VersiTeks.com
Selain membaca versi teks anime dan manga, di sini kalian juga bisa membaca dan mengirim cerita karangan kalian sendiri, baik itu yang berupa cerita berseri, cerpen (oneshot), atau fanfiction.
login · register · kirim cerita · setting · kuis · chat game
home · versi teks · cerita karangan · oneshot · fanfiction · jadwal rilis


Silakan login atau register jika belum memiliki akun untuk menikmati berbagai fitur khusus di situs ini serta akses tanpa iklan-iklan yang mengganggu.
Pengguna Telegram? Coba game Kampung Maifam
Princess Meira Chapter 22

2016-12-30 - Baru Lulus > Princess Meira
36 views | 2 komentar

Beberapa tahun sebelum Meira bertemu Jeremy dan Oliver

"Wah, hebat anakku sudah berumur 10 tahun," puji King Bowlie IV takjub sambil memeluk putranya.

"Benar Ayahanda, saya akan terus belajar agar bisa menjadi seperti ayahanda," jawab Sang Pangeran, Luke.

King Bowlie IV tersenyum mendengar penuturan anaknya, "Kudengar kau sudah pandai bermain pedang."

"Benar Ayahanda, kemarin saya berhasil mengalahkan Lau."

"Benarkah itu?" tanya King Bowlie IV.

"Itu benar, Yang Mulia. Pangeran Luke sepertinya sudah mulai berkembang sejak dini," jawab Lau yang berada disana, mendampingi Luke.

Lau adalah putra Panglima Garna. Panglima Garna adalah Panglima Kerajan Bouwland. Umur Lau 8 tahun lebih tua dari Luke. Diusinya yang masih anak-anak, Lau mendapat amanah dari Raja untuk menjadi pendamping Luke. Luke sudah menganggap Lau sebagai kakaknya sendiri. Kemana Luke berada, Lau harus ada di dekatnya.

King Bowlie IV tersenyum bangga melihat anaknya sudah mulai berkembang. Kemudian, Luke dan Lau berpamitan untuk pergi menuju ruang latihan.

"Lau, kapan aku bisa pergi berburu seperti Ayah?" tanya Luke.

"Jika Pangeran lebih tekun belajar," jawab Lau.

"Huh, dari dulu aku sudah tekun belajar, Lau! Tapi tetap saja aku tidak diperbolehkan ikut berburu! Pokoknya minggu depan aku harus bisa berburu!!"

"Tapi Pangeran, aku takut jika Baginda Raja tidak setuju."

Pangeran Luke berhenti di depan Lau dan menghadangnya. Ia berdiri sambil berkacak pinggang dan menatap mata pemuda itu.

"Aku akan terus membujuk ayahanda supaya mengijanku pergi berburu!"

Pangeran Luke segera berlari meninggalkan Lau yang masih terdiam melihat tingkah Pangeran yang keras kepala. Ia menghela nafas panjang melihat sifat Pangeran yang keras kepala. Ia segera pergi menuju tempal latihan. Ia yakin, pasti Luke akan segera berbaikan dengannya.

Luke berlari melewati dapur kerajaan. Kebetulan perutnya tiba-tiba keroncongan. Ide jahil terlintas di benaknya, dan ia segera berjalan mengendap-ngendap ke dalam dapur. Ia menemukan sebuah piring berisi muffin coklat. Ia mengambil beberapa muffin dan menyembunyikannya di balik bajunya. Ia segera berjalan keluar dari dapur setelah hampir sampai pintu, ia segera berlari kelur.

Luke berlari ke luar istana ia berjalan di pinggir taman di dekat istana, disana ia bisa melihat orang-orang berlalu lalang. Ia percaya, ia akan membuat hidup mereka lebih tentram, ketika ia telah dinobatkan menjadi raja. Ia tertawa karena ide jahilnya berjalan sukses. Ia duduk di bawah pohon besar dan mulai memakan muffin itu.

Ditengah asyiknya memakan muffin itu, ia melihat seorang gadis yang seumuran dengannya dengan rambut merah sedang berjalan-jalan di pinggir kolam taman. Jika dilihat-lihat, nampaknya gadis itu sedang menunggu seseorang. Terbesit rasa ingin tahu dalam benak Pangeran Luke. Ia segera menghampiri gadis itu.

"Hai nona manis~" sapa Luke.

Gadis itu menoleh ke arah Luke. Pupil ungunya yang jernih memantulkan cahaya matahari, sehingga membuatnya berkilau. Luke mendadak merasakan desiran aneh di lubuk hatinya. Ia jadi merasa canggung.

"Pangeran?" terka gadis itu.

"A-aa… Yah… Sedang apa kau disini?" tanya Luke tanpa basa-basi.

"Aku sedang menunggu saudariku," jawab gadis itu dengan lembut.

"Oh, begitu ya… Uhm… Kau mau mencoba muffin ini?" Luke memberikan sebuah muffin utuh yang tersisa di tangannya. "Aku tadi membuatnya sendiri di dapur kerajaan."

Gadis itu tertawa kecil sambil menerima muffin itu. Ia menggigit kecil muffin itu, setelah berhasil menelannya, ia bergumam kecil, "Enak.."

"Bagaimana? Enak bukan?"

"Ini adalah muffin terenak. Terimakasih Pangeran atas muffinnya."

Luke tersenyum bangga melihatgadis itu tengah menghasbikan muffinnya. Tak lama mereka berdua melihat seorang gadis berambut coklat melambaikan tangannya ke arah mereka.

"Ah, sepertinya saudariku sudah sampai. Aku pergi dulu ya," pamit gadis itu sambil melambaikan tangan pada Luke.

"Hati-hati, nona," Luke melambaikan tangannya pada gadis itu.

"Ah iya, Pangeran Luke," gadis itu berhenti dan berbalik posisi. "Selamat ulang tahun yang ke-10, ya." Gadis itu segera kembali berlari menuju saudarinya yang sudah menunggu.

Luke menatap gadis itu hingga gadis itu hilang dari pandangannya. Ia segera berjalan menuju istana. "Tunggu, gadis itu tadi namanya siapa, ya?"

Luke berjalan ke tempat latihan. Disana ia melihat Lau tengah berdiri di dekat pintu masuk..

"Pangeran darimana saja??"

"Aku lapar, lalu mampir ke dapur dulu." Luke berjalan mendahului Lau.

"Tadi, aku sempat berbincang dengan Yang Mulia. Mengenai permintaanmu tadi, Yang Mulia telah mengijikanmu ikut. Perburuan akan dimulai di Hutan Mioki di sebelah selatan kerajaan. Untuk itu, Yang Mulia berpesan padamu untuk menyiapkan beberapa barang bawaaan yang nantinya akan-"

"-Yosh! Kau memang orang yang peka! Kau benar-benar terbaik, Lau!" seru Luke senang. Ia berlari mengitari Lau sambil tertawa bahagia. Ia segera berlari menuju kamarnya untuk mempersiapkan barang yang akan ia bawa saat pergi berburu. Kegiatannya belajar bermain pedang ia lupakan. Yang penting sekarang ia harus mempersiapkan kegiatannya besok.

Akhirnya hari dimana ia akan pergi berburu sudah di depan mata. King Bowlie IV dan rombongannya akan berangkan pertama, sementara itu Lau dan Luke akan menyusul.

Lau menyiapkan dua ekor kuda untuk tunggangan mereka. Dua ekor kuda jantan berwarna putih. Mereka berdua menunggangi kuda kuda itu dan berjalan keluar dari istana menyusul romgongan King Bowlie IV.

Kuda mereka berjalan pelan melewati sebuah pasar yang ramai. Luke bisa mendengar penduduk di desa itu mengagumi parasnya yang rupawan. Dari atas kuda, Luke tersenyum tipis mendengar eluan dari rakyat-nya.

'Lihat saja, setelah aku dewasa aku akan menggantikan ayahku menjaga kalian,' batin Luke.

Ia memandangai setiap penduduk yang melihatnya, hingga ia melihat tiga orang gadis bersaudara sedang bersorak senang melihatnya. Ia melihat salah satu dari gadis yang berdiri di belakang tiga gadis yang bersorak itu, nampaknya ia tidak begitu suka bersora-sorak seperti saudarinya.

"Nona rambut merah…" gumam Luke.

Ia memperlambat laju keduanya dan memandangi paras ayu dari gadis berambut merah itu. Gadis itu tak sengaja juga menatap dirinya. Mata mereka bertemu, dan Luke mulai mengingat pertemuan pertama mereka.

"Pangeran Luke, ayo kita segera mempercepat jalan."

"Baik." Luke segera menatap lurus kedepan dan mulai melajukan kudanya dengan kecepatan sedang keluar dari daerah pasar itu.

"Kau, siapapun namamu, gadis berambut merah, suatu saat nanti aku akan mengajakmu makan muffin lagi. Aku berjanji."

Princess Meira Chapter 22 - Pandangan Pertama
Penulis : Baru Lulus

7 tahun kemudian.

Trang!! Trang!!

Bunyi pedang yang saling beradu di tengah lapangan yang terik karena sinar matahari yang sudah sampai di ubun-ubun. Dua orang pemuda tengah beradu pedang dengan tenang, salah satu diantara mereka nampak lebih cekatan sehingga membuatnya lebih mudah memojokkan lawannya. Tak jauh dari sana, ada seorang lelaki paruh baya bermahkota emas tengah memperhatikan mereka. Dari raut wajahnya, ia nampaknya mendukung pemuda yang kini telah berhasil memojokkan lawanya.

"Hebat!! Hebat!!" seru Sang Raja sambil bertepuk tangan senang.

Pemuda yang tadi telah memenangkan duel pedangnya melamparkan senyuman cerianya pada Raja, ia berlari menghampiri Penguasa Kerajaan tersebut.

"Lihat Ayah!" pemuda itu menunjukkan otot bisep-nya yang kekar, "Aku tumbuh dengan cepat, Ayah! Kini aku sudah sanggup menjaga Ayah!! Hahahahaha."

"Luke de Heerserio," Raja memanggil nama pemuda itu.

"Iya Ayah?"

"Selamat Ulang Tahun yang ke 17 ya!"

Luke, Sang Pangeran, menunduk tersipu malu. Benar, sekarang umurnya sudah genap 17 tahun. Sudah saatnya baginya bisa menjaga dirinya sendiri. Ia merangkul pemuda yang tadi bertarung dengannya, Lau, sang pengawal pribadinya sekaligus kakaknya.

"Sudah saatnya rupanya..." ujar Luke ketika Raja sudah pergi dari tempat itu.

"Apa, Luke?" tanya Lau sambil memperhatikan raut wajah Luke.

"Kini sudah saatnya kau ganti menjaga seorang gadis, Lau!!" seru Luke sambil meringis ceria, "Hayo~ Apakah saat ini di lubuk hatimu sudah ada yang mengisi? Atau masih kosong? Hayooo :v "

Lau memalingkan wajahnya yang sudah memerah seperti kepiting rebus, "Luke, hentikan leluconmu itu. Aku tidak sampai kepikiran sampai situ."

"Eh? J-jadi... Sampai umur 25 tahun seperti ini, kau masih jomblo? Benarkah itu? Seriuss??!!"

"Huh," Lau lebih memilih meninggalkan Luke yang sudah meributkan perihal dirinya yang sampai saat ini masih hidup lajang.

Pemuda yang sudah berumur seperempat abad sepertinya dirinya memang seharusnya sudah memiliki tamatan hati. Namun, menurut dia tak semudah itu. Dia masih mengemban amanah dari Raja untuk mendampingi Luke, dan selalu ada di samping Luke. Selain menjadi pengawal pribadi Luke, ia harus bisa memahami sisi luar dan dalam dari diri Luke.

Seperti yang sudah di janjikan oleh Raja, nantinya ketika Luke telah dinobatkan menjadi Raja, Lau akan diberi imbalan yaitu diangkat menjadi Perdana Mentri Pertahanan. Demi mendapatkan posisi itu, membuat Lau lebih bersemngat menjaga Luke. Apapun yang diinginkan Luke harus segera ia penuhi, begitu pula jika Luke meminta pendapat darinya. Pastinya dia akan memberi pendapat yang sepantasnya.

Ditengah pikiran Lau yang melayang kemana-mana, penglihatannya tak sengaja menangkap seorang gadis muda dengan rambut merah panjang sedang berjalan-jalan di dalam istana. Ia merasa curiga, mungkinkah dia adalah seorang pencuri yang ingin mencuri sesuatu di dalam istana? Atau dia adalah seorang anak yang tersesat? Apakah dia siluman atau penyihir yang menyamar yang ingin menculik Luke?

Lau berjalan mendekati gadis itu dan berdehem, berharap gadis itu berbalik dan menemukan dirinya tengah berdiri dengan wajah dinginnya.

Benar saja, mendengar dehemannya, gadis itu berhenti dan berbalik ke arahnya.

"Mau apa kau kema-"

"Apakah kau Pangeran Luke?"

"?"

"Suatu kehormatan bagi saya telah bertemu denganmu untuk yang kedua kalinya, Yang Mulia." gadis itu membungkuk, memberi penghormatan pada Lau, yang ia kira adalah Sang Pangeran.

Gadis itu kembali ke posisi-nya yang semula dan menatap wajah Lau. Lau tercekat, manik ungu gadis itu berkilauan seperti permata. Bibir mungil yang tadinya mengulum senyum, kini tengah membuka untuk mengatakan sesuatu. Namun karena ia masih hanyut dalam diam memandangi gadis itu, ia sampai tidak bisa mendengar suara lembut darinya.

"...-muffin yang dulu.."

Lau tersadar dari lamunannya, ia mengerjap-ngerjapkan matanya. Berharap itu tadi adalah sebuah mimpi. Namun sepertinya memang bukan. Gadis itu masih ada di hadapannya. Dari gaun indah yang ia kenakan, Lau bisa menebak bahwa dia adalah putri dari Kerajaan sebrang yang diundang dalam perayaan ulang tahun Pangeran Luke.

"Mohon maaf atas kelancangan saya, Yang Mulia. Tapi saya bukan Pangeran Luke."

"Eh?"

TBC

Bersambung ke Princess Meira Chapter 23

Sqouts Shadows
2016-12-30 12:16:33
Lanjut vroh
Rudy Wowor
2016-12-30 11:09:52
Mengijanku/mengijinkanku? Tempal/tempat? Kelur/keluar? Menghasbikan/menghabiskan? Berangkan/berangkat? Romgongan/rombongan? Bersemngat/bersemangat?
daftar user · online · daftar penulis
halaman awal · group facebook