VersiTeks.com
Selain membaca versi teks anime dan manga, di sini kalian juga bisa membaca dan mengirim cerita karangan kalian sendiri, baik itu yang berupa cerita berseri, cerpen (oneshot), atau fanfiction.
login · register · kirim cerita · setting · kuis · chat game
home · versi teks · cerita karangan · oneshot · fanfiction · jadwal rilis


Silakan login atau register jika belum memiliki akun untuk menikmati berbagai fitur khusus di situs ini serta akses tanpa iklan-iklan yang mengganggu.
Pengguna Telegram? Coba game Kampung Maifam
Dare mo shiranaidarou Chapter 35

2017-01-10 - Baru Lulus > Dare mo shiranaidarou
53 views | 6 komentar | nilai: 8 (1 user)

*flashback*

"Habis sayur itu nggak ada rasanya, kadang rasanya pahit." rengek pemuda berkulit pucat. Membeberkan alasan penyebab daya tahan tubuhnya rendah dan menyebabkan kulitnya pucat.

"Ya justru yang pahit-pahit itu yang menyehatkan. Makan sayur dong, biar kulitmu nggak pucat." Pemuda lain menimpali sambil tetap fokus menyetir mobil.

"Nggak mau ah. Jijik liat warna ijo-ijo, iya kalo kebetulan nggak ada uler yang nyempil di dalam sana."

"Ish, banyak alasan. Awas kalau sampai seminggu ini kamu nggak makan sayur, kamu akan kupanggil pucat terus! Mulai besok kamu akan ku awasi."

"He?"

Rifo terdiam, sambil memalingkan wajahnya yang memerah karena malu. Racha tertawa senang melihat Rifo berusaha menyembunyikan rasa malunya. Untuk menghilangkan suasana yang di buat Rifo sendiri, Racha menyalakan lagu kesukaannya. Dan malam itu, mereka berdua lalui dengan alunan dari music kesukaan Racha.

"Belum tengah malam ya?" Rifo mulai membuka pembicaraan.

Racha menghidupkan smartphone-nya guna mengecek kebenaran pernyataan Rifo, "Masih jam 9 malam, sih. Ada apa?"

Mendengar jawaban Racha, Rifo lebih memilih diam dan meneruskan perjalanan. Di pertigaan nanti, harusnya dia berbelok ke arah kanan, namun saat lampu merah menyala, ia lebih memilih melaju lurus melewati belokan.

"Kenapa lurus?"

"Aku ingin pergi ke suatu tempat, temani aku kesana. Tenang saja aku tidak membunuhmu kok."

< align=center> *** </p>

Ruangan sempit itu hanya berisi sebuah meja dan sepasang kursi yang saling berhadadapan. Dindingnya tampak kusam, cat-nya yang lama sudah mulai memudar, dan seperti tidak pernah dicat ulang. Dengan ditemani lampu kecil di tengah ruangan itu, seorang pemuda tengah duduk melamun. Dari pakaian yang ia kenakan, sudah jelas ia adalah salah satu tahanan. Ya, memang benar. Ini adalah salah satu ruang dari bangunan berdinding tinggi sebagai tempat persinggahan bagi orang yang melakukan kesalahan.

Dari luar ia mendengar suara bisik-bisik orang, dari suaranya saja pemuda ini dapat menerka jika orang-orang yang berisik itu kira-kira masih seumuran dengannya.

"H-hei.. Apa kamu yakin mau masuk ke dalam? A-aku takut... Orang-orang yang di penjara itu jahat-jahat kan..."

"Sudahlah, kau tak perlu takut. Kamu tunggu disini saja, aku masuk ke dalam sendirian saja."

Kriet...

Bunyi pintu yang mulai terbuka itu memekakkan telinga, sepertinya engsel pintunya telah berkarat. Pemuda yang sedang duduk di dalam ruangan sempit itu menunduk, tanpa melihat siapakah pemuda yang tengah masuk ke dalam ruangan ini, menemainya duduk.

Pemuda itu meletakkan sekantong plastik berisi makanan dan minuman ke atas meja. Di ambilnya sebuah minuman kaleng dan memberikannya pada si pemuda yang telah menunggunya.

"Masih ingat aku?" tanya pemuda yang baru datang itu. Ia membuka minuman kaleng dan meminumnya.

Namun, yang ditanya masih belum menjawab. Pemuda yang bertanya hanya tersenyum sambil meletakkan minumannya di atas meja. Dia memperhatikan pemuda yang masih menunduk itu, lengan kekarnya mengingatkan pertemuannya yang pertama, ketika ia berusaha menyelamatkansalah satu temannya.

"Sedikit sakit sih pukulanmu kemarin, tapi yah sudah agak mendingan lah," ujar Rifo sambil meringis kacil ketika ia menyentuh bahunya yang masih sedikit memar.

"Yah, tapi syukurlah hukumanmu tidak terlalu berat-"

"Untuk apa kau kemari?"

Rifo menggaruk bagian belakang kepalanya yang tidak gatal, baru mendengar suara Leo barusan, membuatnya lupa apa yang harus ia katakan tadi. Ya, pemuda yang di depannya adalah Leo Taiga, pimpinan Genk Bullboy yang di chapter kemarin muncul dan berperan sebagai tokoh antagonis. Leo Taiga juga merupakan kakak dari Sonya dan sepupu dari Rango.

"Kutanya sekali lagi, untuk apa kau kemari?!"

"Aku hanya ingin minta maaf..." jawab Rifo.

"Punya nyali juga kau minta maaf kemari."

"Bukan begitu.. Sebenarnya aku tahu.. itu bukan kesalahanmu, kamu hanya sebagai korban keegoisan adikmu. Yah.. m-mugkin kamu memang sangat sayang pada adikmu jadinya..-"

Leo menghembuskan nafas panjang, "Ini memang kesalahanku. Dari awal aku sudah terlalu memanjakannya sejak orang tua kami berpisah. Aku hanya tidak ingin dia teringat akan pedihnya saat orang tua kami selalu bertengkar. Karena itulah Sonya yang dulu masih kecil menjadi anak yang pendiam. Karena kesedihan kami masing-masing, aku menjadi anak berandal hingga berujung seperti ini."

"Akibat keberandalanku, akhirnya Sonya terpancing menjadi anak yang kejam. Hanya karena kakaknya jago berkelahi, dia bisa melakukan apapun pada teman-teman yang tidak ia suka. Pun begitupula dengan Rango, dia ikut-ikutan diriku yang saat itu masih labil. Dan jadinya kami tidak bisa terlepas dari perkelahian antar genk."

"Aku sangat berharap, suatu saat nanti setelah mereka bisa memetik pelajaran dari hasil yang telah kuperbuat ini. Aku ingin, Sonya bisa melepaskan tabiat buruknya, dan Rango bisa keluar dari Genk BullBoy, dan hidup selayaknya pelajar SMA biasa."

Rifo mendengarkan perkataan yang diutarakan oleh Leo.

"S-sudah kukatakan kan... Jangan masuk! Tunggu sampai Rifo keluar dulu..." terdengar sayup-sayup suara Racha dari luar.

"Kak Leo..."

Leo dan Rifo menoleh ke arah pintu masuk karena mendengar suara yang asing bagi mereka, di sana ada seorang pemuda yang kemarin sempat muncul di dua chapter sebelumnya, Rango.

"Rango? Kenapa kau datang kemari? Sudah kukatakan kan, aku bukan kakakmu lagi aku hanya seonggo sampah yang tak layak untuk kau temui. Aku-"

"-Leo, kau tetaplah kakakku. Sampai kapanpun, aku akan tetap menganggapmu sebagai kakak. Walaupun kesalahanmu sangatlah besar, aku tidak bisa melupakan apa pelajaran yang dipetik yang kau berikan padaku, dan juga pada Sonya."

"Sudahlah Rango, hiduplah bebas seperti yang kau inginkan. Dulu kamu pernah meminta padaku seperti itukan, dan aku tidak mendengarkanmu. Nah sekarang hiduplah bebas, biar aku menanggung hukumanku ini. Sonya juga harus kau perhatikan juga, tidakkah kau mengerti jika Sonya akan berbuat hal yang tidak-tidak setelah mengetahui aku dihukum seperti ini?"

Rango menunduk, "Iya, kak.. Aku yakin sebentar lagi Sonya akan melakukan hal yang tidak wajar."

"Ah, kamu yang dulu bersama Claire itu kan?" tiba-tiba Rifo meotong pembicaraan mereka berdua.

Rango menatap Rifo, "Ah kau itu yang dulu? Vino ya?"

Rifo tersenyum kecil sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal, "Ahaha... I-iya, begitu aku mendengar berita itu dari Rifo, aku langsung ke sana bersamanya. Terimakasih ya, sudah membantuku saat itu."

Leo berjalan menghampiri Rifo dan menepuk pundaknya, "Vino, maafkan sikapmu pada waktu itu ya."

"A-aa sakit..."

"Ups, maaf..."

"T-tidak apa-apa. Santai aja, Leo."

Rango terkikik geli, "Kau terlalu kuat menepuknya, Kak Leo. Pantas kan Vino mengaduh kesakitan."

Leo mencoba mengelak, "Ya terus aku harus apa?"

"Sudahlah, Leo, Rango. Aku tidak apa-apa. Mungkin dengan pijatan keras Leo bisa langsung sembuh."

"Pfft, kau bisa saja sih." tawa Rango, "Eh, ada minuman kaleng? Boleh aku meminumnya?"

"Oh silahkan," jawab Rifo, "Itu juga ada makanan ringan, aku bisa memakannya juga."

"Ohh sankyu~"

"Rango, Vino, aku memiliki firasaat buruk," kata Leo mengalihkan perhatian Rifo dan Rango dari makanan yang dibawa Rifo, "Sonya pasti tidak terima jika aku berakhir seperti ini. Mungkin sebentar lagi dia akan melakukan hal yang aneh-aneh. Untuk itu, aku harap kalian bisa bersiap-siap saja. Sewaktu-waktu dia mulai bertingkah kalian tidak kaget. Jika tidak-"

"-sudahlah Leo, lupakan Sonya. Kau tidak tahu makanan sudahada di depan mata? Sebenarnya aku sudah lama ingin mengataimu seperti ini," potong Rango, "Dasar bocah siscon!!"

"Hei hei hei~ Rango, coba kau ulangi kalimatmu tadi~"

"A-aaa tidak mauuu~"

"Hahaha, teman-teman sudah..."

Dare mo shiranaidarou Chapter 35 - Thirty-Five
Penulis : Baru Lulus

Seorang pemuda tengah melamun menyandarkan punggungnyadi di dinding. Matanya menatap langit malam yang dipenuhi bintang-bintang dari balik jendela. Sambil mendengar sayup-sayup senda gurau dari ketiga orang di dalam ruangan sempit itu, Racha terus memikirkan sesuatu.

"Miko, Rifo, Vino... Kapan kita bisa kembali seperti dulu?"

*flashback end*

Hola '-' Maaf ya akhir-akhir ini banyak flashback bertebaran Kemudian dichaper sebelumnya pun ada sedikit kesalahan teknis, sehingga mungkin kalian jadi bingung bacanya .-. Mungkin ini kecerebohanku dalam mengetik .-. sekali mohon maaf ya

Bersambung ke Dare mo shiranaidarou Chapter 36

Author Of Pain
2017-04-18 09:12:49
Berkulit pucat? Apa racha albino ya?
Gouenji Shuuya
2017-01-11 12:19:09
Nyumbang klik dulu kapan2 kalau ada waktu ku baca mari kita buat hubungan mutualisme.. kutunggu di ceritaku
Sqouts Shadows
2017-01-11 06:23:49
Ditunggu cerita berikutnya
Phantom Alicia
2017-01-10 16:18:28
*bawa spanduk bertulisan 'Hancurkan Sonya'* #evilmodeon
Rudy Wowor
2017-01-10 14:25:49
Sonya harus dimusnahkan.
Lord Athem
2017-01-10 10:22:50
Yare yare. . . .Wabah FB mulai menyebar. . .
Baca Semua Komentar dan Balasan
daftar user · online · daftar penulis
halaman awal · group facebook