VersiTeks.com
Selain membaca versi teks anime dan manga, di sini kalian juga bisa membaca dan mengirim cerita karangan kalian sendiri, baik itu yang berupa cerita berseri, cerpen (oneshot), atau fanfiction.
login · register · kirim cerita · setting · kuis
home · versi teks · cerita karangan · oneshot · fanfiction · jadwal rilis


Silakan login atau register jika belum memiliki akun untuk menikmati berbagai fitur khusus di situs ini serta akses tanpa iklan-iklan yang mengganggu.
Like Halaman Baru KOPBI, Official Komik One Piece Bahasa Indonesia, selain itu palsu :D
Sekolah/Neraka Chapter 45

2016-04-23 - Whiti Intheforest > Sekolah/Neraka
296 views | 37 komentar | nilai: 9 (4 user)

Klik daftar cerita Sekolah/Neraka untuk membaca chapter-chapter Sekolah/Neraka sebelumnya
Buat pembaca silakan membaca cerita ini sebagai pembaca terdaftar dan share cerita ini untuk terus mendukung penulisnya tetap berkarya
Yang belum daftar silakan bergabung di grup FB Versiteks kemudian ikuti petunjuk yg ada pada postingan tersemat
Jangan lupa ikuti cerita ini untuk mendapat pemberitahuan updatenya


"Kenapa kamu menutupi jam poinmu?" tanya Yori sedikit terkejut.

"Hmmmnn... ini adalah aturan yang akan kita mainkan, jika kalian setuju denganku...." jawab Ruki sambil mencoba meyakinkan mereka.

"Apa maksudmu?" tanya Yuki yang juga ikut bingung.

"Kita tahu bahwa kelompok ini terancam bila bertemu dengan kelompok lain yang memiliki anggota dengan poin yang besar. Mereka mungkin akan menyiksa atau mempermainkan kita sehingga misi utama kita menemukan lapangan 8 akan gagal. Disisi lain, kita juga tidak mau menyiksa Lina untuk menambah poin kita. Lalu kita harus bagaimana? Kita tidak mungkin berdiam diri saja?" ucap Ruki membawa kembali persoalan utama mereka.

"Soal itu...." balas Yuki yang juga bingung hendak bersikap apa.

"Karena itulah.... aku memberi kalian 4 pilihan...." lanjut Ruki kemudian.

Sekolah/Neraka Chapter 45 - Pilih Satu Pilihan
Penulis : Whiti Intheforest

"Apa saja itu?" balas Yori penasaran.

"Pilihan pertama, kalian setuju dengan aturan yang aku buat. Pertama kalian tutup jam tangan poin kalian dengan pelepah daun yang ada di depanku ini. Kemudian selanjutnya kita jalankan permainan ini seperti aturan yang sudah dituturkan Kak Alice. Kita dapat melakukan apapun pada Lina untuk menambah poin kita bertiga" ujar Ruki.

"Sudah Ku bilang kan dari tadi, apa kamu sudah gila? Kenapa kamu jadi seperti ini Ruki? Aku tak menyangka ternyata seperti ini sifat aslimu..." seru Yuki sedikit marah sambil berkomentar.

"Dengarkan aku dulu.... yang kumaksud dengan melakukan apapun pada Lina, itu bukan berarti aku akan menyiksanya seperti anak-anak Klub Sepakbola tadi. Mungkin kita bisa menyuruh Lina melakukan hal-hal kecil namun tetap menambah poin kita. Misal kita menyuruh Lina membawakan tas-tas kita. Aku yakin suruhan dan perintah yang kita berikan padanya dapat menambah poin kita. Tapi ingat, apa yang kita lakukan harus tetap sesuai dengan kemampuan Lina. Aku pikir jika kita melakukan ini, semuanya akan baik-baik saja" terang Ruki.

"Aku.... entahlah....." bingung Yuki setelah mendengarkan penjelasan pilihan pertama dari Ruki.

"Lalu apa bedanya? Kenapa kita harus menutup jam tangan kita?" tanya Yori.

"Jika kita tidak menutup jam tangan poin kita, tentunya itu akan menimbulkan perpecahan pada kelompok ini. Ini bisa sebagai bentuk pencegahan, kontrol bahkan pemacu diri kita."

"Jika poin kita bisa dilihat seluruh anggota kelompok ini, maka akan berbahaya. Misal setelah melakukan sesuatu pada Lina, Poin Yuki bertambah drastis. Poin Yuki berada diatas kita semua. Padahal mungkin saat itu kita sedang bertengkar di tengah hutan ini. Dengan kondisi yang menguntungkan seperti itu, bisa saja kamu memanfaatkan poinmu untuk menuntaskan amarahmu. Hal seperti ini
bisa semakin memecah belah kelompok. Walaupun semoga saja hal itu tidak terjadi pada Yuki, Yori maupun diriku sendiri."

"Dengan tertutupnya poin kita, maka otomatis hanya kita sendiri yamg tahu berapa jumlah poin kita. Tentunya ini akan menjaga diri kita untuk terus berhati-hati. Selain itu ini juga dapat memicu diri kita untuk terus meningkatkan poin karena tidak tahu apakah poin kita kalah dengan anak yang lain atau tidak" jelas Ruki.

"Lalu jika kita bertemu dengan anak dari kelompok lain yang memiliki poin besar bagaimana?" tanya Yori lagi.

"Seperti yang kubilang tadi, kita sendiri yang tahu jumlah poin kita berapa. Jika kita bertemu dnegan kelompok lain yang akan menyiksa kita dan poin anak itu ternyata lebih rendah dari salah satu dari kita bertiga, maka kita wajib menyelamatkan kelompok ini" terang Ruki panjang Lebar.

"Tapi... dengan begitu poin Lina akan tetap 0?" lanjut Yori.

"Iya... itulah yang disayangkan, tapi... semua itu sesuai sebenarnya dengan aturan permainan Cinderella" jawab Ruki.

Duo kembar itu terdiam hening dan saling menatap satu sama lain. Mereka bingung apakah menerima pilihan itu.

"Lalu pilihan kedua sama seperti yang telah kusebutkan tadi. Kita tahu saat ini poin Yori yang paling besar. Maka Yori dapat memanfaatkan aku ataupun Lina untuk menambah poin. Silakan siksa kami berdua jika kamu tidak mau menyiksa adikmu sendiri. Karena sejatinya poin terbesar dapat melakukan apapun" jelas Ruki segamblang-gamblangnya.

"Kemudian pilihan ketiga adalah pilihan bodoh dan untung-untungan. Kita akan tetap berjalan dan mencari lapangan 8 tanpa harus berlomba banyak-banyakan poin dan tidak akan menyiksa Lina. Poin kita akan tetap seperti ini sampai akhir nanti. Kalau kita bertemu dengan kelompok lain dan dia menyiksa kita ya sudah itu adalah takdir. Jika kita beruntung ya syukur. Aku paling tidak merekomendasikan pilihan bodoh ini, tapi jika kalian setuju maka aku juga akan ikut pilihan untung-untungan ini" jelas Ruki.

"Lalu pilihan yang keempat dan terakhir adalah aku menyerahkan pilihan ini pada kalian. Silakan jika kalian memiliki saran atau aturan ajaib yang bisa mengatasi problem kita saat ini. Jika kalian memiliki solusi yang lebih baik daripada aku" terang Ruki menjelaskan.

"Sekarang aku sudah menjelaskan semua pilihan pada anak-anak ini. Semoga mereka memilih pilihan pertama dan mengikuti alur sesuai permainanku. Dengan menyebutkan ini aku juga mengorbankan keselamatanku jika ternyata Yori memilih pilihan kedua dan menyiksa aku dan Lina. Tapi aku yakin, dia pasti tidak akan begitu...." pikir Ruki sambil tersenyum kecil di bibirnya.

"Ba-bagaimana ini kak?" tanya Yuki.

"Aku setuju dengan saran Tuan Ruki yang pertama...." seru Lina tiba-tiba.

"Lina?" kaget Yuki.

"Saya pikir pilihan pertama adalah pilihan yang paling masuk akal. Lagipula jika Tuan menyuruh saya melakukan sesuatu yang biasa saja, saya yakin saya sanggup. Lagipula seperti kata saya dari awal, ini semua demi kelompok kita. Kita harus segera menentukan masalah ini kemudian bisa fokus memikirkan menemukan lapangan 8. Waktu kita tidak banyak Tuan" kata Lina.

"Ma-maaf jika saya lancang" lanjut Lina sambil kembali menunduk.

"Kak bagaimana? Apa pilihan pertama? Ini sudah hampir tengah hari?" ucap Yuki yang juga sudah bingung.

Yori tampak berpikir sebentar. Ia mencoba menimang-nimang kerugian dan keuntungan atas pilihan yang dibuatnya.

"Jadi kalau kamu setuju dengan pilihan 1 kan Ruki?" tanya Yori.

"I-iya" jawab Ruki.

"Kalau begitu apa boleh buat..." ucap Yori kemudian.

"Kakak setuju?" tanya Yuki yang masih ragu.

"Kita tidak punya pilihan...." balas Yori.

"Hehehehe...." senyum Ruki dalam hati.

"Baiklah ayo kita mulai perlombaan ini dengan sportif!" seru Ruki sambil mengulurkan tangannya.

"Ba-baiklah..." jawab Yori sambil menyambut uluran tangan Ruki.

Selanjutnya Yuki dan Lina juga mengulurkan tanganya.

"Baiklah, dengan ini masalah selesai dan lomba dimulai, YAAAA....!!!" teriak Ruki dikuti semua anggota kelompok sambil mengangkat uluran tangan mereka.

Setelah itu Yori, Yuki dan juga Lina segera menutup jam tangan poin mereka dengan pelepah daun yang diberikan Ruki.

"Baiklah, lalu apa selanjutnya? Mencari lapangan 8?" tanya Yuki.

"Yahh tentu saja kita akan melakukan itu? Tapi tentu aku juga tidak tahu itu apa...." balas Ruki.

"Lapangan 8? Kira-kira apa itu? Apa maksud angka 8 disini?" tanya Yori sambil berpikir.

"Sebelum itu.... Lina... gambarkan denah posisi kita saat ini di tanah. Tandai lokasi kita dengan tanda X. Cepat lakukan!" seru Ruki tiba-tiba dengan nada memerintah.

Mendengar hal itu Lina segera mengambil ranting yang ada di sekitar situ dan mencoba menggambar denah lokasi yang meraka ketahui saat ini.

"Ba-baik Tuan.." jawab Lina patuh.

"Hmm.... apa ini maksud Ruki. Dia memerintahkan Lina. Sepertinya dia sudah memulai perlombaan ini. Apa ini benar-benar bisa menambah poin? Apa saat ini poinnya sudah bertambah? Aku..... sebaiknya juga melakukan pergerakan....." pikir Yori sambil melihat Yuki yang saat itu seolah paham setelah melihat prilaku Ruki.

"Se-seperti ini kan Tuan?" tanya Lina sambil memperlihatkan denah buatannya yang Ia gambar di tanah.


Bersambung ke Sekolah/Neraka Chapter 46

SHiniGami GhoUL
2017-02-18 16:41:33
Hmmtt... Pergerakkanpun dimulai...
Bocah Redoks
2017-01-18 21:43:30
jangqn jangan poin ruki sebenarnya sudah lebih tinggi dari yg lainnya. benar benar taktik yg jitu.
Dalreba
2016-10-08 12:45:59
Aku juga ingin nambah poin
Kei Takashima
2016-09-29 10:02:56
Hmhh
Anique HyuUzumaki
2016-08-12 20:35:21
Aku cukup suka dgn strategi Ruki...
Princes Alien Kawai
2016-08-11 08:21:34
next read
ThE LaSt EnD
2016-08-10 22:13:45
pengarang sblum mnuliskn crita sepertinya memeras pikiran dn mmpertimbngkn bnyak hal.. hmm smart.
Fujioka nagisa
2016-07-11 12:59:37
Cerdas sekali.. Yah, itu adalah ide yg didapat dgn sikap tenang
Emerald Queen
2016-06-15 23:28:40
Ruki menyembunyikan sesuatu, apa jangan" saat bicara dengan lina pointnya bertambah?. . . Wahhh aku kecepetan baca langsung chap depan
Clint Mobile Legend
2016-06-04 11:52:34
Lihat gw dah mampir tanpa disuruh.. Kalau aku jadi ruki buat Lina sampai hamil.. Dan begitu ruki bakalan dapat miliaran poin
Baca Semua Komentar dan Balasan
daftar user · online · daftar penulis
halaman awal · group facebook