panjang sandera itu dijambak oleh sang pria, membuat sang sandera mendongak, dan tak lama, Veil menempelkan sebuah belati tepat ditenggorokannya

Lutut Demone melemas, lututnya bergetar kala melihat gadis berbibir ranum itu duduk diatas sebuah kursi, memaksakan sebuah senyum ringan kepadanya

"Hai..." sapa Alisha, "Apakah kau merindukanku? Aku baik-baik saja, sayang.." ia memaksakan sebuah senyum pada Demone, mencoba memberitahunya bahwa dia baik-baik saja

Namun, Demone tak bisa dibohongi begitu saja, dia lalu menatap Veil, "Apa yang kau lakukan padanya?..."

"Jangan bergerak, Demone..." ucap Veil, ia mengiris pelan tenggorokan Alisha, darah mengalir pelan, namun Alisha tetap diam seakan tak merasakan rasa sakitnya, "Kau tahu, aku bisa saja mengiris-irisnya lebih dan lebih jika kau melangkah sedikit saja ke sini. Apa kau paham? Serius. Kau tahu kenapa? Itu karna kau membuatku takut mengingat kau punya, itu, paham maksudku? Black Blood..." Veil menyeringai, "Itu adalah sesuatu yang kuincar lebih dari satu dekade yang lalu. Dan, aku benar-benar tak ingin membuatmu mati, karna itu bisa membuatku kehilangan semua rencanaku. Paham? Aku tak ingin membunuhmu"

"Kalau begitu... Lepaskan dia, tolong..." pinta Demone dengan pandangan sayu, "Kau punya pasukan... Kau tak perlu sandera begini"

"Tidak, aku perlu sandera, Demone. Untuk menunjukkan bahwa aku sedang sangat serius saat ini.." sahut Veil

Devil Beneath Us Chapter 39 - Judul Chapter...
Penulis : Adam Beneath Us

PLANGG..

Demone melempar pedangnya ke lantai. Putus asa dan berucap

"Kau menang..." katanya, "Bawalah aku, hanya aku yang kau inginkan, kan?"

"Tidak, Demone!" potong Alisha, "I-Ini belum selesai, kau belum kalah"

"Diamlah.." ucap Demone

Veil tertawa pelan, "Apa yang membawamu kemari, Demone? Hm? Apa yang membawamu kemari? Gadis ini yang membuatmu kemari? Alisha membuatmu kemari? Atau kau kemari karna mencariku?"

Demone tak sanggup berkata apapun lagi

"Wow, aku mungkin kejam, tapi kadang aku juga bisa terharu, serius, aku tak bohong.." Veil lalu menatap Alisha yang juga menatapnya dengan tajam, "Bagaimana dengan sedikit tangisan, sayangku? Kau sama sekali tak menangis, aku ingin sekali melihatmu menangis. Ayolah, tunjukan sedikit suaramu saat sesenggukan, aku ingin mendengarnya"

Pandangan Alisha menajam begitu mendengar Veil berkata demikian. Dengan sedikit emosi, Alisha meringis, kemudian memasang ekspresi marahnya

"Fuck... You!"

Alisha meludahi wajah Veil. Demone terhenyak, semua orang yang ada disana terhenyak. Suasana tiba-tiba hening kala Veil mengelap ludah diwajahnya dengan ekspresi datar

"Hahahaha.." Veil tertawa tak lama kemudian, "Kau lihat ini, Demone? Aku baru saja membuat sanderaku marah! Astaga! Damn..."

"Jaguar!" panggilnya

"Ya?" sahut Jaguar sembari mendekat

"Potong kedua lengan Demone sekarang"

Demone dan Alishapun terkejut

"Jangan! Jangan lakukan itu!" teriak Alisha

Jaguar tanpa berbasa-basipun lantas meraih pedang Demone yang tergeletak dilantai. Pedang itu diangkat Jaguar tinggi. Sebelum sang pedang membunuh sang tuannya sendiri. Alisha bangkit. Mendorong Jaguar hingga membuat pria itu terjatuh, membuat tebasan pedangnya batal terlaksana

Melihat apa yang dilakukan Alisha. Veil pun marah

"Apa-apaan ini, hah?!" Veil melancarkan sebuah tinjuan kepada pipi sang gadis

"Jauhkan tanganmu darinya!" Demone marah

"Hei, hei, hentikan itu, bocah..." Rathonchile menodong pedangnya kepada Demone, membuat Demone harus berhenti

Veil terus menyiksa Alisha. Alisha menangis, tak lama kemudian, Veil menyeret Alisha menjauh dari Demone, melempar dirinya ke belakang tanpa belas kasih sedikitpun. Bunyi patah kursi terdengar, kala Alisha dan kursinya menghantam sebuah motor yang terparkir disana. Darah membasahi dahi sang gadis

"Veil!!"

Demone yang terlanjur terbakar emosi mencoba menyerang Veil, namun segera dicegah oleh Jaguar dan Rathonchile. Keduanya menjatuhkan Demone ke tanah dan menindihnya supaya tak bergerak

"Jangan lakukan ini! Kumohon!" Demone memohon, dirinya tak sanggup lagi melihat Alisha menderita dipukuli sedemikian rupa oleh Veil tepat didepan matanya sendiri

"Kumohon!!"

Veil tak mengindahkan permohonan Demone. Sebaliknya, ia tertawa girang seakan menikmati penyiksaannya.

Semua itu membuat Demone meringis emosi

"Aku akan membunuhmu, brengsek!!"

DUAKKK!!

Veil menendang wajah Alisha tanpa ragu. Darah dimuntahkan sang gadis malang

"Okeh...okeh... Sudah cukup, sudah cukup..." Veil kelelahan sekaligus puas, Veil lalu menaruh belatinya kembali ditenggorokan Alisha



"Demone. Pandang aku, kawan" ucap Veil

"..."

"HEY!!" Veil membentak mengetahui Demone tak mendengarnya, "Kau mau aku membunuhnya sekarang, hah?! Pandang aku bajingan kecil! Pandang aku dikedua bola mataku!"

"Persetan denganmu, keparat!!"

"Diam, brengsek!" bentak Veil balik

"Hahahaha" Veil kembali tertawa, "Kau sedang marah, ya? Aku paham, aku paham, kau sedang marah, aku akan sedikit santai sekarang"

"Aku paham posisimu saat ini, Demone. Dulu aku juga pernah mengalami hal yang sama seperti ini. Ini bukan hal baru, kau akan belajar sesuatu dari hal ini, teman..." ucap Veil, tersenyum cerah kepada pemuda yang siap mencabik-cabik dirinya, "Dulu, aku pertama kali membunuh seseorang demi seseorang yang kusayangi, tapi apa kau tahu apa yang dia katakan padaku setelah itu? Dia bilang aku adalah seorang pembunuh! Pembunuh yang membunuh orang lain demi menyelamatkan bokongnya yang tak berharga, itulah aku dimatanya, itulah perkataan dari seseorang yang kurasa sangat kusayangi itu"

Demone terdiam

"Kau punya kan seseorang yang kau sayangi? Bukan cuma gadis ini, pasti ada yang lain, kan?" lanjut Veil, "Kau pasti punya orang yang kau sayangi, orang-orang yang BENAR-BENAR kau sayangi!! Orang-orang yang selalu menusuk kita dari belakang kalau ada kesempatan! Mereka berlagak seperti, 'Hei, Veil, apa yang kau lakukan? Apa yang terjadi, aku sayang kau, dan BRENGSEEKKK, APA YANG KAU LAKUKAN DASAR BRENGSEEEK!!!?', hahahaha, kau tahu, mereka berlagak seperti mereka bisa mempermainkan kita saja. Hahahaha!"

"Hei, kalian! Bawa sandera yang lainnya ke sini. Kita akan sedikit bersenang-senang sekarang.."

Beberapa orang membawa seorang ke hadapan Veil. Seorang perwira babak belur, Grady Mannister, perwira yang dikabarkan menghilang sebelumnya. Demone terkejut, menyadari bahwa Veil-lah yang telah menculik perwira itu

Grady dijejerkan disebelah Alisha

"Kau tahu apa yang bodoh dari seorang pahlawan? Mengorbankan nyawa untuk sesuatu yang tak punya harga!" ucap Veil diikuti tawa riangnya

"Jangan bunuh aku, kumohon. Aku punya istri dan 2 anak, mereka membutuhkanku, kumohon.. Jangan bunuh aku" pinta Grady ketakutan

"Jangan bunuh aku?" Veil mengernyitkan alisnya, "Itu artinya kau ingin yang lain saja yang mati asalkan kau yang hidup? Astaga, mungkin kau sayang keluargamu, Grady, tapi kau menunjukkan bahwa kau lebih buruk dari kantong sampah... Dan, aku benci orang sepertimu, mengorbankan nyawa yang lain untuk menyelamatkan diri"

"Please, jangan bunuh aku, tolong!!" teriak Grady makin ketakutan

"Diamlah dulu, maniak keluarga. Sekarang, sebagai gantinya. Alisha, aku memberimu waktu 10 detik, untuk memilih siapa yang lebih pantas kubunuh? Demone atau Grady? Sebagai ganti, akan kubiarkan kau menghabiskan sisa hidupmu sendiri"

Alisha terkejut, "Kau bilang kau tak ingin membunuh Demone!"

"Oooh, itu artinya kau memilih Grady untuk kubunuh--"

"Tidak! Bukan begitu!!" potong Alisha, "Jangan lakukan itu! Jangan bunuh siapapun, kumohon!!"

"Terserah apa katamu, sayangku..." Veil tertawa, "10!"

"Tidak!"

"9!"

"Kumohon, aku tak bisa..." Alisha memohon, setitik air menggenangi kelopak mata gadis berambut coklat itu, ia diiringi rasa bimbang yang luar biasa, ia tak bisa menahan lagi isak tangisnya, "Aku tak bisa memilih..."

"8!"

"Kumohonn!!!"

Melilhat gadis itu menangis, Ekspresi Demone luntur, ia tak bisa berkata apapun lagi. Tak bisa melakukan apapun selain terbaring ditanah memandang sedih pada sang gadis, gadis yang sangat ia sayangi itu. Alisha menatap tepat di matanya, membuat Demone tak kuasa menahan kesedihannya

"7!!"

"Tidakk... Kumohon... Aku tak ingin ada siapapun yang mati... Kumohon..."

"Buatlah keputusan, atau dalam sisa waktu ini akan kubunuh kalian bertiga sekaligus. Apa kau paham?!" tanya Veil, ia mulai habis kesabaran

"6!!"

"Tidakk!"

"5!!"

"Demone... Maafkan aku..."

"Tidak, jangan katakan itu!"

"4!!"

"Aku ingin bilang. Bahwa aku... aku sangat menyayangimu... Maafkan aku yang terlambat menyadarinya...." Alisha menarik seutas senyum kepada pemuda itu, "Aku ingin kau tahu, bahwa kita sama sekali tak terlalu jauh berubah.... Kita berdua masih sama seperti dulu... Kita berdua saling menyayangi.."

Demone menangis, "Jangan katakan itu.... Seperti ini..."

"3!!"

"Artinya, aku menyayangimu, Demone..."

"2!!"

"Tidak!!

"Hitungan terakhir, saaaaaa-"

"Bunuhlah aku..." gumam Alisha sembari menutup kedua matanya, siap untuk segala konsekuensinya, dia sudah bersiap untuk semua yang akan terjadi padanya, ia telah pasrah "Biarkan Grady-san, dan Demone hidup. Lalu, bunuhlah aku, sesuai janjimu tadi..."

Veil tertawa, "Sebuah keputusan besar... Aku suka komitmen dan ketegasanmu..."

"Tidak.." Demone sekuat tenaga mencoba meloloskan diri dari kuncian Rathonchile dan Jaguar, namun gagal, "Jangan lakukan itu, Veil! Kau hanya menginginkanku! Jangan libatkan yang lainnya!!"

Sebuah pedang melesat cepat. Darah menetes setitik demi setitik ketanah

Demone terdiam dengan ekspresi kosong

Kala menatap didepan matanya sendiri. Alisha, membuka mulutnya yang mengeluarkan banyak darah, dengan sebuah pedang tajam yang menembus punggung hingga menusuk tembus ke dadanya. Ketika Veil mencabut pedang itu, tubuh Alisha terjatuh ke tanah dengan lunglai, meninggalkan Demone dalam keheningannya

"Yang terjadi haruslah terjadi..." ucap Veil sembari menyeringai,

Aura biru membakar jiwa Demone. Retakan menjalar ketika Demone mengepalkan kedua tangannya, sesuatu terjadi dari dalam tubuhnya, sesuatu seperti bangkit dari dalam tubuhnya. Dan situasi itu mengatakan, bahwa Veil telah membangunkan seseorang yang salah...

Bersambung ke Devil Beneath Us Chapter 40

Shia Wasetatsu
2017-01-11 22:05:08
.setelah ini demone vs veil ya? tapi, dimana nero??!
ThE LaSt EnD
2017-01-11 12:41:27
sepertinya Alisha belum mati....
Rudy Wowor
2017-01-11 12:38:58
Veil harus dipenggal kepalanya.
Sqouts Shadows
2017-01-11 12:18:10
Ditunggu cerita berikutnya
Gouenji Shuuya
2017-01-11 10:30:47
Kejam banget tuh orang
Grim Rieper
2017-01-11 08:20:12
Semakin seru aja !
Baca Semua Komentar dan Balasan
daftar user · online · daftar penulis
halaman awal · group facebook