VersiTeks.com
Selain membaca versi teks anime dan manga, di sini kalian juga bisa membaca dan mengirim cerita karangan kalian sendiri, baik itu yang berupa cerita berseri, cerpen (oneshot), atau fanfiction.
login · register · kirim cerita · setting · kuis · chat game
home · versi teks · cerita karangan · oneshot · fanfiction · jadwal rilis


Silakan login atau register jika belum memiliki akun untuk menikmati berbagai fitur khusus di situs ini serta akses tanpa iklan-iklan yang mengganggu.
Pengguna Telegram? Coba game Kampung Maifam
Secret Of The World Chapter 7

2016-12-30 - Arina Ash > Secret Of The World
46 views | 3 komentar

Don't like, Don't Read

tombol Back masih nyala

flame hajar

.

.

.

enjoy with this story

.

.

.

Secret Of The World Chapter 7 - Bab 2 part 5
Penulis : Arina Ash



Sejujurnya ini luar biasa, tidak ini mengerikan. Diluar perkiraanku tentang hunian. Pasalnya saat aku keluar melewati pintu yang menghubungkan garasi dan rumah utama, hal pertama yang menyambutku adalah keagungan. Seolah aku berada didunia yang berbeda.

Ruangan ini luas, dan mewah. Satu set sofa beludru menghiasi sudut depan belakang pintu utama. Beberapa benda antik, dan cantik tersusun setelah deretan kursi. Jam dinding besar, yang selalu berdentang saat jarum menunjukkan tengah waktu berdiri di depan tembok putih mempesona. Jelas mereka adalah benda-benda mahal yang tak bisa kubayangkan berapa harganya. Beberapa ruangan lain tampak menghiasi, meski masih tertutup pintu kayu jati. Dan deretan tangga yang menghantarkan penghuni pada lantai berikutnya terasa pas tanpa merusak kemewahan.

Dan setelah beberapa menit terpana, yang bisa kuucapkan hanyalah : "Wow."

Steve merespon dengan desir tawa halus yang menenangkan. Dia memang seperti itu, lelaki berwibawa yang terus membawa aura tenang dan perlindungan kemanapun dia pergi. Sedangkan Stephanie cekikikan dibelakangnya. Tipikal Stephanie sekali.

"Well ... ini favorit Anthonio," jelas Stephanie, "tak ku duga reaksimu bakal selucu ini. Sepertinya aku ingin memberimu oleh-oleh salah satu dari mereka. Anthonio pasti tak keberatan."

"Tidak. Itu terlalu," aku bercicit kebingunga.

Melihat reaksiku, Steve mendelik memperingatkan Stephanie, namun bukannya merasa bersalah atau apa Stephanie hanya terkekeh senang atas reaksiku.

"Aku hanya terkejut, di dunia nyata benar-benar ada istana."

Steve menepuk bahuku pelan, "Yah .." tersenyum kikuk dan melanjutkan, "kurasa memang kami berlebihan. Tapi ku sarankan kau tak perlu segugup itu."

Aku mengulas senyum sungkan. Tak kusangka kekasihku begitu kaya. Aku bisa membayangkan beberapa bangunan lain dengan nama pemilik sama berdiri di kota lain. Aku jadi bertanya-tanya apakah aku yang hanya orang biasa ini pantas menjadi kekasih Nicholas.

Semua ini selera Anthonio. Kalau aku tidak salah, beliau adalah paman Campbell bersaudara. Yang artinya beliaulah yang mengantongi hak asuh atas mereka. Selera sangat elegan, bukan berarti aku berpikir jauh tentang pernikahan, tapi dengan aku yang seperti ini. Aku takut dia akan menolak kelasku.

Steve meremas bahuku pelan, memberi semangat dalam diam. Mencoba menenangkanku juga. "Ada yang kau takutkan?" tanyanya sedikit ehm was-was?

"Tidak," tepisku singkat. Sebisa mungkin berusaha menghapus kekhawatiran Steve.

Steve tersenyum kikuk, "yah jika kau mengkhawatirkan Anthonio, tenang saja, dia cukup baik."

Jika Steve yang berkata seperti itu aku bakal menerimanya dengan senang hati. Tentu saja dia begitu lembut, aku tak bisa membayangkan dia bohong tentang ayah asuhnya hanya untuk menenangkanku.

"Trims, Steve."

"Yeah."

Stephanie berjalan diantara Steve dan aku, mengapit lenganku. Mengabaikan Steve yang memelototinya atas ketidak sopanannya menyela kami berdua.

"Nicholas ada dilantai 2," kata Stephanie, "namun sebelum itu ada yang ingin bertemu denganmu."

Stephanie menarik tanganku meninggalkan Steve -yang menghela nafas dan berkata 'bersenang-senanglah'- menuju ruang lain setelah ruang tamu. Bisa kulihat sofa yang berjejer mengarah pada televisi yang menayangkan acara olahraga. Ruangan ini juga tak kalah mewah. Sofa, almari penuh cenderamata, dan lain-lain yang aku tak tahu apa namanya.

Stephanie melompat menduduki kursi disebelah penonton yang menyerngit tak suka, "Stephanie kau menggangguku," erangnya.

Gadis itu -Eveline- memiliki surai hitam legam yang selalu dikuncir, memakai topi rendah -yang aku tahu mengikuti kakak pertamanya Sam-, dan menguarkan aura mengantuk kemana-mana. Dia adalah yang paling pemalas, namun dia tetap memiliki tubuh atletis, oh ayolah siapa orang dari bagian keluarga ini yang tak memiliki tubuh atletis, dan digandrungi banyak orang?

"Ayolah Eveline, kau menyebalkan. Kenapa pula kau tak berangkat pagi tadi?" Stephanie merajuk, dan dengan seenaknya mengambil remot ditangan Eveline. Mengganti televisi ke channel entertaint mengabaikan raut sebal Eveline yang menatapnya seakan dia ingin mencabik.

"Sialan Steph jangan mengambil remotku sembarangan," desisnya tak suka, "dan aku baru kembali pagi tadi, kau tahu."

Stephanie mencibir, "Kau sudah lihat sejak pagi."

Melihat tingkah mereka, aku mencoba meredam tawa. Mereka lucu. Itu membuatku sedikit lega karena mereka tak seangkuh yang kukira. Dengan segala kekayaan ini, tak kusangka mereka masih bertengkar hanya untuk berebut televisi.

Eveline sepertinya menyadari keberadaanku. Karena dia berbalik dan memberi salam, "Hi, Emily, senang kau berkunjung." dan kembali bergelut dengan Stephanie tentang siaran olah raga yang belum selesai dia tonton.

Sebuah suara halus menginterusi pertengkaran mereka dari arah, ehm dapur?
"Eveline, Stephanie, bukankah tidak sopan membiarkan tamu berdiri dibelakang kalian, sementara kalian asyik menonton televisi?"

"Sorry." Eveline menyahut tak peduli.

"Oh ya ... bergabunglah kalau kau mau, Emily. Tak perlu sungkan. Kau juga Joce, aku punya acara bagus hari ini." Yang ini Stephanie tentu saja.

Reflek aku menghadapkan diri pada pemilik suara. Dimana aku mendapati wanita berusia kepala 3 dengan wajah luar biasa cantik, dan langkah yang anggun tengah menghampiri kami. Senyumnya begitu lembut, dan terlihat sangat keibuan sehingga aku tak yakin apakah ada orang yang tega membenci wanita dengan aura keibuan yang menguar kemana-mana.

Beliau menggunakan setelah kasual, dengan rambut coklat tua yang tertata rapi. Wajahnya putih pucat, dengan mata beriris coklat gelap yang meneduhkan. Bibir tipis, dan hidung bangir menambah kesan cantik miliknya. Wajah tirus, dan leher jenjang tak lupa membuatnya semakin mirip bidadari alih-alih manusia. Yang jelas beliau begitu mempesona.

"Maaf atas ketidak sopanan mereka, Ms. Scott."

"Emily," koreksiku.

Beliau tersenyum lembut, meraih tanganku dan memperkenalkan diri, "Aku Jocelyn Jackson. Kau bisa memanggilku Jocelyn saja. Seperti yang kau tahu, aku adalah bibi mereka."

"Okay, Jocelyn," ucapku hati-hati.

Jocelyn mengantarkanku kearah dimana dia baru saja keluar. Stephanie melambaikan tangannya riang pada Jocelyn sekejap meminta maaf secara tersirat sebelum banyak teriakan tak suka lainnya dengan topik sekarang giliranku nonton tv setelah jeda iklan ini. Oh apa mereka tak punya televisi lain?

"Mereka nakal sekali," gumam Jocelyn disebelahku.

"Maaf?"

Jocelyn tertawa lembut, "Stephanie memiliki televisi dikamarnya sendiri," jelasnya. Dan tentu saja, mereka kan kaya. "Tapi entah kenapa mereka berdua suka berebut televisi itu."

"Well kupikir itu malah menunjukkan mereka akrab?"

Jocelyn mengangguk tampak senang dengan pemikiranku, "Aku senang kau berpikir demikian. Sejujurnya aku takut kau berpikir mereka hewan buas yang sulit dikendalikan."

"Mereka baik."

"Senang mendengarnya."

Kemudian dia mendudukanku pada salah satu kursi di ruang makan mereka. Dan sungguh ini terlalu mewah. Perabotan makan yang seperti terbuat dari perunggu terbaik. Keramik yang aku takut untuk memehangnya dan membuatnya pecah. Meja kayu yang terlihat kokoh berlapis kaca. Oh ini sangat berbeda dengan rumah kecil kami.

"Aku akan memanggil Nico, kita makan siang bersama sebelum," Jocelyn menjeda, kemudian tersenyum dan melanjutkan, "kalian menghabiskan waktu berdua. Kau pasti lapar bukan. Tadi Sam telah menelpon terlebih dahulu saat kau mau mampir. Jadi aku dan Anthonio masih bisa bersiap-siap."

Aku merona.
Namun aku tak bisa menolak kebaikan mereka, "Thanks Jocelyn, aku jadi merasa merepotkan kalian."

Jocelyn menggeleng, dan berkata, "Aku malah senang kau mau mampir, Emily."

Saat itulah aku sadar Mr. and Mr. Jackson mengetahui hubungan kami. Aku menjadi merasa bersalah telah memikirkan yang tidak-tidak tadi.

.

.

.

Thanks for read,

Mind to comment?

Bersambung ke Secret Of The World Chapter 8

Sqouts Shadows
2016-12-30 12:25:28
Lanjut vroh
Rudy Wowor
2016-12-30 11:39:21
Kebingunga/kebingungan? Setelah/setelan? Memehangnya/memegangnya?
PUZIENK
2016-12-30 09:30:50
Kata2 pembuka so sweet
Baca Semua Komentar dan Balasan
daftar user · online · daftar penulis
halaman awal · group facebook