VersiTeks.com
Selain membaca versi teks anime dan manga, di sini kalian juga bisa membaca dan mengirim cerita karangan kalian sendiri, baik itu yang berupa cerita berseri, cerpen (oneshot), atau fanfiction.
login · register · kirim cerita · setting · kuis · chat game
home · versi teks · cerita karangan · oneshot · fanfiction · jadwal rilis


Silakan login atau register jika belum memiliki akun untuk menikmati berbagai fitur khusus di situs ini serta akses tanpa iklan-iklan yang mengganggu.
Pengguna Telegram? Coba game Kampung Maifam
Sekolah/Neraka Chapter 72

2017-01-04 - Whiti Intheforest > Sekolah/Neraka
205 views | 32 komentar | nilai: 9.63 (16 user)

Klik daftar cerita Sekolah/Neraka untuk membaca chapter-chapter Sekolah/Neraka sebelumnya
Buat pembaca silakan membaca cerita ini sebagai pembaca terdaftar dan share cerita ini untuk terus mendukung penulisnya tetap berkarya
Yang belum daftar silakan bergabung di grup FB Versiteks kemudian ikuti petunjuk yg ada pada postingan tersemat
Jangan lupa ikuti cerita ini untuk mendapat pemberitahuan updatenya


"Kamu benar Ruki, se-sepertinya aku mendengar suara orang" balas Yuki merespon kecurigaan yang disampaikan Ruki.

"Kalau begitu berhenti berlari, suara kita bisa terdengar mereka" tanggap Ruki.

"Mungkin saja kita sudah dekat dengan lapangan bernomer itu" tambah Yuki.

Ruki dan Yuki kemudian memelankan langkah mereka.

"Apa yang kalian lakukan, kita harus terus berlari, tempatnya masih lurus lagi" kata Yori.

"Ehhhh? Benarkah? Jadi kamu tahu tempatnya Yori? Jangan-jangan kamu tuh yang bersekongkol dengan Eric?" tanya Ruki sambil sedikit tersenyum mengejek.

"APA KATAMU!?!?!?!" teriak Eric sambil berbalik arah dan mencengkram Ruki.

"Kak!!! Ruki!!! Sudah hentikan!!!" potong Yuki.

"Aku bilang masih lurus karena ada jejak air kencing Lina di jalan yang masih menunjukkan ke arah sana. Kau sendiri kan yang bilang untuk memeriksanya. Jangan pura-pura bodoh lah..." jawab Yori.

Sekolah/Neraka Chapter 72 - Keretakan
Penulis : Whiti Intheforest

"Hahaha.. iya-iya maaf, aku cuman bercanda kok" senyum Ruki.

"Teruslah berpura-pura Ruki, tapi yang namanya kebusukan, suatu saat akan tercium juga.." balas Yori kesal sambil kembali berlari.

Mendengar itu, Ruki hanya tersenyum kecut.

Mereka bertiga kembali melanjutkan perjalanan.

"Ahh.. ahh.. aku baru sadar dan memerhatikan jalan utama yang kita lalui ini. Jejak air pipis Lina di jalan ini terputus-putus. Ada sedikit pipis Lina lalu tidak ada, kemudian beberapa meter kemudian baru ada lagi. Coba kalau aku yang jadi Lina, pasti aku tidak tahan. Kalau aku sudah pasti mengelurkan semuanya sekaligus, hahahah..." kata Yuki.

"Yahh.. untunglah Lina kuat dan cerdas, sehingga kita tidak kehilangan jejak" balas Ruki.

"KURANG AJAR!!!... anak ini bicara dengan gampangnya seolah-olah dia tidak bersalah. Semakin Lina tersiksa karena ulahnya maka poinnya akan semakin besar... siallllll.... aku harus tenang..." pikir Yori menahan diri.

Beberapa saat kemudian.

"Aaa... aaa... aaa..."

"Ruki, kali ini aku benar-benar mendengar suara orang" ucap Yuki tiba-tiba saat sebuah suara tiba-tiba kembali muncul.

"Aku juga mendengarnya.." balas Yori tersadar dan kembali dari pikirannya.

"Bu-bukankah di depan sana ada lapangan besar..." tunjuk Ruki.

Mereka kemudian berlari mendekat.

"Yahh kita sudah melewati banyak lapangan besar tempat anak-anak klub diturunkan dari bis selama berlari tadi. Lalu apakah ini lapangan seperti yang diceritakan anak Klub sepakbola? Tempat dimana anak-anak Klub memasak diturunkan? Semua lapangan besarnya sama soalnya... " tanya Ruki.

"...Yahh.. tapi jika benar ini adalah lapangan tempat dimana Klub memasak tadi diturunkan... maka lapangan bernomer ada di dekatnya" timpal Yuki.

"...Dan jika benar juga... di lapangan bernomer itu... ada Lina yang diculik, itu yang paling penting" lanjut Yori.

Suara-suara erangan terdengar di telinga mereka.

"Aaaa.. aaa.... ahh.."

"Suaranya berasal dari sana.." tunjuk Yori.

"Kak benar... ada jejak bekas air pipis Lina" tambah Yuki memastikan.

Mendapat kepastian itu, mereka bertiga mengendap-endap untuk menuju arah sumber suara sambil mengikuti jejak.

"Di-disana!!!!!" ucap Yuki kaget.

"I-itu.. lapangan bernomernya.... dan me-mereka ada di sana!!!" ujar Yori terkejut.

Ruki, Yuki, dan Yori tampak terkejut dengan apa yang mereka lihat. Di depan mereka tampak sebuah lapangan bernomer 5 dengan beberapa anak yang tergeletak di tanah sambil mengerang kesakitan. Pada lapangan itu juga tampak Lina yang diikat dengan tali duduk bersandar pada angka 5 bersama dengan seseorang yang mereka kenali.

"Lapangan kali ini bernomer 5.." seru Ruki.

"I-itu kan anak Klub renang yang tadi membawa Lina dan bersama Eric" lanjut Yuki.

"DAN LINA ADA DI SANA!!" ungkap Yori gembira.

"Fyuhh.. untunglah strategi ku berhas...."

Belum sempat Ruki menyelesaikan perkataanya, Yori tiba-tiba langsung melompat keluar dan menuju lapangan 5.

"KEMBALIKAN LINA!!!!" teriak Yori menghampiri anak Klub renang yang bersama Lina itu.

"Tu-tuan Yori!!!" kaget Lina.

"Wohohohoh...bagaimana kau bisa sampai di sini? tapi kau tampaknya sendirian..." tanya anak itu terkejut dan tak menyangka dengan kemunculan Yori.

"Tentu saja tidak!!!" jawab Yuki yang tiba-tiba muncul bersama Ruki.

"Kau bodoh sekali Yori. Aku tadi berencana untuk mengendap-endap dan mengambil Lina kembali tanpa diketahui orang ini. Tapi kau malah keluar dan bereteriak" kata Ruki.

"Sudah tidak ada gunanya kita bersembunyi Ruki. Jika kita mendekati Lina secara sembunyi-sembunyi pun, kita pasti akan tersengat listrik" ungkap Yori.

"Tu-an Yori, Tuan Yuki da-dan dan Tuan Ruki!!!!" teriak Lina menangis bahagia melihat ketiga orang 'Tuannya' itu datang untuknya.

"Bagus sekali Lina, GOOD JOB!!!" senyum Ruki pada Lina sambil mengacungkan jempolnya.

"Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa kalian bertiga bisa menemukan tempat ini? kalian tidak mengikutiku kan? Ahh.. tidakk... kalian pasti akan tersengat listrik jika waktu itu langsung mengikutiku" tanya anak Klub renang itu.

"Itu sudah tidak penting lagi..." balas Yori.

Yuki melihat keadaan sekitar mereka.

"Anak-anak yang terkapar ini pasti anak klub renang kubu baik dan korban-korban Eric lainnya" gumam Yuki pada Ruki.

"CEPAT SERAHKAN LINA!!!" teriak Yori lagi yang fokus dan sudah tak bisa bersabar lagi.

Mendengar itu, anak klub renang kemudian bangkit dari duduknya.

"Hmmm.. kalian orang-orang bodoh..."

"Asal kalian tahu saja, aku bukanlah Eric. Aku bukanlah seorang karateka yang bisa berkelahi seperti dirinya. Oleh karena itu, aku juga tidak akan memberi kalian pilihan seperti apa yang Eric lakukan."

"Kalau aku sederhana saja, jika poin kalian tidak lebih besar dariku maka siapa yang berani mendekat, berarti MELAWAN PERINTAHKU!!!!!!" tegas anak itu lantang sambil tertawa lebar.

Yori benar-benar hilang kesabran mendengar itu.

"KU-KURANG AJAR KAUUUUUUUUUU!!!!!!!!"

Namun, baru saja Yori hendak melangkah....

"Blarrrrrrrrrr!!!"

Sengatan listrik menghantam tubuh Yori hingga terjatuh.

"Aaaa... ahhh... si-sial a-aku tidak akan..." ucap Yori yang tidak menyerah dan mencoba maju selangkah lagi.

Namun,

"Blarrrrrrrrrr!!!"

Sengatan listrik kedua kembali mengenai tubuh Yori.

"AAAAAAAAAAAA!!!!!"

"KAKAK!!!!!!" teriak Yuki mendekat menghampiri tubuh kakaknya yang terjatuh.

Namun akibat Yuki yang juga mendekat,

"BlARRRRRRRRR!!"

Sengatan listrik juga menghantam tubuh Yuki.

"Huahahahah hua hua hua huhahahahaha... lucu.. lucu.. huaha huaha huahaha lucu.. bodoh sekali kalian berdua, sudah ku bilang jangan mendekat, huhahahahaha....." tawa anak Klub renang itu.

Melihat kejadian itu, Ruki masih diam saja berdiri di tempatnya.

"Hohoho... yang satu ini kelihatannya cukup cerdas, nahh kira-kira apa yang akan kau lakukan" tunjuk anak itu pda Ruki.

"Hmmm.. apa yang harus kulakukan.. mendekat padanya juga sia sia. Tapi diam di sini juga tidak ada gunanya... apa yang harus kulakukan" pikir Ruki kebingungan.

"Tidak ada pilihan lain, aku juga harus menyelamatkan Lina.." pikir Ruki tak berlama-lama.

Ruki menutup matanya dan maju melangkah.

"TAP!" suara satu langkah Ruki.

Suara langkah itu benar-benar mengejutkan seluruh anak yang berada di lapangan 5 itu.

"Ru-ruki mungkinkah..." kaget Yuki.

"Aku...." ucap Ruki sendiri yang tak percaya.

"TAP!"

Ruki mencoba langkah keduanya.

"DIA TIDAK TERSENGAT LISTRIKKKK!!!!!" kaget anak klub renang itu kaget bukan main.

"Ru-ruki ti-tida terse-ngat listrik, itu artinya poinnya...." ucap Yori ikut terkaget.

"Poinku..." kaget Ruki yang masih benar-benar tidak menyangka sambil melihat jam tangan poinnya yang tertutup pelepah daun.

"Huahhahahahahaha..." ungkap Yori yang tiba-tiba tertawa lebar.

"Kakak?" kaget Yuki yang melihat kakanya tertawa.

"Huahaha hauhaha hahah... ketahuan sekarang kau Ruki, kebusukanmu akhirnya tercium juga. Rencana penculikan Lina adalah rencanamu, tak heran jika poinmu bertambah drastis, hahahah... kau hebat Ruki, aku tidak sadar..." kata Yori sambil menepuk dahinya.

"Ruki benarkah kamu..." ucap Yuki yang kini melihat ke arah Ruki dengan tatapan ketidakpercayaan.

Jangan ragu beri nilai 10 kalau kamu suka ya !!!

Bersambung ke Sekolah/Neraka Chapter 73

Yukki Amatsu
2017-08-28 13:49:10
Poinnya Ruki tinggi kah...? lanjut ajah lah...
Aerosmith
2017-05-30 13:03:28
Wah.. Gawat nih..
Under1
2017-03-28 07:13:51
aku cuman mencoba mengkoreksi kata ini "APA KATAMU!?!?!?!" teriak Eric sambil berbalik arah dan mencengkram Ruki. "Kak!!! Ruki!!! Sudah hentikan!!!" potong Yuki. Seharusnya itukan kata yori
Kuroko Akashi
2017-02-25 17:43:09
Ughhh..m mkin kacau aje klo gtuu...
Maria Emeralda
2017-01-31 11:23:59
aaah... epet lanjutkan lah
Shineria of Life
2017-01-21 09:59:21
hei jangan nuduh Ruki begitu, itu semua diluar pemikiran Ruki tau huft. .
Night Eve
2017-01-20 17:44:58
Hmm semakin menarik saja, ditunggu lanjutannya!!!
Bocah Redoks
2017-01-20 10:16:15
perpecahan kelompok akan benar benar terjadi.
Axe Jainuri
2017-01-12 21:43:25
ayo trus ,,,,
Danifu Dantsu
2017-01-07 11:38:44
Yori melawan Ruki tapi tidak tersengat??
Baca Semua Komentar dan Balasan
daftar user · online · daftar penulis
halaman awal · group facebook