VersiTeks.com
Selain membaca versi teks anime dan manga, di sini kalian juga bisa membaca dan mengirim cerita karangan kalian sendiri, baik itu yang berupa cerita berseri, cerpen (oneshot), atau fanfiction.
login · register · kirim cerita · setting · kuis · chat game
home · versi teks · cerita karangan · oneshot · fanfiction · jadwal rilis


Silakan login atau register jika belum memiliki akun untuk menikmati berbagai fitur khusus di situs ini serta akses tanpa iklan-iklan yang mengganggu.
Pengguna Telegram? Coba game Kampung Maifam
Sekolah/Neraka Chapter 61

2016-08-03 - Whiti Intheforest > Sekolah/Neraka
311 views | 31 komentar | nilai: 9.47 (19 user)

Klik daftar cerita Sekolah/Neraka untuk membaca chapter-chapter Sekolah/Neraka sebelumnya
Buat pembaca silakan membaca cerita ini sebagai pembaca terdaftar dan share cerita ini untuk terus mendukung penulisnya tetap berkarya
Yang belum daftar silakan bergabung di grup FB Versiteks kemudian ikuti petunjuk yg ada pada postingan tersemat
Jangan lupa ikuti cerita ini untuk mendapat pemberitahuan updatenya


"Ehh.. benarkah? Apa ada banyak makanan di sana?" tanya Iona lagi.

"Iya lumayanlah, ada beberapa makanan dan minuman di sana" balas Yori.

"Hmm... lalu dimana lapangan 3 itu berada?"

"I-itu... lumayan jauh dari sini. Letaknya ada di tepian sungai" jelas Yori akhirnya memberi tahu.

"Umm.. begitukah. Mmmm.. aku malas bila mencari ke sana. Lagipula, ini sudah cukup banyak kok" seru Iona tergiur melihat makanan dan minuman di hadapannya.

Sekolah/Neraka Chapter 61 - Ilmu Baru
Penulis : Whiti Intheforest

"Ehh.. kau tidak tertarik dengan lapangan itu?" kaget Ruki yang keheranan.

"Memangnya buat apa? menemukan lapangan 3 kan tidak ada gunanya? Apa kalian tidak dengar atau bagaimana, kita kan disuruh mencari lapangan 8" jelas Iona.

"A-anak ini... sepertinya dia tidak tahu kalau ada petunjuk rahasia di lapangan itu. Kami saja belum tahu apa maksud petunjuk itu. Seandainya aku dapat menemukan lapangan lain, apakah ada petunjuk..."

"Hmm.. jadi memang ada banyak lapangan-lapangan lain yah, yang bukan lapangan 8" ucap Iona yang memotong pikiran Ruki.

Ruki yang mendengar itu, menjadi terkejut.

"Ka-kau bilang ada lapangan lain? A-apa itu berarti kau menemukan lapangan lain yang juga bernomer?" tanya Ruki amat penasaran.

"I-iya" jawab Iona singkat.

"Be-beri tahu aku dimana tempatanya? Tolonglah... beri tahu kami dimana tempatnya, kami akan ikhlaskan makanan yang kau ambil, tapi sebagai gantinya beri tahu kami" seru Ruki berubah antusias.

"Oii... Ruki!!! Apa maksudmu? Kamu mau menukar makanan dan minuman kita dengan informasi yang tidak kita butuhkan? Iona benar Ruki, Kita butuh informasi tentang lapangan 8, bukan yang lain" ucap Yori yang kesal.

"Tuhh.. dengar temanmu" balas Iona.

"Sudah berikan saja..." gigih Ruki.

"Hmmm...."

"Hmmm.. aku hanya ingat sekilas. Sebenarnya tak banyak yang ku temukan, hanya dua lapangan bernomer. Yang satu adalah lapangan 6, nah yang satunya lagi aku lupa. Tapi jika kamu mau ke lapangan 6, berhati-hatilah. Di sana baru saja terjadi keributan, aku saja baru menyelamatkan beberapa orang dari sana sore ini" jelas Iona.

"Aku tak peduli, apa kau ingat jalannya? Gambarkan aku lokasinya" seru Ruki sambil meminta buku catatan yang dibawa Yuki.

"I-iya, kalau yang lapangan 6 aku masih ingat jalannya. Kalau yang lapangan satunya, aku tak ingat. Tapi kalau tak salah... lokasinya tak jauh dari anak Klub Sepakbola yang ku selamatkan. Mungkin kau bisa bertanya padanya" terang Iona sambil menggambar denah lokasi.

Setelah selesai dengan itu, Iona membuka beberapa bungkus roti yang ada di hadapannya. Tak lupa, teh kotak yang ada di depannya tak luput dari pandangan.

"Ahhh.... makan dan minum dalam kondisi yang seperti ini... benar-benar... ENAKKKKK!!!" seru Iona senang.

"A-apakah kau berniat memakan semuanya sendirian?" kaget Ruki melihat Iona yang rakus.

"Ahh.. aku hanya memakan sekenyangku saja. Nanti kalau ada sisa... akan ku bagi dengan anak buahku yang lain kok" senyum Iona.

"Kau benar-benar parah Iona, aku benci orang sepertimu" kesal Ruki.

"Ruki sudahlah..." cegah Yuki yang juga sudah hilang harapan.

"Pa-padahal aku..."

"Padahal aku sudah memikirkan rencana yang ku kira tadinya bakal berhasil. Aku sudah mengetahui bahawa kita tidak bisa berbohong pada anak yang poinnya lebih tinggi daripada kita. Melihatmu... tentu semua juga tahu bahwa entah bagaimana, tapi poinmu jelas-jelas sangat tinggi. Aku sebenarnya ingin mengelabuimu" jelas Ruki.

"Aku tahu berbohong di depanmu hanya akan membuatku tersengat listrik. Oleh karena itu aku menyuruh Lina, temanku yang berpoin terendah, untuk menanyakan soal makanan. Lalu seperti yang kau dengar sendiri, Aku dan Yori menjawab pertanyaan Lina dengan mengatakan tidak mempunyai makanan. Karena dengan berbohong pada Lina, kami tidak akan tersengat listrik. Tadinya dengan rencana itu berhasil... aku berharap bisa menjebakmu... tapi ternyata rencanaku gagal" ungkap Ruki menjelaskan semuanya.

Iona yang mendengar itu, segera menelan makanan yang dikunyahnya.

"Plok...! Plok...! Plok...!" serunya sambil bertepuk tangan.

"Cerdas... cerdas.. cerdas sekali kalian" senyum Iona.

"Kalian benar-benar tim yang luar biasa. Aku salut dengan kalian... sayangnya, sepertinya kalian bukanlah orang yang akan bersedia berada bersamaku" ucap Iona.

"Jadi itu alasan kakak, Ruki dan Lina" pikir Yuki yang akhirnya paham dengan sikap aneh yang ditunjukkan kakak dan teman-temannya.

Iona melanjutkan santapanya hingga merasa kenyang dan puas.

"Enakkk... Kenyanggg" ungkap Iona.

Kini di hadapannya, hanya tersisa beberapa potong roti dan sebotol air mineral.

"Baiklah.. sebaiknya sekarang kita kembali ke tempatku. Soal makanan dan minuman ini, biar aku yang mengarang cerita" senyum Iona.

"Cihh.." ucap Ruki yang masih kesal.

Melihat peringai Ruki, akhirnya Iona berkata sesuatu.

"Sepertinya ada yang harus ku sampaikan pada kalian..." ungkap Iona memulai.

"Aku merasa pertukaran makanan dengan informasi soal lapangan bernomer tadi, tidak adil untuk kalian. Karena Clementine Iona Pritchard adalah orang baik, maka akan ku beri tambahan informasi untuk kalian" jelas Iona.

"Pertama, soal perkataanmu bahwa anak berpoin rendah tidak akan bisa berbohong pada anak berpoin tinggi, jika tidak maka ia akan tersengat listrik. Peryataan itu benar, tapi tidak sepenuhnya."

"Ingatkah bahwa kamu juga berbohong padaku bahwa poinmu lebih besar dariku? Bukankah itu kebohongan? Kenapa kau tidak tersengat listrik?" tanya Iona.

"Itulah yang menjadi pertanyaanku dan membuatku heran. Tadinya dengan rencanaku berbohong pada Lina, aku tidak akan tersengat listrik di hadapan keramaian anak-anak itu. Lalu aku akan memancingmu ke sini. Aku membawa Yori untuk membantuku jika aku tidak kuat menahan listrik. Yaaa.. tadinya aku ingin menahannya. Aku ingin bersandiwara di hadapanmu dengan bermodal gertakanku soal makanan serta kemampuanku menahan sengatan listrik. Tapi salah satu yang mebuatku heran... aku tidak tersengat listrik saat bilang bahwa poinku lebih besar darimu" ungkap Ruki yang heran.

"Heheh... cerdik sekali memang kalian"

"Baiklah akan ku beri tahu kebenarannya. Seperti kataku tadi... kamu tidak tersengat listrik... karena kau menahannya."

"Bukankah berbohong atau tidak itu sebenarnya adalah perkataan hati? Jadi benarkah bahwa sistem poin yang berakibat listrik ini bisa membaca hati dan pikiran seseorang? Bukankah berbohong atau tidaknya seseorang itu seharusnya hanya dirinya sendiri yang tahu? lalu bagaimana sistem listrik ini bisa tahu?" tanya Iona.

"Ka-kalau dipikir-pikir benar juga.." ucap Yori menyadari.

"Untuk itu... maka dapat diambil kesimpulan... entah bagaimana sistem gila ini bekerja, ia dapat membaca dan mengetahui isi hati, perasan dan pikiran" ungkap Iona tajam.

"Oleh karena itu... sebenarnya dalam hatiku, aku selalu berkata semoga orang-orang yang ada di sekitarku tidak ada yang tersengat listrik dan selalu menganggap aku adalah orang yang baik. Nahh.. sebenarnya itu yang selalu aku gaungkan dalam hatiku."

"Dengan sugesti itu pulalah... kalian tidak tersengat listrik tadi" ungkap Iona memberi penjelasan.

"Apakah kau bisa memberi contoh pada kami?" tanya Ruki tiba-tiba setelah mendengar penjelasan yang cukup panjang dari Iona.

Iona mencoba berpikir...

"Aku bisa memberi contoh, tapi apa kamu mau jika sedikit tersengat?" tanya Iona.

"Yahh.. lakukanlah" seru Ruki.

"Oii Ruki.. lagi-lagi, apa yang kamu lakukan?" kesal Yori.

"Coba hina aku sekarang.." perintah Iona.

"DASAR KAU GADIS KURANG AJAR, DASARR PENIPU!!!!" ucap Ruki yang melampiaskan kekesalannya setelah diberi kesempatan.

"Nah tidak ada apa-apa kan? Sekarang coba hina aku lagi" perintah Iona untuk yang kedua kalinya.

"DASAR KAU...."

Belum sempat Ruki menyelesaikan perkataannya.

"BLARR!!!" sebuah sengatan listrik kecil menghantam tubuh Ruki.

"RUKI!!" teriak Yuki dan Yori menghampiri Ruki.

"Jangan khawatir, itu hanya sengatan listrik kecil. Dengarkan.. pada perintahku yang pertama, hatiku berkata untuk membiarkan Ruki menghinaku. Namun saat perintah kedua, Aku berkata pada diriku sendiri, normalkan semuanya.. berikan sengatan listrik kecil pada yang tidak seharusnya. Dengan merubah itu, bisa dilihat sendiri hasilnya" ungkap Iona memberikan ilmunya.

"Te-terima kasih banyak Iona atas ilmu dan informasinya" ucap Ruki.

"Hadehh.. seharusnya kita tidak perlu berterima kasih pada orang seperti dia" kesal Yuki.

Namun saat menengok Ruki, entah kenapa Yuki melihat sedikit senyum yang terlukiskan di bibir Ruki.

Jangan ragu beri nilai 10 kalau kamu suka ya !!!

Bersambung ke Sekolah/Neraka Chapter 62

Yukki Amatsu
2017-08-27 22:33:51
Tau dah....
Bocah Redoks
2017-01-20 08:50:51
cantik dan cerdas. tapi menakutkan
Baru Lulus
2016-12-27 10:26:40
kalo di pikir-pikir itu Iona baik '-' cuma jalan pikirannya yg agak melenceng
Dalreba
2016-10-11 14:21:52
Apa mereka akan me-gangbang Iona
Kei Takashima
2016-10-04 18:22:42
Hmhhh
Rocky Si Tampan
2016-08-23 20:09:46
senyum jahat
Aerilyn Shilaexs
2016-08-14 10:06:35
tapi mereka berbohong beberapa kali, btw udah terkejar ke new chap
ThE LaSt EnD
2016-08-11 21:53:46
sugesti, fikiran, isi hati perasaan, sistem jm tangan..sengatan listrik.., ah nanti sja kufikirkn.. next ja dlu. emosi, perintah, ah nanti saja..
Danifu Dantsu
2016-08-10 21:35:02
Kapicirit tuh Ruki.
Mori Takeda
2016-08-10 14:54:37
Di percepat om
Baca Semua Komentar dan Balasan
daftar user · online · daftar penulis
halaman awal · group facebook