VersiTeks.com
Selain membaca versi teks anime dan manga, di sini kalian juga bisa membaca dan mengirim cerita karangan kalian sendiri, baik itu yang berupa cerita berseri, cerpen (oneshot), atau fanfiction.
login · register · kirim cerita · setting · kuis · chat game
home · versi teks · cerita karangan · oneshot · fanfiction · jadwal rilis


NEW!!! Sekarang kamu bisa melakukan register tanpa perlu melakukan proses validasi Facebook!!!

Silakan login atau register jika belum memiliki akun untuk menikmati berbagai fitur khusus di situs ini serta akses tanpa iklan-iklan yang mengganggu.
Pengguna Telegram? Coba game Kampung Maifam
Eldunari Chapter 12

2017-11-25 - Silverb > Eldunari
39 views | 4 komentar | nilai: 10 (2 user)

Senang rasanya bisa menulis kembali setelah sibuk sangat lama.

Ini chapter ke 12 dari 13 chapter Eldunari yang kemudian akan dilanjutkan ke buku kedua.

2 chapter terakhir akan lebih panjang dari chapter-chapter sebelumnya, Please Enjoy!

Eldunari Chapter 12 - Honorbringer
Penulis : Silverb

Chapter 12 – Honorbringer

Part 1

[Sirbel]

Bagian dalam kota Yuga terlihat seperti dunia lain. Sirbel dan kelompok yang pada saat itu mengendarai kereta kuda untuk pergi ke kastil, mereka tidak bisa melepas pandangan mereka keluar jendela kereta itu. Disaat bagian luarnya tidak jauh beberbeda dengan Bellato, bagian dalam kota ini terasa sangat asing.

Hal yang pertama adalah, kau tidak bisa melihat sinar matahari disini. Semenjak melewati gerbang batas, garis cahaya mentari tak terlihat sedikitpun. Akan tetapi, bukan berarti tempat ini gelap dan dingin. Sebuah benda berupa bohlam di letakkan di banyak sudut dan penjuru. Benda itu memancarkan cahaya dan kehangatan. Satu bola mempunyai intensitas cahaya dan panas yang berbeda dari yang lain.

Di langit-langit goa raksasa itu terlihat bintik-bintik cahaya berbinar layaknya bintang di langit malam. Kata Mordred itu adalah batuan yang hanya bisa ditemukan di gunung ini.

Bangunan-bangunan di bagian dalam kota juga tidak kalah menariknya. Bangunan disini tidak menggunakan pasta semen, melainkan diukir langsung dari batu-batu raksasa. Sehingga tidak terlihat sambungan-sambungan beton. Para Dwarf memang adalah pengrajin yang hebat.

"Bagian dalam kota Dwarf terkenal dengan hasil karya besi dan baja mereka. Jika kau membutuhkan pedang atau peralatan lainnya, disini kau bisa mendapatkan yang terbaik dari seluruh daratan Eldunari." Jelas Modred.

Beberapa menit berlalu, kami telah tiba di kastil raja. Bangunan raksasa yang menyatu dengan dinding gua itu terlihat megah dengan garis-garis emas di dinding dan tiangnya. Di puncak kastil itu terdapat batu permata yang mengeluarkan cahaya biru layaknya bulan di malam hari.

"Itu adalah jantung Lorkhan." Kata Modred. "Menurut legenda mereka, Lorkhan adalah raja pertama Dwarf. Dia adalah pengrajin terhebat, sekaligus pejuang terkuat. Intan itu adalah jantung Lorkhan yang dia berikan ke rakyatnya sebelum dia mati."

Kami semua menatap batu permata itu dan berangan ingin melihatnya dari dekat. Apakah bentuknya benar-benar seperti jantung?

Gerbang kastil dijaga oleh dua orang sentinel yang memakai tombak dan baju besi lengkap. Begitu melihat kami, mereka langsung membuka gerbangnya. Sepertinya mereka sudah mendengar kedatangan kami.

Halaman kastil tidak ditumbuhi bunga-bunga seperti kasti Bellato. Akan tetapi, mereka dipenuhi degan sebuah tumbuhan yang bersinar dari akar hingga daunnya seperti bulan di dunia nyata. Modred memanggilnya sebagai 'Lunaria'. Tumbuhan yang hanya bisa tumbuh di tempat tanpa cahaya matahari.

Memasuki pintu kedua ke interior kastil, seperti sebelumnya ada dua sentinel lagi yang membukakan pintuk untuk kami.

Bagian dalam kastil itu tidak jauh berbeda dengan kastil Bellato. Pedang, Lukisan, Patung, dan karya-karya seni lainnya dipajang di sepanjang koridor. Jendela-jendelanya tidak menggunakan kaca seperti kastil Bellato, melainkan hanyalah sebuah lubang-lubang persegi.

Begitu sampai di pintu aula raja, penjaga mengumumkan kedatangan kami.

"Modred Windrunner! Sirbel Rastal! Kaze Waltraute! Anna Elizabeth! Eru dan Enthar! Duta besar dari kekaisaran Accrecia telah datang!"

Pintu masuk pun dibuka dan kami berjalan ke dalam. Disambut oleh tatap puluhan dwarf tanpa senyum. Tidak seperti di kastil Bellato saat kami menghadap Elestra dimana semua orang berdiri kecuali ratu. Disini terdapat dua baris meja yang sangat panjang, puluhan kursi dan sangat banyak makanan dan minuman. Hal ini mengingatkanku tentang aula Valhala di mitologi Viking.

Tatapan para dwarf sama sekali tidak terkesan halus, membuatku sedikit canggung saat berjalan ke hadapan raja. Kami menundukan badan saat sampai di hadapan raja sebagai salam. Menurut tata krama Eldunari, pendatang tidak boleh berbicara sebelum raja. Oleh sebab itu kami hanya diam menunggu sampai aku menyadari bahwa Modred tidak menundukan badannya melainkan berdiri tegak!!

Apa yang kau lakukan pak tua! Apa kau tidak melihat tatapan mengerikan para dwarf itu!! Lihat! Mereka sudah memegang erat senjata mereka??!!!!

Raja yang melihat Modred berdiri pun ikut berdiri. Dia menatap mata Modred tanpa berkedip dan berjalan ke arahnya hingga jarak di antara mereka hanya tersisa satu langkah.

Suasana menjadi hening dan mencekam. Bahkan Anna yang selalu terlihat tenang kini mempersiapkan dirinya untuk yang terburuk.

Modred dan Sang raja dwarf kemudian bergerak secara tiba-tiba, serentak seluruh orang aula siap bergerak dan kemudian…

Raja memeluk Modred layaknya anak yang memeluk ayahnya karena tinggi sang raja hanya sampai di perut Modred.

Sang raja melepaskan pelukannya dan berkata, "Kupikir aku takkan bertemu denganmu lagi teman lama. Kau pergi begitu lama.".

"Maafkan aku karena tidak memberi kabar. Boro."

"Boro?" "Siapa Boro?" "Apakah orang itu baru memanggil raja kita Boro?"

Aku mendengarkan bisik-bisikan di kerumunan dwarf. Sepertinya tidak ada orang yang memanggil raja sebagai Boro.

"Kalian boleh berdiri." Kata Boro. "Jika kalian adalah sahabat Arthur. Maka kalian adalah sahabatku juga."

"Arthur?" x5 Kami semua terbingung.

Part 2.

[Sirbel]

"HAHAHAHAHAHAHAAHA!" Sang raja Dwarf dengan topi tanduknya mengayunkan kapak dalam keadaan
mabuk.

Suasana mencekam 30 menit yang lalu terlihat seperti ilusi sekarang. Aura raja terlihat seperti Tavern
raksasa. Puluhan para ketua clan dan pejabat-pejabat tinggi duduk bersama di dua meja panjang
yang dipenuhi berbagai macam makanan dan minuman. Membuatku mulai menghitung-hitung sudah berapa kali kami berpesta seperti ini semenjak berada di Eldunari.

"Aku tak menyangka kalau kalian tak menyadari bahwa kalian adalah teman seperjalanan si Hero legendaris. Gahahahahaha!!" Kata Boro sang raja Dwarf.

Aku meneguk Salazarku. "Dia memanggil dirinya Modred dan tidak begitu terlihat seperti Hero." Kataku.

"Hero ya… Aku selalu ingin melihatnya secara langsung." Kata Kaze. "Tunggu dulu… itu menjelaskan mengapa dia sangat Akrab dengan Lancelot."

"Lancelot? Kau bertemu dengannya?!" Tanya Boro. Yang membuat kelompok Sirbel terdiam.

"Boro… ada yang ingin kusampaikan padamu." Kata Arthur memegang pundak Boro yang membuat Boro sedikit bingung. "Lancelot… dia… meninggal dunia."

"…………." Boro terdiam. Tapi kau bisa melihat keterkejutan dengan jelas di matanya. Kemudian dia berdiri dari kursinya dan naik ke atas meja. Semua orang di Aula terdiam, tak ada satupun suara terdengar. Diambilnya sebuah tanduk yang tergantung di pinggangnya. Tanduk putih sekitar 25 cm yang dilubangi tengahnya itu dia isi dengan Salazar lalu diangkatnya untuk bersulang. Lalu dia berkata.

"Lancelot adalah orang yang sudah kuanggap sebagai saudaraku sendiri. Dia adalah satu-satunya beast clan yang mengalahkan semua dwarf dalam meneguk Salazar. Kurasa sebagian dari kalian masih mengingat duel kami berdua di bar 15 tahun yang lalu. Jika saja aku bisa bertemu dengannya lagi di Valhalla, aku akan mengajaknya untuk duel yang kedua kalinya. Untuk Lancelot!" Boro mengangkat gelasnya lalu meneguk minumannya.

"Ya." "Untuk Blood Wolf." Masing-masing para dwarf meneguk minumannya dari gelas gading mereka.

"Jadi, atas kehormatan apa aku mendapatkan kunjungan dari duta besar Accrecia?" Tanya Boro.

"Kami membawa pesan aliansi dari Ratu." Aku mengambil surat yang tersegel itu dari tas kecilku dan memberikannya pada Boro. Dia membuka dan membaca dengan minuman masi ditangannya.

Sebelumnya, Elestra menjelaskan bahwa surat itu berisi permintaan untuk mengirimkan bantuan ke area perbatasan beast clan. Beast clan sebagai ras tanpa kerajaan, telah diserap oleh pihak aliansi dan menjadi tanggung jawab bersama. Kerajaan Elf, Dwarf dan Manusia mengontrol sebagian besar area Beast Clan. Elestra meminta pihak Dwarf agar mengirimkan tentaranya untuk mengamankan daerah timur Beast Clan yang berbatasan langsung dengan Yuga.

"Maaf, aku tak bisa memenuhi permintaan ratu kalian." Boro melipat kertas itu dan mengembalikannya ke dalam amplop. "Kau mungkin sudah mendengarnya Arthur, bahwa ada ribuan demon dalam perjalanan untuk menaklukan Yuga. Aku tidak bisa menyediakan tentara untuk para Beast Clan sementara aku sendiri kesusahan untuk melindungi desa-desa kami yang dilewati tentara demon."

Modred dan Elestra mengangguk mengerti. Mereka sudah melihat apa yang dilakukan oleh tentara iblis pada Kalavata. Boro tidak bisa mengambil resiko memperlemah pertahanan mereka sendiri.

"Bahkan seharusanya, akulah yang harus meminta bantuan tentara dari Accrecia. Jika Yuga telah hancur, maka sasaran mereka selanjutnya adalah Bellato. Tentu saja dalam perjalanan kesana, mereka juga akan menghancurkan semua Desa Beast Clan yang mereka lewati."

"Accrecia akan mengirimkan semua bantuan yang kami mampu." Kata Elestra. "Jika kau mempunya kurir, aku bisa menuliskan pesan dengan segel ratu malam ini."

"Berbicara tentang ratu, aku belum pernah melihatnya sebelumnya. Terakhir kali aku menginjakan kaki ke Accrecia adalah delapan tahun yang lalu, saat Raja Eugen masih hidup. Kudengar Elestra
adalah penyihir terkuat. Magisa akan tertantang mendengar itu, Arthur." Boro terkikik.

"Magisa?" Tanyaku.

"Magisa adalah penyihir di kelompok kami dulu. Wanita itu bisa membakar sebuah gunung hanya dengan jentikan jari, dan itu bukan metafora." Boro meneguk salazarnya.

Mendengar itu Kaze melirik ke arah Elestra/Anna. Wajahnya seperti berkata, Apa kau bisa membekukan gunung?. Elestra membalasnya dengan senyuman kecil, Menurutmu?

"Boro." Bisik Modred/Arthur. "Aku ingin meminta sesuatu darimu."

"Katakan saja, brother."



Part 3.

Keesokan paginya Elestra memberikan surat yang tersegel dengan segel ratu kepada kurir dwarf yang kemudian mengambilnya dan menyimpan surat itu ke dalam kotak besi di pinggulnya. Kurir itu kemudian pergi dengan cepat, secepat dwarf bisa berlari.

"Dimana Sirbel?" Tanya Elestra pada Kaze yang duduk memakan sarapannya di tavern penginapan mereka.

"Dia dan Modred pergi ke istana pagi-pagi sekali. Sepertinya mereka akan berlatih lagi."

"Itu yang aku tidak mengerti. Sirbel seorang Hunter kan? Mengapa Modred lebih sering melatihnya dengan pedang daripada panah atau pisau?"

"Entahlah. Tapi kurasa Sirbel sudah sangat hebat dalam menggunakan panah dan pisau. Lagipula, tidak mengherankan jika Hunter mempunyai kemampuan berpedang."

"Aku merasa Modred sepertinya mengharapkan sesuatu yang lebih dari Sirbel. Terlebih lagi, saat kita mengetahuinya sebagai Arthur."
Elestra duduk di kursi di seberang meja Kaze. Gadis itu walaupun menyamar sebagai Anna, seorang gadis biasa, dia tetap tidak bisa menyembunyikan Aura kebangsawanannya. Cara duduk dan cara berjalannnya benar-benar berbeda dari orang biasa. "Aku merasa… bahwa kita sedang berada dalam sesuatu yang penting yang akan mempengaruhi nasib Eldunari. Dan kelompok kita akan akan menjadi kuncinya."

***

Permintaan Modred/Arthur pada Boro malam itu ternyata adalah untuk melatih Sirbel selama mereka berada di Yuga. Boro bersedia melatih Sirbel setiap pagi
sampai sebelum jam sepuluh, karena dia akan disibukkan dengan pemerintahan setelah itu.

Tempat latihan mereka adalah halaman belakang istana, tempat para tentara dan penjaga kastil berlatih dan melakukan apel pagi. Disitu juga terdapat barak dan gudang senjata. Boro memilih mereka berlatih tepat di tengah lapangan, sehingga mereka menjadi pusat perhatian dengan mudah, sesuatu yang tidak begitu disukai oleh Sirbel.

Raja Dwarf,
Boro. Atau Borobas Redmaul Yugabor menurut para dwarf. Wajahnya ditutupi oleh jenggot beruban dengan beberapa helai berwarna tembaga, pengingat masa mudanya. Dia kepalanya tepasang sebuah mahkota emas dengan batu ruby di tengahnya. Pagi itu sang raja menggunakan baju zirahnya. Dia mempunyai tinggi badan yang lebih tinggi dari dwarf lainnya. 5 inci lebih tinngi lebih tepatnya. Dia tetaplah seoarang dwarf yang hanya setinggi setengah badan Modred.

Aku tak mengerti apa yang ingin dicapai oleh Modred, melawan orang yang lebih kecil dariku tidak akan begitu bermanfaat. Pikir Sirbel.

Seperti
telah membaca pikiran Sirbel, Modred berkata "Dwarf adalah petarung tangguh. Mereka adalah kebalikan dari elf yang menghandalkan teknik dan kecepatan. Dwarf bertarung dengan kekuatan yang tak bisa dihentikan." Modred kemudian mengambil pedang baja dari rak yang telah disediakan dan melemparkannya ke arah Sirbel. Dia menangkapnya dengan susah payah.

"Tapi itu bukan alasan aku meminta Boro meminta melatihmu."

Boro kemudian merentangkan tangan kanannya ke samping dan kepalannya tercipta sebuah pedang
berwarna coklat gelap.

"King's Sword…" Gumam Sirbel.

"Honorbringer. Itu adalah nama pedang ini." Boro menjelaskan. "Diwariskan padaku tiga puluh tahun yang lalu. Harta paling berharga Yugabor. Merasa terhomatlah, karena anakku sendiri tidak pernah kulatih dengan pedang ini."

"Tentara iblis semakin mendekat, latihan konfensional tidak akan efektif lagi. Aku sudah mengajarimu konsep cara melawan King's Sword, ini hanyalah ujian praktek."

Walaupun Modred berkata seperti ini bukanlah hal yang besar, Sirbel tetap tidak bisa menghentikan getaran tubuhnya melihat pedang itu. Melihatnya dua kali saat Elestra menggunakannya sama sekali tidak mengurangi betapa mengerikannya pedang itu.

Tidak seperti Mist milik Elestra yang tipis, Honorbringer memiliki tebal sekitar setengah inci. Pedang itu memiliki lebar selebar paha dan memiliki lubang panjang dibagian tengahnya. Ujung pedang itu membentuk sebuah palang seperti kepala hiu martil. Bentuk pedang itu tidak efektif, tapi ini bukan pedang biasa. Pikir Sirbel.

"Boro." Boro berpaling ke Modred/Arthur. "Jangan gunakan aspek elemenmu. Aku belum mengajarinya cara menghadapi itu." Boro menggurutu seperti kecewa.

Sirbel memasang kuda-kudanya seperti yang diajarkan Modred jika menggunakan pedang pendek. Sejauh ini Modred sudah mengajarinya tiga kuda-kuda, dia menyebutnya sebagai Stance. Wolfstance, saat mengunnakan pedang pendek untuk duel. Warstance, digunakan dalam perang melawan banyak. Dan Bearstance, untuk pertarungan tengan kosong.

"Mulai!"

Mendengar itu Boro meluncur menerjang Sirbel.

Cepat! Sirbel tidak menyangka Boro bisa secepat itu. Dengan panik Sirbel menangkis sisi pedang itu dan membelokkan titik jatuhnya.
Pedang Boro terayun ke tanah, memotongnya seperti mentega kemudian mengalihkan ayunannya secara diagonal ke atas mengarah ke kapal Sirbel. Sirbel menunduk dan berguling ke arah belakang Boro. Sirbel berbalik mendapati punggung Dwarf itu terbuka lalu menusukan pedangnya, dengan cepat Boro memutar badan pedangnya dengan satu tangan. Pedang Sirbel bertemu dengan Honorbringer, terpotong dengan mudahnya sebelum mencapai badan Boro.

"Stop!" Teriak Modred.

Pertarungan tadi hanya berlangsung sedikit lebih dari satu menit, akan tetapi Sirbel sudah kesusahan untuk bernapas.

Aku tak bisa mengalahkannya. Tidak ada kemungkinan untuk mengalahkan pedang seperti itu sejak awal. Pikir Sirbel.

"Kembali ke posisimu Sirbel. Latihan ini masih jauh dari selesai."

Sirbel mundur beberapa langkah, kemudian memasang Warstance dan menggunakan pedang yang lebih panjang dan lebar kali ini (Broadsword), dia juga mengambil pedang pendek baru dan meletakannya di sarung pedang di pinggulnya. Pemegang King's Sword setara dengan seribu orang. Adalah salah menggunakan Wolfstance untuk melawan seribu orang.







"Apa kau yakin memakai pedang berat itu?" Tanya Boro. "Kau sudah cukup lambat dengan memakai pedang pendek."

Sirbel mengangguk, tapi tak menjawab. Dia terfokus memantapkan kuda-kudanya, dan mempererat genggaman pedangnya. Warstance memosisikan kaki kiri sirbel ke depan, tubuhnya menyamping dan kaki kanannya jauh ke belakang. Pedangnya mengarah ke belakang dan condong ke tanah untuk mengurangi beban berat pedang itu. Ayunan pedang itu bisa merobohkan pohon jika digunakan oleh orang seperti Sirbel yang kuat karena
sering berlatih dengan Gladius Kaze dan Hero Arthur.

Aku semakin tidak kelihatan seperti Hunter.

Boro masih menggunakan kuda-kuda seperti tadi. Sebenarnya lebih mirip berdiri tegak daripada kuda-kuda. Dia hanya berdiri santai dan memegang Honorbringer di tangan kanannya. Dia mengangguk ke arah Modred, mengatakan bahwa dia siap mulai kapan saja.

"Mulai!"

Boro menerjang seperti tadi, kali ini Sirbel tidak menangkisnya. Dia mengelak ke kiri kemudian menebaskan pedangnya secara horizontal ke arah depan Boro. Pedang itu begitu berat hingga Sirbel harus menggerakan kaki kanannya ke dapat untuk mengikuti momentumnya. Akan tetapi di luar dugaan, Boro melompat ke atas menghindari tebasan Sirbel. Boro lalu melempar pedangnya ke bawah, hampir mengenai Sirbel yang menghindarinya dengan cepat dengan melompat ke belakang. Sesaat setelah pedang itu mencapai tanah, pedang itu menghilang seperti di telan oleh angin. Menyadari itu, Sirbel menerjang titik jatuh Boro yang masih berada di udara saat itu dan mengayunkan pedangnya secara vertikal ke arahnya.

Di luar sangkaan, pedang yang hilang tadi muncul lagi di tangan Boro tepat waktu untuk menangkis tebasan Sirbel dengan tebasannya sendiri. Pedang Sirbel terbelah di bagian atas, akan tetapi momentum pedang sebesar itu tidak bisa dihentikan dengan mudah. Pecahan pedang sirbel terlempar ke arah barak, menghancurkan dindingnya. Sedang bagian bawah dan hulu pedangnya yang masih di genggam erat Silber menghantam tanah dengan keras. Bagian tengah lapangan itu hancur dan mengangkat debu serta serpihan-serpihan ke langit.

BELUM!

Mata Boro terbuka lebar, terkejut. Melihat pedang Sirbel tertancap ke tanah, tertinggal tanpa pemegangnya. Memasang kuda-kuda Wolfstance, Boro menajamkan matanya, mempersiapkan dirinya.

MASIH BELUM!

Dari arah kiri dia muncul. Sirbel menerjang Boro dengan pedang pendeknya, secara refleks Boro menebaskan Honorbringer. Ditangkis dengan mudah oleh Sirbel, Boro menebaskannya lagi dan lagi.

Dari luar arena, tak ada yang tau apa yang terjadi di dalam kepulan debu itu selain bunyi-bunyi pedang saling berbenturan. Beberapa prajurit seperti ingin maju masuk ke dalam arena untuk melihat kondisi raja mereka, akan tetapi dihentikan oleh Modred. "Kalian tidak akan selamat di pertempuran King's Sword.".

Tebasan demi tebasan diluncurkan kepada Silber, semuanya ditangkis dengan mudah dan cepat. Boro terpukul mundur sedikit demi sedikit, hinggah akhirnya kelelahan mengkhianatinya. Tebasan Sirbel membuat Honorbringer terlempar keluar, spontan Boro berusaha memanggil kembali pedangnya ke tangannya akan tetapi udara meninggalkan tubuhnya saat Sirbel menendang dadanya dan membuatnya terlempar keluar lapangan. Terguling dan terkapar, berusaha mengembalikan kesadaran, ketajaman pikirannya.

Rasa takut terlihat di wajah Boro melihat kepulan debu di depannya, pedang besar puntung terlempar
ke arahnya. Dia memanggil Honorbringer ke tangannya dan secara instant menciptakan dinding batu di depannya dengan aspek elemen King's Sword.

Dinding dari batu hancur seketika oleh tabrakan pedang besar itu yang mendarat satu meter di samping Boro. Belum sempat Boro berusaha untuk berdiri, Sirbel muncul dari kepulan debu dan menerjang Boro dengan pedang pendeknya.

Clang!

Pedang Sirbel terlempar. Modred menangkis tusukan Sirbel sebelum mencapai Boro.

"Aku lupa mengatakan ini." Modred menyarungkan pedangnya. "Pertandingan ini selesai saat salah satu pihak melucuti senjata lawannya."

Part 4.

Arthur membubarkan sesi latihan dan menyuruh Sirbel untuk mengecek keadaan kelompok di penginapan. Dia dan Boro duduk di depan barak, melihat para prajurit berlatih.

"Jadi bagaimana menurutmu?" Tanya Arthur.

"Bagaimana menurutku? Dia hampir membunuhku Arthur!." Gerutu Borobas. "Di saat seseorang yang bukan raja bisa mengalahkan pengguna King's Sword, kurasa kau tidak perlu lagi meminta pendapat."

"Cukup adil." Arthur mengangguk setuju.

"Demi Yugabor! Dimana kau mendapatkan anak itu?" Yugabor adalah nama kerajaan Dwarf sekaligus nama dewa mereka.

"Lebih tepatnya mereka menemukanku. Jika kau terkejut melihat Sirbel, kau akan lebih terkejut lagi melihat sisanya di kelompok kami."

Boro tersenyum. Menatap gelasnya. "Apa ini artinya dia adalah pewarisnya?". "Apa perjalanan kita 40 tahun yang lalu tidak sia-sia? Ramalan itu benar?"

"Ramalan itu HARUS benar." Jawab Arthur yang kemudian berdiri. "Aku hanya bisa memanggil Damocles sekali lagi, saudaraku. Dengan datangnya tentara Demon kurasa waktuku untuk memegangnya semakin dekat."

"Sirbel harus siap. Mereka harus siap. Tidak ada jalan lain."

Part 5

Enthar menopang badannya di pangkal pedangnya. Pedang yang diberikan oleh Sirbel dan diasah oleh Hero Arthur sendiri, yang menjadi pandai besi di kelompok mereka.
Keringat mengalir dari seluruh penjuru tubuhnya, dia tak bisa merasakan pundaknya dan kakinya berusaha untuk tetap tegak. Kaze berdiri di depannya, menunggunya untuk melanjutkan sesi latihan.

Aku akan tertinggal.

Enthar merasa bahwa dia adalah anomali di grup ini. Sebuah keanehan yang tak pantas. Semua orang di grup mereka adalah orang yang spesial. Dia tak pernah melihat orang sekuat Sirbel dan Kaze, Elestra adalah seorang ratu, Harvin bisa mengobati luka yang sangat parah, Modred yang ternyata adalah pahlawan legendaries. Bahkan Eru, yang bisa mempelajari sihir lebih baik dari siapa pun di umurnya.

Aku akan tertinggal.

Enthar bukanlah orang cacat, dia cukup kuat dan sehat untuk mengayuhkan pedangnya. Tapi itu saja tidaklah cukup untuk tetap berada di kelompok ini. Ditambah dengan datangnya tentara demon untuk menghancurkan Yuga, dia menjadi sangat sepeleh.

Dia tidak ingin lari dari mereka. Walaupun dia bukanlah budak yang dibeli seperti Eru dan Sirbel tidak pernah melarangnya untuk berpisah. Dia menyukai mereka. Dia menyukai Sirbel dan Kaze yang selalu menolong orang lain, dia mengagumi ratu Elestra dan Hero Arthur. Dia ingin melindungi Eru dan dia senang berbicara dengan Harvin. Dia ingin selalu menjadi bagian dari mereka.

Lebih kuat. Aku harus menjadi lebih kuat. Enthar menegakkan badannya, mengangkat pedangnya dan memasang kuda-kuda Wolfstance.

"Siap?" Tanya Kaze yang juga sudah mempermantap kuda-kudanya, Bullstance yang digunakan untuk menyerang dengan kekuatan penuh seperti banteng.

"Siap Master!"

Part 6

"Aku terkesan melihat kau masih tetap bersama kami, Druid." Elestra menghampiri Harvin dari arah belakang. Sang hobbit sedang melihat Eru berlatih sihirnya di luar kota Yuga. "Apa kau khawatir dengan perang yang akan terjadi?"

"Aku tidak pernah peduli dengan perang." Jawab Harvin, tidak memalingkan pandangannya dari Eru. "Terlalu banyak politik, kebohongan, tipu daya, membuat kepalaku pusing~. Lebih banyak rugi daripada untungnya."

"Kalau begitu untuk apa tetap tinggal?" Elestra duduk di sampingnya.

"Harvin adalah Druid, Druid pergi kemanapun Druantia mau." Druantia adalah dewi hutan dan kesuburan. Banyak yang bilang bahwa sihir Druid bersumber langsung dari Druantia.

"Cukup adil." Elestra tidak bertanya lebih jauh, kemudian mengalihkan pandangannya kepada Eru. Gadis itu sangat berbakat, lebih berbakat dari mereka yang merupakan keturuan keluarga penyihir. Sirbel dan Kaze berkata bahwa mereka mendapatkan dia di pasar budak, dan menurut penjualnya dia adalah keturunan ras iblis. Ras iblis tidak dapat menggunakan sihir elemen.

Elestra terkejut saat Harvin tiba-tiba berdiri dan berjalan ke arah Eru. Dia mengatakan sesuatu pada Eru, Elestra terlalu jauh untuk mendengar. Eru kemudian mengangguk mengerti. Harvin kemudian mundur dua langkah, mengangkat tongkatnya dan membaca mantra. Bulir bulir tanaman muncul dari tanah dan tumbuh dengan cepat hingga setinggi paha Eru.

Sihir Druid. Pikir Elestra. Satu-satunya jenis sihir yang bisa memanipulasi mahluk hidup. Hanya para Druid yang bisa melakukannya.

Setelah Harvin selesai melakukan sihirnya, Elestra kemudian mengangkat tongkatnya dan ikut membaca mantra yang sama. Tanah bergetar seketika dan muncul bulir tanaman yang tumbuh sangat cepat hingga menjadi pohon dalam sekejap.

Mulut Elestra menganga dan matanya terbuka lebar. Terdengar keributan dari arah kota Yuga, dan mata Harvin terlihat berbinar-binar seakan-akan melihat bongkahan emas.

"Eru!" Elestra yang tersadar tidak berteriak, namun suaranya cukup keras. Dia berlari ke arah Eru dan Harvin dan… pohon apel besar yang tumbuh di tengah-tengah mereka lengkap dengan buahnya. "Bagaimana kau bisa melakukan itu?!"

"Hmm? Bukannya semua penyihir bisa melakukannya?" Eru terlihat bingung.

"Tidak penyihir yang bisa melakukan sihir Druid Eru, begitu juga sebaliknya."

Gadis ini tidak mengerti apa yang telah dia capai. Pikir Elestra.

"Druantia's Heir…." Gumam Harvin masih dengan mata berbinar-binar. Elestra lupa kalau dia masih disana.

"Apa maksudmu dengan keturunan Druantia?" Tanya Elestra yang masih mencoba mencari penjelasan dengan apa yang sebenarnya terjadi.

Harvin tidak menjawab pertanyaan Elestra. Dia melangkah ke arah Eru, mengenggam kedua tangan gadis itu dan menatap matanya. "Kita harus melindungi Eru, Elestra. Dan tidak boleh ada yang tahu akan hal ini sampai waktunya tiba." Harvin memberitahu Elestra tanpa berpaling dari Eru. "Katakan pada mereka yang bertanya bahwa akulah yang menumbuhkan pohon ini."

Elestra memegang jidatnya dengan gaya layaknya ratu yang memikirkan rakyatnya. "Akan lebih mudah jika kau menjelaskan padaku apa yang sebenarnya terjadi, Druid."

Part 7

Kaze, Sirbel, Elestra dan Arthur duduk bersama mengelilingi meja makan mereka. Harvin dan Enthar pergi mencari udara segar, katanya. Eru sudah kembali ke kamarnya untuk belajar teori sihir, dia semakin semangat untuk belajar akhir-akhir ini.

Harvin juga seperti memberikan perhatian lebih kepada Eru, Pikir Sirbel.

Sudah sekitar dua minggu sejak kelompok tiba di kota Yuga. Dalam dua minggu itu hampir tiap hari diisi dengan latihan dan latihan. Semuanya untuk persiapan melawan tentara demon yang semakin dekat untuk menghancurkan Yugabor.

Sejujurnya Sirbel merasa aneh dirinya tetap menetap di kota ini. Dia tidak mempunyai ikatan apapun dengan para Dwarf. Kevin sepertinya sudah menunggunya di Arendel dan dia sudah melaksanakan kewajibannya untuk mengantar surat delegasi kepada raja Dwarf.

Sesuatu…. Sesuatu menahanku untuk tetap berada disini.

Kaze? Dia telah berjanji akan mengikuti Sirbel, dia bisa mengajak Kaze kapan saja untuk meninggalkan Yuga dan pergi ke Arendel. Akan tetapi Kaze sepertinya ingin tetap bersama Elestra dan yang lainnya, dia tak mengatakannya tapi Sirbel tahu akan hal itu.

Bagaimana dengan Modred yang sekarang menjadi Arthur? Dia terus melatih Sirbel, dalam dua minggu terakhir dia sudah melatih Sirbel dengan berbagai macam situasi dan senjata termasuk tombak dan perisai. Bisa dilihat bahwa Arthur menggantungkan harapan padanya.

Banyak hal yang terjadi, Sirbel seperti terbawa arus yang tak bisa di lawannya.

"Apakah tidak apa jika kau tetap berada disini, Anna?" Tanya Sirbel pada Elestra.

"Hmm? Maksudmu?"

"Ehm.. kau adalah ratu Accrecia kan? Berada di kota yang akan mengalami peperangan dalam waktu dekat bukan ide yang bagus menurutku."

Elestra sudah bersama mereka lebih dari sebulan. Diperlakukan layaknya sebagaimana anggota kelompok, bahkan dia sendiri lupa bahwa dia adalah ratu dari jutaan manusia.

"Kurasa…. Aku akan tetap berada disini. Jika apa yang dikatakan sang raja Dwarf benar, maka Bellato akan menjadi sasaran tentara iblis selanjutnya." Elestra meneguk minumannya. "Kurasa Borobas tidak akan keberatan jika mengetahui dia telah menambahkan satu pengguna King's Sword di pasukannya. Lagipula Ferrin akan datang dengan pasukannya."

"Aku tak berhak menolak pilihanmu. Hanya saja, jika kau mau. Kurasa Kaze bisa mengawalmu pulang." Sirbel mengedipkan mata kepada mereka berdua. Pipi Kaze dan Elestra memerah.

"Boro memberitahukanku bahwa tentara Demon sudah berjarak sekitar 9 hari dari kita. Para pengungsi dari beberapa desa beast clan sudah mulai berdatangan." Kata Arthur.

"Apa yang akan kita lakukan Sirbel?" Tanya Kaze.

Mereka bertiga melihat ke arah Sirbel menunggu jawaban darinya.

Terasa aneh melihat aku sebagai pemimpin. Pikir Sirbel. Dia mengerti jika itu Kaze dan Eru, mungkin juga Enthar. Tapi Arthur dan Elestra? Mereka pada dasarnya memiliki tempat yang jauh lebih dari tinggi dari Sirbel. Demi dewa apapun yang ada di Eldunari! Elestra itu adalah ratu! Tidakkah aneh jika dia menuruti kata Sirbel yang bisa dibilang bukan siapa-siapa?

"Aku... aku tidak ingin apa yang terjadi di Kalavata terjadi lagi disini." Kata Sirbel yang kemudian menaikkan pandangannya.
"Aku akan melindungi penduduk kota ini dan kuharap kalian bisa membantuku."

Kaze tersenyum. Mereka semua tersenyum pada Sirbel.

"Tentu saja saudaraku." Jawab Kaze.

***

Malam itu, aku belum mengetahui. Keputusan yang aku ambil akan mengubah jalan hidup banyak orang.

Honorbringer, End.

Bersambung ke Eldunari Chapter 13

BeeZero
2017-12-10 17:45:10
lama banget baru update lg gan !?? kaze npa gag ada sesi latihannya ?
Yukki Amatsu
2017-11-29 21:38:05
Hmm, update selanjut-nya 2 tahun lagi....
Sqouts Shadows
2017-11-25 23:54:30
Akhirnya cerbung lama bangkit lagi, ditunggu chapyer berikutnya
Bocah Redoks
2017-11-25 21:10:38
Aku jadi lebih peduli Ama enthar setelah baca
Baca Semua Komentar dan Balasan
daftar user · online · daftar penulis
halaman awal · group facebook