VersiTeks.com
Selain membaca versi teks anime dan manga, di sini kalian juga bisa membaca dan mengirim cerita karangan kalian sendiri, baik itu yang berupa cerita berseri, cerpen (oneshot), atau fanfiction.
login · register · kirim cerita · setting · kuis · chat game
home · versi teks · cerita karangan · oneshot · fanfiction · jadwal rilis


Silakan login atau register jika belum memiliki akun untuk menikmati berbagai fitur khusus di situs ini serta akses tanpa iklan-iklan yang mengganggu.
Pengguna Telegram? Coba game Kampung Maifam
Princess Meira Chapter 24

2017-01-07 - Baru Lulus > Princess Meira
38 views | 2 komentar

"Ayah, siapa mereka?" gadis kecil dengan rambut merah berjalan menghampiri seorang pria paruh baya yang turun dari kereta kuda, bersamaan dengan empat orang yang asing baginya.

Gadis kecil yang malang, karena baru saja ia ditinggal oleh Ibunya ke surga, kini ia harus berhadapan dengan empat orang yang asing yang merupakan keluarga ayahnya terdahulu. Dengan berbekal kesungguhan hati, dia melangkah menghampiri keempat orang asing tersebut.

Dengan lengan mungilnya, ia membantu menurunkan koper besar dari dalam kerta itu ke dalam ruang tamu. Setelah kucinng-kucingnya berkumpul memakan makanan yang sudah gadis itu letakkan di mangkuk makanan kucing, gadis itu bergegas ke dapur dan membantu wanita yang sebentar lagi akan menggantikan Ibunya memasak.

Gadis kecil itu bersama pria paruh baya dan keempat orang asing itu duduk mengelilingi meja makan, dan mulai menyantap makanan. Bagi gadis kecil itu, apapaun yang ia makan adalah sebuah berkah dari Tuhan yang harus ia syukuri. Untuk itu, dia selalu menghabiskan menu apa saja yang sudah dihidangkan di atas piringnya.

"Namaku Meira Voorvicht. Salam kenal," gadis itu tersenyum tipis sambil memandangi wajah ketiga orang asing yang kira-kira seumuran dengannya.

"Nama yang bagus, sayang. Nah, kalian bertiga kenalkan diri kalian," begitu si wanita itu berucap, memerintahkan ketiga orang lain yang seumuran dengan gadis kecil itu mengenalkan diri.

"Freaceta Voorvicht," dengan rambut pirang dan gaun berwana hijau yang senada dengan rerumputan, gadis yang paling tinggi dari kedua gadis yang ada di sebelahnya mulai memperkenalkan diri.

Disambung dengan gadis bergaun kuning dengan rambut coklat mirip dengan kayu eboni, "Selena Voorvicht."

"Titany Voorvicht," sambung gadis yang ketiga, rambut coklatnya lebih muda dari Selena. Ia mengenakangaun berwarna ungu yang lucu.

"Meira, rambutmu berwarna merah, bagus sekali, aku jadi ingin," puji Titany.

"Terimakasih. Rambutku menurun dari ibuku, kak."

Princess Meira Chapter 24 - Seperti pada Kisah Cinderella, Bukan? 1
Penulis : Baru Lulus

Dan kini, gadis berambut merah itu sudah tumbuh menjadi gadis dewasa. Ia berdiri di depan pintu rumah yang sudah lama tidak ia singgahi. Rambutnya ia gelung dan ia mengenakan tudung merah jambu. Tangannya tergerak untuk menyentuh daun pintu yang sudah tua itu. Namun, belum sepat ia mengetuk, tangannya terhenti dengan tiba-tiba. Rasanya, ia enggan mengetuk pintu rumah itu. Ia enggan menatap empat orang yang sudah membuatnya menderita saat ia kecil dulu.

Tep!

Sebuah tangan yang lebih besar darinya menyentuh lengannya. Gadis itu menengadahkan kepalanya, da melihat pemuda tinggi dengan seekor anjing tua di sebelahnya menggang erat tangannya.

"Ayolah, gadis pemberani. Lepaskan semua sedihmu, buang segala dendammu."

Dengan melepaskan genggamannya dari lengan si gadis pemberani itu, gadis itu mengangguk. Walaupun ia enggan mengetuk pintu itu, ia harus berani. Ditariknya nafas dari hidung, dan ia keluarkan perlahan, dan ia mulai menggerakkan tangannya.

Tok... tok... tok...

Pintu itu terbuka dan nampaklah wajah seorang wanita yang sangat ia benci menyembul keluar dari balik pintu tua itu. Sorot matanya yang tajam, menatap gadis itu seakan pertanda bahwa sebuah kejadian yang tak terduga akan terjadi setelah gadis itu membuka suara.

"Mohon maaf, Nyonya. Saya Miira, tukang rias yang sudah di pesan oleh Nyonya Margareth. Dan di sebelah saya adalah-"

"Saya Jeremy, Kereta Kuda saya sudah Nyonya Margareth pesan untuk mengantar putri-putri anda menuju Istana kerajaan. Apa betul disini kediaman Nyonya Margareth?"

Wanita itu tersenyum ramah, "Ohoho, ya betul. Itu saya, mari mari silahkan masuk. Nah, kamu Miira sebaiknya kamu cepat-cepat merias ketiga putri-putriku. Mereka sudah tidak sabar untuk bertemu dengan Pangeran Luke."

Meira, atau yang sekarang Miira berjalan masuk mengikuti wanita itu, atau yang tidak lain adalah Ibu Tirinya dulu masuk ke dalam rumah. Semantar itu Jeremy tersenyum samar melihat keberanian Miira. Ia menatap Joe, dan mengelus kepalanya.

"Ya, Joe. Sebaiknya kamu berjaga di luar saja."

<*p align-center> *** <*/p>

"Uwohohohoho~ Aku sungguh tidak sabar melihat Pangeran Luke yang tumbuh menjadi pemuda tampan itu~" gadis yang tengah di rias oleh Miira tersenyum-senyum sendiri sambil membayangkan sosok Pangeran Luke yang gagah dan tampan.

"Maaf ya, Miira. Kami jadi memanggilmu," ujar gadis yang tengah mengenakan gaun berwarna kuning.

"Betul kata Kak Selena. Kalau saja pembantu kami, si Bodoh Meira itu tidak kabur dari rumah, pasti kamu bisa ikut pergi kesana, kamu tidak usah bersusah-susah mencari pekerjaan seperti ini, menjadi perias."

"Tidak apa-apa, aku sungguh sangat senang bisa merias kalian bertiga. Aku yakin, pasti salah satu dari kalian bisa mencuri hati sang Pangeran," jawab Miira sambil tersenyum.

Freaceta yang sedari tadi duduk menunggu kedua adiknya selesai berdandan, akhirnya ikut menimpali, "Yah, tapi ada benarnya juga kau kemari. Setidaknya kamu bisa melihat kami bertiga yang salah satunya akan memikat hati Pangeran."

Miira tersenyum mengiyakan ucapan dari kakak tertua itu. Ia mulai menyisir rambut coklat Tiffany, sementara Selena masih sibuk memasang gaun-nya yang tampak mencolok itu.

"Miira, kalau aku boleh bertanya. Kenapa kau tidak membuka tudung rambutmu itu? Aku ingin melihat rambutmu," ucap Tiffany.

"Betul juga," timpal Selena, "Dari tadi kamu pakai tudung rambut terus. Apa tidak gerah? Sini aku bantu membukanya."

Miira menggeleng pelan sambil tetap tenang, "Rambutku ini lusuh, dan mudah sekali rontok. Jadinya aku mengenakan tudung ini agar helaian rambutku tidak jatuh ke permikaa gaun kalian. Akan sangat aneh bukan jika Pangeran melihat helaian rambut yang bukan milik kalian ada di gaun kalian. Itu nanti bisa mengruangi daya tarik kalian pada Pangeran."

"Betul juga katamu, Miira. Kau sangat pandai sekali, ya. Dan kalian berdua itu bodoh sekali. Bukankah Miira sangat baik sekali pada kita, dan memberikan yang terbaik untuk kita agar kita bisa menarik hati Pangeran itu? Kenapa kalian bisa merusak usaha Miira ini?" sahut Freaceta.

"Maaf kak," kata Tiffany sambil mengerucutkan bibirnya, sementara itu Selena melirik kakaknya kesal sambil terus merapikan gaunnya.

"Uhm, maaf aku boleh bertanya, Ayah kalian kemana?" tanya Miira.

"Ayah katanya lagi ada kerjaan. Tau tuh, biar si tua bangka itu kerja mati-matian, berharap melupakan anaknya yang hilang."

"Anaknya?"

"Iya, Si Meira Bodoh itu anaknya dengan pelacur yang sudah mati itu."

"Mengenaskan, ya. Salahnya sih merusak hubungan Ayah dan Ibu kita."

Miira terdiam, mendengar kata 'pelacur; membuat jantung Miira terpompa dengan cepat. Berani sekali mereka mengatai Ibunya seorang pelacur, begitu pikir Miira. Ayah dan Ibunya memang saling mencintai, menurut cerita Ayahnya saat ia bersama Rava, Oliver dan Jeremy bertemu dengannya. Ayah dan Ibunya bertemu sebelum Ayahnya terpaksa menikahi Ibu tirinya. Oleh karena itu, Ayah dan Ibunya menikah diam-diam ketika Ibu tirinya melahirkan anaknya yang kedua.

Menurut cerita Ayahnya, dan fakta yang ia lihat, Ibu tirinya hanya mengincar harta dari kekayaannya ayahnya saja. Sudah diduga, kenapa ketika ayahnya pergi mereka melakukan dirinya seperti seorang pembantu, sebagai seorang budak. Rupanya mereka membalas dendam karena Ibunya membuat mereka harus berpisah dengan ayahnya.

Setelah ketiga gadis itu selesai di rias oleh Miira, mereka berempat berjalan keluar dan menemui wanita paruh baya yang sudah menunggu mereka di ruang tengah. Wanitu itu nampak tersenyum sumringah ketika ketiga anak perempuannya sudah berdandan cantik, nampak seperti putri bangsawan.

"Sepatu pesta yang kalian kenakan sangat indah sekali," puji Miira, "Kuharap kalian bisa mencuri hati Pangeran."

"Hahaha, itu jelas sekali, Miira. Putri-putriku adalahyang istimewa." sahut Margareth sambil tertawa bangga.

"Oh ya, Miira. Sebentar lagi kamu mau ngapain?" tanya Tiffany.

"Uhm, aku akan membereskan peralatanku, mengunjungi rumah pelangganku yang lain, kemudian akan ikut ke pesta itu." jawab Miira sambil tersenyum simpul.

Tiba-tiba saja Freaceta tertawa tak mengenakkan hati Miira, "Hei hei, kau seorang perias ingin datang ke pesta? Mimpi apa kau? Pangeran hanya akan jatuh hati padaku seorang." Freaceta menatap Miira sinis, kemudian berjalan keluar dari rumah.

Tiffany mulai menimpali, "Bukankah rambutmu itu sangat kusut dan mudah rontok, Miira. Aku takut kamu malah dipermalukan oleh Pangeran karena rambutmu yang rontok mengenai baju pangeran."

Selena menyambung, "Sudahlah, kulihat kau adalah rekan kerja Jeremy. Kalian sudah terlihat serasi kok, bukankah seharusnya kalian menikah?"

Miira meringis kecil sambil menggaruk bagian belakang kepalanya yang tidak gatal, "Ah, iya. Benar, sepertinya aku tidak akan sempat pergi kesana. Dan rambutku ini,
haha.. aku terlalu berkahayal."

Mereka berempat mengikuti Freaceta pergi keluar rumah. Disana, Freaceta, Selena, dan Tiffany naik ke dalam kereta kuda yang sedari tadi sudah menunggu mereka. Jeremy sudah duduk menunggu mereka sedari tadi.

"Baiklah, setelah kau selesai merapikan barang-barangmu, tutup pintunya dan jangan sampaikau curi barang-barang di rumah kami." kata Margareth mengancam.

Miira menggelenag, "Saya tidak berniat mencuri di rumah anda, Nyonya. Masih ada pekerjaan yang menunggu saya sebentar lagi."

Margareth segera naik ke atas kereta kuda. Setelah itu, Jeremy mulai memacu kudanya, dan kereta kuda muai berjalan meninggalkan rumah tua itu. Miira terus memperhatikan kereta kuda yang semakin lama semakin hilang di balik rimbunan pepohonan. Selepas itu, setelah merasa tidak ada siapapun orang disana, dengan ditemani Joe, ia segera masuk kedalam rumah tua itu.

"Ya, Nyonya Margareth. Memang ada pekerjaan yang telah menungguku saat ini." gumam Miira sambil menyeringai kecil.

Bersambung ke Princess Meira Chapter 25

Rudy Wowor
2017-01-08 15:49:42
Saudaranya cantik semua ya?
Sqouts Shadows
2017-01-08 07:05:15
Ditunggu cerita berikutnya
daftar user · online · daftar penulis
halaman awal · group facebook