VersiTeks.com
Selain membaca versi teks anime dan manga, di sini kalian juga bisa membaca dan mengirim cerita karangan kalian sendiri, baik itu yang berupa cerita berseri, cerpen (oneshot), atau fanfiction.
login · register · kirim cerita · setting · kuis · chat game
home · versi teks · cerita karangan · oneshot · fanfiction · jadwal rilis


Silakan login atau register jika belum memiliki akun untuk menikmati berbagai fitur khusus di situs ini serta akses tanpa iklan-iklan yang mengganggu.
Pengguna Telegram? Coba game Kampung Maifam
Sekolah/Neraka Chapter 59

2016-07-20 - Whiti Intheforest > Sekolah/Neraka
292 views | 34 komentar | nilai: 9.47 (17 user)

Klik daftar cerita Sekolah/Neraka untuk membaca chapter-chapter Sekolah/Neraka sebelumnya
Buat pembaca silakan membaca cerita ini sebagai pembaca terdaftar dan share cerita ini untuk terus mendukung penulisnya tetap berkarya
Yang belum daftar silakan bergabung di grup FB Versiteks kemudian ikuti petunjuk yg ada pada postingan tersemat
Jangan lupa ikuti cerita ini untuk mendapat pemberitahuan updatenya


"Heii!!!! Kenapa kalian semua berkata begitu?!?!" pikir Yuki masih tak percaya.

"Aku tahu kita semua sudah sepakat soal ini, namun ketika melihat semua anak-anak ini, masihkah kalian menyembunyikannya?!?!" pikir Yuki masih benar-benar tak percaya.

"Aku bisa memaklumi ini jika itu adalah Ruki. Namun kenapa Kakak juga ikut berkata seperti itu? Kakak bukan orang yang seharusnya diam saja melihat orang lain yang tengah kelaparan. Kakak bukan orang seperti itu.... Apa yang terjadi sebenarnya? Kenapa sekarang Kakak malah sependapat dengan Ruki..." pikir Yuki terus menerus bertanya-tanya dalam hatinya.

Sekolah/Neraka Chapter 59 - Ada Apa?
Penulis : Whiti Intheforest

"Yahh... kalau begitu sebaiknya segera kita buat api unggunnya. Malam ini sepertinya cukup dingin" kata Iona sambil melihat tumpukan ranting dan juga dedaunan kering yang telah menggunung.

Sejurus dengan hal itu, Iona kemudian mengeluarkan sesuatu dari saku bajunya.

"Terima kasih atas usaha kalian yang mau kembali mengumpulkan ini semua..." ucap Iona sambil menyalakan api menggunakan pemantik api.

Yori yang melihat hal itu, cukup merasa terkejut.

"Bu-bukankah itu pemantik api? Da-darimana kamu mendapatkan benda itu?" tanya Yori yang penasaran karena sebelumnya ia hanya dapat menyalakan api dengan cara tradisional.

"Aahh.. ini... aku kebetulan mendapatkannya dari anak yang tengah menyiksa anak yang ku selamatkan" jawab Iona.

"Jawaban ringan macam apa itu. Mana ada hal seperti itu di sini?" pikir Yori tak habis pikir.

Api yang dinyalakan mulai bergerak membakar dedaunan kering serta ranting-ranting yang dikumpulkan. Api mulai membesar. Cahaya di tempat itu mulai terasa terang, rasa hangat juga terasa menyelimuti.

"Bos Iona, saya sudah merasa baikan sekarang. Saya bisa membantu anda mulai sekarang. Terima kasih...." seru seorang anak yang tiba-tiba memghampiri Iona.

"Ahh.. ahh.. jangan memaksakan dirimu seperti itu. Lebih baik kamu beristirahat lagi. Aku khawatir lukamu terbuka lagi" balas Iona.

"Tidak Bos... Saya tidak bisa berdiam diri terus. Ijinkan saya ikut membantu anak-anak lain."

"Jika kamu memaksakan dirimu dan itu malah akan berakibat buruk bagi dirimu, kamu malah akan meyusahkan semua orang. Menolong itu baik... tapi jangan lupa diri sendiri itu juga penting..." ingat Iona.

"Ta-tapi... aku..."

"Sudah.. sudah.. beristirahatlah saja. Sudah ku katakan kan... serahkan semuanya padaku..." ucap Iona sambil tersenyum.

"Apa kalian akan pergi setelah ini?" tanya Ruki memotong pembicaraan mereka.

"I-iya.. aku mencoba menolong anak-anak lain yang sedang kesusahan. Walaupun malam semakin gelap... bukan berarti penderitaan ORGAKU ini akan berakhir kan..." kata Iona dengan menunjukkan raut muka sedih.

"Ohh.. iya.. ngomong-ngomong soal luka, Apa kalian juga menyelamatkan anak dengan luka yang sangat parah?" tanya Yori.

"Memang beberapa dari anak yang ku selamatkan, terluka cukup parah. Ada yang lecet atau kulitnya terkoyak. Ataupun beberapa anak juga terkilir. Memangnya ada apa?"

"Yah... Aku sebenarnya enggan membicarakan ini, tapi keadannya lebih parah dari yang kamu sebutkan. Kami sebelum sampai di sini, menemukan seorang anak yang kondisinya kalau boleh dibilang ya.... dalam kondisi yang sangat hancur. Bajunya sobek-sobek, giginya rontok, kakinya patah... serta parahnya lagi kami sudah tak jelas melihat raut wajahnya, bahkan baju yang dikenakannya sudah terbenam oleh darahnya" ucap Yori bercerita.

"Benakah ?!?! Apa yang kamu ceritakan ini benar? Parah sekali... kami tidak menemukan yang seperti itu... apa kamu masih ingat tempatnya... sebaiknya segera kita tolong anak itu dan bawa ke sini" kaget Iona.

"Itulah masalahnya... sebetulnya kami juga hendak menolongnya... namun saat kami lengah, tiba-tiba anak itu menghilang" jelas Yori.

"Menghilang? Menghilang bagaimana?"

"Entahlah.. tiba-tiba tubuh anak itu yang tadi tergeletak di tanah, tiba-tiba lenyap dan hanya menyisakan darahnya di tempat dia tergeletak. Bahkan di sekitarnya tidak ada jejak kaki atau bekas darah yang menetes" jelas Yori lagi.

"Benar-benar aneh... dan mencurigakan.." ucap Iona bingung dan cukup terkejut.

"Ehh.. menghilang bagaimana Yori?" tanya Ruki tiba-tiba memotong.

Yori yang mendengar pertanyaan Ruki, jadi merasa aneh.

"Ya menghilang begitu saja.. dia tidak ada saat kita melihatnya lagi... masa kamu lupa, Ruki?" tanya Yori yang keheranan.

"Ehh.. sepertinya kamu salah ingat Yori... yang menghilang itu anak yang pertama kita temukan... dan dia tidak begitu parah. Nah yang kedua itu baru yang parah. Kita tidak menolongnya karena takut itu adalah jebakan. Masa baru begitu saja kamu sudah lupa, Yori?" tanya Ruki dengan sedikit memberi tanda isyarat.

Yori yang mencoba membaca situasi tersebut, mulai paham dan mengikuti alur.

"Hmm... apa iya ya? Aku sudah lupa... tapi.. kamu kayaknya benar deh.." balas Yori.

Yuki yang sedari tadi persis mengetahui betul sandiwara yang dimainkan kakaknya dan Ruki, benar-benar makin tak habis pikir.

"Sekarang apa lagi ini? kenapa kalian terus mengarang cerita?" pikir Yuki.

"Benarkah? Kalau begitu anak yang terluka parah bahkan sampai patah kaki dan hancur itu masih ada dan tidak menghilang?" tanya Iona.

"Iya benar sekali. Aku pikir kita harus segera menolongnya... aku masih ingat tempatnya.. kalau bersamamu, aku yakin kita akan aman" ucap Ruki pada Iona.

"Kalau begitu antar aku ke sana" sigap Iona.

"Yori kamu temani aku... lalu Lina dan Yuki, kalian tunggu sebentar di sini" seru Ruki.

Iona, Yori dan Ruki kemudian bergegas meninggalkan tempat itu.

"Tenang saja... aku yakin Bos Iona bisa menyelamatkan anak itu" kata anak-anak yang lain kemudian.

"Bukan itu masalahnya... masalahnya aku sangat penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi" pikir Yuki yang terlihat gelisah.

Selang beberapa menit kemudian.

"Si-sial... aku benar-benar tidak tahan... kalau begitu sebaiknya aku..." pikir Yuki sambil bangkit.

"Ahh... mereka lama sekali.. tuh kan seperti biasa.. mereka tidak bisa diandalkan. Punya kakak dan teman seperti itu... padahal lokasi anak itu kan tidak jauh dari sini. Aku yakin Bos kalian pasti tidak akan kesulitan bila menemukannya. Tapi buktinya sampai sekarang mereka belum kembali... itu artinya pasti kakak dan temanku lupa dimana tempat anak itu berada, hadehhh..." ucap Yuki mencoba bersandiwara.

"Aku akan mencoba menyusul mereka..." lanjut Yuki.

"Begitukah..? kalau begitu biar ku temani."

"Ti-tidak usah... cuman begini saja.. kalian rawat saja anak-anak yang lain.." sergah Yuki.

Akhirnya Yuki segera bergegas meninggalkan tempat itu sambil sebelumnya sempat melirik Lina untuk memberi isyarat.

"Kemana mereka? seharusnya mereka tidak akan berjalan jauh demi semua kebohongan itu..."pikir Yuki yang telah meninggalkan tempat itu sambil mecoba mencari kakaknya, ruki dan Iona di tengah kegelapan malam.

Saat tengah mencari,

"KAU TIDAK AKAN BISA MENIPUKU LAGI!!" teriak sebuah suara yang sayup-sayup terdengar.

"Di sana!!" gumam Yuki mencoba mendekati sumber suara sambil mengendap-endap.

"I-itu mereka bertiga!!" gumam Yuki setelah melihat mereka dari balik pohon tak jauh dari situ.

"Jadi bagaimana kamu bisa tahu semua itu?" tanya Iona pada Ruki.

"Aku mencuri dengar pembicaraanmu dengan temanmu saat sejenak meninggalkan tempat itu dan membantu mencari ranting. Aku sudah tau semua!!" ungkap Ruki.

"Wow kamu ada di sekitar sana ya... yah aku memang tidak memerhatikan keadaan sekitar sih..." balas Iona.

"Kau benar-benar buruk, Iona..."

"Aku banyak melihat kebaikan dan keburukan. Diantara semua itu, aku lebih sering menemukan banyak keburukan dan kejahatan. Salah satu dari kejahatan dan keburukan yang paling ku benci adalah adanya orang-orang seperti dirimu...."

"DASAR SERIGALA BERBULU DOMBA!!!" kesal Ruki menahan amarah.

Jangan ragu beri nilai 10 kalau kamu suka ya !!!

Bersambung ke Sekolah/Neraka Chapter 60

Lord Hellium
2017-03-27 19:34:52
hah?
Kuroko Akashi
2017-02-19 23:39:44
A,,adaa apaa ituu.!???
Bocah Redoks
2017-01-20 08:36:07
sepertinya identitas iona yg sebenarnya sudah terungkap. tapi siapa ?
Baru Lulus
2016-12-25 17:45:21
apa yg sebenarnya terjadi? '-'
Dalreba
2016-10-10 16:17:28
Aku penasaran dar klub mana Iona dan apakah dia benar murid kelas 1
Kei Takashima
2016-10-04 16:11:32
Hmhhh
Rocky Si Tampan
2016-08-23 19:58:48
misteri apakah ini
Beautiful Alien
2016-08-14 09:47:14
ternyata iona tidak sebaik kelihatannya
ThE LaSt EnD
2016-08-11 21:12:06
hmm- sepertinya dblik kebaikan Iona ada maksud jahat yg trsembunyi.. mungkinkah., next sja dlu.. eh, tpi Ruki dn Yori d chpter sblumnya smpet brbohong, gk terse..next ja dlu
NaoCharlotte
2016-07-31 22:23:54
Maksudnya apa?
Baca Semua Komentar dan Balasan
daftar user · online · daftar penulis
halaman awal · group facebook