VersiTeks.com
Selain membaca versi teks anime dan manga, di sini kalian juga bisa membaca dan mengirim cerita karangan kalian sendiri, baik itu yang berupa cerita berseri, cerpen (oneshot), atau fanfiction.
login · register · kirim cerita · setting · kuis
home · versi teks · cerita karangan · oneshot · fanfiction · jadwal rilis


Silakan login atau register jika belum memiliki akun untuk menikmati berbagai fitur khusus di situs ini serta akses tanpa iklan-iklan yang mengganggu.
Pengguna Telegram? Mainkan Game KampungMaifam
Sekolah/Neraka Chapter 46

2016-05-01 - Whiti Intheforest > Sekolah/Neraka
264 views | 38 komentar | nilai: 8.75 (4 user)

Klik daftar cerita Sekolah/Neraka untuk membaca chapter-chapter Sekolah/Neraka sebelumnya
Buat pembaca silakan membaca cerita ini sebagai pembaca terdaftar dan share cerita ini untuk terus mendukung penulisnya tetap berkarya
Yang belum daftar silakan bergabung di grup FB Versiteks kemudian ikuti petunjuk yg ada pada postingan tersemat
Jangan lupa ikuti cerita ini untuk mendapat pemberitahuan updatenya


"Iya, itu cukup mirip dengan denah tempat dimana kita berada sekarang, hanya saja jarak antar lapangan itu seharusnya lebih jauh daripada yang kamu gambar" kata Ruki mengomentari gambar denah yang digambar Lina.

"I-iya, Tuan" balas Lina.

"Lalu apa maksudnya dengan gambar ini?" tanya Yuki.

"Kurang lebih ini gambaran dimana kita berada sekarang" tunjuk Ruki pada tanda X pada denah itu yang sudah dibuat Lina.

Sekolah/Neraka Chapter 46 - Mulai Berjalan
Penulis : Whiti Intheforest

"Yah aku tahu itu, lalu bagaimana selanjutnya?" lanjut Yuki lagi.

"Aku menyuruh Lina untuk menggambarkan denah kita, supaya kita lebih mudah dalam menentukan langkah kita selanjutnya" terang Ruki.

"Hmmm.... benar... jika kita sekarang berada disini... kemana selanjutnya kita akan bergerak?" tanya Yuki.

"Tentu saja menemukan lapangan 8" balas Ruki cepat.

"Yahh kamu benar, hanya saja dimana...." balas Yuki.

"Kita harus segera menentukan arah, kita harus mulai berpikir apa itu lapangan 8. Selain waktu kita yang tak banyak, luasnya hutan ini tentunya menjadi penghambat bagi kita untuk menemukan lapangan itu. Aku yakin ini pasti bukanlah sesuatu yang mudah" lanjut Yuki lagi.

"Umm... kalian ada saran, teori atau ide mengenai lapangan 8? Tanya Ruki mencoba meminta pendapat teman sekelompoknya.

"Melihat denah yang digambar Lina, aku jadi sedikit berpikir sesuatu....." ucap Yori tiba-tiba sambil memegangi dagunya.

"A-apa itu?" tanya Ruki yang penasaran.

"Sejauh ini, bukankah kita sudah banyak melihat lapangan di tepi-tepi jalan utama yang dilewati oleh bis kita tadi?" tanya Yori.

"Te-tentu saja. Kita berhenti di setiap lapangan kemudian kakak kelas menyuruh kita turun sesuai dengan klubnya. Misal lapangan ini Klub Novel dan Sastra, lapangan ini Klub Sepakbola, Lapangan ini Klub memasak dan lain-lain..." tunjuk Ruki kembali pada gambar-gambar kotak yang menunjukkan lapangan dari denah yang digambar Lina.

"Lalu ada apa dengan itu Kak?" tanya Yuki kemudian.

"Bukankah sejauh ini hanya lapangan-lapangan itu yang baru kita lihat?" tanya Yori.

"I-iya, jika kakak mengatakan lapangan, memang hanya lapangan-lapangan Klub yang berada di jalur utama yang dilewat bis saja yang sudah kita ketahui...." balas Yuki.

"Kita masih belum tahu apakah di dalam hutan ini terdapat banyak lapangan yang lain..." lanjut Yuki lagi.

"Yahh kamu benar... jadi mungkinkah lapangan 8 merupakan salah satu dari lapangan-lapangan ini?" ucap Yori mengemukakan pendapatnya.

"Hmmm... begitukah... bisa jadi... tapi lapangan yang mana?" ucap Yuki yang balik bertanya.

"Soal itu... tentu saja belum pasti. Tapi kalau mau berpikir bodoh, mungkin lapangan 8 adalah lapangan ke 8 dari urutan lapangan-lapangan yang ada" jelas Yori.

"Hmm... masuk akal, Tapi aku tidak tahu lapangan ke 8 di tempati oleh Klub apa? hmm berarti.. kalau lapangan ke 8 itu, urutannya dimulai dari lapangan pertama setelah halte tempat dimana bis-bis menurunkan Bu Furukawa dan guru-guru lain?" tanya Yuki.

"I-iya bisa saja begitu. Kalau diingat-ingat aku lupa dan tidak memperhatikan Klub apa yang turun di lapangan pertama, apalagi lapangan kedelapan..." balas Yori.

"Apa kau ada ide Ruki?" tanya Yuki pada Ruki yang dari tadi hanya diam tak bersuara.

"Ahhh.. kalau soal itu, aku lupa Klub apa yang ada di lapangan ke 8. Tapi kalau yang turun di lapangan pertama, aku yakin itu Klub Voli. Aku ingat beberapa anak dari Klub Voli yang heboh saat kita melihat ada lapangan besar yang berisi senior dari Klub Voli setelah kita meninggalkan halte" jawab Ruki.

"Hmm.. benarkah? Ingatanmu cukup baik ternyata Ruki.. heheheh..." balas Yuki.

"Tapi... memangnya untuk apa semua itu?" tanya Ruki kemudian.

"Eh?" kaget Yuki.

"Ke-kenapa Ruki? Apa kamu tidak setuju atau punya pendapat lain?" tanya Yori.

"Aku pikir teori itu...... terlalu mudah. apakah itu tidak aneh? Maaf aku tidak bermaksud merendahkanmu Yori, tapi aku pikir... itu terlalu mudah."

"Selain itu... jarak lapangan itu dengan tempat kita sekarang ini cukup jauh. Dengan bis saja kita memerlukan waktu beberapa menit untuk sampai dari satu lapangan ke lapangan yang lain. Belum lagi, kita tidak tahu lapangan Klub Novel dan Sastra ini lapangan ke berapa? Lalu bagimana cara kita memastikan lapangan ke 8? Ini akan memakan banyak waktu dan tenaga kita, jika kita salah..." ungkap Ruki.

"Aku tahu itu Ruki... tapi kalau kita terus ragu dan tidak mulai bergerak, kita juga akan tetap diam disini selamanya.." balas Yuki.

"Hmmm iya.. tapi tidak ingatkah kamu dengan apa yang dikatakan Kak Alice. Dia mengatakan, kalian semua harus mencari lapangan 8. Sebuah lapangan yang memilili angka 8 di tengahnya. Apa kalian berpikir lapangan ke delapan itu, memiliki angka 8 di tengahnya?" tanya Ruki.

"Soal itu aku juga tak yakin, tapi apa perkataan Kak Alice harus dipahami secara harfiah begitu? Ada angka 8 di tengahnya? Apa itu tidak semacam kiasan?" jawab Yori.

"Entahlah.. tapi kalau lapangan-lapangan Klub... aku tidak terlalu yakin" kata Ruki.

"Kalu begitu.. haruskah kita berpisah? Biar aku dan kakak yang mengecek lapangan itu? Mungkin kalian berdua bisa menunggu disini atau mencari di tempat yang lain?" tawar Yuki.

"Haduhh....." kata Ruki sambil menghela nafas panjang.

"A-ada apa?" tanya Yuki yang terkejut.

"Buat apa kita berpisah? Kita kan sudah sepakat untuk berlomba banyak-banyakan poin, lalu apa gunanya jika kita berpisah. Aku sudah lelah berdebat. Lagipula kalian berdua setuju untuk mengecek lapangan itu, sementara aku tidak. Jadi suaranya 2:1 karena Lina tidak dihitung. Jadi mau tak mau aku ikut kalian..." seru Ruki sambil berdiri.

"Tapi...." kata Yori.

"Sudahlah ayo cepat bergegas, kita perlu banyak waktu jika kita salah.." balas Ruki.

Akhirnya mereka semua berdiri dan mulai bergegas berjalan.

"Lina... bawakan tasku!" perintah Yori tiba-tiba.

"Ba-baik Tuan" jawab Lina.

"A-aku juga!" kata Yuki setelah melihat kakaknya.

"Baik Tuan" balas Lina lagi sambil menggendong 3 tas dipunggungnya.

Kemudian pandangan Yuki, Yori dan Lina mengarah ke Ruki.

"Ahhh... tidak... biar kubawa sendiri saja tasku" kata Ruki sambil mulai berjalan.

"Di-dia...." pikir Yori dalam hati.

Yori kemudian melirik jam tangannya dan penasaran apakah poinnya bertambah atau tidak. Namun ia mengurungkan niatnya dan segera melangkah menyusul Ruki.

"Ruki, jalannya pelan-pelan... sebisa mungkin kita jangan sampai bertemu kelompok lain" seru Yori sambil mengambil alih berjalan di depan sambil mengendap-ngendap.

"Ma-maafkan aku.." balas Ruki yang tersadar.

Mereka berjalan perlahan di antara pepohonan hutan itu. Suara serangga dan burung-burung kecil seolah nyaring bertautan mengantar perjalan mereka. Sudah terbentuk sebuah harmoni yang cukup menyatu walaupun menganggap hutan ini adalah hutan buatan.

Setelah beberapa belas menit berjalan, tiba-tiba ada suara berisik yang terdengar.

"Srekk... srekkk... Srekkk.."

"Su-suara apa itu?" tanya Yuki yang terkejut setelah mendengar suara itu.

"I-itu..." tunjuk Yori pada semak-semak di seberang mereka yang tampak bergerak.

"Ada apa dibalik itu?" tanya Ruki sedikit panik.

"Kalau di film-film mungkin itu cuma tupai.." jawab Yuki.

"Kamu ini, terlalu banyak nonton film" kesal Ruki.

Yori yang ada di depan kemudian bergerak maju.

"Kalian tunggu disini sebentar. Biar aku saja yang memeriksa..." ucap Yori sambil berjalan mengendap menuju ke semak itu.

Namun setelah melihat apa yang ada dibalik semak itu, Yori terjatuh.

"Aaaa... waa.. aaa" ucap Yori tersengal sambil menutup mulutnya.

"Kakak!" teriak Yuki yang kaget.

"Ahhh.. aww.." kata Yori maracau sambil terhentak berjalan mundur ketakutan ke belakang.

Mereka bertiga kemudan menghampiri Yori.

Ruki terkejut bukan main setelah melihat Yori yang panik luar biasa. Wajahnya terlihat shock berat. Ini adalah wajah yang sangat panik yang ditampakkan oleh Yori untuk pertama kalinya. Ruki tak menyangka Yori sampai seperti itu.

"A-ada apa kak? Apa yang terjadi? Ada apa dengan mu?" tanya Yuki khawatir.

"Awaaa... aa... jangan kesana... kalian jangan kesana.." kata Yori.

"Ada apa Yori?" tanya Ruki yang jadi sangat khawatir.

"Se-sebentar...." kata Yori sambil mencoba menghela nafas dan menenangkan diri.

Bersambung ke Sekolah/Neraka Chapter 47

SHiniGami GhoUL
2017-02-18 16:54:37
Eemmttt... Psti ada yg terluka parah dibalik semak-semak ituu...
Bocah Redoks
2017-01-18 21:54:02
iblis kah sampai yori sangat ketakutan ?
Ashbelle Jacqueline
2016-10-10 12:45:24
yg jelas di liat yori pasti jurang
Dalreba
2016-10-09 12:01:45
Apa Yori melihat setan
Anique HyuUzumaki
2016-08-13 08:48:43
Apa yg dilihat Yori ya....?
Aerilyn Chan Kawai
2016-08-12 18:43:10
next read
Die And DeAth
2016-08-10 22:27:50
ada mayatkah ? next.
Fujioka nagisa
2016-07-11 13:07:57
Pak aya kah?
FansnyaFujiokaNagisa
2016-06-14 14:00:15
Oh ternyata
Kikko Y Azukiela
2016-05-17 16:38:52
Aku mau komen seperti dibawahku . . . Eh dah dikomen duluan. . . :'v
Baca Semua Komentar dan Balasan
daftar user · online · daftar penulis
halaman awal · group facebook