VersiTeks.com
Selain membaca versi teks anime dan manga, di sini kalian juga bisa membaca dan mengirim cerita karangan kalian sendiri, baik itu yang berupa cerita berseri, cerpen (oneshot), atau fanfiction.
login · register · kirim cerita · setting · kuis
home · versi teks · cerita karangan · oneshot · fanfiction · jadwal rilis


Silakan login atau register jika belum memiliki akun untuk menikmati berbagai fitur khusus di situs ini serta akses tanpa iklan-iklan yang mengganggu.
Like Halaman Baru KOPBI, Official Komik One Piece Bahasa Indonesia, selain itu palsu :D
Sekolah/Neraka Chapter 56

2016-06-29 - Whiti Intheforest > Sekolah/Neraka
302 views | 41 komentar | nilai: 9.12 (33 user)

Klik daftar cerita Sekolah/Neraka untuk membaca chapter-chapter Sekolah/Neraka sebelumnya
Buat pembaca silakan membaca cerita ini sebagai pembaca terdaftar dan share cerita ini untuk terus mendukung penulisnya tetap berkarya
Yang belum daftar silakan bergabung di grup FB Versiteks kemudian ikuti petunjuk yg ada pada postingan tersemat
Jangan lupa ikuti cerita ini untuk mendapat pemberitahuan updatenya


*******

Sementara itu di suatu tempat yang tidak diketahui.

Suara alunan musik biola terdengar memenuhi tempat tersebut.

Alunan gesekan biola yang memainkan lagu Mozart, Requiem di D minor memenuhi sepinya tempat yang hanya berisi 2 orang di dalamnya.

"Matahari mulai tenggelam, malam yang gelap akan tiba. Sepertinya hari yang indah ini akan segera terlelap, Zeriff...." kata seseorang sambil menghentikan gesekan biola yang dimainkannya.

"Yahhh... kau benar.." jawab lawan bicaranya yang ternyata adalah Zeriff.

"Hmmm... beberapa terlihat menarik... tapi apa kau yakin ini tidak terlalu cepat. Apa kau yakin ada yang berhasil? Waktu hanya tinggal semalam lagi. Dan semuanya tidak akan menjadi lebih mudah dalam keadaan gelap" balas seseorang itu.

"Yahh.. semuanya akan jadi lebih menarik mulai saat ini, bukankah begitu?" tanya Zeriff tersenyum.

"Tentu saja..." balas lawan bicaranya dengan tersenyum pula.

Sekolah/Neraka Chapter 56 - Malam Telah Tiba
Penulis : Whiti Intheforest

"Itulah yang saat ini mereka mainkan. Tidak dalam waktu ideal, tidak di tempat terbaik. Namun di situ lah bagian menariknya."

"Apa kau tahu hal tersebut sama dengan perlombaan renang yang aku cintai. Tempat dimana kau harus memacu dirimu dalam rentang waktu yang singkat. Mencoba berjuang dalam keadaan yang tidak ideal. Mendobrak tenaga demi mencapai tujuan yang ingin diraih."

"Di situlah serunya. Ketika hal itu menjadi lama dan tak terbatas waktu, maka tidak akan ada keseruan yang tercipta. Penonton akan benci sesuatu yang monoton dan bergerak konstan. Waktu yang sedikit memang membuat segala sesuatunya menjadi lebih menarik" terang Zeriff.

"Kau memang tak berubah..."

"Aku tahu itu..."

"Sebaiknya mungkin aku akan memainkan sebuah lagu dari..."

Sebuah suara langkah kaki tiba-tiba terdengar mendekati kedua orang tersebut.

"Hmmm...."

"Ada apa kau ke sini? Apa ada sesuatu yang salah?" tanya Zeriff pada seseorang yang baru saja terdengar langkah kakinya.

"Ti-tidak Tuan... semuanya berjalan sesuai rencana. Hanya ingin memberi berkas laporan" balas orang itu gugup.

"Hmmm... baguslah kalau begitu. Lalu bagaimana dengan sajian utama kita?" tanya Zeriff.

"Soal itu, juga tidak ada masalah Tuan. Kami masih bisa mengurusnya."

"Jangan berbuat kekacauan. Sang bintang utama harus muncul di panggung yang indah. Mencoba memainkan melodi hasil arasemennya sendiri untuk memberi kesadaran bagi para pendengar" tambah orang yang memegang biola itu.

"Siap Tuan. Semuanya masih bisa kami kerjakan."

*******

Sementara itu, kembali ke tempat Ruki dan teman-temannya berada.

"Ruki, hentikan semua ini.... ini semua tidak benar!" teriak Yori mencoba menghentikan Ruki.

"Diam!!! jangan berisik!"

"Jangan bersifat munafik seperti itu. Saat kau melakukan dan menyuruh-nyuruh Lina, kau bertindak seolah tidak terjadi apa-apa. Sekarang... setelah giliranku, kau malah berperangai seperti orang sok bijak!" kesal Ruki.

"Tapi ini membahayakan Lina!!!" seru Yori lagi.

Ruki kemudian melepaskan botol air minum dari mulut Lina.

"Ahhh.... ahhh.. uwokkk... uwok...." engah Lina yang menahan muntah agar air di perutnya tidak keluar.

"Lina! Katakan pada dua orang ini agar mereka sadar" seru Ruki pada Lina.

"S-ssssaya t-tidak apa-apa Tuan. Ini se-semua perintah Tuan Ruki. D-dan saya a-akan berus-ssaha memenuhinya" gagap Lina.

Ruki kemudian menyerahkan botol yang masih tersisa air setengahnya kepada Lina.

"Minum ini sendiri dan habiskan. Aku tidak ingin mendengar omelan dari mereka berdua!" seru Ruki memberi perintah.

Lina kemudian mengambil botol itu dari tangan Ruki dan mencoba meminum isinya. Ia mencoba memaksakan perutnya untuk bisa diisi air walaupun ia merasa sudah penuh dan perutnya ingin meledak.

"Lina.. kamu tak harus lakukan ini.." seru Yori.

Lina tidak mendengar itu dan segera mencoba meminum air itu.

"Glupp... gluppp.. mmmmhmm.. glupp..."

"CEPATT HABISKAN!!" teriak Ruki.

"Glupp... hhnmmm... hmmnn.. glupp.. glupp.."

Lina mencoba sekuat tenaga menghabiskan seluruh air yang ada pada botol air mineral 1,5 L tersebut.

"Nahhh... iya.. ayo minum.. sedikit lagi.." seru Ruki.

"Glupp.. glupp.. mhhmm..."

"Ahhhhh......." dengus Lina setelah air itu lenyap dan masuk semua ke dalam tubuhnya.

"Plokk... plok... plok..."

"Selamat kau berhasil Lina" Kata Ruki tersenyum.

"Ahhh... uwokkk... uwokkkk..." Lina mencoba menutup mulutnya agar tidak muntah.

"Lina!!!!" teriak Yuki dan Yori bersamaan sambil mendekati Lina.

"Lina kamu baik-baik saja kan? Kamu tidak apa-apa?" tanya Yuki sambil membantu Lina berdiri.

"S-saya ba-baik-baik saja T-tuan" jawab Lina pendek sambil memegangi perutnya.

Yori menatap tajam ke arah Ruki.

"Ada apa? kau tidak terima? Huhh..." balas Ruki yang tak kalah kesalnya.

"Sudah-sudah Tuan. S-saya ti-tidak apa-apa" ucap Lina mencoba menengahi.

"Hehehe.. bagus Lina. Biarkan saja kedua orang ini berkata apa. Oh iya... setelah minum sebanyak itu, aku ingin kau menyimpannya ya. Jadi aku tidak akan mengizinkanmu buang air kecil sebelum ku izinkan" seru Ruki sembari tersenyum.

Mendengar hal itu, Yori jadi semakin naik pitam.

"OIIIIIIIII!!!! KURANG AJAR KAU RUKI!!!!!!" teriak Yori sambil hendak memukul Ruki.

Namun saat pukulan mengarah ke arah Ruki....

Lina tiba-tiba bangkit dan menghalangi pukulan Yori.

"Sudah Tuan, hentikan! S-saya masih kuat. I-ini kan s-sudah kesepakan kita be-bersama. Jadi tidak perlu b-bertengkar seseperti ini. Jalan kita ma-masih panja-jang" ujar Lina sambil membentangkan tangannya untuk melindungi Ruki.

"Tuhh.. kau sudah dengar sendiri kan?" tanya Ruki tersenyum.

"Cihh..." kesal Yori.

"Dasar munafik. Saat aku yang lakukan, kau marah. Giliran kau sendiri..." gumam Ruki.

"APA KAU..."

"Sudah kak, hentikan!" seru Yuki yang kini mencegah kakaknya.

"Apa yang Lina katakan itu benar. Bukan saatnya kita bertengkar dalam keadaan yang buntu ini. Semua ini akan menambah runyam masalah" lanjut Yuki.

"Sudah-sudah, ayo segera kita berjalan lagi. Lihat keadaan sudah setengah gelap sekarang. Mungkin sebentar lagi hanya cahaya bulan yang dapat menyinari jalan kita. Kita perlu bergegas dan mencari info tentang lapangan 8" kata Lina yang sudah agak tenang.

Akhirnya mereka melanjutkan perjalanan mereka. Kini perjalanan menjadi terasa lebih canggung dan hening daripada sebelumnya.

"Aku tidak tahu, tapi sebaiknya kita mencoba bergerak makin dalam saja dengan menjauhi sungai" ujar Yuki.

Mereka semua terus berjalan dalam kegelapan tanpa arah tujuan yang jelas.

Saat malam mulai datang, entah kenapa suara-suara di hutan itu menjadi lebih peka terdengar. Suara jangkrik, suara serangga yang keluar sampai suara decit gesekan antar daun dan ranting pohon juga menjadi terdengar jelas. Bahkan, langkah kaki mereka pun cukup terdengar jelas.

"Kita harus lebih waspada" ujar Ruki menghimbau.

Yori yang mendengar hal itu, walaupun masih tidak senang dengan sikap Ruki, Ia pun tetap setuju untuk lebih waspada di keadaan yang semakin gelap.

"Pandangan kita menjadi samar dan sulit sekarang" ungkap Yuki.

"Seandainya kita punya penerangan" lanjut Yuki.

"Penerangan memang bagus, tapi sisi negatifnya itu juga membuat keberadaan kita diketahui orang" balas Yori.

Mereka semua terus berjalan tanpa arah untuk waktu yang cukup lama sampai akhirnya Yori kemudian berhenti.

"Ini tidak masu akal!" seru Yori sambil duduk dan bersender pada pohon di sebelahnya.

"Ada apa kak? Apa kakak lelah?" tanya Yuki kaget.

"Apa yang sebenarnya coba kita lakukan sekarang? Ini semua tidak masuk akal. Kita hanya berjalan tanpa arah dan berharap menemukan sesuatu. Mencoba berharap menemukan lapangan ber-angka 8 diantara angka-angka yang lain. Dimana itu? Kita tidak mungkin mencarinya disetiap cm hutan ini. kalian kan tahu sendiri bahkan seluruh hutan ini saja, terlalu luas untuk dikelilingi menggunakan bus. Lalu kita berharap menemukannya dengan jalan kaki? Mungkin 1 hari penuh pun tidak akan cukup untuk menjelajahi seluruh hutan ini. kita harus apa sekarang? Ini benar-benar tidak masuk akal. Ini bagai mencari jarum dalam tumpukan jerami" kesal Yori mulai merasa putus asa.

Ruki yang sedari tadi mengeluhkan tentang kebuntuan mereka, hanya bisa diam dan menyetujui apa yang baru saja dipikirkan Yori.

"Apa ini sudah waktunya bagi kita untuk menyerah dan diam menunggu di sini hingga matahari terbit?" tanya Yuki pasrah.

"Huffffftttt....... Iya, sepertinya kita harus menye..."

"Bu-bukankah kalian mencium sesuatu?" tanya Ruki tiba-tiba memotong perkataan Yori.

Mendengar itu, mereka semua mencoba mengalihkan topik pembicaraan dan menajamkan penciuman mereka.

"Bu-bukankah ini.... bau asap" ucap Yuki merasakan aroma keberadaan asap yang tipis itu.

Jangan ragu beri nilai 10 kalau kamu suka ya !!!

Bersambung ke Sekolah/Neraka Chapter 57

Yuu Uchiyama
2017-03-27 19:07:01
aduh kenapa jadi kurang menegangkan
Gouenji Shuuya
2017-03-07 21:01:14
Nah dari chp ini mulai tak terbaca.. tapi aku sudah menemukan cara agar bisa terbaca
SHiniGami GhoUL
2017-02-19 23:15:52
Mmtt... Sdkit ngeselin jga shh tuh Ruki...
Bocah Redoks
2017-01-18 23:39:47
ada kejutan apalagi ? benar benar cerita yg menarik
Nikki
2016-12-11 18:37:50
Ngenes amat si Lina
Dalreba
2016-10-10 15:46:06
Aku curiga poin Ruki sekarang lebih tinggi dari Yori
Kei Takashima
2016-10-04 15:03:52
NexT
Aerilyn Chan Kawai
2016-08-14 09:19:52
lina kaya sapi gelonggongan, dipaksa minum banyak
ThE LaSt EnD
2016-08-11 12:54:35
ada yg membkar sesuatu.. kjutan apa lg ya. next
ThE LaSt EnD
2016-08-11 12:31:40
ada yg membkar serguatu.. kjutan apa lg ya. next
Baca Semua Komentar dan Balasan
daftar user · online · daftar penulis
halaman awal · group facebook