VersiTeks.com
Selain membaca versi teks anime dan manga, di sini kalian juga bisa membaca dan mengirim cerita karangan kalian sendiri, baik itu yang berupa cerita berseri, cerpen (oneshot), atau fanfiction.
login · register · kirim cerita · setting · kuis
home · versi teks · cerita karangan · oneshot · fanfiction · jadwal rilis


Silakan login atau register jika belum memiliki akun untuk menikmati berbagai fitur khusus di situs ini serta akses tanpa iklan-iklan yang mengganggu.
Like Halaman Baru KOPBI, Official Komik One Piece Bahasa Indonesia, selain itu palsu :D
Memerangi Undead Chapter 19

2017-01-10 - Demith > Memerangi Undead
59 views | 2 komentar

Judul : Memerangi Undead

Genre : Adventure, Actions, Romance.

Author : Demith Ao Tian

Memerangi Undead Chapter 19 - Hati Seorang Pria
Penulis : Demith

***

Ken Arif point of view

***

Levina Momo tampak cantik seperti biasanya. Melihat bagaimana ia duduk di sebuah batu besar tepi danau sembari menikmati sinar matahari pagi, hal itu membuatku tak mampu berkata apa-apa.

Cantik, anggun, tak tersentuh. Kehadirannya bagaikan sosok yang sudah sepantasnya berada di atas keberadaan para manusia.

Tidak tahu bagaimana mendeskripsikannya. Namun, satu hal yang kutahu, dia bagaikan Dewi yang memberikan harapan pada manusia untuk bertahan di masa kekacauan ini.

"Momo!"

Dari jarak sekitar seratus meter, aku memanggilnya. Seolah menantikanku, ia berbalik dan tersenyum sembari berkata, "Sudah kuduga kamu akan datang mencariku hm."

Senyum indah di wajahnya adalah sesuatu yang pantas dikagumi. Jika malaikat pencabut nyawa memiliki penampilan sepertinya, kuyakin akan banyak lelaki jones menawarkan diri layaknya orang-orang miskin saat pembagian zakat ataupun sembako.

"Tentu!" jawabku. "Kita masih memiliki banyak hal untuk dibicarakan, bukan?"

"Mm," jawabnya singkat sembari mengangguk.

Meski hanya dengan hal sekecil itu, ia telah menunjukkan betapa elegannya seorang Levina Momo.

Namun, bukan hal itu yang membuatku begitu betah berbicara dengannya. Bahkan, saat kami larut dalam pembicaraan, sering kali aku melupakan kehadiran seorang gadis yang belakangan ini selalu membuatku memikirkannya.

Aku tidak begitu ingat sejak kapan. Tapi, kurasa aku jatuh cinta pada gadis itu. Cinta yang berbeda dari bagaimana aku mencintai Sekar.

Gadis itu terkadang menyebalkan, rewel, berisik dan mengganggu. Tapi, di sisi lain ia juga kerap menunjukkan sisi lembutnya, imut, enak diajak bicara, keras kepala dan beragam hal lainnya yang membuatku mau tak mau mengapresiasinya.

Mungkin ini aneh, tapi ... kurasa aku telah terlanjur mencintainya. Cinta kepada seseorang yang sering ayah dan ibuku sebut sebagai 'separuh jiwa'.

"Hmm? Ken ... ada apa?"

Aku kembali dari alam pikirku ketika suara lembut dan merdu Levina Momo membangunkanku.

Dengan menggeleng kecil, aku membalas, "Tidak apa. Hei, Momo. Hari ini, teknik apa yang akan kau ajarkan padaku? Hehe, setelah melakukan apa yang kau ajarkan, sekarang pengendalian terhadap kekuatan liarku menjadi lebih stabil!"

Mungkin aku terlanjur bahagia setelah bangun pagi tadi dan menyadari kekuatanku menjadi lebih stabil dan daya yang dapat kugunakan dalam kondisi normal meningkat. Dengan cara ini, kupikir tidak perlu babak belur terlebih dahulu untuk meningkatkan batas.

"Hmm, coba kupikir terlebih dahulu... bagaimana dengan [Demos Summ]?"

"[Demos Summ]? Apa itu?"

Levina Momo mengela napas lembut, kemudian menatap langsung ke arah mataku. Meski sudah berulang kali, entah kenapa setiap ia melakukan hal ini, aku tak mampu menatap langsung ke arah matanya dan menunduk untuk menghindari kontak mata.

"[Demos Summ] merupakan teknik pemanggilan Iblis Penjaga para Demonic Cultivator. Dengan kata lain, memanggil rekan bertarung maupun berlatih. Seperti makhluk panggilan lainnya, antara pemilik dan panggilan secara langsung terhubung oleh jiwa sehingga memudahkan dalam segala macam kontak."

Hmm, entah kenapa aku tidak begitu mengerti. Tapi,
aku merasa teknik ini merupakan hal yang luar biasa.

"Ja-jadi, bagaimana cara menggunakan teknik itu?!" tanyaku penasaran.

Mendengar pertanyaanku yang bersemangat seperti anak kecil yang dijanjikan akan diberi mainan idamannya, ia tersenyum getir. Meski begitu, ia tetap cantik seperti biasanya.

Sebelum aku bisa menarik kembali kata-kataku karena kurasa sedikit kurang sopan, ia menutup mata dan menggumamkan sesuatu.

Aku tidak dapat mendengar gumamannya dengan jelas. Akan tetapi, aku yakin ia sedang melantunkan sesuatu. Semacam mantra sihir seperti legenda penyihir kuno. Ketika aku ingin bertanya, ia membuka mata dan mengakhiri lantunannya.

Dari udara kosong yang berada di depan dadanya, tercipta aura kuat dan kental dalam balutan cahaya merah terang yang berawal dari seukuran kelereng hingga akhirnya membentuk sebuah kubus merah darah.

Tangan Levina Momo terulur ke arah kubus dengan ujung jari telunjuknya menyentuh titik aneh yang tampak seperti tombol. Seketika itu kubus tersebut berubah menjadi partikel-partikel cahaya dan membentuk sebuah buku dengan ketebalan sekitar 5 cm.

"I-ini?" tanyaku gugup.

"Kamu pelajari sendiri dari buku ini karena aku bukanlah Demonic Cultivator sepertimu."

Setelah mengatakan itu, Levina Momo berdiri, kemudian menyerahkan buku tersebut padaku. Setelahnya ia kembali ke batu besar yang sebelumnya dan duduk. Wajah putihnya tampak pucat dan letih.

Kupikir yang tadi sangat menguras energinya.

Setelah mendapatkan apa yang kuinginkan dan melihat Levina Momo dalam kondisi seperti itu, aku tidak tega mengganggunya lebih jauh.

"Kalau begitu, aku akan mempelajarinya. Hmm, ah benar! Sepertinya di sana ada sebuah goa yang sangat cocok untuk bermeditasi," ucapku. "Momo, terimakasih! Ah, dan juga, beristirahatlah. Kau tampak kelelahan."

Levina Momo mengangguk sembari membalas dengan "Un..." singkat.

Setelah sekali lagi mengucapkan terima kasih dan menyarankannya untuk beristirahat, aku segera kembali ke tenda. Memberitahukan Ayu rencanaku bermeditasi dan kemudian pergi.

Aku akan cepat menyelesaikannya dan segera kembali, Ayu.

Entah kenapa, hatiku terasa berat untuk meninggalkan Ayu. Meski ada Levina Momo yang kuat berjaga, tapi sebuah perasaan tidak mengenakkan membebani hatiku. Terutama setelah kupikir-pikir kembali betapa suramnya Ayu tampak beberapa hari ini.

Apapun itu, kuharap hanya perasaanku saja. Mungkin beberapa hari ke depan akan menjadi hari paling membosankanku. Tapi, aku harus menjalaninya.

Demi umat manusia, demi orang-orang yang masih berharap, demi diriku sendiri, demi Sekar dan juga demi Ayu-ku.

***

Ken Arif' POV end

***

to be continue...

Bersambung ke Memerangi Undead Chapter 20

Gouenji Shuuya
2017-01-11 12:17:24
Nyumbang klik dulu kapan2 kalau ada waktu ku baca mari kita buat hubungan mutualisme.. kutunggu di ceritaku
Rudy Wowor
2017-01-10 10:40:22
Belum ada pertarungan juga ya.
daftar user · online · daftar penulis
halaman awal · group facebook