VersiTeks.com
Selain membaca versi teks anime dan manga, di sini kalian juga bisa membaca dan mengirim cerita karangan kalian sendiri, baik itu yang berupa cerita berseri, cerpen (oneshot), atau fanfiction.
login · register · kirim cerita · setting · kuis
home · versi teks · cerita karangan · oneshot · fanfiction · jadwal rilis


Silakan login atau register jika belum memiliki akun untuk menikmati berbagai fitur khusus di situs ini serta akses tanpa iklan-iklan yang mengganggu.
Like Halaman Baru KOPBI, Official Komik One Piece Bahasa Indonesia, selain itu palsu :D
Ore no Kuroi-hime Chapter 21

2017-01-01 - Raven > Ore no Kuroi-hime
45 views | 3 komentar | nilai: 10 (1 user)

Don't like, Don't read.

.

Tombol back masih nyala.

.

Flame hajar

.

Maaf atas mis-EYD

Ore no Kuroi-hime Chapter 21 - Sekumpulan mayat
Penulis : Raven

Sudut pandang : Edgar Elric

Laporan terakhir yang kudapat dari Rachel adalah semuanya benar-benar buruk. Mungkin hancurnya lebih dari setengah kota sudah bisa diprediksi, tapi mendengar sihir para teman ku yang lain mulai menipis, aku tahu kami tak punya banyak waktu lagi.

Disepanjang kami menyusuri hutan yang tiada habisnya, Rachel tak banyak bicara -karema mungkin dia sedang menahan mual-. Kuroi hanya menggumamkan sesuatu tentang lapar. Aku heran bagaimana dia masih lapar setelah menyantap begitu banyak daging yang rasanya sungguh luar biasa. Ugh ... aku ingin berhenti mengingat rasanya. Kau tahu rasanya seperti daging-daging itu masih menempel dilidahku.

Setelah belasan menit berjalan aku mendapati sedang berdiri di atas jurang yang tak terlihat ujungnya. Rachel berkacak pinggang, menatap sebal pada pemandangan indah yang seharusnya tidak berada ditengaj hutan terlarang.

Kau tahu ini memang indah, aku bakal menyetujui pendapat Rachel tentang itu. Daun-daun masih hijau, dan beberapa air terjun kecil dari berbagai arah dari hutan ini membuang aliran mereka kebawah. Didepan tempatku berdiri tebing lain juga menjulang. Meski lebih rendah dari pijakanku. Tak ada jembatan -tentu saja siapa yang bakal membangunnya?-, dan aku tak memiliki ide bagaimana untuk menyebrang.

"Aku tak keberatan untuk mengangkut kalian dua kali terbang kesana."

Bola mataku berotasi. Yang benar saja.

"Dan mencoba membakar kami?" dengusku, "tidak terimakasih. Aku masih punya kulit yang perlu dirawat."

"Kau bicara seolah kau pernah merawat kulitmu saja," Rachel menarap Kuroi yang sedang terpaku, "apa tak ada jalan lain? Sepertinya tuan besar disana keberatan jika mendapat sedikit luka bakar."

Sialan Rachel, ingin rasanya aku menendang gadis tomboy ini hingga melesak ke sisi lain jurang.

Kuroi menatap arah jam 2. Namun bukannya menjawab dia hanya terdiam, dan aku tak yakin kita bakal menemukan jalan.

"Keberatan jika mengecek lewat udara Rachel?"

"Oh ya sangat."

Rachel membentangkan sayap panasnya. Mengepakkannya sembari membakar dedaunan terdekat. Kemudian melesat, dan mewarnai birunya langit dengan jilatan api. Beruntung daerah ini tak segera menyebarkan api, sehingga hanya membakar beberapa helai daun dan api Rachel tak bertahan lagi. Bagus, kita bisa menggunakan Rachel tanpa takut terjadi kebakaran hutan.

Disisi lain, Kuroi menatap Rachel tanpa berkedip. Baru kusadari dia sejak tadi terlihat seperti mengobservasi.

"Apa yang kau lihat?"

Tanpa menatapku Kuroi menjawab, "Her Ability."

Sejujurnya aku tak tahu apa maksudnya, tapi biarlah. Sejak kapan Kuroi mengatakan isi otaknya dengan benar?

Dalam beberapa menit, Rachel telah kembali mendarat di tempatnya memulai penerbangan. Ya dimana lagi, selain di sampingku.

Melihatn wajahnya yang cemberut kurasa itu bukan berita bagus. Kuroi menatap Rachel sungguh-sungguh. Yah dia bertingkah aneh.

"Tak ada jalan, tak ada tebing penghubung." Aku mengangkat sebelah alisku penasaran. Dia mengerang namun melanjutkan, "Artinya tempat itu seperti pulau kecil ditengah laut. Kau harus terbang kesana!"

"Hei maksudmu aku harus menahan panas? Wait ... Kenapa tidak kau lakukan sesuatu seperti di danau tadi?"

"I can't do it."

Okay bagus. Tak ada jalan. Tak ada rencana. Tak ada peralatan. Dan Kuroi maupin Aileen absen membantu. Apa sesuatu tak bisa lebih buruk lagi?

Jarak antar tebing adalah sekitar 30 meter. Mungkin sebuah rumah, dan halamannya bisa dibangun dibawah sana. Dan aku tak yakin bakal menemukan darat dibawah sana secepatnya.

Dan akhirnya aku mendapat ide gila.

"Bagaimana dengan melompat?"

Rachel, dan Kuroi sama-sama terkejut. Oh aku tahu ideku terlalu gila.

[Oh bagus, kau mau mencoba bunuh diri disana?]

"Briliant, Edgar tapi lakukan itu jika kami tak membutuhkanmu nanti."

Oh yeah, 2 protes, 1 tanpa suara. Bagus sekali.

"Jadi kalian punya ide?" Sergahku kesal. Mereka terdiam."kuanggap itu tidak."

Sebelum mereka merespons, aku telah mengambil ancang-ancang entah berapa meter jauhnya. Rekorku adalah 15 meter,
dma aku tak yaki keadaan terdesak akan membuatku mencetak rekor 2 kali lipatnya.

Kupacu langkahku secepat yang kubisa. Dan kulemparkan diriku keudara diiringi dengan umpatan busuk Rachel di belakang sana. Nafasku memburu. Detik-detik yang seharusnya cepat melambat. Angin menerpa rambutku, seolah aku sedang terbang bebas.

Tapi bedanya ini tidak abadi. Baru beberapa meter aku melewati separuh separuh sekatnya. Namun tolakanku berubah dari horisontal ke diagonal, yang semakin lama malah menambah kecepatan menuju bawah. Sontak aku menjerit, oke bukan seperti para gadis. Tapi sebuah teriakan. Oh sial aku bakal mati.

Akan tetapi sebelum aku mempersiapkan diri untuk berdoa terakhir kali tanganku ditarik oleh sepasang lengan mungil yang kokoh. Melemparku begitu saja ke daratan lain, dan aku bisa merasakan tanganku terbakar. Tapi kurasa ini lebih baik dari pada hancur dibawah sana.

Bukan pendaratan seempuk kasur yang kudapat, tapi sebuah potongan kayu raksasa yang memukulku seperti tongkat baseball raksasa. Lalu memutar lagi, menabrak semak-semak, dan mengakhiri pendaratan dengan mengadukan punggung dengan pohon raksasa.

Ugh ... nyeri. Serius. Ini benar-benar menyakitkan, kusarankan untuk tidak mencobanya. Tapi jika kau tak percaya lakukan saja.

"Oke hanya tulang, organ, dan beberapa darah berkurang. Tidak buruk."

Tanganku terasa terbakar. Mungkin ini bakal membekas. Dan lenganku kebas, kakiku pu. Sepertinya beberapa sendi bergeser, dan sedikit tulang telah patah.

[Oh yeah, tuanku si maniak bunuh diri.]

"Kau bahkan tak memberiku ide."

[Bukan berarti kau bisa mencoba bunuh diri seenakmu.]

Dan aku berhenti berkomunikasi dengannya. Entah bagaimana caranya, tapi kepalaku tak lagi terisi suara Aileen.

Oh ya ngomong-ngomong kenapa aku lupa, bagaimana caranya Kuroi melompat kemari?

Detik berikutnya Rachel datang dengan semburan makian, dia berkata aku bodoh, atau apa itulah, dan sesuatu tentang seharusnya aku mendarat dengan kakiku. Oh benar, seharusnya aku melakukannya.

Namun kicauan Rachel terabaikan ketika dibelakangnya Kuroi mengikuti dengan semburan api hitam yang menempel dipunggungnya. Mengangkatnya keudara, mirip sekali dengan Rachel. Kecuali baju combang-camping, warna, dan api yang menyelimuti hampir seluruh tubuhnya.

Tapi lupakan itu semua, Kuroi terlihat cocok dengan penapilan seperti ini. Aku tak tahu kemampuan Kuroi begitu fleksible. Dan sejujurnya aku mulai kesal sekarang, karena hanya aku yang tidak bisa terbang disini. Sial.

Melupakan kekesalanku, aku tak bisa menahan diri untuk tidak menatap Kuroi takjup, berdecak kagum dan berkata, "wow apa itu?"

Rachel menggerutu, "Bisa-bisanya dalam keadaan sekarat kau masih bersikap begini."

"Aku hanya tak bisa berjalan, bukan mau mati," sanggah ku dengan sebuah seringaian, "dan hei Kuroi bagaimana kau melakukannya?"

"Duplikasi."

Seperti biasa ucapan Kuroi sulit dipahami. Melihatku Rachel mendesah, dan mengajukan diri untuk menjelaskan. Aku bersyukur untuk itu. "Dia menduplikasikan sistem yang sama dengan milikku. Namun sedikit berbeda, mungkin dia menyesuaikannya dengan kekuatannya. Dia bertanya saat kau berlari, dan melompat tadi. Kukatakan saja, angkat punggungmu, dan tahu-tahu dia lepas landas, dan melemparmu."

"Tak tahu caranya hanya sayap."

Aku mengerti sekarang. Pantas saja tanganku terasa terbakar.

Rachel mengambil sesuatu dari sakunya. Sebuah botol yang amat familiar. Phoenix Tear. Berjongkok didepanku, dan menuangkannya padaku. Tubuhku terasa ringan, dengan nyeri, sesak, kebas, dan lain-lain yang berangsur-angsur menghilang.

Rachel menatap botol kosong ditangannya. Menggerutu, "Oh bagus aku menghabiskannya sebelum melawan bos besar." Dan melemparnya begitu saja.

Kuroi datang dengan api yang sudah menghilang, sedangkan Rachel meraih tanganku dan membantuku berdiri. Sudah hilang, tapi tetap saja nyeri.

"Bisa berjalan?"

"Yeah."

Perjalanan kami diteruskan dalam beberapa menit dalam damai. Hanya beberapa menit saja sebelum Kuroi menatap sekeliling dengan waspada.

Saat itulah aku baru menyadari tempat ini terlalu buruk untuk pesona alam. Yah memang hampir semua tempat yang kulewati buruk. Tapi entah kenapa sekawanan pasang mata seolah mengikuti kami sejak tadi. Atau mungkin karena semerbak bau bangkai yang sejak tadi mengikuti.

Rachel telah menghunuskan tombaknya. Kuroi mengubah bentuk Stygian. Dan kuikuti saja mereka dengan melepaskan Aileen dari sarungnya. Kami semua bersiaga untuk kemungkinan terburuk.

"Kalian merasakan apa yang kurasakan?" tanyaku.

Rachel berdecak sebal, "penganggu."

Dan Kuroi sama sekali tak merespon.

Mataku menatap liar disekitar tempatku berdiri, rasanya kami telah dikepung. Ada berapa banyak sebenarnya?

"Mereka datang?!"

Tepat ketika teriakan Rachel mencapai telingaku, seorang, ah... tidak. Ratusan orang keluar dari segala arah. Mereka memiliki wajah yang buruk, dan gigi bergemeletuk siap untuk mengoyak daging. Kulit yang hanya tinggal sedikit, menyisakan tulang yang kelihatannya seperti mayat yang seharusnya sudah di liang lahat sejak lama. Dari bau mereka yang busuk aku tahu apa mereka,

"Zombie!!!" teriakku.

Satu tendangan kulayangkan pada satu orang mati di sebelah kiriku. Sebuah tebasan untuk beberapa tubuh didepanku, dan pukulan untuk beberapa yang lain. Tapi itu tak berguna.

"Terlalu banyak!!!"

Rachel membakar satu Zombie wanita didepannya, "apa kau harus terus mengatakannya?!"

"Ya," kataku, "itu bakal membuatku puas."

Sekilas kulihat Kuroi menebas memutar dengan sabitnya. Mutilasi instan. Dan banyak yang tumbang. Aku menebas dengan banyak gerakan. Meledakkan rune mantra suci, atau yang lainnya.

Disisi lain, Rachel membentangkan sayapnya. Berteriak 'hya!!!'. Dan mereka terpukul mundur akibat panasnya yang menyengat.

Kuroi memikirkan ide yang sama, dan membakar banyak zombie dengan api hitamnya.

Oh bagus hanya aku yang tak punya pertahanan diri disini.

"Kemarilah, Egdar!!" Rachel berteriak.

Meski gengsi, aku tetap berlari kearahnya. Keselamatan nomor satu. Rachel memperbesar sayapnya. Menyatukannya, dan membuat kami seperti dalam camp perlindungan yang panas.

"Bisa kau turunkan suhunya?" gerutuku.

"Asal kau tak keberatap mereka mengoyakmu."

Kulihat Kuroi masih dalam kegiatannya. "Kuroi terbanglah, lakukan apapun, kau harus menghemat energimu. Aku akan menyusulmu."

Kutahu Kuroi awalnya ragu, tapi dia melakukannya. Aku tahu, aku melakukan hal yang benar. Karena bos besar dalam game ini adalah Fyril.

"Apa yang menarik perhatian mereka?"

"Darah." Rachel berteriak, "Kau punya ide?"

"Tidak," jawabku. Rachel mendelik tak percaya, tapi sebelum memprotes aku berteriak, "bagaimana jika kau meledakkan mereka? Itu bakal memberiku waktu untuk melompat kesana. Semoga saja para Zombie ini tak punya ide untuk memanjat. "

Rachel memandangku ragu, "okay" katanya.

"Dalam hitungan ketiga. Dan saat aku keluar, kau segera terbanglah. Virus mereka cukup berbahaya."

Aku mengangkat Aileen siap menerjang api, dan sekaligus mempersiapkan diriku untuk dibakar. Oh hebat aku baru saja memprotes saat ingin lompat tadi, dan sesuatu yang lebih buruk malah terjadi.

"One, Two," para Zombie merangsek, dan populasi mereka jauh lebih bertambah. "Three."

Dan dengan diiringi teriakan Rachel yang memaksakan diri sebuah ledakan terjadi, hampir seluruh wilayah terbakar oleh api. Para Zombie menggelepar karena terbakar, dan beberapa yang lain masih mengejar meski tubuh terbalut api.

Beberapa tebasan pada Zombie yang masih bertahan. Aku melompat, meraih sebuah dahan, dan melompat lagi lebih tinggi. Dan setelah dirasa cukup tinggi aku berhenti. Mereka masih belum banyak yang mendekati, tapi cepat atau lambat mereka akan bergotong royong untuk memanjat. Dan itu sungguh buruk.

Rachel datang dengan wajah pucat. Maaf karena membuatmu memaksakan diri, tapi aku tak punya pilihan lain.

"Bagaimana lukamu?"

Dia mendudukkan dirinya pada dahan pohon di sampingku. Menatap mereka yang masih meraung-raung.

"Tak apa. Maaf membuatmu memaksakan diri."

Rachel mendengus, "menyerang danau besar-besaran. Sayap ini. Membuat ledakan. Perut lapar, kau benar ini melelahkan."

Dalam hati aku merasa bersalah, tapi kondisinya memang begini mau bagaimana lagi.

"Kita selesaikan ini cepat. Akan sangat buruk jika sesuatu terjdi padamu."

"Oh tuan Edgar mengkhawatirkanku," ujarnya penuh sarkasme. Dia meninju bahuku pelan, dan tertawa.

"Hei, stop it!" Aku terdiam menatap para zombie, "menurutmu mereka siapa?"

"Kasus 19, kota yang hancur. Orang-orang berkemampuan pada masa itu mengirim mereka kesini, dan kudengar pada dewa juga turun tangan. Mereka menyebutnya awal dan akhir. Kupikir itu kasus salah satu kasus mengerikan dalam sejarah."

Itu adalah salah satu kasus terbesar, pantas saja pakaian mereka yang sangat lusuh masih kukenal. Membayangkan mereka berkeliaran di kota, dan membuat orang lain bernasib sama dengan kondisi tubuh mereka ini. Sementara mereka tak tahu diamna tempat yang aman untuk bersembunyi. Jadi aku mengangguk, dan menyetujui ucapan Rachel tentang 'mengerikan'.

"Jadi mereka membuangnya kemari?"

"Kurasa. Jadi aku mengerti alasan tempat ini tak punya akses masuk. Dan kenapa jarang sekali ada kasus Zombie yang keluar dari Lost Forrest."

Dia terdiam.

"Dan ini bakal jadi kasus 32 jika kita tak menghentikannya, benar?" tanyaku.

"Mungkin."

Aku menutup mata. Mencoba menenangkan diri, dan akhirnya kuputuskan untuk menyusul Kuroi setelah mengatur nafas.

Rachel mengulurkan tangannya, tapi aku menggeleng. Karena jika aku terkena luka bakar ditanganku, aku tak bisa memegang pedang. Dia menarik tangannya kikuk, berkata, "Oh aku mengerti." Dan berbalik.

Saat aku akan bersiap untuk melompat ke dahan lain karena tidak mungkin rasanya turun kebawah dengan banyak Zombie yang menunggu mangsanya, yaitu kami, Kuroi datang dengan ekspresi datar andalannya. Tapi aku tahu ada kilatan yang berbeda dari dalam irisnya. Sesuatu terjadi?

"Edgar, aku menemukan Fyril."

Okay, saatnya menghadapi bos besar.

.

.

.

-----

CATATAN :

Saya memang terinspirasi setelah melihat film World War Z tadi malam. Sambil nunggu jeda iklan, saya buat cerita ini. Jadilah ini mengangkat tentang Zombie.

-----

Thanks for read.

Mind to Comment?

Bersambung ke Ore no Kuroi-hime Chapter 22

Kill Me 1st
2017-01-01 13:36:13
Hahaha... Entah kenapa.. Rasanya agak aneh perpaduan antara zombie dan sihir..
Shark
2017-01-01 12:01:22
Lanjut ...
Rudy Wowor
2017-01-01 11:32:04
Zombie ya, menarik.
Baca Semua Komentar dan Balasan
daftar user · online · daftar penulis
halaman awal · group facebook