VersiTeks.com
Selain membaca versi teks anime dan manga, di sini kalian juga bisa membaca dan mengirim cerita karangan kalian sendiri, baik itu yang berupa cerita berseri, cerpen (oneshot), atau fanfiction.
login · register · kirim cerita · setting · kuis
home · versi teks · cerita karangan · oneshot · fanfiction · jadwal rilis


Silakan login atau register jika belum memiliki akun untuk menikmati berbagai fitur khusus di situs ini serta akses tanpa iklan-iklan yang mengganggu.
Pengguna Telegram? Mainkan Game KampungMaifam
Devil Beneath Us Chapter 37

2017-01-06 - Adam Beneath Us > Devil Beneath Us
54 views | 4 komentar

2 Minggu Kemudian

Rapat darurat petinggi Terra-Save

2 minggu setelah peristiwa pembunuhan Jenderal Baltimore oleh Nero. Para petinggi mengadakan sebuah rapat tertutup di kota Vorgotten yang berangsur-angsur pulih. Beberapa anggota elit macam Demone, Himuro dan Vivienne juga tergabung didalamnya

"Semua peristiwa menggemparkan beberapa pekan yang lalu telah membawa kita menuju pertemuan yang sangat singkat ini. Kita mendapati jenazah Jenderal Baltimore, beserta 26 orang anggota Terra-Save lainnya dibawah jurang setinggi 40 kaki. Mereka ditemukan dalam keadaan tak bernyawa. Semua kecurigaan mengarah kepada Commander Nero, dan First Lieutenant Cranelle, yang juga dicurigai keduanya bekerja sama dengan mantan perwira 1st class Terra-Save, Dante, yang sekarang buron akibat aksi membelotnya dari Terra-Save beberapa tahun lalu. Semua tuduhan makin terbukti setelah ditemukannya sobekan jubah khas milik Commander Nero dan juga kesaksian seorang yang ikut bersama Jenderal Baltimore sebelumnya. Dengan begini, status Commander dan First Lieutenant Cranelle dari sebelumnya WANTED, sekarang ditingkatkan menjadi HUNTED. Sebarkan seluruh pamflet ke penjuru lokasi dari segala arah mata angin. BUBAR!" Jenderal Deepwater mengakhiri rapatnya dan berjalan keluar ruangan penuh wibawa

Para peserta mulai bubar sesuai intruksi. Kecuali Demone yang masih termenung di tempat duduknya

Himuro menegur, "Sudah bubar, woy"

"Brisik, pergilah tanpaku!" sentak Demone

"Kau tahu apa yang terjadi, Demone. Beginilah yang terjadi. Kakakmu sudah terbukti, kau takkan bisa melakukan apapun lagi selain menerima itu dan membantu Terra-Save untuk menangkapnya. Itu jadi prioritas sekarang, kau tahu?"

"Kau tahu apa yang kupikirkan? Kurasa aniki tidak bersalah atas kasus ini.."

"Ya, benar. Dia tidak bersalah jika ia tidak kabur. Kenyataannya, dia melarikan diri, itulah yang membuatnya tak punya pembelaan, hanya dia yang tahu apa yang terjadi tapi dia justru malah menghilang begitu saja. Jenderal Deepwater melakukan hal yang tepat karna menaikkan statusnya" ucap Himuro sembari menyender didekat jendela

"Pergilah, kau hanya mengangguku!"

"Oh, ya?"

"Kau masih memikirkan hal ini, Demone-kun?" Vivienne berjalan mendekat kepada Demone dan juga Himuro

"Begitulah..." sahut Demone malas

Vivienne mendengus, "Daripada berlarut dengan hal ini. Lebih baik kau segera bertugas kembali"

Vivienne menaruh secarik kertas putih ke meja didepan tempat duduk Demone. Demone lantas meraihnya dan membacanya

"Apa ini?" Himuro yang penasaranpun meminta kertas lain pada Vivienne

"Jenderal Fidel bilang Vorgotten City masih butuh bantuan kita, Terra-Save. Beberapa anggota telah diinisiatifkan untuk membantu pemerintahan negara Veronica untuk membenahi kota Vorgotten. Termasuk kita bertiga" ucap Vivienne

"Kenapa baru sekarang-sekarang?" terlihat Demone kesal, ia menaruh kertas itu kembali dengan kasar

"Hei, benarkah ini? Aku dapat tugas untuk membantu regu kesehatan untuk memeriksa para warga disana?" Himuro menatap sumringah pada Vivienne, "Itu artinya aku dan kau ditugas yang sama, Viv?"

Vivienne mengiyakan, dan Himuro pun kegirangan

"Bagaimana denganmu, Demone?" Himuro bertanya apa tugas Demone

"Baca saja.." jawabnya malas

"Hmm, tugas patroli kota?" Himuro menaikan alis ketika melihat apa yang dilihatnya dikertas itu, "Bung, itu tugas yang melelahkan. Tak heran kau bete begitu" Himuro turut bersimpati

"Kurasa dia bete bukan karna itu, dasar bodoh!" Vivienne menyikut rusuk Himuro

"Kapan shiftku dimulai, Vivienne?" tanya Demone malas

"Sore ini..." gumam Vivienne sembari membaca kertasnya kembali, "Kau tugas bersama Alisha"

"A-Alisha?"

Vivienne dan Himuro saling pandang ketika dilihatnya wajah kaget Demone

...

Devil Beneath Us Chapter 37 - Terlalu Jauh Berubah
Penulis : Adam Beneath Us

Sore hari menjelang senja tiba,

Langit oranye mewarnai penghujung hari Selasa di Kota Vorgotten pertanda bahwa sebentar lagi sang surya akan meninggalkan kota itu selama kurang dari 12 jam, berganti dengan gelap gulita malam bertabur bintang. Saat ini masih 2 jam sebelum matahari terbenam pada jam 6 sore. Demone menjalankan tugas yang diberikan organisasi, berpatroli keliling kota bersama seorang anggota Terra-Save lain, Alisha, adiknya Vivienne

Kota Vorgotten menyimpan cerita, cerita yang mungkin akan dikenang oleh para calon pendahulu tentang peristiwa pertempuran iblis yang menyerang kota secara tiba-tiba, bercerita bagaimana Terra-Save melumpuhkan para iblis dengan kekuatan mereka

"Ceritakan soal mata kirimu itu, Demone. Kudengar kau dapat cedera permanen karna luka itu? Apa itu benar?" Alisha memulai pembicaraan kepada sang pemuda yang terus merenung itu, ya, patroli dengan jalan kaki akan sangat membosankan jika tak punya teman bicara, itulah yang dirasakan Alisha

"Ya, maksudku tidak, emm, setengah iya dan setengah tidak. Vivienne belum bisa memastikannya.." jawab Demone, "Dia hanya bilang aku tak boleh terlalu banyak membaca, atau melakukan sesuatu yang memerlukan kerja lebih pada mata. Aku tak paham, tapi aku melakukannya"

"Kau tak boleh membaca? Wow, itu mengerikan. Aku lebih memilih mati daripada mendapat luka semacam itu.." timpal Alisha

"Ya, ya, ya, teruslah mengoceh, kutu buku idiot"

"Apa? Kau bilang sesuatu?"

"Kutu buku idiot" ucap Demone tanpa beban

Alisha merengut

"..."

Melihat situasi jadi canggung, Demone langsung minta maaf, "Eee, maaf, aku tak bermaksud.. Dengar, aku tak tahu kalau kau masih sangat sensitif.."

"hikss..."

"Astaga..." Demone makin panik, "Jangan nangis, oy, beli es krim yuk?"

"hikss.." Alisha masih sesenggukan

Demone menyerah, "Huft, sangat mudah melupakan bahwa sekuat apapun dirimu terlihat dari luar... Kau tetap seorang perempuan... Dan maaf, aku tak bermaksud menyinggung--"

"Hehehe.."

"Ah sial, kau mengerjaiku..."

Alisha mendesah pelan, "Aku lebih suka melihat Nero-san berdiri kalem didepanku daripada mendengarmu terus mengoceh sepanjang waktu, Demone. Kurasa itu lebih baik.."

Demone terdiam

"Ah, maaf, apa aku membuatmu--"

"Tidak, kok.." potong Demone

Situasi kembali canggung

"Bagaimana perasaanmu soal Nero-san, Demone?" tanya Alisha, "Mengenai apa yang menimpa dirinya akhir-akhir ini? Menghilang dengan status HUNTED dikepalanya? Jujur, aku sulit menebak itu jika melihatmu yang terus-terusan diam dan seolah masa bodo dengan masalah itu..."

"Apa maksudmu?"

"Begitulah tadi, kau tak membela kakakmu atau semacamnya, kan? Kenapa?"

"Entahlah..." Demone menendang sebuah batu yang tergeletak ditanah, "Aku hanya kurang yakin, kurang percaya. Tapi, kurasa apa yang dikatakan Himuro benar, jika aniki merasa tak bersalah dia pasti takkan melarikan diri seperti ini. Dia yang lari menambah kecurigaan saja, padahal sudah hampir 2 minggu"

"Sudah 2 minggu lebih" koreksi Alisha

"Ya, itu maksudku. Aku benar-benar benci aniki yang seperti ini. Tahu maksudku?"

"Kau sayang dia?" tanya Alisha

Demone tertawa renyah, "Hanya dialah yang tersisa dari semua yang kupunya. Bohong jika aku bilang aku tak menyayanginya. Dia sudah seperti kutu brengsek yang terus mengganggu hidupku. Ahaha..."



"Kita jalan-jalan dulu, yuk?" tawar Demone

"Boleh..."

Mengabaikan sebentar tugas patroli kota karna dirasa kota itu sudah normal-normal saja. Demone dan Alisha berbelok dari rute patroli, berjalan-jalan sehat sebentar melalui taman kota yang mungkin tidak bisa disebut taman lagi karna banyaknya reruntuhan bangunan disana. Mereka kembali bercengkrama

"Aku juga menyayangi kakakku. Vivi-nee itu, kadang-kadang dia selalu saja bersikap menjengkelkan, menganggu sudut mataku sepanjang saat dan selalu saja memperlakukanku seperti anak kecil. Tapi, anehnya aku selalu merindukannya jika beberapa hari saja aku tak bertemu dengannya. Entahlah, aku merasa itu aneh atau semacamnya.. Tapi aku tahu, kalau itu artinya aku memang sangat menyayanginya" ucap Alisha

"Aku merindukan aniki.." gumam Demone pelan

"Santai saja, aku takkan mengataimu homo, kok.." Alisha tertawa melihat sang pemuda yang terlihat malu itu

Melihat Alisha tertawa, Demone jadi ikut tertawa. Tak lama, situasi kembali hening

"Alisha.." panggil Demone

Alisha menoleh, "Ya?"

"Dulu, kau pernah bertanya padaku, kan? Soal aku ini jadi apa sebelum bergabung dengan Terra-Save? Sebelum aniki dan Baltimore-san merekrutku dulu?"

"Ya?"

"Aku selalu mendengar kau menebak aku ini seorang apa sebelumnya, aku bisa mendengar itu setiap saat setiap kali kita bersama-sama dulu. Ah, kurasa itu sudah tak penting lagi, kan?"

"Pengedar narkoba!" seru Alisha sembari menunjuk wajah Demone

"Ah?" Demone bingung

"Pekerjaanmu sebelum direkrut. Betul atau salah? Aku sedang menebaknya, tahu"

"Bukan.." bantahnya

"Lalu apa?"

"Dulu aku hanya suka berkeluyuran bersama teman-temanku. Melakukan apapun yang kami sepakati. Membuat onar, membuat kekacauan, mencari perhatian, cari mati juga, pokoknya sesuatu yang sangat menjengkelkan bagi orang-orang dewasa, dan aku sadar itu sekarang, betapa bodohnya diriku yang dulu..." Demone terdiam, Alisha kusyuk mendengarkan

"Aku bukanlah siapa-siapa. Tak punya arti apa-apa. Hanya sampah kecil yang dipungut dari tong sampah, sampah kecil yang justru dihormati karna melihat siapa yang memungutnya, yaitu aniki. Aku hanya orang yang bodoh, yang kebetulan memiliki darah keturunan iblis. Orang bodoh yang sangat beruntung, sebagai saudara yang bodoh juga bagi aniki, keponakan yang bodoh bagi pamanku yang telah membesarkanku"

Alisha terenyuh melihat pemuda yang sedang sangat hancur disampingnya ini. Diulurkannya sebuah lengan ke pundak sang pemuda, berharap itu akan menenangkannya. Mereka berdua berhenti disana. Demone mendudukan dirinya di kursi taman diikuti oleh Alisha

"Tak masalah kau ini jadi apa pada masa lalu. Yang terpenting kau sudah berdamai dengan masa lalumu itu, ya kan?"

"Tidak... Aku belum bisa berdamai dengan masa laluku... Maksudku, apa gunanya semua itu? Lagipula, aku tak terlalu jauh berubah dari yang dulu. Aku masih sama seperti dulu, sebuah tong kosong yang terus dibunyikan oleh semua orang. Yang tentu saja membuat bunyinya makin nyaring sepanjang waktu"

Alisha tersenyum simpul, "Aku paham kenapa kau berfikir begitu. Mengapa kau memilih jadi sperti itu, memilih untuk merasa jadi seperti itu. Itu karna kau peduli pada orang lain, Demone. Itu sebabnya semuanya menyayangimu. Itu sebabnya aku menyayangimu.."

"Kau?"

"Ya, aku menyayangimu. Sangat menyayangimu. Kau tahu, mungkin saja perasaanku tidak terlalu jauh berubah sejak dulu. Seperti apa yang kau bilang tadi, aku masih sama seperti dulu" senyum cerah Alisha membuat Demone memalingkan wajah karna malu

"..."

"Tak terlalu jauh berubah, ya?"

"Aku tak tahu kalau soal apa yang kau rasakan padaku. Dan, aku mungkin takkan kecewa mendengar apa jawabanmu"

"Kurasa itu ide yang bagus.." Demone tersenyum malu pada sang gadis, "Kau dan aku, seperti dulu lagi? Kalau kau mau, aku juga mau.."

Alisha menyampirkan rambut, merasa malu pada dirinya sendiri

"A-Aku mau..." ucapnya gugup

"Sepakat?" Demone membuka telapak tangan untuk tos, namun Alisha justru memeluknya

Pelukan canggung antar mereka berdua berlangsung selama kurang dari 5 detik. Hingga bunyi ponsel Demone membuyarkan pelukan hangat menjelang senja itu. Mereka berdua melepas pelukan mereka

"Maaf.." ucap Demone sembari meraih ponsel dari saku celananya

"Tak apa-apa..."

Begitu melihat siapa nama yang tertera diponselnya, Demone menggerutu pelan, "Himuro bangsat..." yeah, sahabat yang selalu menghancurkan detik-detik yang romantis

Demone segera berdiri, "Aku pergi sebentar, oke? Takkan jauh, kok. Jangan pergi kemana-mana, ya? Aku segera kembali kurang dari 5 menit. Tunggu disini!" Demone melambaikan tangan sembari berjalan pergi

"Aku takkan kemana-mana. Kaulah yang selalu pergi!" Alisha tertawa pelan, menyindir sedikit namun mungkin Demone kurang peka untuk menyadarinya

"Dah!" seru Demone dari kejauhan

Tinggalah Alisha seorang diri ditaman yang sepi itu. Disana, banyak sekali senyum aneh yang dihasilkan dibibir ranum gadis itu, terjadi beberapa kali dalam rentang waktu yang tak berjauhan, senyuman malu teringat pada kejadian 'penembakan' yang terjadi padanya beberapa saat yang lalu

Terlalu asyik dengan dunianya. Alisha dikejutkan oleh sergapan tiba-tiba dari belakang tempat duduknya

BRUKK!!

"Kyaaah!" Alisha terjatuh telentang ditanah

Beberapa pria mendekatinya. Para pria dengan banyak senjata ditangan mereka. Tak lama, seorang pria lain yang nampaknya 'memimpin' kelompok kecil ini mendekat pada sang gadis. Alisha ketakutan, bergidik takut kala melihat wajah setengah terbakar milik pria dengan ekspresi tajam itu.

"Bawa gadis ini..." perintah sang pria pada anak buahnya

"Tidak,tidak, kumohon!"

Sebelum berteriak terlalu kencang. Para pria itu membekap kepala sang gadis dengan sebuah karung, mencegahnya untuk berteriak. Tak lama, pria dengan wajah setengah terbakar itu mulai berjalan pergi dengan menampilkan sebuah senyum yang mengerikan

"Dia akan jadi umpan yang bagus..."

Bersambung ke Devil Beneath Us Chapter 38

Sqouts Shadows
2017-01-06 18:45:55
Ditunggu cerita berikutnya
Gouenji Shuuya
2017-01-06 16:23:04
Hmm ... dia diculik untuk umpan
Rudy Wowor
2017-01-06 15:06:18
Nero pergi kemana ya?
Kira Tanha999
2017-01-06 14:54:28
Kyak ngkap kucing aja pake dibungkus karung ?
Baca Semua Komentar dan Balasan
daftar user · online · daftar penulis
halaman awal · group facebook