VersiTeks.com
Selain membaca versi teks anime dan manga, di sini kalian juga bisa membaca dan mengirim cerita karangan kalian sendiri, baik itu yang berupa cerita berseri, cerpen (oneshot), atau fanfiction.
login · register · kirim cerita · setting · kuis · chat game
home · versi teks · cerita karangan · oneshot · fanfiction · jadwal rilis


Silakan login atau register jika belum memiliki akun untuk menikmati berbagai fitur khusus di situs ini serta akses tanpa iklan-iklan yang mengganggu.
Pengguna Telegram? Coba game Kampung Maifam
Sekolah/Neraka Chapter 47

2016-05-08 - Whiti Intheforest > Sekolah/Neraka
290 views | 36 komentar | nilai: 9.6 (5 user)

Klik daftar cerita Sekolah/Neraka untuk membaca chapter-chapter Sekolah/Neraka sebelumnya
Buat pembaca silakan membaca cerita ini sebagai pembaca terdaftar dan share cerita ini untuk terus mendukung penulisnya tetap berkarya
Yang belum daftar silakan bergabung di grup FB Versiteks kemudian ikuti petunjuk yg ada pada postingan tersemat
Jangan lupa ikuti cerita ini untuk mendapat pemberitahuan updatenya


"Kak apa yang terjadi? Apa Kakak baik-baik saja?" ulang Yuki yang tampak khawatir melihat kakaknya yang sedang menenangkan diri.

"Hufffttt...." seru Yori menghembuskan nafas panjang.

"Kita tidak perlu be-berdebat disini, ayo kita..... se-segera pergi dari s-ssini... pokoknya kita ha-harus... ce-cepat menjauhh..." seru Yori panik sambil mencoba bangkit dan mengajak pergi dari tempat itu.

"Kak... ada apa sebenarnya?" tanya Yuki yang kini tampak ikut ketakutan.

"Yo-yori... sebenarnya ada apa... wajahmu pucat sekali... apa yang membuatmu setakut itu?" tanya Ruki.

"Ja-jangan banyak bertanya... AYO SEGERA PERGI!" ucap Yori setengah berteriak.

"Kakak..." kaget Yuki.

"Aku... akan melihatnya..." seru Ruki yang tak tahan dan makin penasaran.

"Ruki!!! Tungguu.... jangan kesanaaa..." sergah Yori.


Sekolah/Neraka Chapter 47 - Nyawa yang Terancam
Penulis : Whiti Intheforest

"Ruki... Kumohon..." ulang Yori lagi.

Ruki yang melihat wajah Yori yang berubah menjadi sangat serius, akhirnya mengurungkan langkahnya.

"Yori...." gumam Ruki.

"Kita.. harus pergi..." ulang Yori kembali.

"Ba-baiklah.. jika Kakak pikir kita harus pergi, sebaiknya kita segera menjauh dari tempat ini" kata Yuki menimpali.

Yuki mencoba membantu kakaknya untuk berdiri. Badan Yori yang bergetar jelas ditampakkan olehnya.

"Aku tidak akan pergi..." seru Ruki tiba-tiba.

"Ruki..." balas Yuki.

"Ya aku tidak akan pergi sebelum melihat apa yang ada di balik semak itu. Paling tidak, seharusnya kamu menjelaskan apa yang ada di balik itu. Jika pun ada musuh ataupun kelompok lain yang ada di balik itu, aku tidak peduli. Paling tidak jelaskan dulu..." kata Ruki.

"Maaf.. bukannya aku tidak ingin menjelaskan kepada kalian semua, tapi... ini sesuatu yang lebih gawat dari yang kalian kira..." jawab Yori.

"Memangnya apa Kak?" tanya Yuki yang sebenarnya juga penasaran.

"Ma-maaf... kalau saya menyela pembicaraan Tuan sekalian.... tapi saya pikir kita harus segera pergi dari tempat ini, jika sesuatu yang dilihat Tuan Yori di balik semak itu adalah sesuatu yang berbahaya dan mengancam keselamatan kita. Maaf... saya hanya mencoba memberi saran demi keselamatan kita bersama.... kita bisa bicarakan ini kemudian..." potong Lina yang kemudian mencoba memberikan pendapatanya.

"Lina.. Kau..." tatap Ruki tajam ke arah Lina.

"Ma-maaf Tuan Ruki, a-aku.... hanya tidak ingin kelompok ini berada dalam bahaya" Kata Lina sambil menunduk.

"Ahhh... aku pikir ini bukan siapa yang lebih benar... tapi sebaiknya kita menjauh dan bicarakan ini.... ya supaya.... tidak ada apa-apa... hehehe.." kata Yuki yang mencoba menengahi situasi ini.

"Aku tidak peduli... aku ingin melihatnya... hanya sebentar" kukuh Ruki.

Mendengar sikap Ruki, Yori kembali menghembuskan nafas dan berkata.

"Baiklah, tidak hanya kamu Ruki, kalian berdua juga silakan lihat..." kata Yori kemudian.

"Kakak?"

"Aku mengijinkan kalian untuk melihatnya, tapi... jangan berteriak... tetap tenang dan segera kembali ke sini....." ucap Yori akhirnya mengalah dan menyetujui.

Karena rasa penasaran yang sudah sangat tinggi, Ruki, Yuki dan Lina mencoba mengendap-endap ke semak-semak tadi kemudian mencoba mengintip apa yang terjadi di baliknya.

Mereka bertiga mencoba menyibak semak dedaunan itu, dan melihat apa yang ada di baliknya.

Setelah terlihat.............

"Uwokk... uwokkk...." Yuki tampak shock berat sambil muntah-muntah. Ia mencoba menahan mulutnya agar tidak muntah lebih banyak. Ia benar-benar tak menyangka dengan sesuatu yang ia lihat di depannya.

"I-ini..." kata Ruki terdiam terpaku dan tak bisa bergerak melihat kegilaan yang ada di depannya.

Sementara Lina, hanya diam terpaku dengan wajah datarnya setelah melihat sesuatu yang sangat mengerikan di hadapan mereka.

"Aku tidak percaya ini......" kata Ruki tak percaya sambil memegangi kepalanya.

"Kak... aku takuttt..." kata Yuki parau sambil mencoba agar tidak muntah lebih banyak lagi.

Apa yang sebenarnya dilihat mereka?

Mereka melihat sebuah tubuh anak laki-laki tergeletak di balik semak-semak itu. Wajahnya hancur lebur, sudah tidak dapat dikenali lagi rupa wajahnya. Bajunya sobek-sobek di setiap sisi, belum lagi darah segarnya jelas membenami baju seragamnya. Ia seolah sehabis berendam dalam lautan darah. Giginya jelas rontok, kakinya terlihat patah, bahkan... beberapa serangga kecil mengerubunginya....

"Uwokkkkk...." Yuki memuntahkan lagi isi perutnya.

"A-apa anda tak apa Tuan?" kata Lina menghampiri Yuki.

"A-aku tak tahan... aku mu-mual... a-aku ketakutan...." seru Yuki panik luar biasa. Tangannya bergetar hebat layaknya seorang manula yang terserang stroke. Yuki puluhan kali lebih panik daripada apa yang ditunjukkan kakaknya tadi.

"A-apa dia..... masih hidup....." seru Ruki panik. Ia benar-benar tak percaya apa yang ada di hadapannya.

"Se-sepertinya begitu.... aku melihat kakinya masih bergerak Tuan..." jawab Lina datar.

"Lina kamu tampaknya tidak terlalu terkejut dengan ini?" heran Yori.

"Ahhh..."

"Mungkin dia tidak tahu harus bersikap apa..." potong Ruki sambil sedikit menatap ke arah Lina.

"Aku tahu...." balas Yori yang kemudian terdiam.

Di titik ini, semua sepakat tentang apa yang ada di kepala mereka. Bahwa nyawa mereka, bisa berhenti di SMA Hoshi.................

Di titik ini, mereka sadar bahwa dengan peraturan yang sekarang, nyawa mereka bisa terengut kapanpun...........

Di titik ini juga mereka sadar, mereka seolah berada di dalam kandang singa. Kamu harus berubah menjadi singa untuk tetap bertahan hidup, atau tetap memilih menjadi daging yang diam dan menunggu dirinya dimakan HABIS. Sebuah kandang yang indah bernama SMA Hoshi.......

"Aku ingin menolong anak itu" seru Ruki tiba-tiba memecah keheningan.

"Apa katamu? Bukanya aku ingin menentang perbuatan baik..... tapi kita tidak tahu apa yang menyebabkan dia seperti itu, kita juga sedang terancam disini, makanya aku menyuruh kalian supaya segera pergi.." terang Yori.

"Aku tahu itu, tapi jelas.... seseorang sedang terkapar disini... kita hanya harus melakukan satu pekerjaan... kita harus menolongnya" ungkap Ruki.

"Apa kamu punya obat-obatan?" tanya Yori.

"Mmmm... tidak... tapi minimal kita harus menutup lukanya, kita harus menolongnya dengan cara apapun..."

"Jika kita punya kesempatan menolong orang, lakukanlah di kesempatan pertama... jika tidak... ketika seseorang itu tidak tertolong lagi di kesempatan yang lain.... sudah terlambat bagi kita untuk menyesalinya....." kata Ruki penuh keyakinan.

"Yahhh.." jawab Yori tak mampu berkata.

"Lina, apa Yuki baik-baik saja.... jika ia tak apa.... bantu aku membantu anak itu..." kata Ruki memberi perintah.

"I-iya Tuan... Tuan Yuki hanya kaget dan shock hingga mual seperti ini, saya harap Tuan tidak apa-apa kan?" tanya Lina.

Yuki hanya menutup mulutnya dengan tangan kirinya, tampakya ia masih sangat panik.

Ruki dan Lina kemudian kembali ke semak-semak itu dan mencoba masuk ke baliknya, namun ketika Lina menyibak semak-semak itu......

"A-anak itu......"

"Anak itu hilang!!!" teriak Ruki panik.

"Apa katamu?" kaget Yori setengah bangkit.

Ruki dan Lina menghampiri ke tempat anak tadi tergeletak.

"Dia tadi ada disini kan? Kemana dia sekarang?" panik Ruki.

"I-iya Tuan.... masih ada bekas darahnya disini..." tunjuk Lina.

"Ta-tapi... tidak ada jejak darah yang bergerak, kita juga tidak mendengar ada langkah kaki orang kan? Apa yang terjadi? Apa seseorang memindahkannya? Aku tidak dengar siapapun" bingung Ruki.

Yori yang berusaha berdiri mencoba menghampiri Ruki dan Lina.

"Di-dia menghilang..." ucap Yori terpana.

"Apa yang sebenarnya terjadi?" ulang Ruki.

Suasana berubah menjadi sangat tegang. Kepanikan dan misteri serta tanda tanya besar sedang memenuhi benak mereka.

"Sudah kubilang, kita harus segera pergi dari sini... seseorang mungkin mengawasi kita..." seru Yori panik.

Wajah Ruki juga sudah tak setegar tadi, kepucatan jelas terlihat dari raut wajanya.

"Tuan-tuan semua... kita harus segera bergerak... Saya yakin ini tidak baik..." ucap Lina kembali mengingatkan.

"Apa kubilang, kita dalam bahaya, KAKAK AKU KETAKUTAN!!!" teriak Yuki meraung karena panik.

"Kita harus segera pergi..." ulang Yori.

Tanpa banyak berdebat lagi, mereka semua segera bergegas meninggalkan tempat itu.

"Lina tolong...." kata Yori yang kemudian tidak melanjutkan perkatannya.

"Ada apa Tuan?" tanya Lina.

"Ahhh... tidak..." balas Yori.

Yori tadinya ingin Lina untuk menggendong Yuki, namun sepertinya itu tidak mungkin meskipun mungkin itu bisa menambah poin miliknya.

"Aku tidak sedang mencuri kesmpatan di keadaan seperti ini..." kata Yori dalam hati sambil menggendong adiknya sendiri.

Mereka kemudian bergegas meninggalkan tempat itu.

"Kita harus pelan..." kata Ruki yang kini memandu jalan.

"Aku selalu merasa... seseorang mengikuti kita dari belakang setelah dari semak itu..." kata Yori yang khawatir sambil melihat keadaan sekitar.

"I-iya... kita hanya perlu terus bergerak dengan pelan..." ingat Ruki.

"Berhenti...." kata Yori kemudian setelah berjalan cukup jauh.

"Ada apa?" tanya Ruki.

"Kita harus segera memberi Yuki minuman dan makanan...."

"Lihatlah dia pucat sekali... Perutnya yang kosong harus dipaksa muntah tadi.... dia dehidrasi..." ucap Yori panik dan hampir menangis.

Bersambung ke Sekolah/Neraka Chapter 48

Yukki Amatsu
2017-08-26 19:44:00
Sebegitu paniknya kah dia..? dasar lemah....
Kuroko Akashi
2017-02-18 17:03:33
Situasi semakin rumitt...
Bocah Redoks
2017-01-18 22:01:20
ilusi ? permainan para senior kayaknya
Jack El Jacqueline
2016-10-10 12:53:33
next
Dalreba
2016-10-09 12:11:04
Apa mungkin itu trap dari kakak kelas
Anique HyuUzumaki
2016-08-13 09:14:21
Oke... jdi kyak thriller genrenya.
Aerilyn Shilaexs
2016-08-12 18:48:23
serem banget ngebayanginnya. oh btw jadi ini yang ruki sebutkan pada iona di chapter baru
ThE LaSt EnD
2016-08-10 22:44:20
jd ingat di film hunger game to hunter game ya, ah lupa. yg mana peserta dildpas di alam bebas untk membunuh peserta lainnya. dgn pengawasan kamera dstiap tmpat tak trlihat.
NaoCharlotte
2016-07-31 21:02:35
Kalau anak itu tak sadarkan diri, terus kenapa semaknya bisa bersuara(?)?
Fujioka nagisa
2016-07-11 13:15:52
Horrornya sangat berasa!!!
Baca Semua Komentar dan Balasan
daftar user · online · daftar penulis
halaman awal · group facebook