VersiTeks.com
Selain membaca versi teks anime dan manga, di sini kalian juga bisa membaca dan mengirim cerita karangan kalian sendiri, baik itu yang berupa cerita berseri, cerpen (oneshot), atau fanfiction.
login · register · kirim cerita · setting · kuis
home · versi teks · cerita karangan · oneshot · fanfiction · jadwal rilis


Silakan login atau register jika belum memiliki akun untuk menikmati berbagai fitur khusus di situs ini serta akses tanpa iklan-iklan yang mengganggu.
Pengguna Telegram? Mainkan Game KampungMaifam
Sekolah/Neraka Chapter 48

2016-05-15 - Whiti Intheforest > Sekolah/Neraka
246 views | 41 komentar | nilai: 9.25 (4 user)

Klik daftar cerita Sekolah/Neraka untuk membaca chapter-chapter Sekolah/Neraka sebelumnya
Buat pembaca silakan membaca cerita ini sebagai pembaca terdaftar dan share cerita ini untuk terus mendukung penulisnya tetap berkarya
Yang belum daftar silakan bergabung di grup FB Versiteks kemudian ikuti petunjuk yg ada pada postingan tersemat
Jangan lupa ikuti cerita ini untuk mendapat pemberitahuan updatenya


"YUKIIIIIIII!!!" teriak Ruki sambil menengok ke belakang.

"Yuki kamu tidak apa-apa?" panik Yori semakin menjadi-jadi.

"Tuan Yuki, apa anda baik-baik saja? Tuan tampak sangat pucat, bibir dan lidah anda terlihat sangat kering sekali...." kata Lina tak kalah khawatirnya.

"Hehehe... kenapa sih kalian semua ribut-ribut seperti ini. Aku sedang mencoba tidur nih di atas gendongan kakakku. Tenanglah aku tidak apa-apa..." jawab Yuki setengah sadar.

"Kita harus segera mencari air, Yuki tampak mengalami dehidrasi" terang Yori.

"Kamu benar, tidak hanya Yuki, aku pun sebenarnya sangat kehausan. Dari pagi kita benar-benar tidak meminum air" jelas Ruki.

"Ahhh.. iya, kita benar-benar harus memikirkan soal makanan dan minuman. Kita tidak bisa seperti ini terus hingga esok pagi" kata Yori.

"Menemukan lapangan 8 memang penting, tapi nyawa lebih penting daripada apapun...." lanjut Ruki mantap.


Sekolah/Neraka Chapter 48 - Aku Akan Merubah Sekolah Ini!
Penulis : Whiti Intheforest

"Lalu harus kemana kita sekarang, Tuan?" tanya Lina.

"Bukankah tadi kalian berkata mendengar suara gemercik air di kejauhan saat mencari buah-buahan?" tanya Ruki pada Yori.

"Iya, itu tidak begitu jauh dari lapangan kita berkumpul tadi" terang Yori.

"Jadi kita akan kembali ke sana, Tuan?" tanya Lina.

"Sudah kubilang aku baik-baik saja, apa kalian akan kembali ke sana? Itu hal yang gila. Kita sudah berjalan cukup jauh dari lapangan tadi, belum lagi kita saat ini seperti diawasi seseorang, Sangat berbahaya jika kembali" potong Yuki.

"Lalu harus apa? Kita tidak mungkin terus berjalan jika kondisimu seperti itu. Ini juga dapat membebani kakakmu.." jelas Ruki.

"Iya kamu benar. Mungkin aku tidak mampu saat ini membantu kalian. Tapi kalian mampu. Kalian berdua teruskanlah mencari lapangan yang kita anggap lapangan 8 tadi. Jangan pikirkan aku" seru Yuki.

"Yuki benar, biar aku dan Yuki saja yang ke sana. Kita sudah tidak punya waktu lagi. Sebaiknya kalian berdua segera pergi ke sana. Jika tidak segera, kita tidak punya waktu lagi untuk mencari lapangan yang benar andai lapangan itu bukanlah lapangan yang tepat" usul Yori.

Mendengar itu, Ruki tampak menahan emosinya.

"Apa kalian tahu kenapa aku ingin sekali menolong anak yang kita temukan sekarat tadi?" teriak Ruki tiba-tiba.

"Ehh..?" kaget Yori.

"Sejak pertama kali menyadari apa yang terjadi dengan kegilaan sekolah ini, aku memutuskan satu hal. AKU AKAN MERUBAH SEKOLAH INI. ITU TUJUAN UTAMAKU!!!"

"Dan semua itu dimulai dengan tidak membiarakan orang yang sakit begitu saja..... aku harus menolongnya... aku akan berusaha...." seru Ruki berapi-api sambil akhirnya menjelaskan tujuannya pada duo kembar itu.

"Tapi kita tidak punya waktu lagi..." ungkap Yori.

"Aku tidak peduli!" mantap Ruki.

Melihat keputusan yang kuat yang ditunjukkan Ruki, kedua anak kembar itu tak mampu lagi menyanggah. Akhirnya mereka berempat mengubah arah perjalanan, dan kembali ke arah lapangan tempat dimana Klub Novel dan Sastra berkumpul tadi. Mereka juga memilih jalan sedikit memutar agar tidak melalui kawasan anak yang baru saja mereka temukan sekarat.

"Aku tidak menyangka akan berbuat begini. Mungkin aku terlihat seperti pahlawan kesiangan di mata mereka, tapi aku tak peduli. Toh aku juga tidak percaya 100% pada duo kembar itu. Yang sedikit bisa ku syukuri adalah aku tidak perlu menuju lapangan yang mereka anggap lapangan 8 dimana itu adalah lapangan yang menurutku salah. Lapangan ke delapan dari urutan lapangan yang dijadikan tempat berkumpul Klub..... pikiran bodoh macam apa itu?" pikir Ruki dalam hatinya.

"Anda baik-baik saja Tuan? Anda berkeringat sekali?" ucap Lina tiba-tiba memotong lamunan Ruki.

"I-iya... aku cukup lelah. Aku haus sekali..." jawab Ruki.

"Tenanglah... tahan dirimu dulu, aku tidak ingin kamu bernasib seperti Yuki..." timpal Yori sambil melihat Yuki yang sedang tertidur dalam gendongannya.

Mereka terus berjalan masuk ke dalam hutan. Pepohonan besar serta suara cuitan burung jelas semakin nyaring terdengar.

"Suara burung ini benar-benar menutupi suara gemercik air..." keluh Yori yang bingung menentukan arah.

"Apa kita perlu beristirahat dulu?" tanya Ruki yang sudah kelelahan. Ia sebenarnya sedikit malu karena kelelahan. Padahal dia hanya membawa tas ranselnya sendiri. Ini berbanding terbalik dengan Yori yang menggendong Yuki ataupun Lina yang menggendong 3 buah ransel di punggungnya.

"Ahh.. tidak perlu... aku masih kuat.." jawab Yori.

"Sepertinya saya mendengarnya dari arah sebelah sana..." seru Lina tiba-tiba sambil menajamkan pendengarannya.

Mereka pun bergerak mengikuti arahan Lina.

"Aku melihatnya... tapi itu... bukan sungai...." kaget Ruki setelah menyadari sesuatu.

"Hati-hati jangan berlari.... lihatlah..."Seru Ruki sambil memperlihatkan apa yang dilihatya pada mereka bertiga.

"Ini..... jurang!!!!!" kaget Yori.

"Lihatlah di depan kita Tuan.." ucap Lina.

Dari tempat mereka berdiri yang merupakan pinggiran tebing, terlihat sebuah air terjun kecil yang berada di tebing seberang.

"Aku tak menyangka melihat sedikit keindahan disini..." kata Ruki.

"Kita harus segera ke bawah. Tapi... jalan turunnya sangat curam.. kita harus berhati-hati jika tidak ingin tergelincir..." ingat Yori sambil melihat jalan yang cukup ekstrim untuk turun ke bawah.

"Hati-hati Yori..." kata Ruki saat melihat Yori yang kesusahan untuk turun ke bawah.

Namun, saat berusaha turun, Ruki melihat sesuatu yang janggal pada aliran sungai yang akan turun ke air terjun.

"Aku melihat sesuatu di aliran air yang akan turun ke air terjun itu..." seru Ruki kaget.

"Tidak mungkin itu...... MANUSIA!!!" teriak Ruki panik.

Yori dan Lina yang melihat sebuah tangan mencuat keluar dari aliran itu, juga benar-benar dibuat terkejut bukan main.

"Orang itu akan jatuh ke air terjun!!!..." teriak Ruki sambil melompat menuruni tebing untuk segera menuju ke bawah.

"Ruki berhati-hatilah, itu curam seka....."belum sempat Yori menyelesaikan perkataanya, Ruki tersandung dan terjatuh menggelinding menuruni tebing itu.

"Argghh kakiku..." seru Ruki kesakitan.

Sementara itu, orang yang tadi terlihat, sudah berada di bibir air terjun dan hendak jatuh.....

"TIDAKKKKKK!!!!!!!!!!!" teriak Ruki tak mampu menjangkau.

Sementara Yori dan Lina hanya terpaku melihat kejadian itu.

Tak lama kemudian....

"BYUUUAAARRRR!!!!!!!" orang itu jatuh dari air terjun yang cukup tinggi.

Ruki yang sedikit terpincang akibat kakinya yang lecet, mencoba menghampiri orang itu.

"Heiii!!! Apa kau baik-baik saja?" teriak Ruki.

"Sial, jika terhantam batu, dia bisa saja...." pikir Ruki.

Tak lama kemudian, Ruki melihat sesuatu yang mengambang di bawah air terjun itu.

"Itu dia..." seru Ruki.

Ruki segera mengeluarkan tubuh orang itu dari air. Setelah melihat, ternyata orang itu adalah siswi dari SMA Hoshi.

"Apa dia baik-baik saja?" tanya Yori yang ternyata sudah menuruni tebing bersama Lina.

"Tampaknya dia tak sadarkan diri..... tapi sebelum itu, Bisakah kamu memakaikan bajunya dengan benar Lina, aku tidak ingin disangka sebagai orang mesum..." ujar Ruki menyuruh Lina merapikan baju gadis itu yang sudah terlepas sebagian kancingnya maupun roknya yang sedikit tersingkap.

"Apa perlu menegeluarkan air dari dalam tubuhnya? Atau memberi nafas buatan Tuan?" tanya Lina.

"Apa kau tau caranya? Jika tidak itu justru berbahaya. Aku tahu sedikit mengenai hal ini, jadi biarakan aku yang melakukanya, bukan berarti aku mesum, ini demi keselamatannya" kata Yori yang jadi salah tingkah.

Namun, belum sempat Yori mendekat, gadis itu mulai membuka matanya.

"Uhukk.. uhukk.... Ahhhh..." teriaknya sambil terbatuk dengan sedikit mengeluarkan air.

"Dimana aku?" serunya kaget.

"Kamu baru saja terjatuh dari air terjun itu? Apa kamu baik-baik saja?" tanya Ruki.

"Daripada itu... tolong selamatkan nyawa teman saya... saya mohon... sebentar lagi mungkin dia akan jatuh juga..." seru gadis itu panik.

"Apa katamu? Maksudmu akan ada lagi yang jatuh ke bawah? Hal gila macam apa ini?" teriak Ruki.

"Saya mohon Tuan... tolonglah... saya akan memberi Tuan informasi yang berharga jika Tuan mau menolong" seru gadis itu lagi.

"Anak ini memanggil dengan sebutan Tuan? Apa dia anak yang bernasib sama seperti Lina atau anak dari Klub bola tadi?" pikir Yori.

"Tentu saja... tanpa imbalan seperti itupun, aku jelas akan menolongnya" mantap Ruki.

Ruki segera berlari menuju ke atas tebing seberang tempat dimana tebing air terjun itu berada.

"Lina kamu berjaga di bawah, itu untuk antisipasi jika aku tidak bisa menangkapnya dari atas!!" perintah Ruki.

"Ba-baik Tuan."

Mereka berdua segera bergerak.

"Aku sangat berempati padamu, aku sangat tidak menyangka kejadian itu menimpamu. Tapi bersabarlah, kami juga melalui waktu-waktu yang buruk. Lihatlah bahkan sampai adikku seperti ini" kata Yori sambil mengambil air untuk Yuki.

"Aku tahu itu..." kata gadis itu pelan.

"Apa dalam kelompokmu kamu menjadi budak? Apa ini termasuk dalam permainan kalian?" tanya Yori lebih dalam.

"I-iya benar. Ini adalah permainan yang kami lakukan..." jawab gadis itu lemah.

"Huffft.. Sampai kamu terjatuh ke sungai hingga jatuh ke air terjun seperti ini? benar-benar gila..." tanya Yori.

"I-iya Tuan, ini semua akibat Nyonya Ayane Misaki......."

"Apa? seorang wanita ckckckck..." kata Yori tak habis pikir.

Bersambung ke Sekolah/Neraka Chapter 49

Bocah Redoks
2017-01-18 22:09:49
ada typo tuch. kata biarakan harusnya biarkan
Jack El Jacqueline
2016-10-10 13:02:05
kejam...
Dalreba
2016-10-09 12:23:02
Ayane jadi jahat...
Kei Takashima
2016-09-29 16:52:34
Hmhh
Anique HyuUzumaki
2016-08-13 09:23:26
Masih ada typo nih... Dan kira2 cwe itu dri klub apa ya??
Aerilyn Shilaexs
2016-08-12 18:55:31
ayane jadi kejam
Zunuya Rajaf
2016-08-10 23:02:17
wah, ayane misaki yg punya Asma... apa yg sbenarnya trjdi? next.
NaoCharlotte
2016-07-31 21:11:26
Ayane yang tenannya Ruki sama Neo bukan?
Islamiah Tri Adinda
2016-07-11 14:58:53
Jika pake terjun itu gk keren.. Lbh baik disayat perlahankan?
Eiichiro Maruo
2016-06-16 18:23:17
Ayane Misaki mantap! Tapi saranku untukmu Ayane-chan, harusnya kamu penggal kepalanya biar kamu dapat poin banyak
Baca Semua Komentar dan Balasan
daftar user · online · daftar penulis
halaman awal · group facebook