VersiTeks.com
Selain membaca versi teks anime dan manga, di sini kalian juga bisa membaca dan mengirim cerita karangan kalian sendiri, baik itu yang berupa cerita berseri, cerpen (oneshot), atau fanfiction.
login · register · kirim cerita · setting · kuis
home · versi teks · cerita karangan · oneshot · fanfiction · jadwal rilis


Silakan login atau register jika belum memiliki akun untuk menikmati berbagai fitur khusus di situs ini serta akses tanpa iklan-iklan yang mengganggu.
Like Halaman Baru KOPBI, Official Komik One Piece Bahasa Indonesia, selain itu palsu :D
Sekolah/Neraka Chapter 71

2016-12-23 - Whiti Intheforest > Sekolah/Neraka
199 views | 23 komentar | nilai: 9.93 (15 user)

Klik daftar cerita Sekolah/Neraka untuk membaca chapter-chapter Sekolah/Neraka sebelumnya
Buat pembaca silakan membaca cerita ini sebagai pembaca terdaftar dan share cerita ini untuk terus mendukung penulisnya tetap berkarya
Yang belum daftar silakan bergabung di grup FB Versiteks kemudian ikuti petunjuk yg ada pada postingan tersemat
Jangan lupa ikuti cerita ini untuk mendapat pemberitahuan updatenya


"A-aa..apa? a-ir kencing Lina? Lalu c-celana da-dalam?" kaget Yuki tak percaya sambil melihat tangannya dan celana dalam hitam yang dibawa Ruki.

"Hufffttttt... aduh.. aduh.. ada apa ini sebenarnya Ruki? Kamu membuat kami terkejut saja" timpal Yori.

"A-apa ini semua rencanamu? Sejak kapan?" tanya Yuki yang masih bingung.

"Tu-tunggu dulu... selain itu.. berarti saat ini.. Lina ti-tidak.. tidak me..me..memakai..." lanjut Yuki yang tidak bisa melanjutkan perkataanya hingga wajahnya memerah.

"Sudahlah... jangan salah sangka dan memandangku begitu. Aku akan jelaskan. Tapi sebaiknya kita segera berlari menuju lokasi Lina. Kita tidak bisa membuang-buang waktu di sini. Kita juga tidak tahu apa yang sedang terjadi pada Lina. Akan aku jelaskan sambil kita berlari saja" ungkap Ruki.

Sekolah/Neraka Chapter 71 - Rencana
Penulis : Whiti Intheforest

Mereka bertiga kemudian berlari untuk bergegas menuju tempat dimana Lina diculik.

"Ahhhh.... ahhh... ahh.. jadi bagaimana soal itu semua tadi?" tanya Yuki sambil berlari kelelahan.

"Apa kalian tidak ingat saat Eric akan membawa Lina? Bukankah ia menanyakan apakah kita memiliki pesan terakhir sebelum mereka membawa Lina?" tanya Ruki.

"Ahh.. soal itu..." gumam Yuki mencoba mengingat.

"Kalau tidak salah... bukankah kamu mengatakan pada Lina untuk mengabaikan perintah terakhirmu?" potong Yori.

"Yahh kau ingat.. benar sekali... aku memang mengatakan begitu padanya" jawab Ruki.

"Memangnya apa perintahmu Ruki? Lalu hubungannya dengan peristiwa tadi apa?" bingung Yuki.

"Apa kamu lupa? Hadehh masa baru saja berlalu sudah lupa? Apa perintah terakhirku pada Lina? Coba tanya kakakmu, seharusnya dia yang paling ingat karena dengan amarahnya dia hampir saja memukulku bila tidak dihentikan Lina" balas Ruki.

"Hampir memukulmu... bila tidak dihentikan Lina... ahhh... itukan saat kalian berdebat waktu itu..." kata Yuki sambil mengingat-ingat.

"Yahh itu adalah saat kita mengetahui betapa munafiknya kakakmu. Saat itu adalah setelah aku menyuruh Lina meminum seluruh air yang ada di botol minuman yang kita dapatkan dari gift box. Setelah Lina menghabiskan air minumnya, aku memberinya perintah tambahan dengan menyuruhnya menyimpannya sehingga Lina tidak ku perbolehkan buang air kecil sampai aku mengizinkannya. Itulah yang makin membuat kakakkmu lepas kontrol tadi."

"Nahh kemudian Sebelum dibawa Eric pergi, aku berpesan kepada Lina dan mengatakan, le-lepaskan saja. Abaikan saja perintah terakhirku."

"Dengan perintah itu, aku harap Lina mengerti dan melepaskan itu semua. Artinya Lina ku suruh untuk membuang air kecil yang selama ini ditahannya. Dan tentunya itu memberi kita keuntungan sehingga meninggalkan jejak untuk kita ikuti" jelas Ruki sambil tersenyum optimis.

"Wahh... kau benar-benar cerdas sekali Ruki... untung sa..."

Belum sempat Yuki menyelesaikan pujiannya, tiba-tiba Yori yang diam saja sedari tadi kemudian menghentikan larinya.

"Oi... Oi.. kak.. kenapa tiba-tiba berhenti? Apa kakak lelah?" tanya Yuki kaget melihat kakaknya yang tiba-tiba berhenti berlari.

"Ahhh... ahh.. ahh..." Yori mengelap keringatnya.

"Ada apa kak? Kakak beneran capek?" ulang Yuki lagi.

Tidak menjawab pertanyaan adiknya, Yori tiba-tiba berlari ke arah Ruki dan mencengkram krah seragam Ruki.

"Y-Yori a-apa yang kau lakukan, ke-kenapa kau tiba-tiba marah?" kaget Ruki.

"Kak Sebenarnya ada apa?" bingung Yuki.

"Heh.. apa kau marah karena aku menyebutmu munafik lagi? Tapi kau kenyataanya memang begitu tadi, akui saja" kata Ruki terpancing.

"Sudah-sudah kalian tidak perlu bertengkar lagi sekarang..." ucap Yuki mencoba melerai.

"Ahh.."

"Ahh..."

"Ahhh... apa kau... SEKUTU ERIC?" tanya Yori dengan tatapan tajam Kepada Ruki.

Sontak saja pertanyaan Yori membuat kaget Yuki dan tentu saja Ruki.

"A-apa maksudmu Yori? Sekutu Eric? Yang benar saja? tentu saja bukan, bagaimana bisa aku berteman dengan orang yang menghancurkan sebagian klub renang, melukai anggota klub lain dan bahkan menculik Lina? Dan yang paling penting, aku saja baru mengenalnya tadi" bingung Ruki.

"Katakan saja.. KATAKAN SAJA YANG SEJUJURNYA PADAKU!!!" teriak Yori sambil menarik-narik krah seragam Ruki.

"A-apa sebenarnya ma-maksudmu?" ucap Ruki pelan seolah meminta penjelasan atas sikap Yori.

"Semua tindakanmu benar-benar mencurigakan Ruki.." ucap Yori mulai menjelaskan.

"Apakah semua ini tidak terlalu mencurigakan? Setelah kita menemukan kotak berisi makanan dan minuman, tiba-tiba kamu menyuruh Lina minum air dari botol 1,5 liter kemudian menyuruhnya tidak boleh buang air kecil. Setelah itu kamu ngotot untuk mencari lapangan-lapangan bernomer lain karena ingin menemukan petunjuk. Aku ingat, bahkan kau sampai memohon pada Iona agar memberi tahu kita soal lapangan bernomer lainnya."

"Setelah itu kita mulai menuju lapangan 6. Di sana kita bahkan menemukan gift box lain yang kosong yang menurutmu berisi pakaian, Bagaimana kamu bisa seyakin itu? Lalu soal teorimu soal perban, pemantik api dan obat-obatan itu? Kamu selalu berbicara seolah-olah itu adalah fakta dan bukan teori."

"Lalu Lina diculik, ternyata kamu memiliki cara menemukan lokasinya, bagaimana bisa seakurat itu? Kau sudah menyusun semuanya kan?"

"Bukankah ini sangat.... sangat.. sangat.. mencurigakan? Semuanya berjalan dengan baik sesuai dengan langkah dan rencanamu!"

"Sesungguhnya mulai dari lapangan 3 sampai detik ini semua apa yang kita lakukan itu selalu bersumber dari ajakan dan petunjukmu, apa aku tidak makin merasa curiga sekarang, hei katakan SEJUJURNYA RUKI?"

"Apa kau pikir bisa membodohiku? Kau memang merencanakan ini semua kan dari awal?" tanya Yori dengan tatapan makin tajam.

"Arghh.. arghh.. lepaskan cekikanmu, tentu saja tidak begitu. Ini semua tentu hanya kebetulan. Ma-mana mu-mungkin aku merencanakan ini dari awal" jawab Ruki membela diri.

"Lalu bagimana bila Eric tidak menyuruh kita menyampaikan pesan terakhir pada Lina, huh? Tentu saja kau tidak akan bisa menyampaikan soal buang air kecil itu tadi. Lagipula kenapa Eric harus menyuruh menyampaikan pesan terakhir kepada Lina? Memangnya ia tega dan akan membunuh Lina?"

"Tentu saja tidak. Jawaban yang paling rasional kenapa Eric menyuruh kita menyampaikan pesan terakhir kepada Lina adalah supaya kau bisa memberi Lina perintah dan merencanakan apa yang kau dan Eric rencanakan dari awal kan?" ungkap Yori menjabarkan.

Ruki benar-benar kaget dan terkejut dengan semua yang dibicarakan Yori.

"Ti-tidak Yori, itu semua hanya kebetulan. Tidak mungkin a-aku me..merencanakan itu dari awal. La-lagipula apa untungnya aku melakukan itu? Merencanakan itu dari awal kemudian bersekutu dengan eric lalu menculik Lina? Tidak ada untungnya kan? Sebaiknya kita tidak u..."

"Tidak ada untungnya katamu?" ucap Yori memotong perkataan Ruki.

"Tentu saja ini sangat menguntungkan bagimu. Apa kau pikir aku lupa bahwa kita sedang bermain Cinderella. Saat ini kita memerankan diri sebagai ibu dan kakak tiri bagi sang Cinderella Lina. Kita disuruh kak Alice untuk berlomba banyak-banyakan poin sambil boleh menyiksa sang Cinderella. Nah.. ketika kamu menjalankan semua rencana busukmu ini dari awal hingga penculikan Lina maka, BOOOOOOMMMMMM!!!!!! POINMU BERTAMBAH DRASTIS!!!!!! POINMU PASTI AKAN BERTAMBAH LUAR BIASA BESAR DENGAN MENCULIK LINA!!!"

"ITUKAN TUJUANMU AKUI SAJA!!!" teriak Yori berapi-api.

Ruki benar-benar kaget luar biasa dengan apa yang disampaikan Yori.

"Te-tentu sa-sasaja tidak. Sudah ku tegaskan itu semua hanya kebetulan. Kau berpikir terlalu jauh Yori. Justru kalian seharusnya bersyukur karena aku bisa menemukan cara untuk melacak Lina."

"La-lagipula kalaupun benar semua ini adalah rencanaku, dan aku yang menculik Lina, memangnya aku salah? Bukannya kita sudah sepakat untuk boleh menyuruh Lina asalkan tetap dalam batasan?" jelas Ruki.

"APA KATAMU???!?!?!?!?!? JADI KA.."

"S-sudah dulu kak... ja-jangan emosi begitu..." potong Yuki kembali menengahi.

"Ja-di benar ini semua ulahmu Ruki?" tanya Yuki ragu.

"Haduhhh.... Hufftt..."

"Huhhh.... ya tentu saja tidak Yuki. Sudah ku bilang aku saja baru bertemu Eric tadi, sama seperti kalian. Percayalah padaku..." jawab Ruki mencoba meyakinkan teman temannya.

"Hmm..."

"Ya sudah... apapun itu, sebaiknya kita hentikan ini dan bergega..."

"LALU KENAPA KAU TIBA-TIBA MENYURUH LINA MINUM AIR SEBANYAK ITU, HUH?"

"BERI JAWABAN YANG MASUK AKAL SEKARANG?" potong Yori masih tak puas.

"So-soal itu... aku..." jawab Ruki gelagapan.

"SUDAHHH!!!" teriak Yuki yang kali ini benar-benar memotong pedebatan mereka berdua.

"Sudahlah kak hentikan ini. Apapun itu, cepat atau lambat nanti akan terkuak kebenarannya. Berdebat terus menerus di sini tidak akan membawa Lina kembali" ucap Yuki menerangkan.

Ucapan Yuki benar-benar seperti es yang menurunkan suasana yang sedang memanas.

"Baiklah kamu benar Yuki, kita lihat saja nanti Ruki!" balas Yori sambil mulai berlari lagi.

"Kak tunggguuuuu!!!"

Mereka bertiga kemudian melanjutkan berlari dengan perasaan yang kembali canggung.

Suasana menjadi diam sunyi. Hanya suara hembusan nafas yang mereka keluarkan akibat kelelahan berlari saja yang menemani mereka bertiga.

Mereka bertiga mencoba berlari sebisa mungkin untuk tidak menimbulkan suara dan memancing kelompok lain untuk menemukan mereka.

Setelah berlari hampir 30 menit...

"Ja-jauh sekali... aku sa-sangat capek.." keluh Yuki.

"Tidak heran, ini kan memang sama saja kembali ke awal dimana terletak lapangan-lapangan pertama tempat bis menurunkan Klub, ahhh.. ahh.." balas Yori.

"Se-sebentar.. aku pikir aku mendengar sesuatu. Mungkin itu tempat lapangan bernomer lainnya yang kemungkinan tempat Lina berada. Coba kalian lihat di tanah, mungkin di sana ada air kencing Lina yang bisa jadi petunjuk arah" kata Ruki memberi petunjuk.

"Yahhh teruslah begitu Ruki... teruslah berpura-pura seolah-olah kau tidak tahu ini dimana. Aku yakin kau pasti tau tempat ini. Benar kata Yuki, cepat atau lambat semua pasti akan terbongkar" pikir Yori yang kini menjadi makin tak percaya.

Jangan ragu beri nilai 10 kalau kamu suka ya !!!

Bersambung ke Sekolah/Neraka Chapter 72

SHiniGami GhoUL
2017-02-25 17:31:01
Yahhh... Kacauuu donkkk...
Bocah Redoks
2017-01-20 10:09:53
kecurigaan sudah tertanam. jadi apapun yg yg d lakukan pasti bakal salah. biar waktu yg mengungkapkan
Shineria of Life
2017-01-17 12:53:35
Ughh, kenapa semuanya jadi sesulit ini?? apa itu semua hanya kebetulan?
Gawa Ilahi
2017-01-03 18:03:24
wow ini sangat menegangkan
Maria Emeralda
2017-01-02 20:08:21
ih kece banget, mulai muncul konflik
Racharion
2016-12-28 14:07:49
iya sih '-' agak nyambung juga kata" yg dilontarkan Yori, Yori tadi ya? '-' tapi masa Ruki bisa selicik itu kerja sama dengan Eric ._.
Racharion
2016-12-28 14:07:09
iya sih '-' agak nyambung juga kata" yg dilontarkan Yori, Yo
Fujioka nagisa
2016-12-26 06:17:18
Penasaran penasaran... >o<
Luthfi D Nasib
2016-12-24 23:41:02
Sebenarnya aku kurang suka dengan cara author memanjakan char yg bernama ruki .. Keberuntungan nya terlalu mulus .. Sehingga yuki dan yori hanya seperti bayangan
FZ Bullet
2016-12-24 05:54:08
Nice 👍
Baca Semua Komentar dan Balasan
daftar user · online · daftar penulis
halaman awal · group facebook