VersiTeks.com
Selain membaca versi teks anime dan manga, di sini kalian juga bisa membaca dan mengirim cerita karangan kalian sendiri, baik itu yang berupa cerita berseri, cerpen (oneshot), atau fanfiction.
login · register · kirim cerita · setting · kuis
home · versi teks · cerita karangan · oneshot · fanfiction · jadwal rilis


Silakan login atau register jika belum memiliki akun untuk menikmati berbagai fitur khusus di situs ini serta akses tanpa iklan-iklan yang mengganggu.
Like Halaman Baru KOPBI, Official Komik One Piece Bahasa Indonesia, selain itu palsu :D
Memerangi Undead Chapter 18

2017-01-09 - Demith > Memerangi Undead
49 views | 3 komentar | nilai: 8 (1 user)

Judul : Memerangi Undead

Genre : Adventure, Actions, Romance.

Author : Demith Ao Tian

Memerangi Undead Chapter 18 - Kau dan Aku
Penulis : Demith

Pintu hotel tua itu terbuka. Berdiri setelah pintu yang membatasi kedua sisi tersingkirkan, seorang pemuda tampan dengan pakaian hitam dan penuh luka berdiri sembari menenteng beberapa ekor kelinci serta tersenyum lebar.

"Aku kembali, Sekar."

Gadis yang beberapa saat lalu masih menatap langit gelap itu berbalik. Dengan senyum yang tampak tidak natural, ia membalas, "Selamat datang kembali, Cahyo."

Gadis itu tertegun untuk sesaat. Entah kenapa, ketika ia mengatakan kalimat itu, segelintir kebahagian mekar di dalam hatinya. Namun, dengan segera ia kembali ke mode muka datar. Menatap Cahyo yang tampak terluka, kemudian berjalan mendekat dan mengambil kelinci dari tangan pemuda itu.

"Aku akan memasak makan malam. Kamu mandi, ganti baju dan rawat lukamu sendiri."

Ketika Cahyo mendengar sambutan Sekar yang tersenyum, ia merasa sangat bahagia. Meski tampak jelas senyum di wajah wanita tercintanya itu tampak tak natural, setidaknya ia berpikir Sekar telah mulai membuka hatinya. Ia yakin, suatu saat nanti mereka pasti bisa bersatu. Bukan karena cinta satu sisi, namun saling mencintai satu sama lain.

Oleh karena itu, ketika kalimat selanjutnya keluar dari bibir mungil Sekar diikuti tidakannya yang meninggalkan Cahyo untuk mengurus luka sendiri dan pergi memasak, ia hanya menghela napas. Ia tidak membenci kemajuan yang lambat ini. Hanya saja, ia selalu dan selalu ingin yang lebih dari perempuan yang dicintainya itu.

Ketika punggung Sekar telah hilang dari batas pandangnya, ia memasuki kamar dan menuju ke jendela di mana Sekar berdiri sebelumnya.

Ia menatap ke langit malam dalam posisi yang serupa dengan Sekar. Pupil hitamnya mencerminkan pantulan bulan yang indah. Namun, emosi suram menyelimutinya.

"Aku yakin, suatu saat nanti hatimu akan dapat kumiliki sepenuhnya, Sekar."

Ia bergumam, menutup mata, kemudian meringis ketika angin malam yang dingin dan berembun membelai luka-luka di tubuhnya.

Setelah kembali membuka mata, ia berbalik dan berjalan ke arah lemari.

"Pertama, aku harus mandi, berganti pakaian, kemudian merawat lukaku sendiri."

Ia tahu, mandi dengan luka semacam itu hanyalah menyiksa diri sendiri. Tapi, apa boleh buat? Semua ini adalah perintah perempuan yang ia cintai.

"Ugh..."

Ia merintih kecil ketika mengambil pakaian bersih dari dalam lemari.

Tak seperti biasanya, kali ini seorang Death Knight Komander dipersenjatai dengan pedang yang aneh. Sejak ia terluka hingga sekarang, luka akibat serangan pedang itu tidak menutup sama sekali. Seolah, kutukan yang menekan regenerasi vampire terinstal dalam pedang tersebut.

Ia memegangi bagian perutnya yang terluka itu. Setelah berpikir sesaat ia mengambil salah satu kain putih bersama pakaian bersih dan handuk, ia
berjalan menuju lemari kecil berisikan obat.

"Kurasa yang ini."

Setelah mengambil apa yang ia butuhkan, Cahyo keluar ruangan dan pergi menuju kamar mandi. Sesampainya di kamar mandi dan melihat air di dalam bak mengepulkan asap tipis, ia mengeceknya dengan tangan telanjang.

"Hangat," gumamnya.

Sebuah senyum bahagia terukir di wajah tampannya. Dalam otaknya, ia terus mengatakan 'ini hanya menyediakan air hangat untuk mandi' tapi, tetap saja. Siapa Sekar? Dia adalah gadis yang selalu ia sukai dan cintai tapi terus menolaknya. Bahkan memperlakukannya dengan dingin. Hal kecil semacam ini membuktikan bahwa jauh di kedalaman hati gadis itu, sekarang telah ada dirinya. Meski mungkin masih berada di antara garis tipis untuk menjadi kenyataan.

"Aku akan berusaha keras untuk tetap mempertahankan diriku di dalam hatimu, Sekar."

Mengatakan itu, ia segera melepas seluruh pakaiannya dan mengambil satu gayung air hangat.

"Sssth!"

Ketika lukanya tersiram, ia mendesis dan baru saja kembali sadar bahwa perutnya terluka. Namun, bukannya memperlihatkan ekspresi kesakitan, ia tertawa. Tertawa lepas karena hal kecil yang telah Sekar lakukan untuknya.

"Aku mencintaimu, Sekar!" teriaknya.

Teriakkan sekuat tenaga itu tentu saja terdengar hingga dapur.

Untuk sesaat Sekar menghentikan pekerjaannya memotong daging kelinci, namun ia segera melanjutkan kembali. Tapi, tak seperti sebelumnya yang tanpa emosi, kini ia tampak melakukan pekerjaan itu sepenuh hati sembari senyum indah terpampang di wajah cantiknya.

Dengan suara yang kecil hingga tak seorang pun dapat mendengarnya, ia bergumam, "Aku tahu."

to be continue...

Bersambung ke Memerangi Undead Chapter 19

Gangster V
2017-01-11 12:16:12
Nyumbang klik dulu kapan2 kalau ada waktu ku baca mari kita buat hubungan mutualisme.. kutunggu di ceritaku
ZaNdZ
2017-01-10 13:42:30
berawal dari benci menjadi suka seiring waktu bersama.
Rudy Wowor
2017-01-10 10:32:01
Cie cie cinta-cintaan.
Baca Semua Komentar dan Balasan
daftar user · online · daftar penulis
halaman awal · group facebook