VersiTeks.com
Selain membaca versi teks anime dan manga, di sini kalian juga bisa membaca dan mengirim cerita karangan kalian sendiri, baik itu yang berupa cerita berseri, cerpen (oneshot), atau fanfiction.
login · register · kirim cerita · setting · kuis
home · versi teks · cerita karangan · oneshot · fanfiction · jadwal rilis


Silakan login atau register jika belum memiliki akun untuk menikmati berbagai fitur khusus di situs ini serta akses tanpa iklan-iklan yang mengganggu.
Pengguna Telegram? Mainkan Game KampungMaifam
Sekolah/Neraka Chapter 69

2016-11-07 - Whiti Intheforest > Sekolah/Neraka
190 views | 18 komentar | nilai: 9.55 (20 user)

Klik daftar cerita Sekolah/Neraka untuk membaca chapter-chapter Sekolah/Neraka sebelumnya
Buat pembaca silakan membaca cerita ini sebagai pembaca terdaftar dan share cerita ini untuk terus mendukung penulisnya tetap berkarya
Yang belum daftar silakan bergabung di grup FB Versiteks kemudian ikuti petunjuk yg ada pada postingan tersemat
Jangan lupa ikuti cerita ini untuk mendapat pemberitahuan updatenya


"Hmmm... begitukah?"

"Baiklah... katakan saja... mungkin ini pertemuan kalian untuk yang terakhir kalinya, huhahahahhaha" tawa Eric lebar seakan puas dengan semua yang dilakukannya.

"Li-lina... ada yang ha-harus kusampaikan pa-padamu..." ungkap Ruki terbata sambil mencoba bangkit setelah baru saja tersengat listrik.

"Apa yang akan disampaikan Ruki?" pikir Yori dalam hati sambil menahan kesakitan akibat sengatan listrik yang juga diterimanya.

"A-ada apa Tuan?" tanya Lina sambil mencoba menutupi kesedihannya.

"Le-lepaskan saja. Abaikan saja perintah terakhirku..." ucap Ruki singkat kepada Lina sambil tersenyum.

Sekolah/Neraka Chapter 69 - Kotak Hadiah
Penulis : Whiti Intheforest

"Hmmm... apa maksudmu? Apa itu saja?" tanya Eric bingung.

"Iya itu saja.." balas Ruki pendek.

"Baiklah... aku juga tidak mengerti apa maksudnya itu. Tapi aku tidak peduli dengan itu, huheheeh" tawa Eric.

"Kalau tak ada lagi... kami permisi dulu. Dan jangan coba-coba ikuti kami, huhehehehehe" ungkap Eric pergi melangkah sambil tawanya mulai perlahan mengecil seiring jauh langkahnya.

"O-orang itu!!!!" kesal Yori yang kini mencoba bangkit.

"Kakak tidak apa-apa kan?" tanya Yuki khawatir.

"Aku tidak apa-apa. Lagipula... seharusnya bukan aku yang pantas dikhawatirkan. Justru Lina yang diculik si brengsek itu yang perlu kita pikirkan" marah Yori.

"Tenang saja.. kita akan menyelamatkannya" kata Ruki.

"Tenang? Tenang bagaimana? Apa kau sudah tidak peduli dengan Lina, huh? Atau kau punya rencana? Lagipula, apa maksud yang kau katakan barusan kepada Lina?" tanya Yori.

"Sudah kubilang tenanglah. Aku tidak menyebut ini rencana, tapi aku optimis bisa menemukan Lina lagi. Akan ku jelaskan soal itu nanti. Tapi sebelum itu, temani aku untuk memastikan sesuatu" ungkap Ruki.

"Terserahlah..." jawab Yori pendek akibat masih kesal.

"Sebaiknya kakak di sini dulu saja, biar aku yang menemani Ruki" kata Yuki.

"Baiklah.. ayo Yuki kemarilah..."

"Dan Yori... temanilah ketiga anak klub renang yang kesakitan itu dahulu.." ucap Ruki.

"Mau kemana kita, Ruki?" tanya Yuki.

"Tidak kemana-mana, hanya memeriksa angka 6 itu" jelas Ruki mengajak Yuki.

"Ukurannya sama dengan angka 3. Warnanya juga sepertinya biru, susah melihat dalam gelap seperti ini" ungkap Yuki melihat angka 6 di depannya setelah mereka berdua mendekat.



"Dalam gelap seperti saat ini, sangat sulit untuk membaca apa yang ada di angka ini, tapi aku berharap angka 6 ini sama dengan angka 3 yang sudah kita temukan" ungkap Ruki sambil menatap Yuki.

Yuki kemudian seolah memikirkan sesuatu.

"Ohhh... aku paham sekarang. Jadi begitu... pantas tadi kamu dan kakak seperti paham maksud dari Eric" kata Yuki menyadari.

Ruki pun maju, kemudian memukul angka itu 3 kali seperti apa yang ia lakukan saat berada di lapangan 3.

"Plak!"

"Plak!"

"Plak!"

Namun, sejurus dengan berakhirnya pukulan Ruki, tidak ada sesuatu yang terjadi. Hal ini berbeda dengan angka 3 terdahulu.

"Ti-tidak terjadi apa-apa!" kaget Ruki.

"Kenapa bisa begini? Apa jangan-jangan hanya bisa satu kali..." kesal Ruki bingung.

"Tu-tunggu dulu.." potong Yuki kemudian.

"Ada apa?"

"Bukankah di angka 3 waktu itu perintahnya adalah 'pukul 3 kali', jangan-jangan ini perintahnya adalah pukul 6 kali karena ini adalah lapangan 6!!" seru Yuki.

"Be-benar juga kau, bisa jadi begitu" balas Ruki semangat.

"Baiklah akan kucoba..."

"Plak!"

"Plak!"

"Plak!"

"Plak!"

"Plak!"

"Plak!"

Namun sekali lagi, tidak ada yang terjadi setelah Ruki memukul angka 6 itu sebanyak 6 kali.

"Tidakkkk!!!!' kesal Ruki sambil memukul keras angka 6 itu.

"Ternyata masih gagal..." timpal Yuki.

"Ada apa, sepertinya kalian tampak kesal?" tanya Yori yang tiba-tiba menghampiri mereka berdua.

"Kami mencoba seperti di lapangan 3 kak" terang Yuki.

"Kalian pukul angka ini 3 kali? Memangnya perintahnya masih sama?" tanya Yori.

"Itulah masalahnya, kami tidak tahu. kami mencoba seperti itu, karena tidak bisa membaca perintahnya kerena di sini gelap" jelas Yuki.

"Hmmm..."

"Masih ingatkah kalian dengan perintah yang ada di angka 3? Di sana ada kata-kata perintah yang berukuran kecil tersamarkan dengan warna biru angka 3. Nah ingatkah kalian bahwa kata-kata itu menonjol? Mungkin di angka 6 ini juga, kita bisa merabanya untuk menemukannya" jelas Yori.

"Be-benar juga..." kata Yuki senang.

"Apa kau tak paham Yori? Kita tidak mencarinya karena walaupun ketemu, kita tetap tidak akan bisa membacanya, Yori. Tempat angka 6 ini berada gelap karena tertutup bayangan pohon, tidak ada gunanya walauun ketemu" ungkap Ruki.

"Iya kak, itulah masalahnya. Seandainya kita punya pemantik api seperti milik Iona" balas Yuki.

"Heheh soal itu tak masalah, ayo kita cari dulu" jawab Yori tersenyum.

Akhirnya mereka bertiga meraba angka 6 itu, dan mencari bagian yang kasar dan menonjol.

Beberapa saat kemudian.

"Ini kak, ada sesuatu yang kasar di sini, sepertinya ini kata-kata perintahnya" ujar Yuki menemukan.

"Nah lalu sekarang bagaimana, kita tidak bisa membacanya. Kalau diraba.... tetap tidak jelas ini tulisan apa karena terlalu kecil" kata Ruki sambil mencoba meraba-raba tulisan itu untuk membacanya.

"Hehehhe... lihatlah disana!" tunjuk Yori pada area di lapangan itu yang sedikit terang akibat cahaya bulan dan tak tertutup bayangan pohon.

"Di sana memang terang kak, tapi apa jangan-jangan kakak berpikiran untuk memindahkan angka ini ke sana? Mana bisa kak, ini kan tertanam, lagipula berat" kesal Yuki.

"Haduh Yuki, kamu sudah banyak membaca buku dan menonton film, masak trik sederhana saja tidak tahu?" balas Yori.

"Trik? Trik apa?" tanya Ruki penasaran.

"Hadehh.. kalian ini. Pakai trik arsir koin lah..." jawab Yori.

"OOOOOO IYAAA...." jawab Ruki dan Yuki bersamaan menyadari beberapa saat kemudian.

"Sial aku menjadi bodoh dalam keadaan tertekan seperti ini..." sesal Yuki sambil tertawa bersamaan dengan Ruki.

Yuki kemudian mengeluarkan buku dan pensil dari tasnya. Kemudian ia menyobek selembar kertas.

"Ingatkah saat kita kecil, kita sering menaruh kertas di atas koin kemudian mengarsirnya. Kemudian senang melihat angka atau logo pada koin yang menonjol itu terasir di kertas" ucap Yuki tersenyum.



"Yah benar" balas Yori singkat.

Yuki kemudian menempelkan kertas itu pada tulisan di angka 6 yang menonjol, kemudian mengarsirnya dengan pensil.

"Nahh.. sudah" kata Yuki.

"Sekarang... kalian tinggal membawanya dan membacanya di bawah sinar bulan" senyum Yori.

Yuki kemudian berlari ke tempat yang lebih terang kemudian mencoba membacanya.

"Goyangkan 6 Kali!" seru Yuki setelah membacanya.

"Ohhh... ternyata goyangkan" kata Ruki.

"Baiklah sekarang akan aku goyang angka 6 ini, Yuki bersiap catatlah, mungkin nanti yang muncul juga akan luntur" seru Ruki memeperingatkan.

Ruki kemudian mengoyang-goyangkan angka 6 itu sebanyak 6 kali, dan ternyata angka 6 itu bisa digoyangkan ke kanan dan ke kiri.

Sejurus dengan Ruki selesai, sebuah suara terdengar.

"Srekk... srekkk... srekk... srekk!!"

"Muncul kertas juga seperti di lapangan 3!" seru Yori.

"Ruki cepat baca tulisannya di tempat terang sebelum luntur seperti di lapangan 3" ingat Yuki.

"Belok ke kiri kemudian berjalan 40 langkah, lalu cari 3 buah pohon cemara" baca Ruki pada kertas yang baru keluar dari angka 6.

Yuki langsung mencatat apa yang dikatakan Ruki.

"Tulisannya... luntur juga.." ungkap Ruki beberapa saat kemudian.

"Polanya sama dengan yang kita lakukan di lapangan 3" jelas Yori.

"Kalau begitu sekarang kita berjalan 40 langkah dari angka 6 ini, kemudian apakah kita menemukan pohon cemara, atau malah sebuah 'Gift Box' seperti yang kita temukan di lapangan 3" kata Ruki.

"Setelah mencari, kembalilah ke sini, kita tidak mungkin berteriak seperti waktu itu" jelas Ruki.

Mereka pun berpencar ke arah yang berbeda dari angka itu dan berjalan 40 langkah.

Beberapa saat kemudian, mereka bertiga kembali.

"Aku menemukannya!!!" seru Ruki.

"Pohon cemaranya?" tanya Yori.

"Bukan... ayo kemarilah ikuti aku" kata Ruki.

Mereka berjalan 40 langkah ke arah dimana Ruki tadi menuju.

"Lihatlah ini, sama seperti apa yang kita temukan tadi!" senyum Ruki.

"I-ini..." kaget Yuki.

Tampak dihadapan mereka sebuah kotak besar, sama seperti apa yang mereka temukan di lapangan 3.

"Baiklah aku buka..." kata Ruki.

Ruki kemudian membuka kotak box itu.

"Kosong!!!" teriak Yuki.

"Hehehehehe... benar kan" tawa Ruki yang diiringi dengan tawa Yori.

"Akhirnya ketemu. Pasti disinilah si brengsek Eric mendapatkan pakaian-pakaian hangat untuk Klub renang kubu jahat. Ia sudah membawanya semua" ungkap Yori.

"Jadi di lapangan 3, kita menemukan makanan. Dan di lapangan 6 ini, ternyata Eric menemukan pakaian. Ini semua berasal dari 'Gift Box'' timpal Yuki.

"Yah sepertinya begitu, tapi yang masih menjadi pertanyaan dan misteri bagiku adalah, di lapangan 3 disuruh belok ke kanan kemudian jalan 20 m dan mencari bunga melati, ehh yang ketemu malah box berisi makanan. Sementara di sini di lapangan 6, di suruh belok ke kiri kemudian jalan 40 langkah dan mencari 3 cemara, ehh yang ketemu malah box yang sepertinya berisi pakaian yang sudah diambil Eric" ungkap Ruki yang mempertanyakan itu.

Jangan ragu beri nilai 10 kalau kamu suka ya !!!

Bersambung ke Sekolah/Neraka Chapter 70

Bocah Redoks
2017-01-20 09:54:11
jadi tiap nomor mempunyai gift box ? persis acara kepramukaan
Maria Emeralda
2016-11-16 21:04:12
Klo 40 + 20 = 60, coba jalan 60 langkah dari gift box, dapet apa nanti ??
Sqouts Shadows
2016-11-13 12:49:32
Next vroh
Downcrazy
2016-11-10 19:25:03
mysterius item
Luthfi D Nasib
2016-11-08 22:13:23
Maaf pertanya'an ku lain dari para komenters .. Seandai nya aku berperan jd tuan .. selain aku punya kuasa atas budak.ku dalam hal apapun Apakah aku bisa mencelakai tuan lain
DaniFu DanTsu VZ
2016-11-08 20:04:46
bodoh, 40 langkah itukan dekat? masa sedekat itu tidak terlihat 3 pohon cemara? pohon cemara kan besar dan tinggi??
Dicky D. Awan
2016-11-08 19:22:13
jadi makin yakin klo rencana Ruki itu berhubungan sama Lina yang suruh buka baju.. :
Fujioka nagisa
2016-11-08 16:54:27
Pola ya~
Young G Raigha
2016-11-07 22:44:02
Mungkin bila di lpgan 8 ada hadiah, tapi akan disuruh 8 kali apa, mungkinlebih sulit, bukan dipukul ataupun digoyangkan.
Dalreba
2016-11-07 21:54:47
Kalau begitu di lap 8 pasti juga ada hadiah . . . Mungkin hadiah nya lebih istimewa
Baca Semua Komentar dan Balasan
daftar user · online · daftar penulis
halaman awal · group facebook