VersiTeks.com
Selain membaca versi teks anime dan manga, di sini kalian juga bisa membaca dan mengirim cerita karangan kalian sendiri, baik itu yang berupa cerita berseri, cerpen (oneshot), atau fanfiction.
login · register · kirim cerita · setting · kuis
home · versi teks · cerita karangan · oneshot · fanfiction · jadwal rilis


Silakan login atau register jika belum memiliki akun untuk menikmati berbagai fitur khusus di situs ini serta akses tanpa iklan-iklan yang mengganggu.
Like Halaman Baru KOPBI, Official Komik One Piece Bahasa Indonesia, selain itu palsu :D
Sekolah/Neraka Chapter 51

2016-05-30 - Whiti Intheforest > Sekolah/Neraka
377 views | 34 komentar | nilai: 8.71 (7 user)

Klik daftar cerita Sekolah/Neraka untuk membaca chapter-chapter Sekolah/Neraka sebelumnya
Buat pembaca silakan membaca cerita ini sebagai pembaca terdaftar dan share cerita ini untuk terus mendukung penulisnya tetap berkarya
Yang belum daftar silakan bergabung di grup FB Versiteks kemudian ikuti petunjuk yg ada pada postingan tersemat
Jangan lupa ikuti cerita ini untuk mendapat pemberitahuan updatenya


Yori dan Lina segera mengambil batu-batu besar yang ada di tepian sungai itu untuk ditumpuk menjadi bendungan. Mereka mencoba membuat jebakan untuk mendapatkan ikan.

"Bi-bi war k-ku bantu...." seru Ruki yang masih menggigil dari pinggir sungai.

"Ahhh,, kamu saja masih seperti itu Ruki.... bersabarlah sebentar... biar kami saja yang mengerjakan... setelah selesai menyiapkan jebakan untuk ikan, aku akan membuatkan kalian api untuk membakar ikan, menghangatkan badan dan mengeringkan baju" balas Yori menjelaskan.

"Ehh..? Tuan tau caranya membuat api? Pakai apa Tuan?" tanya Lina yang penasaran.

"Oi... oi... oi... oi... kalau kau tahu caranya membuat api, sebaiknya cepatlah. Kenapa malah menangkap ikan dulu?" kesal Ruki yang masih kedinginan.


Sekolah/Neraka Chapter 51 - Hangatnya Api
Penulis : Whiti Intheforest

"Tenang saja, ini tidak lama kok. Lagian ikan ini sulit didapatkan jadi ku lakukan duluan" jawab Yori sambil memindahkan batu-batu besar itu.

"Hadehh...." kesal Ruki sambil melihat Yuki yang masih tertidur tak jauh di sebelahnya.

Sementara itu, Kedua gadis yang baru saja diselamatkan, juga tampak kedinginan sambil meringkuk bersama.

"Hei Yori cepatlah... mereka juga kedinginan lho..." ulang Ruki sambil mencoba menahan rasa dingin yang menggerogoti tubuhnya.

"Iya... ini... kesini..... dan........ Yuppppp..."

"Iya.... iya... Ruki.... Kami selesai" kata Yori tersenyum melihat hasil pekerjaanya bersama Lina.

"Semoga kita bisa dapat ikan, Tuan" ujar Lina.

"I-iya... aku harap juga begitu.... aku tidak ingin perut kita kembali meronta, tapi...." ujar Yori tak melanjutkan perkataanya.

"Tapi apa, Tuan?" tanya Lina.

"Tapi... kamu juga harus makan kali ini jika kita dapat ikan, aku tidak mau tahu...." jawab Yori.

"Ba-baiklah..." jawab Lina tak lagi mengelak.


Yori dan Lina segera keluar dari sungai dan berjalan mendekati Ruki.

"Mungkin kita akan buat api di sana saja, kita butuh tempat yang terlindung dari angin" ujar Yori.

"Lalu bagaimana caranya, Tuan?" ulang Lina yang penasaran.

"Aku juga tahu ini dari buku dan belum pernah mencobanya langsung. Pertama, kita membutuhkan tiga material untuk membuat api. Ketiga tipe itu adalah: Tinder (penyala), kindling (pemancing), dan Fuel (bahan bakar). Tinder adalah material kering yang akan menyala dengan panas atau suatu percikan api. Kita harus benar menyediakan bahan yang benar-benar kering agar api bisa menyala. Nah... untuk tinder ini mungkin kita bisa mencari seperti dedaunan atau rumput-rumputan kecil yang juga kering."

"Kemudian kindling/pemancing, adalah material yang sudah disiapkan dan gampang menyala yang akan ditambahkan setelah bahan tinder menyala. Disini kita bisa mencari bahan seperti ranting–ranting kecil yang kering. Nah kemudian yang terakhir adalah, fuel/bahan bakar yang berfungsi untuk membuat api terbakar lama. Tentunya bisa kita gunakan kayu-katu pohon yang cukup besar" terang Yori panjang lebar menjelaskan.

"Nah sekarang... ayo kita cari Lina, apa kamu paham?" tanya Yori.

"I-iya Tuan" jawab Lina semangat.

"Hmmm... Yori lagi-lagi menyuruh Lina melakukan pekerjaan, Hmmm... tampaknya dia mengharap poin dari itu..." pikir Ruki menyimpan itu dalam hatinya.

Mereka berdua kemudian bergegas untuk mencari bahan yang dibutuhkan.

"Dia berbicara benar-benar seperti professor, semoga setelah benda-benda yang dikumpulkannya tadi terkumpul, dia benar-benar bisa membuat api yang menyala" pikir Ruki kesal.

Tak lama kemudian, Yori dan Lina kembali dengan bahan-bahan yang dibutuhkan.

"Nahh... lalu bagaimana caramu menyalakan apinya sekarang?" tanya Ruki yang akhirnya menghampiri mereka berdua.

"Aku mungkin akan menggunakan hand drilling. Yahh... peralatannya benar-benar tidak memadahi tapi aku coba saja" ujar Yori mencoba optimis.

Yori mengambil sebuah ranting kecil yang panjang yang berujung runcing. Ia kemdian menjepitkannya pada kayu kering yang beralaskan dedaunan kering yang berguna sebagai penyala.

"Arrggghhhhh..." teriak Yori sambil memutar-mutar ranting tersebut seperti orang mengebor untuk mendapatkan panas dari gesekan.

"Arrggghh... Susah sekali... Si-sial.. kayunya tidak benar-benar kering..." keluh Yori setelah beberapa lama memutarkan itu.

Saat sedang sibuk dengan itu, tiba-tiba kedua gadis tadi menghampiri mereka.

"Anuu... Tuan, bukannya kami lancang dan ingin mengganggu.... Tapi.. kami lihat ada beberapa ikan yang sudah berada di bantaran yang Tuan buat..." ucap gadis itu.

"Apa?! benarkah? Apa kita benar-benar dapat ikan? Ayo cepat tutup alirannya" seru Yori senang caranya berhasil. Ia tak menyangka dapat mewujudkan sesuatu yang selama ini hanya dibacanya saja.

Mendengar itu, Yori jadi semangat memutar ranting untuk mendapatkan percikan api.

"Kalau begitu ayo kita tutup" kata Ruki.

Ruki, Lina dan kedua gadis itu segera menutup aliran, agar ikan yang mereka jebak tidak kembali ke dalam sungai.

"K-kita hanya dapat 4 ikan... tapi ada 2 yang besar!" seru Ruki sedikit bergembira.

Setelah aliran ditutup, dan bendungan dibuka, air dalam bantaran jebakan itu menjadi dangkal dan memudahkan mereka mengambil ikan.

"Oi.. Yori.. kami dapat ikannya" seru Ruki tersenyum.

"I-iya baguslah..." jawab Yori sambil terus berusaha sekuat tenaga menghasilkan api.

"Si-sial... aku tidak bisa..." seru Yori yang sudah mulai pasrah dan kelelahan.

"Tu-tunggu Tuan..." kata Lina tiba-tiba.

"Aku mulai melihat sedikit asap yang muncul!" kata Lina semangat.

"Apa?! benarkah?" tanya Yori yang jadi mulai bersemangat kembali.

"Arrgggggghhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh!!!!!!" teriak Yori sambil terus berusaha.

"Tu-tuan.. Tuan... asapnya..." teriak Lina.

Melihat itu, Yori segera mengambil dedaunan yang sudah mulai membara.

"Ba-bagus.." katanya tersenyum.

Yori segera menaruh daun itu di antara rumput-rumput dan ranting-ranting kecil. Selanjutnya ia meniupnya perlahan untuk membuat apinya lebih besar.

"Kita berhasilll!!!!" teriak Yori senang setelihat melihat api kecil yang mulai menyala.

Beberapa saat kemudian, Ia menggabungkannya dengan kayu kayu kering yang lebih besar untuk membuat api unggun yang besar.

"Kita berhasil..." ulang Yori senang sambil mengelap keringat dan melihat besarnya api yang sudah ada di hadapan mereka.

Mendengar suara keributan, Yuki pun akhirnya terbangun dari tidurnya.

"Ada apa ini? aku dimana?" tanya Yuki yang mulai tersadar.

"Ahhh Yuki.... kamu sudah bangun... ayo kesini, kita punya ikan... ayo makan dan menghangatkan diri" seru Yori sambil mulai menusuk ikan yang mereka dapat untuk dibakar.

"Kalian juga harus makan ini pokoknya..." kata Yori pada kedua gadis itu.

"Tapi Tuan kami....."

"Aku tidak peduli, pokoknya semua harus makan kali ini..." ujar Yori memotong perkataan mereka.

Mereka berenam kemudian duduk bersama mengelilingi api unggun untuk menghangatkan diri dan mengeringkan baju sembari menunggu ikan yang matang.

"Kamu benar-benar tidak apa Yuki?" tanya Yori khawatir.

"Aku tidak apa-apa kak, sepertinya aku memang hanya butuh istirahat saja. Lagipula air yang kakak minumkan padaku saat sempat membangunkanku tadi, benar-benar dapat mengganti cairan di tubuhku yang hilang, hehehe" jawab Yuki menepis kekhawatiran kakaknya.

Mereka kemudian mulai memakan ikan yang tampak matang itu. Yori dan Yuki serta kedua gadis itu mendapat ikan yang besar untuk dibagi 2, semetara Ruki dan Lina memakan ikannya sendiri yang berukuran lebih kecil.

Mereka semua tak banyak berbincang dan hanya diam sambil menikmati hangatnya api serta lezatnya ikan yang terasa luar biasa bagi perut mereka yang sudah sangat kosong.

"Aku pikir setelah selesai makan, kita sebaiknya bergegas melihat lapangan yang tadi diberitahukan oleh mereka" kata Ruki setelah menghabiskan gigitan terakhirnya.

"Yahh.. kamu benar.. hari sudah semakin sore sekarang dan kita hanya tinggal punya waktu satu malam..." balas Yori.

"Apa kalian mau menunjukkan jalannya pada kami?" tanya Yori kemudian pada gadis itu.

"Anuu.. maaf Tuan, Setelah ini masih ada yang harus kami lakukan. Tapi saya tidak berbohong. Ikuti saja tepian sungai tadi dan Tuan akan melihat lapangan itu" kata gadis itu menjelaskan.

"Kalian benar-benar meragukan..." gumam Yori pelan.

"Oi.. Yori!!!" teriak Ruki tiba-tiba marah setelah mendengar itu.

"Sudah ku bilang percayalah pada mereka. Lagipula jika mereka berbohong apa kamu akan marah pada mereka? apa kamu merasa marah karena ditipu dan sudah bersusah payah menolong mereka? ingatlah, menolonglah tanpa pamrih..." seru Ruki mencoba menyadarkan Yori.

Mendengar hal itu, Yori merasa malu akan sikapnya.

"Maafkan aku.." ujarnya pelan.

"Ahhh... Tuan-Tuan tidak perlu bertengkar. Sudah saya katakan saya bersumpah bahwa lapangan itu ada. Saya tudak bohong" kata gadis itu.

"Saya juga melihatnya Tuan,....." timpal temannya.

"Iyaaaaaa...... sudah-sudah tidak perlu bertengkar lagi. Aku sekarang sudah kuat berjalan. Nah berhubung api unggun sudah mulai padam, baju kalian sudah tidak terlalu basah, dan hari sudah sore..... sebaiknya kita mulai bergerak lagi, ayo...." kata Yuki yang kali ini kembali menjadi penengah.

"Huffftt... Yuki benar. Tidak baik kita diam di sini terus.. lebih baik kita segera pergi" ujar Yori menghela nafas.

Bersambung ke Sekolah/Neraka Chapter 52

Soul Demon
2017-03-27 13:02:43
chapter memang sudah sampai 50 tapi dikisah baru 2 hari ini berapa chapter baru 3 tahun
Bocah Redoks
2017-01-18 22:39:35
makanya harus selalu sedia korek api biar lebih mudah
Jack El Jacqueline
2016-10-10 13:27:38
sepertinya ada yg disembunyikan?
Dalreba
2016-10-09 16:52:27
Ada yg aneh dengan 2 gadis itu
Tifa Lockhart Chan
2016-08-13 18:56:52
membuat api dengan cara seperti itu benar2 susah dan membutuhkan kesabaran
Anique HyuUzumaki
2016-08-13 10:05:40
Tiap Yori ama Ruki berantem, kyaknya Yuki yg selalu jdi mediatornya. Eh?! Kisahnya Ayame kok gak disinggung2?
ThE LaSt EnD
2016-08-10 23:49:28
lagi2 misteri.. apa yg hrus dlakukan 2 gadis itu? ow ya knapa Ruki dkk tdk menanyakan knapa 2 gdis itu bisa terseret arus sungai.? mungkin tak smpat brfikir k arah itu.
NaoCharlotte
2016-07-31 21:33:43
Cepat sekali membuat bendungannya
Fujioka nagisa
2016-07-11 15:24:17
Yuki bener2 baek ya
Soul Eater David
2016-06-19 16:23:17
......... Kenapa gak ada ikkeh ikkehnya
Baca Semua Komentar dan Balasan
daftar user · online · daftar penulis
halaman awal · group facebook