VersiTeks.com
Selain membaca versi teks anime dan manga, di sini kalian juga bisa membaca dan mengirim cerita karangan kalian sendiri, baik itu yang berupa cerita berseri, cerpen (oneshot), atau fanfiction.
login · register · kirim cerita · setting · kuis
home · versi teks · cerita karangan · oneshot · fanfiction · jadwal rilis


Silakan login atau register jika belum memiliki akun untuk menikmati berbagai fitur khusus di situs ini serta akses tanpa iklan-iklan yang mengganggu.
Like Halaman Baru KOPBI, Official Komik One Piece Bahasa Indonesia, selain itu palsu :D
Sekolah/Neraka Chapter 66

2016-09-14 - Whiti Intheforest > Sekolah/Neraka
267 views | 24 komentar | nilai: 9.69 (16 user)

Klik daftar cerita Sekolah/Neraka untuk membaca chapter-chapter Sekolah/Neraka sebelumnya
Buat pembaca silakan membaca cerita ini sebagai pembaca terdaftar dan share cerita ini untuk terus mendukung penulisnya tetap berkarya
Yang belum daftar silakan bergabung di grup FB Versiteks kemudian ikuti petunjuk yg ada pada postingan tersemat
Jangan lupa ikuti cerita ini untuk mendapat pemberitahuan updatenya


"Buakk!" Eric terus melancarkan pukulannya pada anak itu.

"Jangan lupakan kami!!" teriak kedua orang temannya membantu melawan Eric.

"Rasakan ini!!" serunya sambil mengarahkan tendangan ke arah Eric.

"Dasar amatir.." balas Eric sambil menangkis tendangan anak itu.

"Terbuka sekali pertahanan kalian" lanjut Eric lagi sambil tiba-tiba menangkap kembali tendangan yang dilancarakan anak itu.

"Bodoh!" teriak Eric sambil menendang keras perut anak itu yang terbuka lebar.

"Arrggh..." erangnya jatuh tersungkur.

Sekolah/Neraka Chapter 66 - Karateka
Penulis : Whiti Intheforest

"Hei kamu tak apa-apa?"

"Argghh.. yah.. kita tidak bisa... Eric terlalu kuat..."

"Kita diuntungkan jumlah... sebaiknya kita menyerangnya bersamaaan... tidak ada gunanya jika kita menyerangnya bergantian..."

"Iya.."

"Hahahahah... berhenti berdiskusi... mau menyerangku bersamaan? Silakan SAJA!!!!" teriak Eric.

"Hiyaaaaaaa..." seru ketiga anak Klub renang itu maju bersamaan.

"Ku kira... kalian lebih baik dari mereka... tapi ternyata... kalian memang sama bodohnya..." gumam Eric.

Ketiga anak itu siap memukul Eric dengan tinju terkuat yang mereka punya, namun sebelum itu, tiba-tiba Eric melompat ke arah ketiga anak itu.

"PERHATIKAN WAJAH KALIANNN!!!!" Seru Eric sambil lompat memutar menendang kepala ketiga anak itu.



"BUAK!! BUAKK!! BUAKK!!" tendangan memutar Eric tepat mengenai kepala ketiaga anak itu.

"Argghhh...." erang mereka bertiga terjatuh bersamaan.

Tampak salah satu dari mereka terluka pelipisnya hingga mengeluarkan darah.

"BAIKLAHH!! AKU SUDAH LELAH!!! SUDAH BANYAK WAKTU KUHABISKAN DI LAPANGAN 6 INI!!!"

"LANGSUNG SAJA KU HABISI KALIAN!!!!" kesal Eric.

Eric kemudian melancarkan serangannya pada ketiga anak Klub Renang yang sedang tergeletak itu.

"Buakk!! Eric kembali menghajar anak yang pelipisnya berdarah itu dengan tinjunya.

"BUAKK!!"

"RASAKAN!!"

"TERIMA INI!!"

"BUAKK!!"

"BUAKK!!"

"Argggghhhhhhhhhhh...." erangnya kesakitan.

Wajah anak itu semakin lebam dan hancur. Darah segar membanjiri wajahnya. Bahkan darah yang ada di pelipis matanya sampai bercucuran hingga memenuhi matanya hingga pandangannya pudar.

"LEPASKAN TANGANMU DARI TEMANKU!!!" teriak temannya yang lain tiba-tiba mendorong Eric.

"Bruakk!!" Eric sedikit terpental mendapat dorongan itu.

"Cihh.. inilah yang paling aku malas... berurusan dengan tikus seperti kalian" kesal Eric.

Eric kemudian bangun sambil menatap kedua anak Klub renang yang mencoba berdiri.

"Kalian akan bernasib sama dengannya..." kata Eric pelan.

Eric kemudian maju menyerang.

"Bruakk!!"

"Bukkkk"!

"Bukkkkk!"

Saat itu, Eric seperti menyudahi segala sesuatunya. Ia dengan mudah mengeluarkan pukulan dan tendangan yang ia punya untuk menghajar kedua anak itu. Hanya beberapa detik berselang.... kedua anak itu akhirnya jatuh juga.

"RASAKAN ITU BODOH!!! BAGAIMANA RASANYA!!!"

"KALIAN MEMBUATKU MUAK DARI SIANG!!!! TERUS BERDATANGAN BAGAIKAN TIKUS PENUH HARAP YANG BERHARAP MENDAPAT KEJU!!! NYATANYA KALIAN LEBIH BURUK DARI TIKUSS!!!" Teriak Eric sambil menendang dan menginjak-injak ketiga anak Klub renang tersebut.

"BUAKKK""

"MAMPUSSS!!"

"DUAKKK"

"DASAR TIKUS!!"

"BUKKK!!"

"Kalian Klub renang berharap menang dari karateka seperti diriku? JANGAN MIMPI!"

"BUAKK!"

Ruki yang melihat itu kemudian berdiri dan mencoba menghentikan Eric.

"OI... Oi... Oi... ERICCC HENTIKAN!!!" Seru Ruki sambil menarik Eric.

"SUDAH HENTIKAN! Kau pasti sudah menang. Mereka sudah jatuh tersungkur dan tak mampu bangkit lagi. Sesuai perarturan, mereka yang kalah" seru Ruki.

Eric cukup kesal dengan apa yang disampaikan Ruki, namun kemudian ia mengecek jam tangan poinnya.

"Hmm.. sudah bertambah.." ujarnya sambil tersenyum kecil.

"Hei!!! Kalian bertiga tak apa-apa kan?" tanya Yori sangat khawatir sambil melihat keadaan ketiga anak Klub renang yang sedang terkapar itu.

Darah, luka sobekan, serta bekas yang lebam memenuhi wajah dan tubuh mereka.

"Pe-perutku Sa-saki-t-t.."

"Wa..jahku..."

Tampak mereka bertiga sangat kesakitan dan tak mampu bicara. Bahkan salah satu dari mereka hanya terdiam dengan tatapan kosong.

"Hei.. bagaimana ini? mereka tampak tidak baik-baik saja? kita harus menolongnya" panik Yuki.

Salah satu dari ketiga anak Klub renang itu tiba-tiba mengeluarkan air mata dan menangis.

"Hei apa kamu baik-baik saja?" ulang Yuki khawatir.

"Si-sialll!!!!!!!!" marahnya sambil memukul tanah.

"SIAL!! Si-sial!! Ma-maafkan aku te-teman-teman... ternyata kami sama lemahnya...." tangisnya menyesal sambil menutupi matanya.

"Kami juga sama tidak bergunanya.. maaf.." isaknya lagi.

"Sebenarnya ada masalah apa antara kubu klub renang kalian dengan klub renang mereka? kenapa berbeda pendapat saja sampai seperti ini?" bingung Yori.

"Itulah yang membuat ku penasaran dan ku pikirkan sejak...."

"Sringgg....." tiba-tiba sebuah suara memotong perkataan Ruki.

Ternyata Eric mengeluarkan pisaunya dan mengarahkan kepada Ruki dan teman-temannya.

"Sekarang... kembali ke permasalahan kita mengenai pilihan yang belum kalian jawab tadi."

"Pilihan pertama adalah kalian mengorbankan sesuatu dan memberikannya padaku lalu kalian boleh pergi. Atau pilihan kedua adalah melakukan duel denganku seperti ketiga tikus bodoh ini. Boleh dengan tangan kosong atau dengan pisau. Kalian sudah terlalu banyak tahu, aku tidak akan membiarkan kalian begitu saja, hehehehe..." seru Eric sambil menjilati pisaunya.

"TENTUKAN!!" bentak Eric kemudian.

"Sial anak ini masih saja...." keluh Yuki.

Ruki dan teman-temannya terdiam bersama sampai Yori kemudian berbisik pelan ke arah Ruki.

"Sepertinya... kita harus pakai cara itu lagi, Ruki" ucap Yori memberi isyarat.

"Hufftt.. iya... senjata kita memang tinggal itu.." balas Ruki mengerti.

"Jadi bagiamana?" tanya Eric tak sabar sambil mengayun-ayunkan pisaunya.

"Kami ambil pilihan pertama!" ungkap Yori.

"Heh?" kaget Eric.

"Hmmm... menarik... lalu apa yang ingin kalian korbankan?" tanya Eric.

Ruki kemudian bangkit dan meminta Lina untuk menyerahkan tasnya padanya.

"Aku punya sesuatu yang menarik untukmu dalam tas ini" seru Ruki.

"Hahahaha... apa itu? Apa kalian mencoba membodohiku? Apa itu tas kosong?" kata Eric.

"Tentu saja tidak, buktinya aku tidak tersengat listrik kan?" senyum Ruki percaya diri.

"Hmm.. hmm.. menarik... menarik.. kira-kira apa isinya ya.." gumam Eric.

"Tapi sebelum ku serahkan ini, bagaimana kalu kau beritahu kami apa yang sebenarnya terjadi dengan kalian? Perbedaan pendapat kedua kubu tidak akan menghadirkan dendam yang berlebih seperti ini?" tanya Ruki penasaran.

"Hmmm..." Eric mencoba berpikir.

"Baiklah... tapi serahkan dulu tasnya" ucap Eric kemudian.

Ruki kemudian memandang Yori.

"Berikan saja padanya.." angguk Yori.

"Ambil ini!" seru Ruki sambil melemparkan tas Lina ke arah Eric.

"Hupp.."

"Wow.. apa ini.. lumayan berat" ucap Eric setelah menangkap tas Lina.

"Bagaimana dengan ceritanya?!" tanya Yori.

"Oke.. oke.. tenang.. aku tidak ingkar janji kok" jawab Eric.

"KA-KALIAN TI-TIDAK P-PERLU MENGHARAPKAN ORANG SE-SEPERTI-TI DIAAA... Uhukk... Uhukkk..." potong anak Klub renang yang tengah terkapar.

"Oi... oi... jangan bicara dulu..." kaget Yuki.

"Lu-Luka seperti i-ini... tak ma-masalah buatku... cuihh" serunya sambil membuang ludahnya yang bercampur darah.

"Argghh.." anak itu mencoba duduk.

"Heii... jangan dulu.." sergah Yuki lagi.

"Coba kalian lihat perbedaan pakaian kami dengan pakaian miliknya" ungkap anak itu.

"Kami hanya memakai celana renang ini dan bertelanjang dada. Sementara dia? Lihatlah... pakai jaket dan celana jeans seperti baru pulang dari mall" kesal anak itu lagi.

"Itulah yang menjadi pertanyaanku. Kalian klub renang beda kubu dalam berpendapat. Tapi kenapa pakaian kalian juga ikut berbeda? Itulah yang membuatku penasaran sejak melihat kalian..." tanya Ruki tak sabar mendengar cerita yang sebenarnya.

Jangan ragu beri nilai 10 kalau kamu suka ya !!!

Bersambung ke Sekolah/Neraka Chapter 67

SHiniGami GhoUL
2017-02-24 09:44:42
Lanjuttlahh...
Bocah Redoks
2017-01-20 09:26:46
jadi ruuki gk mau bertarung? padahal dengan itu dia bisa mencapai poin seratus dengan mudah
Racharion
2016-12-28 09:53:50
emang boleh kalo klub-nya ndobel? '-'
Parsha Permanasuke
2016-10-22 13:00:04
Next chapter senpai!
Hoocki Asd
2016-10-14 13:05:55
the end???
Dalreba
2016-10-11 15:01:31
Akhirnya selesai juga baca maraton. Walu sdh pernah baca sbg anonim. Setidaknya ini menambah poinku
Shineria of Life
2016-10-09 16:05:59
Aku kira Ruki dkk gak bakaln jadi sasaran si eric, tapi ternyata salah..
Al Onepc
2016-10-05 19:56:49
slalu mmbuat pnasaran..c orgaku banyak juga..
Kei Takashima
2016-10-04 19:31:07
Mana next chapt nya???????
Fujioka nagisa
2016-09-28 19:31:47
Chp brunya kok telat?
Baca Semua Komentar dan Balasan
daftar user · online · daftar penulis
halaman awal · group facebook