VersiTeks.com
Selain membaca versi teks anime dan manga, di sini kalian juga bisa membaca dan mengirim cerita karangan kalian sendiri, baik itu yang berupa cerita berseri, cerpen (oneshot), atau fanfiction.
login · register · kirim cerita · setting · kuis · chat game
home · versi teks · cerita karangan · oneshot · fanfiction · jadwal rilis


Silakan login atau register jika belum memiliki akun untuk menikmati berbagai fitur khusus di situs ini serta akses tanpa iklan-iklan yang mengganggu.
Pengguna Telegram? Coba game Kampung Maifam
Devil Beneath Us Chapter 38

2017-01-10 - Adam Beneath Us > Devil Beneath Us
84 views | 4 komentar | nilai: 10 (1 user)

"Bajingan.." Demone mengumpat, "Hanya karna itu saja kau menelponku? Apakah itu penting, hah? Dasar perusuh sialan"

"Hahaha... Apa aku menganggu kencan kalian saat ini? Kalau memang iya, aku minta maaf sekali, aku tak sengaja, hahahaha. Serius, aku kira daftar pembagian makanan itu penting untukmu, yah tahu begini buat apa aku nelpon..."

"..." Demone diam menunggu Himuro menyelesaikan monolognya

"Sudah?" ucap Himuro disebrang

"Apanya?" tanya Demone balik, "Brengsek, apakah obrolan ini penting? Astaga, kau menghabiskan 5 menit waktuku hidup didunia ini, dasar setan"

"Hahahah. Baiklah, kututup sekar--eh, ada satu hal lagi yang harus kuberitahu padamu, Demone.."

"Katakan.." ucap Demone malas

"Beberapa jam yang lalu ada laporan kalau perwira bernama Grady Mannister menghilang. Kalau kau masih dalam tugasmu, kau boleh membantu tim untuk menemukannya, ini sudah 8 jam ia menghilang"

"Akan kuusahakan..." Demone mulai berjalan pergi

"Kututup teleponnya, ya?"

KLIK!

Demone sendiri yang menutup telepon karna tak sabar

....

Devil Beneath Us Chapter 38 - Siapa Yang Kau Cari
Penulis : Adam Beneath Us

"Alisha?"

Alis sebelah kanan Demone terangkat begitu mendapati kosongnya bangku tempat duduk yang sebelumnya diduduki oleh Alisha dan juga dirinya. Diarahkannya pandangan matanya untuk mencari keberadaan sang gadis

"Alisha, kau dimana?!" Demone sedikit meninggikan nada suaranya

Hanya suara jangkrik yang menyahut teriakan Demone

"Hm?" Demone menemukan sebuah ikat rambut tepat dibelakang bangku, ia langsung meraihnya, memperhatikan dengan detil ikat rambut itu, ia sadar kalau itu adalah miliknya Alisha,

"Aku rasa Alisha memakai dua ikat rambut tadi. Tapi, kenapa ini cuma 1?"

Demone menemukan hal aneh lagi. Ada sebuah jejak sepatu yang melebar, seperti jejak kaki seseorang yang diseret paksa oleh seseorang. Mengetahui petunjuk itu, Demone berdiri dengan situasi batin yang tak karuan. Ia berkeringat

"Seseorang menculiknya?"

Tak mau berlama-lama, Demone kembali berjalan, mengarah sesuai kemana arah jejak kaki itu mengarah. Kondisi tanah yang lembab membuat jejak kaki itu bisa dilihat oleh Demone dengan jelas walau ia menutup mata kirinya dengan perban. Hingga, jejak-jejak itu membawanya tepat ke sebuah ikat rambut lain yang tergeletak ditanah. Ikat rambut Alisha yang lain

Tepat begitu ikat rambut itu ditemukan oleh Demone. Sudah tak ada lagi jejak sepatu. Demone berfikir, bahwa petunjuk ini dibuat oleh Alisha sendiri, soal tak ada laginya jejak sepatu, ia yakin kalau penculiknya memutuskan menggendong Alisha ketimbang menyeretnya paksa

Semua pemikiran itu membawa pandangan matanya kepada sebuah bangunan tua, pabrik tua dengan pintu terbuka lebar, menunjukkan ruangan dalamnya yang gelap tanpa penerangan. Penuh kehati-hatian, Demone mulai melangkah mendekat

"Sial. Gelap sekali.." gumamnya pelan begitu masuk ke dalam

Tempat itu lumayan gelap. Terutama bagi orang-orang seperti Demone yang 'buta' sebelah. Namun, cahaya dari luar ruangan masih bisa menjadi pembantu setia Demone. Ia tanpa ragu tetap berjalan

Demone berhenti ditikungan lorong. Ketika telinganya menangkap suara teriakan, pemuda ini mengintip melalui pertigaan lorong tersebut. Demone sedikit terhenyak kaget melihat siapa yang ada di penglihatannya saat ini

"Veil?"

Demone melihat punggung pria yang sangat ia benci

"Dan aku Jaguar..."

"Ah!" Demone dikejutkan kembali

"Jangan bergerak..." Jaguar terlebih dahulu menempelkan mata pedangnya pada tengkuk Demone, memaksa Demone berdiam terpaksa disana

"Lama tak ketemu ya, Jaguar? Kurasa kau sudah jera karna melawan kami, tapi ternyata belum..." Demone menoleh kepada Jaguar, "Wow, astaga, wajah jelek macam apa itu"

"Kau cukup berani juga datang kesini sendirian, Demone. Apa kau tak tahu? Kau adalah target kami yang sebenarnya.."

"Aku akan menjawab itu setelah kau menjawab kenapa wajahmu hangus seperti itu, eh? Wajahmu terbakar, atau karna apa? Jujur, itu menjijikan sekali, kawan.."

Jaguar tersenyum, "Sesuatu terjadi, sesuatu yang tak penting untukmu. Aku akan menjawabnya setelah kepalamu kujadikan bola pimpong"

"Yo Jaguar, pernah dengar kisah seseorang yang mati mengenaskan karna sifatnya yang terlalu sombong?"

"Tidak pernah dengar, tapi kurasa kau pernah dengar kisah seorang bocah idiot bernama Demone yang merasa dia mengetahui semua yang bahkan tak ia ketahui dan meremehkan apa yang tak bisa dia lawan. Pernah dengar? Heh, itu adalah kisah yang menakjubkan, karna itulah bagaimana caramu mati, bocah"

"Keh..." Demone menyeringai, "Kau tak tahu apa-apa soalku, dasar brengsek"

DUARRRR!!!

Demone menerjang Jaguar dengan kencang. Menembus 3 lapis tembok secara langsung dengan kecepatan tinggi. Tembok-tembok itu roboh, terjangan berhenti ketika Jaguar dan Demone menghantam tembok lapis ke 4

"Brengsek!" umpat Jaguar

Jaguar yang terkepung oleh tembok dan juga Demone, langsung melempar wajah lawannya hingga membentur dinding. Darah mengalir dari lubang hidung sang pemuda

Demone tak goyah, berbeda dengan Jaguar yang masih merasakan rasa sakit menyerang punggungnya setelah dihantam 3 tembok bergantian barusan. Meliihat kesempatan didepan mata, Demone mengayunkan sebuah tendangan keras tepat di pelipis Jaguar, kali ini, wajah Jaguarlah yang menghantam tembok

"Fat, kau butuh sedikit lemak untuk melindungi punggung rawanmu, dasar bedebah" ucap Demone sembari mengusap darah yang mengaliri hidungnya, posisinya masih sama, ia berdiri dengan satu kaki dengan satu kaki lainnya masih menahan kepala Jaguar ditembok

Jaguar berseringai tipis, "Tetaplah mengatakan itu pada dirimu sendiri"

BRAKK!!

Jaguar meraih paha dan betis kaki kanan Demone yang tengah mengunci wajahnya. Dengan begitu, tubuh Demone yang lebih mungil darinya berhasil ia lontarkan kembali ke tembok bata itu

Dalam posisi terhuyung, Jaguar mencengkram tengkuk leher dan punggung Demone, lalu mengangkatnya keudara

"Lepaskan aku, brengsek!" Demone mengumpat, dengan sekuat tenaga ia mencoba menyingkirkan kedua lengan Jaguar yang mencengkram punggungnya

"Sesuai permohonanmu!"

Jaguar melempar Demone ke udara. Sebuah pipa besi dan atap dihantam keras oleh tubuh bagian atas sang pemuda. Tak berhenti sampai disitu, Demone yang ditarik gravitasi mulai melayang jatuh dan dihempaskan lebih keras oleh Jaguar ke lantai dan

BRUAKK!!

Demone menerjang lantai, menembusnya hingga ke basemen

Sekarang, sang pemuda terbaring telentang, dipenuhi puing-puing keramik dan bata, kedua tangannya mengepal penuh emosi dan bergumam, "Anjing..." umpatnya

Demone menyingkirkan reruntuhan yang menginjak-injak wajahnya. Namun begitu ia singkirkan, penglihatannya menangkap sebuah kaki yang tengah melayang jatuh dengan kecepatan tinggi

DRUAKK!!

Demone melontarkan dirinya menghindari serangan ganda Jaguar, hampir saja membuat wajahnya rata dengan tanah

"Pernah dengar kisah orang yang mati mengenaskan di basemen kumuh tak terawat?" tanya Jaguar

"Ya, kudengar orang yang mati itu punya luka mengerikan di setengah wajahnya.." sahut Demone, "Dan, lucunya orang itu ada dihadapanku!"

BUAKK!!

Kepalan tinju mereka beradu

"Tak ingin menggunakan Devpower, hah?" ucap Jaguar

"Tidak, seperti katamu, itu hanya kekuatan pengecut" Demone melontarkan sebuah kaki untuk menendang Jaguar, namun Jaguar menahannya dengan siku

Tak lama berselang, Jaguar menghimpit kaki Demone itu diantara ketiaknya, ia menyeringai, "Kau seharusnya tahu waktu untuk sok keren, dasar bocah.."

DUKK!!

Jaguar membanting Demone ke tanah, Demone memberontak mencoba melepaskan kakinya dari lengan sang lawan, namun Jaguar dengan entengnya mengangkat kaki kanan pemuda itu ke udara, membuat Demone dalam posisi kepala di kaki, Demone meringis kesal, "Dari sini terlihat jelas, kau punya ketiak penuh rambut, ya kan? Harus kukatakan, kau menjijikan, sudah berlama lama kau tak membersihkan dirimu sendiri?"

"Diamlah, dasar keparat!" Jaguar mencoba menendang wajah Demone

Namun, Demone menahannya dengan kedua telapak tangannya, ia lalu berucap, "Awas serangan burung"

BUKK!

Demone memukul selangkangan Jaguar dengan telak

"Arghh!!" erang Jaguar sakit, dilemparnya Demone menjauh dari dirinya

Demone tertawa renyah begitu ia mendapatkan posisinya yang ideal, ia menatap Jaguar dengan senang, "Yo, lihat itu, ya kan? Hancurlah pelermu, bro, turut berduka cita untuk kemaluan istrimu karna telur milikmu sudah dijadikan telur dadar. Well done! Bisakah kita pastikan kalau kau baik-baik saja, M.r Cheeetah?"

"Akan kuhanguskan bokongmu diperapian, bedabah busuk!"

"Whoaa, aku takut"

DUAKKK!!!

Jaguar menerjang tubuh Demone kencang, beberapa meter Demone terseret kebelakang menerima terjangan itu, namun ia sama sekali tak jatuh, Jaguar pun terkejut

"Damn, padahal aku ingin melakukan suplex, tapi kayaknya ini juga suplex yang bagus.." gumam Demone, ia meraih pinggang Jaguar sembari mengapit leher pria itu diketiaknya

"!!"

Demone yang tubuhnya setengah kali lebih kecil dari lawannya membanting sang lawan kebelakang, dengan sangat keras, bukan hanya Jaguar yang terlempar, Demone juga sedikit terlempar karna tak kuat

DUAKK!!!

Jaguar menghantam pilar

"Aku akan bertanya serius padamu, Jaguar. Dimana kau mencuri berlianku?" tanya Demone sembari mendekat pada sang pria

"Berlianmu?" Jaguar tertawa, "Memangnya bocah goblok spertimu punya keberanian untuk membeli berlian? Apa dia pelacur, hah?"

Demone emosi, "Dimana dia sekarang, hah?!"

BUAKK!!!

Demone menendang wajah pria itu emosi, "Dimana dia?!" bentaknya, terlihat jelas urat marah tercetak dipelipisnya

Jaguar terjatuh telentang, "Entahlah, bocah. Kurasa dia sudah ada disuatu tempat disurga Tuhan, hahaha"

Marah, Demone semakin kehilangan kendali, tangan kanannya terkepal berlumur percikan petir yang menjalar-jalar. Dia terbakar emosi dan siap melesatkannya kepada pria dihadapannya

DUAKKKK!!!

Demone meninju dagu Jaguar keras. Jaguar terlontar keudara. Demone dengan sigap langsung melompat keatas, ia menendang Jaguar hingga membuatnya mencium lantai dengan telak. Jaguar langsung tersungkur bersamaan dengan Demone yang mendarat sempurna

"Cih..." Jaguar diam memengangi wajahnya, tak bisa dipungkiri, setengah wajahnya yang terbakar dan terkelupas telah membuat keseimbangan tubuhnya sedikit terganggu. Dia hanya bisa mengumpat keras dalam hati

Demone pun kembali datang padanya, Jaguar tak siap dan

DUAKKK!!!

Tendangan keras kembali diterima Jaguar, membuat Jaguar mengeluarkan darah segar dari mulutnya

"Dimana dia, hah?!" Demone langsung menindih Jaguar dan memukulinya tanpa ampun

Demone terus menghantam Jaguar. Tak peduli apapun, Jaguar terlihat jelas sudah tak mampu berbuat apapun berhubung Demone tak memberinya waktu untuk mengambil nafas

"Dimana?" Demone berhenti, ia menarik kerah baju Jaguar dengan kasar

"Sebenarnya... Siapa yang kau cari, Demone?" tanya Jaguar

Demone terdiam

"Kau datang ke sini sendirian, untuk mencari siapa? Kau kemari untuk Veil?" Jaguar menyeringai, "Atau kau kemari karna gadis itu?"

BUAKK!!

Demone lantas berdiri setelah memberi sebuah pukulan telak diwajah Jaguar. Pemuda itu membuka telapak tangannya hingga pedang kebanggaannya muncul, pedang Rebelion, ia angkat pedang itu tinggi-tinggi diudara

"Ini terakhir kalinya aku bertanya, dimana dia? Alisha, gadis itu..." ancamnya sembari mengarahkan ujung pedangnya ke tenggorokan Jaguar, "Aku akan membunuhmu dalam 5 detik jika kau tak menjawabnya"

"Dia ada dimana-mana"

Demone tersadar akan sesuatu

DUAKKK!!!

Seseorang datang mengayunkan tendangan yang luar biasa kencang kepada Demone. Hembusan angin kencang membuat benda-benda disekitar bergetar. Demone lalu terjatuh ditanah setelah berguling-guling tak stabil ditanah

Demone berjongkok, ia meludahi luka lecet di lengannya, memandang siapa yang datang dengan kesal, "Muncul lagi orang lain, si gendut besar anjing"

Pria yang baru saja datang itu adalah Rathonchile, pria gendut besar anjing yang disebutkan Demone barusan. Rathonchile berdiri tegak, mengangkat dagunya sombong

"Sudahkah kau berlutut?"

"Belum. Apa kau yakin mengancamku dengan kalimat seperti itu, gendut?" Demone menenteng pedangnya

"Bagus, kalau begitu aku bisa membuatmu berlutut"

Rathonchile berlari menuju Demone dengan kecepatan yang...

Lambat

Demone tertawa, "Dimana dia, gendut? Berhentilah berlari begitu, aku jijik melihat dadamu yang bergembil-gembil begitu"

Rathonchile menunjukkan kebolehannya, dia meninjukan kedua kepalan tangannya dan dengan ajaib, seluruh lemak yang bergembil ditubuhnya berubah menjadi gumpalan otot luar biasa kekar. Demone tertegun tak percaya

"Aku suka orang yang meremehkanku..." ucap Rathonchile sembari tersenyum, tak lama setelah dirinya berubah menjadi kekar kecepatan larinya tiba-tiba bertambah, lagi-lagi Demone dibuat kaget karna kecepatannya yang berubah bak sebuah roket launcher kearahnya

Rathonchile sampai tepat didepan muka Demone, "Itu membuatku menang!"

"Sial"

DUAKKKK!!!

Demone terpental kencang setelah menerima tendangan lutut luar biasa dari sang lawan. Dinding itu mengukuskan asap setelah ditabrak dengan kencang oleh punggung Demone

"Bangsat.." ia mengumpat, dan mendapati keberadaan Jaguar sudah berdiri beberapa meter disampingnya

DORR!!

Demone berguling ke depan mencoba menghindari tembakan shotgun Jaguar kepadanya. Namun, Rathonchile kembali datang dari arah depannya

WUSHH!

DUUKK!!

Tak ada waktu untuk menghindar, Demone terpaksa menahan pukulan palu Rathonchile menggunakan Rebelionnya. Alhasil, kedua kakinya sedikit terhisap ke tanah saking kuatnya pukulan sang lawan

"Pedang yang hebat, bisa menahan kekuatan tanganku. Luar biasa" ucap Rathonchile

"Harusnya aku yang bilang begitu, gendut besar-kekar anjing" balas Demone

Sebelum ia benar-benar terhisap ditanah dan dijadikan paku oleh tangan palu Rathonchile. Demone segera melompat mundur, begitu berpijak ditanah ia langsung melesat kepada Rathonchile dengan petir besar ditangannya yang juga mengaliri pedang kebanggaannya

"LIGHTNING SPEAR!" seru Demone

Demone mengeluarkan kemampuan petirnya, berbekal sebuah pedang bercampur elemen petir yang kentara, serangan tajam itu menghantam Rathonchile, serangan itu ampuh, membuat Rathonchile terlontar ke belakang menerima serangan kejutan itu. Demone belum akan berhenti, ia langsung melesatkan serangan keduanya, menebas Rathonchile

Rathonchile berhasil menahan itu dengan tangan kekarnya. Pria itu tiba-tiba tergelincir setelah menahan pedang sang lawan, membuat Demone memiliki kesempatan untuk menyerang Rathonchile untuk yang ketiga kalinya secara beruntun.

BUAKK!!

Tinjuanlah yang diberikan Demone kepada wajah Rathonchile

Rathonchile tidak terlalu jauh terlontar, hanya beberapa meter kebelakang, namun Demone sudah mengangkat pedangnya bersiap untuk membelah tubuh sang lawan jadi dua dan

Jaguar membuat Demone terhenti

"Apa yang kau lakukan?" tanya Demone melihat Jaguar menempelkan punggungnya ke punggungnya

Belum sempat dijawab, Jaguar mengangkat tangannya kebelakang dan meraih kedua lengan Demone. Dan, Jaguarpun melempar pemuda itu tepat kehadapannya

BUAKK!!

Begitu pemuda itu sudah ada dihadapannya, Jaguar menendang perut Demone kencang bak menendang sebuah bola ke gawang lawannya

Rathonchile bangkit dan melesat cepat kearah Demone, dia tersenyum penuh kemenangan

Kecepatan luar biasanya bahkan mampu menyamai tubuh Demone yang tengah melayang diudara. Tepat setelah berpapasan, Rathonchile mencengkram tubuh Demone, menubrukinya kencang ke sebuah dinding besar

DUARRR!!

Dinding itu hancur. Merekapun berpindah lokasi ke ruangan sebelah. Ruangan itu begitu gelap

Rathonchile mencekik Demone, mengangkatnya keudara. Demone lalu menghantam keras lengan Rathonchile, alhasil ia terlepas dari cekikan

Namun beberapa saat kemudian, Rathonchile menendang Demone menjauh kedalam ruangan yang begitu gelap itu

Demone sekarang berada 20 meter dari posisi Rathonchile dan juga Jaguar yang barusan memasuki ruangan yang berlubang itu. Sebongkah besar cahaya menerangi ruangan tersebut bersumber dari sang lubang yang dihasilkan Rathonchile memanfaatkan tubuh Demone sebagai bantalannya barusan. Diruangan yang serba gelap dimanapun mata memandang itu, Demone dalam posisi berlutut dengan lutut kanan yang ia jatuhkan ke tanah, matanya terfokus memandang sekeliling

"Begitu, ya.." Demone mendecih pelan, kedua mata ia tutup selagi mencoba berdiri tegak

Rathonchile yang menaruh kedua tangan disaku itu hanya tersenyum simpul

"Apa kau sudah menyadarinya?"

"Ya..." gumam Demone

"Bukankah sudah kubilang kau untuk berlutut?"

DUAKK!!

Seseorang menghantam tengkuk Demone dengan sebuah pemukul besi tepat dari arah belakang. Demone tersungkur mencium tanah

CRAAANGGG!!!

Belasan sumber cahaya muncul dari berbagai sudut tempat yang mulanya sangat gelap itu. Tak kuat menahan intensitas cahaya yang masuk, Demone menutup mata dengan lengannya

Tanpa disadari, angin berhembus lebih kencang. Dan dalam sekejap, ruangan serba gelap itu disulap jadi ruangan penuh cahaya. Cahaya yang berasal dari puluhan motor yang dijejer-jejer rapi, mengelilingi dirinya yang menjadi pusat dari seluruhnya

Ya, Demone hanya bisa berdiri disana, menjadi pusat dari seluruh pandangan tajam puluhan orang yang sedari tadi telah mengepungnya ditempat itu. Demone mati langkah, hanya ada 4 dinding, dengan satu atap, dan 60 orang individu yang mengelilingi dirinya. Tempat dimana dia takkan punya jalan untuk melarikan diri...

Disaat yang bersamaan, Veil datang dengan sebuah senyum mengerikannya kepada Demone, yang tak bisa berbuat apapun selain menatapnya dengan tajam

Bersambung ke Devil Beneath Us Chapter 39

Gouenji Shuuya
2017-01-11 05:46:55
Dia sudah terkepung
Rudy Wowor
2017-01-10 23:39:06
Demone kalah.
Shia Wasetatsu
2017-01-10 22:20:58
.demone bakal ketangkap kah?
Sqouts Shadows
2017-01-10 21:03:09
Ditunggu cerita berikutnya
Baca Semua Komentar dan Balasan
daftar user · online · daftar penulis
halaman awal · group facebook