VersiTeks.com
Selain membaca versi teks anime dan manga, di sini kalian juga bisa membaca dan mengirim cerita karangan kalian sendiri, baik itu yang berupa cerita berseri, cerpen (oneshot), atau fanfiction.
login · register · kirim cerita · setting · kuis
home · versi teks · cerita karangan · oneshot · fanfiction · jadwal rilis


Silakan login atau register jika belum memiliki akun untuk menikmati berbagai fitur khusus di situs ini serta akses tanpa iklan-iklan yang mengganggu.
Like Halaman Baru KOPBI, Official Komik One Piece Bahasa Indonesia, selain itu palsu :D
Ore no Kuroi-hime Chapter 20

2016-12-28 - Faricchi > Ore no Kuroi-hime
63 views | 4 komentar | nilai: 9.5 (2 user)

Don't like, Don't Read
Flame tebas//nak

Enjoy with this story

sudut pandang 3

Bagi setiap manusia memori indah adalah sesuatu yang mereka sebut kebahagiaan. Seperti kenangan akan ayah, ibu, teman, dan cinta. Bahkan jika itu hanya kepingan yang penuh rasa sakit, pasti setiap manusia akan kebingungan jika mereka semua menghilang.

Karena itulah Edgar tahu, meski dalam topeng wajah datarnya Kuroi memiliki banyak hal yang harus dipikirkan. Apalagi ketika satu kepingan dari otaknya muncul ke permukaan. Bahkan Edgar bersyukur Kuroi tak segera putus asa, dan merasa bersalah atas serangan besar-besaran Fyril.

Tapi disisi lain, Edgar juga merasa kasihan. Itu terjadi karena Edgar sendiri tahu bagaimana hampanya ketidak tahuan kita akan masa lalu. Ada suatu wilayah dari otaknya yang tak bisa dijangkau. Terasa kosong, namun sangat dirindukannya. Oleh karena itulah saat ia mendengar suara-suara mereka, dia tak bisa menahan diri untuk melakukan apa yang ada dipikirannya.

Tapi dia tahu dia salah, bukan berarti dia tak bisa melihat Kuroi yang berjuang mati-matian dengan gadis mermaid, amarah, dan rasa bersalahnya. Hanya saja, dia tak memiliki kuasa sedikitpun untuk menggerakkan tubuhnya. Aileen bahkan hanya berteriak, dan menggerutu atas kebodohannya. Dan Edgar tahu, Aileen pun tak mampu berbuat apa-apa.

Mungkin wajar jika mereka berharap untuk mati saja. Tapi tidak. Semua bakal semakin buruk, jika berakhir disini. Tapi Kuroi sendiri juga telah kehilangan tenaganya. Habis sudah semua kekuatannya setelah mengamuk tadi. Dan dia hanya bisa menatap gadis itu tenggelam semakin dalam, sementara Reyna berada didepannya. Menunggui mangsanya, dengan seringai puas, selagi berkatar Kuroi tak bisa menjadi santapan mereka.

'Semuanya selesai sudah,' pikirnya.

Namun dalam keputus asaannya, seberkas cahaya menyapa matanya. Semakin bingung pula dia ketika para mermaid kehilangan ketenangannya. Berteriak murka ketika merasakan rasa sakit ketika sisik mereka terkelupas satu persatu. Seperti di rebus. Tapi Edgar sendiri tak merasakan apa-apa.

Harapan tentu saja menyembul keluar. Namun hanya untuk mendongakpun berat.. Jangankan mendongak. Mempertahankan kesadaran saja susah sekali.

Kemudian ia terperanjak ketika sebuah Tombak berapi menyebu kearahnya. Oh bagaimana bisa api menembus air? Dia tidak bisa menatap sebuah tangan yang menariknya ke permukaan. Kemudian melemparnya kedaratan. Hanya untuk menatap linglung, gadis itu. Ya siapa lagi, "Bagaimana bisa kau disini Rachel?" tanyanya tanpa sedikitpun basa-basi.

"Aku tak bisa mempercayakan misi ini untuk kalian berdua. Dan lihat kalian saja kalah pada mermaid sialan ini."

"Mulutmu masih menyebalkan saja."

Edgar mencoba bangkit kemudian terjatuh lagi, ketika pengaruh mermaid padanya belum hilang sepenuhnya. Rachel menggeram, "Tunggi saja disana. Dan lihat bagaimana aku merebus mereka hidup-hidup."

"Kuroi masih ada disana!"

"Apa kau tadi kepanasan?" Rachel malah memberi pertanyaan dengan sengit.

"Tidak."

"Bagus."

'Hei apa maksudnya itu?' Lalu dia sadar, Apapun yang Rachel lakukan pada air itu. Kuroi tidak akan kepanasan sedikitpun. "Aku tak tahu bagaimana kau melakukannya, kalahkan dia Rachel."

"Jangan memerintahku sialan."

Dan bersamaan dengan itu, api berkumpul pada Rachel. Berputar, dan membuatnya ratusan kali lebih menyeramkan. Senyumnya psikonya tak lupa dia pasang. Dan dengan teriakan kemenangan, Rachel lemparlan bola api buatannya pada air yang mendidih dan habis menguap. Meninggalkan mayat-mayat ikan berbadan manusia yang mati direbus hidup-hidup.


Ore no Kuroi-hime Chapter 20 - Api dan Air
Penulis : Faricchi


Sesuatu menepuk pipi Kuroi. Kuroi tahu itu, tapi dia malah menggeliat dan memiringkan tubuhnya. Dia ingin tidur.

Suara tawa samar menggelitik telinganya. Namun diabaikannya. Beberapa menit kemudian dia harus bangun ketika tepukan pelan itu menjadi cubitan keras. Siapa yang mengganggu tidur siangnya?

Sayup-sayup matanya menatap bayangan 2 orang. Mengerjap lagi. Masih kabur. Kuroi memilih untuk mengusap matanya. Dan membukanya lagi. Akhirnya dia bisa melihat sang pelaku. Yang secara reflek membuatnya memasang wajah cemberut yang lucu. Lihat saja pipinya yang tembam menjadi semakin tembam. Matanya yang lebar sedikit sayu karena kantuk. Bibirnya yang mungil mengerucut. Pokokmya Kuroi sebal.

"Edgar menganggu."

Alih-alih sebuah permintaan maaf, sentikan pada dahi yang dia terima. Dan itu menyakitkan. 'Terimakasih Edgar,' pikirnya sarkatis.

"Jangan merajuk!" Edgar menghela nafasnya, "kau baik-baik saja. Maaf tadi-"

"Aku yang idiot membiarkanmu bertarung sendiri sampai kita hampir mati." Rachel melanjutkan ucapan Edgar seenaknya.

Kuroi mengerutkan keningnya, agaknya tak begitu menyalahkan Edgar dengan apa yang terjadi. Lagi pula dengan kejadian tadi dia mengerti sedikit masa lalunya. Yang membuatnya heran adalah sejak kapan Rachel bergabung?

"Aku baru saja sampai, dan melihat kalian semakin kegilangan eksistensi, jadi ..." Rachel menjeda, sedikit ragu untuk melajutkan, " kubakar semuanya."

"Pembakar yang hebat."

"Trims." Rachel mengulas senyum paus, atas sarkasme dari Edgar.

"Mari lanjutkan ini. Kau baik-baik saja Kuroi?" tanya Edgar.
"Kupikir itu bukan ide bagus, otak kosong. Kau mau Kuroi berduel dengan Fyril dalam keadaan seperti ini?" Edgar terdiam, "lagi pula saat aku datang kemari kota belum rata kok. Tenang saja."

Kuroi menatap mereka yang memperdebatkan dirinya, dia juga setuju atas pernyataan Rachel. Kutukannya tak stabil. Tubuhnya bisa hancur jika melepaskan segel berikutnya dalam keadaan seperti ini.
Edgar menghela nafasnya lelah. Dalam beberapa menit yang terisi keheningan Edgar terliha bicara pada dirinya sendiri. Si gadis hitam menatap Rachel dengan wajah penuh tanya.

Rachel mengangkat bahunya santai, "Beberapa senjata suci memiliki kesadarannya sendiri."

Kuroi mengangguk mengerti. Agaknya senjata terkutuk juga memilikinya. Bedanya kesadaran senjata terkutuk tak bisa diajak berdiskusi, hanya menyebarkan bisikan yang membuat pemiliknya makin gila saja.

Saat Edgar selesai, keputusan dibuat. Meski Kuroi sudah tahu pasti dimana Fyril berada, Kuroi hanya bisa menunggu. Berharap saja Fyril masih mau menyambutnya di tempat yang sama.
Sembari menunggu Rachel membuat api unggun dari kayu-kayu disebelah mereka guna mengeringkan pakaian yang Kuroi dan Edgar gunakan. Rachel berdecak ketika menyadati pakaian Kuroi, dan Edgar benar-benar mengerikan. Sobek disana-sini. Seandainya saja Phoenix tear tidak hanya menyembuhkan luka. Berkat Stygian, mereka bisa beristirahat dengan santai. Sembari mendiskusikan apa yang akan mereka lakukan. Beberapa kali para penghuni Lost Forrest yang tak terpengaruh Stygian menyerang, tapi Rachel dengan sigap membakar mereka. Sedangkan Kuroi memakan daging mereka tanpa ragu. "Tak ada racun." katanya dengan mulut yang sibuk mengunyah gumpalan daging serigala.

Edgar, dan Rachel meneguk ludah. Hari sudah siang, dan mereka belum mengkonsumsi apapun. Pantas saja jika perut mereka berbunyi, tapi memakan monster itu ...

"Tenang saja, daging tidak akan membuat kalian menjadi monster."

'Bukan itu masalahnya,' batin Edgar, dan Rachel menjerit frustasi.

Tapi toh mereka bergabung dengan Kuroi dan memakannya juga.

Ahem ...

Batin mereka menjerit serempat lagi, 'ini tidak enaaaak.'

Dan sekali lagi Kuroi menatap mereka yang memasang wajah aneka warna. Mengakat bahu, dan lanjut makan. Ingatkan Edgar untuk membawa Kuroi ke dokter memeriksakan lidahnya.

-A Rin-

tebeceh (authornya juga keceh//oi)

-

Bos besar udah keluar, cerita berat sudah terhidang, nah itu rada ringan, meski nggak seringan kapas.

maaf alam update ye...

trims buat pembaca, best regard for all.

Mind to comment?
I hope you like this story.
aku tidak menyesali keberadaan orific ini //senyum puas//

Bersambung ke Ore no Kuroi-hime Chapter 21

Kill Me 1st
2016-12-29 15:50:17
Hmm.. Aku ketinggalan cerita ini di chapter berapa ya?? Akan kucari tahu.. *komen dulu*
Rudy Wowor
2016-12-28 08:36:57
Edgar dan Kuroi kewalahan tapi Rachel mengalahkan dengan sekali serangan.
Downcrazy
2016-12-28 07:35:03
kok beda gaya bhasanya?
chichay
2016-12-28 06:45:26
kpan mreka akn klwar dri lost forrest
Baca Semua Komentar dan Balasan
daftar user · online · daftar penulis
halaman awal · group facebook