VersiTeks.com
Selain membaca versi teks anime dan manga, di sini kalian juga bisa membaca dan mengirim cerita karangan kalian sendiri, baik itu yang berupa cerita berseri, cerpen (oneshot), atau fanfiction.
login · register · kirim cerita · setting · kuis · chat game
home · versi teks · cerita karangan · oneshot · fanfiction · jadwal rilis


Silakan login atau register jika belum memiliki akun untuk menikmati berbagai fitur khusus di situs ini serta akses tanpa iklan-iklan yang mengganggu.
Pengguna Telegram? Coba game Kampung Maifam
Sekolah/Neraka Chapter 65

2016-09-07 - Whiti Intheforest > Sekolah/Neraka
264 views | 22 komentar | nilai: 9.71 (14 user)

Klik daftar cerita Sekolah/Neraka untuk membaca chapter-chapter Sekolah/Neraka sebelumnya
Buat pembaca silakan membaca cerita ini sebagai pembaca terdaftar dan share cerita ini untuk terus mendukung penulisnya tetap berkarya
Yang belum daftar silakan bergabung di grup FB Versiteks kemudian ikuti petunjuk yg ada pada postingan tersemat
Jangan lupa ikuti cerita ini untuk mendapat pemberitahuan updatenya


"Baiklah sekarang aku akan menawarkan peraturan tentang duel kita..." lanjut Eric lagi.

"Heii tu-tunggu dulu... jangan termakan omongannya..."

"Kamu tidak perlu berduel dengan pisau. Cukup dengan tangan kosong saja. Ini terlalu berbahaya... jika salah, kamu bisa tertusuk!!!! Jangan korbankan nyawamu untuk sesuatu yang seperti ini" sergah teman-temannya yang lain.

"A-aku harus lakukan... mungkin saja aku akan terluka parah atau bahkan mati. Tapi aku tidak terima teman-temanku diperlakukan seperti itu. Selain itu... masih banyak teman kita yang lain yang sedang bergantung pada kita" balas anak itu lagi.

"LEBIH BAIK AKU YANG MATI.... ATAU DIA YANG MATI!!!"

Sekolah/Neraka Chapter 65 - Jangan Buang Semuanya
Penulis : Whiti Intheforest

"Hahahha benar sekali... kau membuatku bersemangat... baiklah begini... kita bertarung dengan pisau. Pemenangnya adalah yang mampu membuat lawannya terjatuh dan tak mampu bertarung lagi. Kau boleh gunakan pisau untuk menebas, menyayat dan bahkan menikam. Karena ini mempertaruhkan nyawa... bagaimana kalau kita pasang 'All Bets' heheheh..." seru Eric.

"Apa itu All bets?" gumam Yuki.

"Itu artinya... pemenang berhak memperoleh semua poin lawannya. Hehehe bagaimana? Bukankah itu menguntungkan buatmu?" lanjut Eric lagi.

"I-itu..." ucap Yuki terkejut.

"Yahhh tentu saja... aku tidak peduli soal poinnya... yang ku inginkan adalah membuatmu terkapar... baiklah, aku akan meneri..."

"TIDAK AKAN ADA YANG BERKELAHI DI SINI!!!" seru Yori tiba-tiba maju dan memotong pembicaraan mereka.

"KAKAK!!!" kaget Yuki.

"Oiii... oii.. oi... rupanya ada yang ikut campur di sini" seru Eric yang berpaling melihat Yori.

"Hentikan ini semua! Apa kalian berniat saling membunuh, ini KONYOLL!!" marah Yori.

"Ini bukan... URUSANMU!!!!" teriak Eric.

"Blarrrrrrrrrrrrrr!!!!!!"

"Arrgghhh...." erang Yori tiba-tiba tersengat listrik.

"Kakakkkkkk" panik Yuki.

"Tuan Yori!!" ucap Lina yang turut terkejut.

"Berhentilah menjadi serangga penggangu yang berada di sekitar kami. Aku tidak ingin ada pengganggu!" ulang Eric.

"Hei anak itu benar... sebaiknya kita ambil saja tantangan berkelahi dengan tangan kosong... ini terlalu berbahaya bila duel dengan Eric menggunakan pisau" seru teman-temannya panik dan kembali mengingatkan.

"TIDAKK... ini sudah keputusanku... AKU TETAP AKAN MELAKUKANNYA... BAIKLAH AKAN KU TERIMA TAN..."

"BARU 2 HARI..." ucap Ruki yang kini tiba-tiba memotong pembicaraan mereka.

Semua orang terkejut dan langsung memusatkan pandangan mereka ke arah Ruki.

"Baru 2 hari kita bersekolah di sini, ya di SMA Hoshi.... SMA terbaik di seluruh negeri...."

"Baru 2 hari kita di sini, menjadi siswa-siswi SMA Hoshi..."

"Baru 2 hari... dan aku sudah melihat 2 orang di depanku yang mana sama-sama murid baru sepertiku... sudah saling bunuh" ungkap Ruki mengutarakan pendapatnya.

"Aku tidak membela siapapun dari kalian berdua. Bahkan aku tidak tahu mana yang benar dan mana yang salah diantara kalian berdua. Namun yang aku tahu salah adalah... 2 orang murid baru yang saling membunuh di hari kedua mereka bersekolah."

"Aku tidak tahu apa motivasi ataupun dasar yang membuat kalian menjadi sangat marah dan emosional... tapi yang aku tahu... semua ini bodoh..."

"Apa kalian ingat apa tujuan utama kalian berada di seolah ini? apa kalian ingat impian kalian sebelum semua hal gila dan sistem poin ini berlaku? Apa kalian ingat cita-cita yang kalian idamkan saat sebelum masuk sekolah ini?"

"Aku tidak tahu apa yang ada dipikiran kepala kalian sekarang ini... tapi yang aku tahu... kalian pasti ingin suskses dan berhasil bila masuk ke sekolah terbaik di seluruh negeri. Aku jelas tahu bahwa impian kalian saat berhasil masuk sekolah ini tentunya untuk berjuang sebaik mungkin menjadi yang terbaik... untuk sukses... untuk masa depan... untuk harapan yang lebih baik..." ucap Ruki berat.

"Apa kalian semua lupa apa yang selama ini telah kalian lakukan untuk berhasil masuk SMA Hoshi? Mencoba belajar sekuat tenaga. Terus berlatih berbagai macam soal yang sulit. Terus... terus... dan terus tanpa henti bekerja keras demi berhasil mengerjakan soal tes pendaftaran yang sangat sulit dan bisa di terima di SMA Hoshi."

"Apa setelah semua itu... kalian ingin membuangnya begitu saja?"

"Membuang semua usaha kalian sebelum ini. Membuang semua kerja keras kalian sebelum ini. Atau bahkan membuang harapan orang-orang yang menanti kabar bahagia setelah kalian berhasil lulus dari sekolah ini. Orang tua kalian... kelurga kalian.... masih ada yang menanti kalian di luar sana..."

"Aku tahu... masuk SMA Hoshi bukanlah sesuatu yang mudah. Jangan membuang semuanya begitu saja di hari kedua kalian bersekolah. Aku mohon... ada cara yang lebih masuk akal... jika salah satu dari pisau kalian menusuk jantung lawannya... semua ini berakhir..." ujar Ruki menyudahi nasehatnya.

Perkataan Ruki seolah menampar semua anak yang mendengar nasehatnya. Situasi di situ menjadi hening seolah perkataan Ruki benar-benar sampai di hati mereka.

Namun beberapa saat kemudian.

"Plok... plok.. plok.." Eric bertepuk tangan.

"Perkataanmu benar-benar bisa menyadarkan dan menyentuh hati siapa saja yang mendengarnya. Tapi sayang.... aku tidak tersentuh.... hahahahahahaah" ungkap Eric yang kemudian tertawa lebar.

"Kau benar-benar berbakat... jika kau bisa jadi aktor... mungkin aku kan menangis melihat aktingmu dalm film, hahahahah" tawa Eric lagi.

"Jangan termakan olehnya... apa yang dikatakan temanku Ruki itu benar. Eric tidak waras... namun dia cukup waras untuk memberi kita pilihan yang masuk akal. Jika kamu memang benar-benar ingin mengalahkannya... sebaiknya buat KO dia dengan tangan kosong" ucap Yori menambah saran.

"Mereka benar... kamu boleh marah... tapi kita harus berpikir ke depan... jangan gegabah.. jangan terpancing... jalan kita masih panjang..." ungkap teman-temannya juga mengingatkan sambil menepuk pundaknya untuk meyakinkan.

Anak itu tampak berpikir dan menghela nafas.

"Baiklah... aku akan mengambil tantangan untuk duel dengan tangan kosong. Tapi tenang saja... duel kita tetap All Bets" ucap anak itu akhirnya mengganti pilihannya.

"Ohhh... ohh.. oh... jadi kau mengganti pilihanmu? Ok itu tidak masalah buatku" balas Eric santai.

"Tapi itu menjadi kurang menarik dan tak adil. All Bets seharusnya dilakukan untuk pertarungan yang besar dan bukan seperti ini. Baiklah.. untuk membuatnya menarik, bagaimana kalau kalian bertiga melawanku sendirian? Hehehehe..." tantang Eric percaya diri.

"Benarkah? Kau mau memberi keuntungan pada kami? Bagaimana teman-teman?"

"Te-tentu dengan senang hati kita menerimanya..." balas kedua orang temannya.

"Baiklah kalau begitu. Duel dengan hadiah All bets antara aku dan kalian bertiga akan segera dimulai. Kita akan bertarung tanpa alat dengan mempergunakan seluruh anggota tubuh kita. Pemenangnya adalah yang mampu membuat lawannya terjatuh dan tidak mampu bertarung lagi. Itu antara aku yang terkapar, atau kalian bertiga yang terkapar sekaligus... bagaimana, KALIAN MENERIMA DUEL INI?" seru Eric.

"KAMI MENERIMA!!!" jawab mereka bertiga serempak.

"BINGGGOO.... AYOOO MULAIIII!!!" teriak Eric bersemangat sambil mulai melompat-lompat kecil sambil berkuda-kuda layaknya seorang pendekar karate yang sedang bertanding.

"Si-sial... aku mencoba menasehati mereka, tapi mereka malah tetap bertarung. Untung saja sedikit ceramahku bisa menghentikan mereka dari adu pisau. Walaupun beradu pukulan dan tendangan juga bisa berakibat fatal" pikir Ruki.

"Tapi.. sebenarnya pertarungan mereka karena apa? jika hanya bersebrangan kubu tidak sampai sedendam ini. Lalu kenapa anak Klub renang itu bilang teman-temannya bergantung padanya? Masalah apa yang sebenarnya membelit mereka?" bingung Ruki yang terus berpikir.

"Buakkkk!" satu pukulan keras tiba-tiba terdengar.

"Me-mereka su-sudah mulai!!" panik Yuki.

"Rasakan pukulan itu!" seru Eric yang satu pukulannya tepat mendarat di perut anak klub renang.

Jangan ragu beri nilai 10 kalau kamu suka ya !!!

Bersambung ke Sekolah/Neraka Chapter 66

Kuroko Akashi
2017-02-20 11:47:46
Fight has Begun...!!!
Bocah Redoks
2017-01-20 09:19:20
saat orang sudah putus asa. maka tidak ada keraguan untuk mengorbankan semuanya.
David Lopez
2017-01-02 11:55:08
kalau aku gak perlu berkelahi.. cukup bertarung siapa.yg paling banyak nge ikkeh ikkeh cewek
Baru Lulus
2016-12-27 14:59:58
siapkan popcorn '-')/ dan kita akan mulai menonton pertarungan ini
Dalreba
2016-10-11 14:55:52
Buat Erick yg jago karate sudah pasti dia menang mudah
Kei Takashima
2016-10-04 19:26:42
Next
Shineria of Life
2016-09-27 16:42:51
Eric itu punya hati atau gak sih, setidaknya pikirkan yang dirumah. . Aaishh
Tatsuma
2016-09-14 17:15:13
eee, btw kalo sambil megang tangan temen, tu temennya bisa ikut kena listrik juga g?
Tatsuma
2016-09-14 07:28:19
woah, keren ceritanya, feel nya ngena banget, ada kesel2 gimana gitu :v
ThE LaSt EnD
2016-09-12 17:00:06
hmm mau duel saja lama ya..bnyak diskusinya..tp kata2 yg menarik.
Baca Semua Komentar dan Balasan
daftar user · online · daftar penulis
halaman awal · group facebook