VersiTeks.com
Selain membaca versi teks anime dan manga, di sini kalian juga bisa membaca dan mengirim cerita karangan kalian sendiri, baik itu yang berupa cerita berseri, cerpen (oneshot), atau fanfiction.
login · register · kirim cerita · setting · kuis
home · versi teks · cerita karangan · oneshot · fanfiction · jadwal rilis


Silakan login atau register jika belum memiliki akun untuk menikmati berbagai fitur khusus di situs ini serta akses tanpa iklan-iklan yang mengganggu.
Like Halaman Baru KOPBI, Official Komik One Piece Bahasa Indonesia, selain itu palsu :D
Memerangi Undead Chapter 17

2017-01-09 - Demith > Memerangi Undead
59 views | 2 komentar

Fist update in 2017

Memerangi Undead Chapter 17 - Hati Seorang Gadis
Penulis : Demith

"Bagaimana aku harus memperlakukan kalian berdua, manusia?"

====

Cahaya bulan memantul dalam garis lurus di atas danau tempat Ayu mengemas air bersih.

Dalam kondisi bencana semacam saat ini, mencari stok air bersih bukanlah hal mudah.

Lupakan tentang air bersih, bahkan untuk menjumpai danau tanpa polusi oleh limbah kematian, dengan perbandingan 1/1000 merupakan suatu keberuntungan.

Hah...

Ayu menghela napas. Bola mata besarnya berbinar oleh pantulan cahaya dari danau, seolah lampu kota berada di dalam kedua bola mata indahnya.

"Apa ini ... tidak apa?"

Sekitar tiga hari yang lalu, seorang perempuan dengan kecantikan layaknya Dewi datang entah dari mana asalnya. Seolah dia merupakan malaikat yang diutus untuk menyelamatkan mereka, dalam sekejap monster yang hampir membunuh Ayu dan Ken dapat dibinasakan.

Kekuatan yang mengagumkan. Tapi...

Ia tidak tahu mengapa. Meski perempuan itu tampak seperti malaikat dan terus menolong keduanya sebab tujuan mereka searah, tapi ia merasakan sesuatu yang tak mengenakan setiap kali mata perempuan itu bertemu dengan matanya. Semacam kesadaran dalam lubuk hatinya terus memperingatkan bahwa perempuan itu berbahaya.

Meski begitu, apa yang bisa ia lakukan? Ken Arif, selaku pemimpin kelompok antara keduanya dengan tangan terbuka dan senyum lebar menyambut perempuan cantik tersebut ke dalam tim.

"Sakit...."

Sudah tak terhitung jumlahnya ia menggumamkan kata tersebut sembari menekan ke arah dadanya.

Suatu perasaan aneh yang membuatnya dadanya terasa sesak dan sakit terus terulang ketika ia membayangkan betapa dekat Ken dan perempuan itu. Bagaimana mereka tenggelam dalam pembicaraan, tertawa, bahkan dalam setiap bentuk interaksi di antara keduanya membuat dada Ayu semakin sesak.

Ayu menggeleng-gelengkan kepalannya ke kiri dan ke kanan, seolah ia berusaha menyingkirkan pikiran yang membuat dadanya sesak itu. Kemudian, menyadari kantong air yang ia celupkan ke danau telah penuh, ia berdiri sembari memikul sekantong besar penuh air tersebut. Kemudian berjalan menjauhi danau dan menuju tempat mereka berkemah.

Sesampainya di perkemahan, hal pertama yang ia lihat adalah sepasang laki-laki dan perempuan yang duduk berdampingan sembari memanggang kelinci liar. Dilihat dari ekspresi mereka ketika larut dalam pembicaraan sembari memanggang, tampak jelas kehadiran Ayu yang membawa sekantong air tidak mereka sadari.

Ayu menghela napas dan meletakkan kantung air di samping tenda. Tak jauh darinya, keduanya tampak sedang berbicara dan bercanda.

Aku tahu hal semacam ini tak terelakkan.

Berpikir saat terbiasa dengan pemandangan semacam itu, ia akan baik-baik saja, ia terus bertahan. Tapi, semakin sering ia melihat kedekatan keduanya, semakin sakit dan sesak yang ia rasakan di dalam dada gadisnya.

Ia tidak tahu, perasaan aneh macam apa ini. Sebelumnya ia tidak pernah merasakan hal serupa. Bahkan, ketika ia melihat kemesraan antara Cahyo dan Erin yang tentunya lebih intim, ia tak pernah berada dalam situasi semacam ini. Jangankan sesak, bahkan ia tak merasa cemburu sedikitpun.

Ada apa denganku?

Ia berpikir. Mungkinkah ia telah jatuh cinta pada lelaki yang belum lama dikenalnya itu?

Ayu menggelengkan kecil, menolak pemikiran tersebut. Dalam hatinya, ia terus menanamkan kata-kata bahwa ia menemani Ken dalam perjalanan ini dan membantunya semata-mata untuk membalas budi atas pertolongan sebelumnya. Jika bukan karena Ken, mungkin ia telah menjadi mayat dan bergabung dengan kelompok zombie.

Meskipun dalam perjalanan sebelumnya ia sering kali menggoda Ken, hal itu semata-mata ia lakukan untuk menutupi kecanggungan di antara keduanya. Tidak pernah sekalipun terlintas dalam benaknya bahwa ia melakukan hal tersebut dari hati. Tapi ... kenapa dadanya terasa sesak dan sakit setiap kali ia melihat Ken dekat dengan perempuan itu dan bahkan mengabaikan dirinya?

Ia tidak tahu, dan tak mau mengakui kebenarannya. Dari setiap mili bagian otaknya menolak untuk mengakui bahwa ia telah jatuh cinta pada pria yang telah menyelamatkannya itu.

"Hmm?"

Seolah menyadari keberadaan Ayu yang terus menatap keduanya dari beberapa meter di sisi kiri mereka, perempuan itu tersenyum.

"Ah, kamu sudah kembali. Cepat ke sini dan bergabung dengan kami memanggang kelinci," sapanya dengan senyum.

Ayu tidak bisa menemukan kesalahan maupun niat jahat dari perempuan itu. Namun, entah mengapa hatinya berbicara untuk menolak niat baik itu dan menjaga jarak di antara mereka. Meski begitu, ia hanya tersenyum, mengangguk, kemudian bergabung dengan keduanya.

Ia tahu hal tersebut akan menyiksa hati rapuhnya. Namun, apa yang bisa ia lakukan ketika Ken juga menatapnya penuh harap seolah benar-benar ingin dan bahagia dengan Ayu bergabung bersama mereka.

Meski tentu saja, ketika perempuan itu kembali mengajaknya berbicara, seluruh perhatiannya hanya tertuju pada wanita cantik bagaikan malaikat itu. Mengesampingkan Ayu yang suram di sisi lain.

Hah...

Kembali, helaan napas Ayu terdengar. Untuk kesekian kalinya, ia kembali dalam mode terabaikan.

Bahkan, pembicaraan keduanya tidak sama sekali masuk ke otaknya. Ia termenung dalam renungan tak tentu arah.

***

Sekar menatap ke luar jendela. Di langit gelap yang berhiaskan milyaran bintang, sebuah objek bulat bercahaya tercermin dalam bola mata hitamnya.

Ia berpikir. Sejak kapan hatinya menjadi tak tenang setiap kali memikirkan Cahyo yang pergi berburu ke luar dan bertarung dengan para Undead?

Bagaimana jika dia terluka? Apa yang akan terjadi jika dia tak kembali?

Hatinya menjadi gundah. Ia tidak tahu kenapa hal semacam ini terjadi.

Semestinya ia membenci Cahyo yang telah mengancurkan hidupnya dan membunuh teman baik yang telah ia anggap sebagai adik, Mawar. Tapi ... sejak kapan perasaannya berubah?

Mungkinkah sejak malam itu? Ketika Cahyo membobol pertahanan terakhirnya sebagai seorang gadis. Atau perasaan ini pelahan-lahan tumbuh karena perlakuan Cahyo terhadapnya yang bisa dikatakan sangat istimewa dan lembut? Bagaimanapun, selain malam itu, ia tidak pernah lagi memaksa Sekar. Ia hanya akan memintanya dengan lembut dan hati-hati setelah menghangatkan pembicaraan di antara keduanya. Bahkan, jika ia menolak, Cahyo tidak akan memaksa lebih jauh.

"Apa aku ... sudah jatuh cinta dengannya?"

Cinta. Ya, kata itu merupakan hal yang tabu baginya. Bahkan, Ken yang selama ini ia perlakukan istimewa hanya mendapatkan sisi kasih sayangnya. Kasih sayang seorang kakak perempuan terhadap adik laki-lakinya.

Itu adalah perasaan asli Sekar dengan ingatan dan kepribadian utuhnya. Maka, adalah hal yang normal cinta terhadap Ken tak pernah eksis dalam hati Sekar di kondisinya saat ini.

Angin malam berhembus membelai pipi putih mulusnya. Rona merah menghiasi kedua pipi cantiknya. Entah itu karena dingin yang angin malam bawa, atau hal lain. Hanya Sekar yang tahu.

to be continue...

Bersambung ke Memerangi Undead Chapter 18

Gangster V
2017-01-11 12:15:39
Nyumbang klik dulu kapan2 kalau ada waktu ku baca mari kita buat hubungan mutualisme.. kutunggu di ceritaku
Rudy Wowor
2017-01-10 10:27:49
Kasihan ayu.
daftar user · online · daftar penulis
halaman awal · group facebook