VersiTeks.com
Selain membaca versi teks anime dan manga, di sini kalian juga bisa membaca dan mengirim cerita karangan kalian sendiri, baik itu yang berupa cerita berseri, cerpen (oneshot), atau fanfiction.
login · register · kirim cerita · setting · kuis
home · versi teks · cerita karangan · oneshot · fanfiction · jadwal rilis


Silakan login atau register jika belum memiliki akun untuk menikmati berbagai fitur khusus di situs ini serta akses tanpa iklan-iklan yang mengganggu.
Pengguna Telegram? Mainkan Game KampungMaifam
Secret Of The World Chapter 8

2017-01-07 - A Rin Ash > Secret Of The World
30 views | 2 komentar

Don't like, Don't Read

yang mau caper (nggak suka tapi baca cuma buat ngeflame) tutup tab aja.

,

.

yang mau baca saya ucapkan, enjoy with this story.

.

.

.


Secret Of The World Chapter 8 - Bab 2 part 6
Penulis : A Rin Ash

.

.

.

Siapa yang menyangka aku bakal mendapat makanan mewah yang sebelumnya tak pernah kulihat bentuknya? Makanan yang benar-benar terlihat menghoda. Apalagi Jocelyn membawa sebuah benda dengan bau menggugah selera. Bahkan aku harus menahan diri agar tak melahapnya seketika saat benda itu digeletakkan diatas meja tepat di depanku.

Ketika aku membantu menyiapkan beberapa gelas air, piring, dan alat makan lainnya. Seorang pria paruh baya yang tentu saja menawan mendatangi meja. Mengambil tempat duduk di sisi meja lainnya. Satu-satunya tempat duduk yang tak memiliki pasangan didepannya. Dari sikapnya yang terlihat berwibawa, senyum ramah, mata menilai, aku tahu dia adalah kepala keluarga di rumah ini.

Dia menggunakan setelan rumah santai, namun masih tetap memperlihatkan kelasnya sebagai salah satu penduduk
tingkat atas. Sweater bermerk yang aku tak yakin apakah tabunganku cukup untuk membelinya. Rambut hitam disisir rapi kebelakang. Dan tentu saja badan kekar, meski tidak begitu besar. Sungguh cocok dengan postur tubuhnya yang tinggi, namun ramping.

"Kudengar kekasih Nico datang berkunjung?" Dia menatapku dari atas ke bawah. Seolah menilai apakah aku pantas menjadi bagian keluarganya. Dan itu mau tak mau membuatku berdebar, pakaianku sama sekali tak pantas untuk ini. Namun secara mengejutkan -sekaligus menenangkan- Anthonio tersenyum, "senang bertemu denganmu Nona Scott, Nico beruntung mendapatkanmu. Laporkan padaku jika dia membuat masalah. Anak itu susah diatur."

"Baiklah, Tuan Jackson." gagapku.

Anthonio menyerngit kemudian mengoreksi, "Anthonio." Sementara aku hanya bisa menjawab dengan anggukan. Terlalu gugup untuk mengeluarkan suara.

Aku berjengit kaget ketika seseorang menyikut pinggangku iseng. Dan saat aku menatap siapa pelakunya, aku mendapati Stephanie dengan senyum jail andalannya. "Lega mendapat persetujuan calon mertua?" candanya.

Wajahku merona. Oh astaga, sejak kapan dia dibelakangku? Dan bagaimana bisa aku tak mendengar suara langkahnya sama sekali?

"Steph," desisku. Sementara Stephanie hanya melenggang pergi menuju sebuah kursi dengan ukiran indah pada punggungnya, dan menepuk sebelahnya isyarat untukku duduk disana.

Jocelyn keluar dengan senampan coffee yang masih mengepul, kemudian berbicara pada Athonio dengan perhatian yang begitu terlihat, "kau menakutinya, sayang. Dan kupikir aku harus memanggilmu dulu tadi," katanya sembari mengambil tempat duduk didekat Anthonio yang berkata "Menemui anggita keluarga baru kita itu penting." Jocelyn mengalihkan perhatiannya padaku yang masih mematung, "duduk lah dimanapun kau suka, Emily! Sam sedang memanggil Nico."

"Ya," sahut Stephanie, "Kudengar dia sedang panik. Bingung baju mana yang harus digunakan saat menemui Emily-nya."

Bola mataku berotasi, ketika mendengar ucapan penuh godaan yang dilontaskan oleh Stephanie. Apalagi ketika melihat seringai jahil, sekaligus matanya yang seolah ikut berbicara. "Yang benar saja, Steph."

"Oh itu benar, Emily."

Anthonio, dan Jocelyn tertawa. Seolah memang benar apa yang dikatakan oleh Stephanie. Tapi, apakah mungkin Nicholas akan berekasi sedemikian rupa?

Steve, dan Eveline datang dengan dan mengambil tempat duduk berdampingan. Menyisakan 1 tempat kosong disebelahku, dan satu lagi disebelah jocelyn, satu lagi di samping Steve -yang entah kenapa aku berpikir itu adalah tempat Ana-, "Lasagna?" tanya Steve dengan sebelah alisnya yang terangkat heran. "Sejak kapan Jocelyn bisa memasak, masakan italian?"

Oh aku baru tahu ini namanya Lasagna.

Jocelyn mengangkat bahunya, dengan ringan dia menjawab, "tadi."

Anthonio terkekeh, "kau yakin itu enak, Joce?"

Ketika Joce mencubit lengan Anthonio gemas, Stephanie tergelak, Eveline terkekeh, sedangkan Steve hanya tersenyum yang paling tenang, seperti biasa. "Itu bakal enak," kata Joce terlihat sangat yakin, "aku tak tahu apa kesukaan Emily, jadi kubuatkan sesuatu yang berbeda. Kuharap kau suka."

Aku mengangguk gugup. Sekaligus merasa tak enak karena telah merepotkan Joce. "Maaf merepotkanmu, Jocelyn."

"Jangan sungkan. Aku menyukai apa yang kulakukan."

Kami menatap anak tangga ketika seseorang turun setengah berlari disana. Nicholas dengan senyum senangnya berlari dengan sedikit terpincang. Oh ternyata benar. Aku menatapnya cemas, ingin mengikatkannya tapi melihat Sam yang berjalan dengan wajah masam dibelakangnya, kurasa Nicholas takkan mendengarkan teguranku.

Dia menggunakan celana jeans hitam, dan baju lengan panjang yang terlihat sangat pas untuk tubuhnya. Rambutnya disisir rapi meski sedikit berantakan di bawah topi miringnya. Dia tetap Nicholas, tetap menawan seperti biasa.

Namun sepertinya bukan aku saja yang khawatir pada Nicholas sekarang,
"Nicholas jangan berlari di tangga."

Nicholas tak mengindahkan teguran Jocelyn, malah melompat kearahku dan menarikku berdiri kemudian memelukku. Nicholas nyengir lebar, "hei kau benar-benar berkunjung? Kupikir Sam hanya membual tadi?"

Sam mendengus mengambil tempat duduk sebelah Jocelyn, "tak ada untungnya membohongimu."

Stephanie terkikik, "oh lihat rasanya seperti aku melihat sepasang kekasih yang tak bertemu selama ratusan alih-alih- ouch, Sial Eveline jangan menendang kakiku!" Dan sepertinya kata-kata Stephanie berikutnya terlalu ekstrim.

Tapi benar, ucapan Stephanie cukup memalukan beruntung Eveline menghentikannya. Jadi sebelum hal yang sama terjadi, kudorong tubuhnya pelan, karena selain malu rasanya sesak juga dipeluk seerat ini. Akan tetapi melihat ekspresi kecewa Nicholas, membuatku merasa bersalah juga. Jadi aku menggenggam tangannya. Menenangkannya meski jantungku sendiri bergerak tak terkontrol. "Kau baik-baik saja?"

"100%," jawabnya dengan semangat yang aneh. Matanya tak terlepas dari tangan kami yang tertaut seolah hal kecil ini saja membuatnya sangat bahagia. Namun pertanyaannya selanjutnya membuatku memekik, "boleh aku menciummu?"

"Ap-? Tidak!" Jawabku terlalu cepat.

Jocelyn berdeham. Membuat kami melepas tangan, ketika menyadari bahwa kami telah tenggelam berdua terlalu lama. Nicholas tertawa, sedangkan aku merona. Mencoba mencairkan suasana, apalagi ketika Stephanie mulai mengerling dan membuatku merasa bahwa Stephanie punya niat buruk dikepalanya, Nicholas mendudukkanku, dan dia sendiri mengambil tempat disebelahku.

Makan malam kali ini berlangsung dengan tenang. Melihat cara makan mereka yang begitu tenang, dan elegan membuatku malu sendiri. Rasanya memotong lasagnanya saja terasa sulit. Beberapa kudapati Nicholas mencuri pandang seolah dia sama sekali tak terkesan dengan makanannya. Namun yang lain tetap acuh saja. Karena aku terlalu keenakan dengan rasa dimulutku. Rasanya sangat luar biasa, dagingnya benar-benar enak. Dan astaga aku tak tahu apa saja yang ada didalamnya tapi ... aku kehabisan kata-kata untuk mengungkapkannya.

Sementara aku mengunyah pelan-pelan, membuatku masih menyisakan setengah bagian padahal yang lain sudah mulai kehabisan Lasagna mereka masing-masing. Stephanie yang menghabiskan bagiannya paling awal. Langsung berdiri, namun delikan Jocelyn mendudukkannya kembali dengan muka tertekuk, "Keluar meja makan bersama-sama!"

Eveline mendengus mengejek, sementara Nicholas benar-benar melakukannya, "Kau terburu-buru untuk panggilan alam?"

Jocelyn mendesis marah, "Jangan membuat lelucon itu dimeja makan."

"Sorry," Nicholas terlihat benar-benar menyesal, "hanya bercanda, Mom."

Stephanie mendengus cuek, menatap Sam yang mengambil Coffee-nya dan berkata, "Karena sebentar lagi Emily bakal dimonopoli oleh Nico," aku tak bisa menhan diri untuk merona, "Sam main catur denganku!" Bukan ajakan, tapi perintah.

.

.

.

Thanks for Read

Bersambung ke Secret Of The World Chapter 9

Sqouts Shadows
2017-01-08 06:54:05
Ditunggu cerita berikutnya
Rudy Wowor
2017-01-07 18:32:55
Keluarga yang sangat menyenangkan.
daftar user · online · daftar penulis
halaman awal · group facebook